Judul ini merupakan kata-kata bijak, yang meskipun sudah usang, namun relevan untuk ditampilkan kembali, bila dikaitkan dengan kondisi kebanyakan rakyat Indonesia.
Betapa tidak, tanah, bumi, air dan udara yang terbentang di seantero Nusantara ini, sebetulnya tersimpan kekayaan yang tak terhingga. Manakala itu semua dikelola dengan sungguh-sungguh dengan kerangka dan bingkai amanah, niscaya tak akan ada rakyat Indonesia yang berada di bawah garis kemiskinan.
Namun, karena amanah yang telah diamanatkan ke pundak para wakil kita (eksekutif, legistatif dan yudikatif) yang lagi mereka punyai. Mereka semua hanya memikirkan sebagian kecil saja dari penduduk Indonesia. Dan sebagian kecil itu hanya sebatas kerabat, teman dan handai tolannya. Sementara sebagian besar penduduk Indonesia sama dan sebangun dengan nasib anak ayam yang mati di lumbung padi. Karena ia tidak punyak hak (lagi) atas lumbung padi (yang seharusnya) miliknya sendiri itu.
Seperti yang telah saya tulis dalam opini saya yang pertama, kita masih memiliki tiga Pemilihan Umum Lagi (2009, 2014 dan 2019). Apakah nasib anak ayam itu masih harus mati (bukan karena kekenyangan, melainkan karena kelaparan) di lumbung padi?
Saya pikir sudah cukup. Sejak zaman penjajahan Belanda (bahkan bukan tidak mungkin justru jauh sebelum itu) hingga negara ini sudah merdeka 62 tahun, dalam perjalanan Sejarah Indonesia, cukup sudah rakyat jadi tumbal negara. Kita harus bisa bersikap tegas, cerdas dan hati-hati dalam memilih para wakil-wakil kita nanti. Kalau sama seperti yang dulu, mudah terkecoh dengan iming-iming sesaat, APA KATA DUNIA?
.jpg)







































^_^ Apa kata DUNIA? Saya tidak mau lagi jadi tumbal NEGARA! Kita bersiap-siap saja untuk menyongsong Tahun Perbaikan Masyarakat, 2009 mendatang. Siipp banget artikelnya..!