Kisah 2 Anak Nakal: 1 Nyabu 1 Nyolong Dollar


kisah_2_anak_nakal.jpgAda dua berita yang menarik yang saya baca di SuryaOnline sore ini. Yang satu kisah anak pesantren nyabu dan dan satunya kisah anak “the 10.000 dollars child“.

Adalah Iwan Fathkur Rachman, 32, seorang santri (baru 6 bulan) yang maunya masuk pondok pesantren di Cerme, Kabupaten Gresik, adalah untuk bertobat dari kecanduan narkoba. Namun nampaknya, mungkin karena pihak pengedarnya yang juga temannya tetap berhubungan dengannya.

Berdasarkan pengungkapan kasus oleh Direktorat Reserse Narkoba (Ditreskoba) Polda Jatim, Selasa (1/4) kemarin, diketahui bahwa seorang santri sebuah pondok pesantren (ponpes) di Cerme, Kabupaten Gresik, tersangkut narkoba jenis shabu-shabu (SS). Yang memprihatinkan, dalam pengeledahan oleh Satuan I Ditreskoba Polda Jatim, dalam lemari di kamar santri di ponpes tersebut ditemukan seperangkat alat isap SS. Karenanya, santri bernama Iwan Fathkur Rachman, 32, itu tak berkutik saat digelandang ke kantor polisi.

Coki menjelaskan, Iwan ditangkap berdasarkan pengakuan Gatot, 29, warga Jagalan Lor, Mojokerto, yang lebih dahulu dibekuk polisi. Iwan sendiri adalah warga Gedongan, Magersari, Kota Mojokerto. Dari tangan Gatot disita 0,4 gram sisa SS yang telah diisapnya.

Sementara itu, di tempat lain, di Kota Depok, Jawa Barat, Siswa SD yang kabur berbekal 10.000 dolar AS (sekitar Rp 92 juta), sejak 27 Maret 2008. Ketika pulang kembali ke rumah (tanggal 1 April) pagi kemarin, uang itu tinggal Rp 500.000.

Seperti diberitakan Surya, Selasa (1/4), Fian minggat dari rumah orangtuanya setelah dihukum ibunya karena tak mengerjakan PR sekolah. Dia tak boleh tidur di kamarnya tapi di sofa di kamar tengah.

Sejak kabur pada 27 Maret pukul 22.00 WIB itu, bocah kelas IV SD itu menghabiskan rata-rata Rp 17,5 juta per hari. Uang sebanyak itu dihabiskan Fian (panggilan Cifiandi) untuk beli PlayStation 3, MP3, ponsel serta asyik bermain di arena permainan Timezone selain untuk makan dan bayar taksi.

Dalam penuturannya kemarin usai diperiksa polisi, Fian mengatakan dirinya sempat menginap di Hotel Tulip. Namun saat ditanya wartawan di mana alamat Hotel Tulip dan dengan siapa dia menginap, Fian menjawab enteng,”Tanya saja sama setan.”
Dari raut wajahnya, Fian memang tak tampak merasa bersalah atau trauma dengan keputusan minggatnya. Bahkan, ketika ayahnya Ahmad Mugiarto memberikan keterangan di ruang Kapolsek Limo, AKP Supoyo, Fian asyik main game yang dipegangnya.

Bahkan, kaburnya Fian bukan sekali ini saja. Namun, sebelumnya, kalau lagi ngambek dengan orangtuanya, Fian hanya pergi sendirian ke rumah tantenya yang masih di Jakarta.

Begitulah kisah ironi sore ini.

Yang satu anak (remaja) berusia 32 tahun, yang satunya lagi, anak SD Kelas IV. Namun yang jelas, ini semua bisa terjadi karena amanah Allah yang diterima oleh orang tuanya, tak bisa dilaksanakan dengan baik.

Mudah-mudahan ini berita bisa menjadi bahan renungan kita.

Anak Bukan Titipan Tuhan


Sukacita adalah dukacita,
yang terbuka kedoknya. ………….
semakin dalam sang duka menggores luka ke dalam sukma,
Maka semakin mampu Sang Kalbu mewadahi bahagia. ……………
Pabila engkau berduka cita, mengacalah lagi ke lubuk hati,
di sanalah pula kau bakal menemui,
Bahwa sesungguhnya engkau sedang menangisi,
sesuatu yang pernah engkau syukuri.*)

anakku.jpgPenculikan kembali menghantui orangtua. Dalam dua hari, terjadi penculikan dua bocah, yakni di Surabaya dan Pasuruan. Beruntung, salah satu anak akhirnya berhasil ditemukan. Demikian berita di Surya Online hari ini.

Membaca berita itu, saya jadi teringat opini saya di sini. Juga soal penculikan bayi. Lengkapnya sebagai berikut:
RAISYA ALI. Demikian anak dari pasangan Ali Said dan Nizmah Muchsin Thalib, yang telah diculik pada hari Rabu (15/08/07) siang hari dalam perjalanan pulang dari sekolah (ketika itu posisi mereka hanya berjarak 50 meter dari tempat tinggalnya di jalan Wiradharma III) akhirnya kembali pulang.
Ia, yang diculik selama 9 hari itu, akhirnya kembali ke pangkuan kedua orang tuanya, Jumat (24/8) pagi. Seperti yang diberitakan TEMPO Interaktif, Jum’at, 24 Agustus 2007, Pukul 12:09 WIB, : Menurut Zahra, kakak Nizmah –ibu Raisya–, sekitar pukul 10.15 WIB, orang tua Raisya mendapat kabar lewat telepon kalau anaknya telah ditemukan. “Mereka langsung ke Polda,” ujarnya saat dihubungi Tempo. Zahra mengemukakan, dari adiknya ia mendapat informasi kalau Raisya ditemukan di daerah Lenteng Agung, Jakarta Selatan, pagi hari ini. Begitu mendengar kabar itu, keluarga korban langsung sujud syukur.

Kemarin, saya sebetulnya ingin urun rembuk soal penculikan itu di sini, siapa tahu bisa membantu untuk menemukan. Belum sempat terlaksana, tapi untungnya Raisya sudah kembali ke pangkuan kedua orang tuanya. Saya bisa membayangkan, bagaimana sedihnya hati kedua orang tuanya, selama Raisya berada dalam sekapan para penculik. Lebih dari seminggu anak mereka lepas dari pangkuan.

Saya (empat tahun yang lalu) juga pernah mengalami hal yang serupa. Namun untungnya hanya beberapa saat saja. Begini ceritanya: Karena tuntutan ekonomi, saya dan istri saya sama-sama bekerja. Waktu itu anak saya masih berusia 3 tahun. Setiap hari kami menitipkan anak saya ke mBakyu dari istri saya yang berada di pasar. Sambil menunggu tokonya, ia pun ngemong anak saya. Tapi, suatu hari, yang saya lupa tanggalnya, tiba-tiba anak saya hilang.

Mbakyu istri saya tentu saja bingung. Ia beserta teman-teman di kanan kiri tokonya pun segera bergerak ke segenap penjuru pasar. Alhamdulillah, dalam tempo yang tidak lama, anak saya akhirnya di temukan di lantai dua. Ia tengah digendong oleh seorang wanita tua. Kata wanita itu, karena lucu, ia ingin untuk mengendongnya. Kenapa kok sampai dibawa pergi tanpa izin? Wanita itu tidak bisa menjawab.

Akhirnya, anak saya pun kemudian digendong oleh mBakyu istri saya, dengan penuh sukacita. Lantas nasib wanita itu? Karena tak ingin memperpanjang masalah, ia dibiarkan pergi begitu saja. Begitu ceritanya.

Opini ini saya tulis dengan judul : ANAK BUKAN TITIPAN TUHAN. Kenapa saya bilang begitu? Menurut saya karena ia lebih merupakan amanah dari Allah. Kata amanah sering disalahartikan sebagai titipan.

Padahal kata titip mengandung arti bahwa seseorang terpaksa menitipkan sesuatu karena ia tidak bisa membawa untuk alasan tertentu. Misalnya anak. Karena tidak mungkin untuk dibawa ke tempat kerja, maka ia, anak itu, harus dititipkan. Jadi pengertian titip menunjukkan arti bahwa si empunya tidak mempunyai kuasa penuh atas keberadaan anaknya. Makanya dititipkan.

Tapi Tuhan? Ia adalah Maha Kuasa. Dan itu mutlak. Amanah lebih merupakan beban dan tanggung yang diberikan oleh Allah kepada umatnya. Dan manusia sebagai pemegang amanah, hendaknya bisa melaksanakan dengan penuh tanggung jawab.

Tak ada alasan sibuk atau apa. Kalau sudah diberi anak (atas usaha bersama suami dan istri) wajibnya adalah dipelihara dengan baik, dididik dengan penuh kasih sayang. Lantas atas kejadian yang pernah menimpa pada keluarga Ali dan keluarga saya, siapa yang patut disalahkan? Para penculik? Pembantu/mBakyu Istri saya?

Menurut saya yang salah adalah kedua orang tuanya. Ya keluarga Ali ya keluarga saya. Karena tidak bisa memegang amanah.

*) Puisi tentang Anak, oleh KAHLIL GIBRAN dalam buku: Sang Nabi

Anak Saya Kidal Seperti Saya


Wikipedia menulis tentang orang kidal sebagai berikut:

Orang yang kidal lebih banyak menggunakan tangan kirinya daripada tangan kanannya. Ia biasanya menggunakan tangan kirinya untuk berbagai pekerjaan seperti misalnya untuk menyisir rambut, memasak, dll. Menulis tidak dapat diguHari Orang Kidal - 13 Agustus 2002 - Wikipedianakan untuk menentukan apakah seseorang kidal atau bukan, karena sebagian orang yang kidal menggunakan tangan kanannya untuk menulis, sementara untuk segala hal yang lainnya menggunakan tangan kanannya.

Kira-kira 8–15% dari penduduk dewasa adalah kidal.[1] Berbagai penelitian menunjukkan bahwa tangan kidal lebih umum ditemukan di kalangan laki-laki daripada perempuan,[2] dan lebih banyak di kalangan kaum heteroseksual dibandingkan dengan kaum homoseksual.[3] Dibandingkan dengan masyarakat umum, tangan kidal lebih sering muncul di kalangan kembar identik,[4]dan sejumlah kelompok orang yang mengalami gangguan neurologis (epilepsi,[5] Down’s Syndrome,[6] autisme,[7] retardasi mental,[8] etc.) Dari segi statistik, seseorang yang memiliki saudara kembar yang kidal mempunyai 76% kemungkinan untuk juga kidal. [9]

Saya dilahirkan sebagai orang kidal. Namun, sesuai dengan tata krama di Indonesia, kidal itu jelek. Makanya saya (dengan susah payah) belajar untuk tidak kidal. Walau berhasil, namun tidak bisa maksimal. Akhirnya saya bisa pakai tangan kiri ataupun tangan kanan untuk melakukan sesuatu (khusus untuk keperluan buang air [besar dan kecil] selalu pakai tangan kiri.

Menurut para ahli, kalau orang dipaksa memakai tangan kanan (padahal ia kidal) kemampuannya tidak menjadi maksimal.

anak-saya-kidal.jpgAnak saya yang kecil ternyata mengikuti jejak saya. Kidal. Oleh ibunya seringdisuruh pakai tangan kanan untuk (misalnya) menulis, maka. Tapi tak pernah berhasil.

Kalau sikap saya, saya biarkan. Saya tak ingin dia nanti seperti saya. Kemampuan yang dimiliki tidak bisa berkembang dengan maksimal.

Kidal bukan tidak baik. Memang tidak umum. Tapi apa salahnya :?: