Gula Pasir Dibuang di Jalan dan Diinjak-injak


Dulu, tahun 90-an, harga gula bila dibandingkan dengan harga beras adalah 2 : 1. Saat gula harganya Rp 1.500, maka harga beras  adalah Rp  750. Kini tidak. Bahkan lebih mahal harga beras ketimbang harga gula. Lebih dari itu, saat semua bahan pokok, ternyata gula (salah satu bahan pokok) malah turun.

Tak heran kalau kemudian banyak petani tebu menjadi marah. Seperti yang diberitakan Surya Online, bahwa petani tebu di wilayah PTPN XI membuang gula ke jalan sebagai bentuk protes atas maraknya gula impor dan rafinasi di pasaran, Sabtu ( 30/8 ). Karena banyaknya gula ini, gula produksi petani tidak laku dan menumpuk di gudang-gudang pabrik gula. Protes diikuti sekitar 50 petani tebu yang tergabung dalam Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) di kawasan PTPN XI, di Pabrik Gula Pagotan, Kabupaten Madiun.

Sebelum membuang gula ke jalan dan menginjak-nginjaknya di jalan di samping PG Pagotan, petani menunjukkan gula hasil panen petani yang menumpuk di empat gudang di PG Pagotan. Gula ini tidak bisa terjual karena di pasaran banyak gula impor dan gula rafinasi yang harusnya diperuntukkan bagi industri makanan dan minuman.

Menurut Ketua APTRI PG Pagotan Sudira, ada 180.000 ton gula di empat gudang itu. Gula yang menumpuk tidak hanya gula hasil giling tahun ini tetapi ada pula gula hasil giling tahun lalu. Menumpuknya gula membuat gudang tidak bisa lagi memuat gula hasil giling.

Sejak bulan April, penjualan gula hasil giling tidak bisa maksimal. “Bahkan sekarang, mendekati bulan puasa dan Lebaran, yang biasanya gula petani banyak terserap ke pasaran, malah tidak terjadi, gula masih menumpuk di gudang, “ujar Sudira.

Wakil Ketua APTRI di wilayah PTPN XI Edi Sukamto menambahkan sekitar 70 persen dari gula hasil giling 37 pabrik gula di wilayah Jawa Timur dipasarkan untuk memenuhi kebutuhan di luar Pulau Jawa sedangkan sisanya untuk kebutuhan di Pulau Jawa.

Sementara di luar Pulau Jawa dan juga di Jawa, gula impor dan rafinasi banyak beredar di pasaran. Hal inilah yang membuat gula di PG Pagotan dan 36 pabrik gula lainnya di Jawa Timur tidak bisa terserap di pasaran, jelasnya.

Berdasarkan data yang diperolehnya, di pasaran kini terdapat 1,9 juta ton gula rafinasi yang diimpor pabrik gula rafinasi dan 685.000 ton gula rafinasi yang diimpor oleh industri makanan dan minuman. Adapun produksi petani 2,9 juta ton plus sisa tahun 2007 1,3 juta ton. Sementara kebutuhan nasional 4,1 juta ton.

Betul-betul menyedihkan bila melihat fenomena ini. Yang dikhawatirkan, bila persoalan ini tanpa ada solusi dari pemerintah, bukan tak mungkin para petani akan membongkar tanaman tebunya, untuk diganti tanaman lain. Yang lebih celaka lagi kalau tanah itu dijual.

Kalau sekarang kebutuhan gula nasional separuhnya masih diimpor, bukan tak mungkin bila nanti Indonesia bakal menjadi 100% pengimpor gula. Kalau sudah begini, harga gula bisa tembus Rp 10.000.

[Foto diambil dari berita liputan6 ]

Gula Pun Dibakar


Impor gula rafinasi sejatinya hanya untuk memenuhi kebutuhan pabrik makanan dan minuman. Namun kenyataannya gula ini juga beredar di pasaran.

Akibatnya, menjelang musim giling (perkiraan awal bulan Mei ini) harga gula justru merosot. Padahal, tahun-tahun sebelumnya, pada saat menjelang musim giling, harga gula pasti tinggi. Karena memang stok sudah mulai habis.

Namun, dengan penggelontoran gula rafinasi, maka jadinya begitu.

Tak heran bila Rabu kemarin para petani yang ada di Jawa Timur pada protes ke pemerintah, agar menyetop peredaran gula rafinasi di pasaran. Liputan 6 memberitakan bahwa : Ribuan petani tebu yang tergabung dalam Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) berunjuk rasa di depan Gedung DPRD Jawa Timur, Jalan Indrapura I, Surabaya, Jatim, Rabu (23/4) siang. Massa sebelumnya beraksi di area PT Perkebunan Nusantara (PTPN) X, Surabaya serta Kantor Gubernur Jatim.

Bahkan Suara Surabaya.net mewartakan bahwa Asosiasi Petani Tebu Rakyat (APTR) menolak perpanjangan waktu penarikan gula rafinasi di Jatim dan mengancam membakar gudang gula rafinasi. Ini sekaligus menjaga kewibawaan Gubernur Jatim yang sejak awal melarang impor gula rafinasi ilegal.

Selama ini, modal petani tebu baik untuk pupuk, angkut tebang dan sebagainya, sudah sangat besar. Sementara kenaikan harga gula hanya 2% dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Kondisi ini menyebabkan petani tebu merugi karena ongkos produksi lebih besar dibandingkan keuntungan yang diperoleh.

Di halaman lain, SS dot net ini memberitakan bahwa: ….. dengan membanjirnya gula rafinasi di pasar, pukulan telak bagi petani tebu. Bahkan dari informasi yang diterima, di Jawa Timur akan berdiri lagi pabrik baru yang memproduksi gula rafinasi. Umumnya, harga gula rafinasi ini lebih murah dibanding harga gula produk petani tebu Indonesia.

Sebelum APTR menemui anggota dewan, ARUM SABIL memerintahkan petani tebu untuk membakar contoh gula rafinasi yang beredar di pasaran.

Tiga karung gula rafinasi digantung pada sebatang pohon dibawahnya diletakkan kentongan dan ban yang dibawa petani tebu. Kata ARUM ini bentuk pelampiasan kemarahan Asosiasi Petan Tebu Rakyat (APTR)
terhadap sikap pemerintah yang kurang tegas menyikapi peredaran gula rafinasi ilegal.

Kabarnya harga ‘kulakannya’ cuma Rp 2.000. Kalau dijual dengan harga Rp 4.000 saja, sudah berapa keuntungan bakal diraup oleh para importir yang ‘jahat’ itu.

Bila masalah ini tidak ditangani secara tuntas, niscaya 12 tahun lagi, Tahun 2020, Indonesia bakan menjadi pengimpor gula 100%. Karena para petani sudah ngambek tak mau lagi menanam tebu.