Mengapa Kita Tak Pernah Mencapai Sholat Yang Khusyu’


Tulisan ini diimport dari Djunaedi RD’s Blog.

 Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya, yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’
(Al-Baqoroh, 2: 45)

Shalat adalah salah satu dari Rukun Islam. Pelajaran tentang shalat dapat kita peroleh di banyak toko buku. Namun dari itu semua, hampir tak ada yang berisi tentang cara bagaimana mencapai shalat yang khusyu’ itu.

Pada tahun 2004 terbit sebuah buku yang berjudul Pelatihan Shalat Khusyu, karya Abu Sangkan, yang diterbitkan oleh Penerbit Yayasan Shalat Khusyu dan Manajemen Masjid Baitul Maal Bank Indonesia, Jakarta Selatan. Sekarang telah sampai pada cetakan XII. Harganya Rp 32.000.

Shalat memiliki kemampuan untuk mengurangi kecemasan karena terdapat lima unsur di dalamnya, yaitu 1) :

  1. meditasi atau doa yang teratur, minimal lima kali sehari.

  2. relaksasi melalui gerakan-gerakan sholat.relaksasi melalui gerakan-gerakan sholat.relaksasi melalui gerakan-gerakan sholat.

  3. hetero atau auto-sugesty dalam bacaan sholat.

  4. group-therapy dalam sholat jama’ah, atau bahkan dalam sholat sendirian pun minimal ada aku dan Allah.

  5. hydro-therapy dalam mandi junub atau wudlu sebelum sholat.
    Ketika sholat, rohani bergerak menuju Zat yang Maha Mutlak. Pikiran terlepas dari keadaan riil dan panca indera melepaskan diri dari segala macam keruwetan peristiwa di sekitarnya.

Ketika sholat, rohani bergerak menuju Zat yang Maha Mutlak. Pikiran terlepas dari keadaan riil dan panca indera melepaskan diri dari segala macam keruwetan peristiwa di sekitarnya.

Sholat sebagai kekuatan yang tertinggi dalam kebutuhan fitrah manusia memiliki beberapa aspek dan efek yang bermanfaat, antara lain:

  1. mengandung tuntunan meditasi transendental.

  2. efek kesehatan.

  3. relaksasi.

  4. terapi fisik, pikiran dan jiwa yang sangat sempurna.

Kita banyak berhenti pada kalimat perintah awal tanpa ingin mengetahui mengapa kita diperintahkan untuk itu. Syariat sholat telah menjadi bagian aktifitas yang menjemukan, bukan menjadi seperti apa yang dikatakan Nabi sebagai tempat istirahatnya jiwa dan tubuh, sebagaimana sabda beliau: “Wahai Bilal jadikanlah sholat sebagai istirahatmu.”

Ia hanya menjadi beban belaka, “bukan lagi bagian dari kebutuhan ruhani selayaknya orang butuh istirahat (rileks) di gunung, di pub atau rekreasi di pantai untuk mengendorkan syaraf-syaraf yang tegang.

Itu perlunya pelatihan sholat, seperti yang diajarkan Abu Sangkan dalam buku ini. Dan buku ini, belakangan ini selalu membimbing saya dalam upaya saya mencapai sholat khusyu’.
Mudah-mudahan saya bisa mencapai ke sana.

———————-

1) Arif Wibisono, Psikologi Transpersonal, Makalah dalam Seminar Psikologi Islam di Solo tahun 2002.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s