Lemah, Koordinasi Atasi Banjir


Jawa Pos Online, Selasa, 01 Jan 2008

1199128031b.jpgRakyat Minta Bantuan, Bupati Suruh Ambil Sendiri

BOJONEGORO – Warga Kota Bojonegoro benar-benar melewati malam pergantian tahun dalam suasana prihatin. Kontras dari kota lain yang ingar-bingar menyambut Tahun Baru, ibu kota daerah kaya minyak itu tadi malam gelap gulita karena listrik masih padam.

Radar Bojonegoro (Grup Jawa Pos) melaporkan, meski surut sekitar 15-20 cm, banjir masih menggenang setinggi dada orang dewasa. Yang lebih parah, bantuan belum terbagi optimal karena lemahnya koordinasi pemerintah daerah dengan tim Badan SAR Nasional (Basarnas).

Kepala Basarnas (Kabasarnas) Laksda TNI Bambang Karnoyudho mengungkapkan, tim Basarnas sulit mendistribusikan bantuan secara tepat karena tidak paham betul daerah mana yang memang masyarakatnya membutuhkan bantuan. “Akhirnya, siapa yang minta bantuan, ya kami kasih, walaupun kami tidak tahu mereka layak atau tidak,” jelasnya kemarin (31/12).

Dia mengungkapkan, upaya pemulihan pascabencana sebenarnya menjadi tugas pemkab dan muspida setempat. Namun, sampai hari ketiga bencana banjir kemarin, pemkab dan muspida masih sulit diajak berkoordinasi. Bahkan, saat diundang rapat koordinasi penanganan bencana pada Minggu (30/12) malam, tidak ada seorang pun dari pemkab yang hadir. “Masak yang hadir cuma Satpol PP. Lha bupati dan pejabat lainnya tidak hadir,” ujarnya.

Karnoyudho juga mengeluhkan kurangnya koordinasi antara aparat keamanan dengan Basarnas. Akibatnya, dia sempat ragu memarkir helikopternya di Alun-Alun Kota Bojonegoro. “Masak tidak ada petugas keamanan sama sekali,” katanya.

Bukan hanya Kabasarnas yang mengeluhkan lemahnya koordinasi bantuan, warga korban banjir juga merasa pemberian bantuan sangat lambat.

Keluhan itu bahkan muncul dari korban banjir yang hanya berjarak 1-2 km dari posko satkorlak kabupaten di alun-alun kota. “Baru pukul 10 tadi (kemarin) kami dikirimi bungkusan nasi,” ungkap Sumirah, warga Ledok Wetan, yang mengungsi di depan kantor PMI Bojonegoro kemarin.

Kondisi Sumirah itu juga dialami warga banjir di sekitar satkorlak serta pendapa kabupaten seperti di Jalan Hasyim Asyari, Panglima Sudirman, Hasanuddin, Mastrip, dan M.H. Thamrin. Rata-rata mereka mengeluhkan tidak kunjung datangnya bantuan makanan matang serta obat-obatan. Padahal, mereka sangat dekat dengan posko bantuan bencana.

Begitu antara lain isi berita ini. Dan memang di mana-mana yang namanya koordinasi selalu saja banyak terkendala, dengan berbagai alasan pembenar.

Mungkin ada baiknya dipikirkan, bagaimana kalau dibentuk Menteri Manajemen Bencana. Karena tanah nusantara ini memang gudangnya bencana. Ya gunungnya, ya sungainya, ya lautnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s