Di Masjid Itu Ada Monyet Dan Maling


3d_252.jpgKarena satu dan lain hal, maka saya jarang sekali mengikuti kegiatan rutin, berupa pembacaan kalimah toyyibah, berupa Surat Yaasiin, Al-Mulk dan Tahlil yang diikuti oleh para jama’ah di wilayah Kauman dan sekitarnya. Tapi kemarin, tanpa ada rencana, ternyata saya dapat menghadiri acara yang dilaksanakan setiap malam Jum’at tersebut.
Dalam acara tersebut, setelah selesai dilakukan pembacaan kalimah toyyibah, biasanya dilakukan siraman rohani dari ustadz yang berasal dari dalam atau dari luar wilayah. Dan kemarin malam itu, kebetulan yang memberikan siraman rohani adalah ustadz dari Singosari. Kalau nggak salah namanya ustadz Mahmud.
Dalam penyampaiannya, ada hal yang patut saya sampaikan di sini, karena hal tersebut merupakan hal penting yang wajib diketahui oleh segenap umat Muslim. Dikatakan oleh ustadz tersebut bahwa dtengarai bahwa di dalam masjid itu ternyata ada banyak ‘monyet’ dan juga para ‘maling’! Buktinya apa? Setiap habis dilakukan sholat wajib secara jama?ah, biasanya dilanjutkan dengan pembacaan doa. Ada banyak yang mengikuti acara tersebut. Tapi tidak sedikit yang, setelah dilakukan ‘uluk salam’, langsung ‘loncat’ keluar masjid. Mereka inilah yang dikatakan oleh pak ustadz sebagai monyet itu. Apa pasal? Monyet setiap akan bergerak atau berpindah tempat pasti menengok dulu ke kanan dan ke kiri. Jadi bagi jamaa’ah yang setelah melakukan salam, tengok-kanan-tengok-kiri, lantas meninggalkan masjid. Persis kayak monyet. Maaf, ini bukan ucapan saya, tapi ucapan ustadz, yang diambil dari kitab yang saya lupa judulnya.
Lantas akan halnya para maling? Apa maling sandal atau sepatu yang dimaksudkan oleh ustadz tersebut? Bukan! Sama sekali bukan! Seperti kita ketahui bahwa ada empat syarat sahnya solat, yaitu 1) takbirotul ihrom, 2) surat al-fatihah, 3) tahiyat dan 4) salam. Semuanya harus dibaca, minimal telinga kita bisa mendengarkannya. Biasanya, ketika imam mengucapkan salam (assalamu’alaikum warohmatullohi wabarokaatuh) lantas tengok-kanan-tengok-kiri. Kalau kita sebagai jama?ah cuma mengikuti gerakan tengok-kanan-tengok-kiri tanpa mengucapkan ‘uluk salam’, kita inilah sang pencuri yang dimaksud ustadz. Yaitu pencuri salam! Naudzubillah! Mudah-mudahan tulisan ini ada manfaatnya bagi kita semua. Khususnya bagi saya sendiri. Mudah-mudahan saya bisa terus aktif mengikuti kegiatan rutin tersebut. Amiin ya Robbal Alamin.

[ Opini ini saya salin dari opini saya yang ada di sono ]

3 thoughts on “Di Masjid Itu Ada Monyet Dan Maling

  1. Ane pernah denger, man taraka wirdan fahuwa kirdun… barangsiapa meninggalkan aurod (wirid), dia seperti monyet… Gitu kali ya bang?:mrgreen:

    Tafi ane kurang pasti, ini hadis atau sekedar ucapan ulama saja…🙄

    Wah, mungkin saja begitu. Soalnya sang ustadz waktu itu tidak menyebut surat itu😛
    Tapi terima kasih atas tambahan infonya ini.😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s