Aku Bukan Komunis


Ada sebuah novel bagus, yang dituturkan dengan gaya otobiografi, yang patut untuk disimak dan direnungkan.

Pada awalnya novel ini diberi judul Aku Bukan Komunis. Memenangkan hadiah Sayembara Mengarang Roman yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta tahun 1977. Namun kemudian, 19 tahun kemudian, buku ini terbit dengan judul Mencoba Tidak Menyerah, Penulis Yudhistira ANM Massardi, Penerbit Bentang Budaya, Yogyakarta. Bisa dimaklumi, pada rezim Orde Baru semua yang berbau komunis tidak boleh beredar ke masyarakat. Makanya judul novelnya pun dipilih yang aman-aman saja.

aku-bukan-komunis.jpgSaya pertama kali membaca ini melalui Koran KOMPAS, sekitar tahun 80-an. Novel ini dimuat secara bersambung, mulai hari Senin sampai dengan Sabtu. Karena dimuat secara harian, saya tidak bisa membaca dan mengikuti ceritanya secara runtut. Sering halaman yang memuat novel ini hilang sebelum saya sempat membacanya. Di samping itu, emosi dan alur cerita menjadi terpotong-potong.

Syukur alhamdulillah, akhirnya novel ini terbit 10 tahun kemudian. Dan baru bisa saya opinikan pada hari ini, setelah buku ini pulang setelah beredar cukup lama dari rumah ke rumah saudara-saudara saya. Karena mereka semua tertarik untuk membaca buku ini.

Dengan mengambil sudut pandang “aku” seorang anak yang masih berusia 11 tahun, beserta saudara-saudaranya berusaha dengan sekuat tenaga untuk mencoba tidak menyerah atas stigma yang melekat pada mereka: Anak keturunan komunis! Kenyataan pahit yang tak bisa dielakkan ini diceritakan dengan runtut, enak dan mengalir.

Setting kisahnya berlatar belakang pada sekitar Gerakan 30 September 1965. Keluarga yang mulanya berjalan aman, tentram dan bahagia, berubah 180 derajat menjadi derita yang berkepanjangan. Awalnya dia menerima dari seorang pemuda yang berpapasan dengannya: Hai anak PKI! Nanti saya potong lehermu! Itu kejadian di waktu pagi. Lantas, malamnya, rumahnya digeledah. Umpat yang menggeledah: PKI kok punya Al-Qur’an! Sambil kemudian melempar kitab suci itu ke dalam almari. Tidak berhenti di situ, rumah mereka lantas dibakar, hingga rata dengan tanah. Sementara Bapaknya yang dituduh PKI itu masih berjaga di kelurahan dan belum pulang. Yang ironis, adalah ucapan kakaknya, yang sibuk sebagai mahasiswa yang turut aktif menumpas sisa-sisa Gestapu/PKI. Katanya (dengan nada pilu pasti) : Jadi lucu. Di sana saya menumpas PKI di sini rumah kita dihancurkan!

Penderitaan tidak berhenti di situ saja. Beberapa waktu kemudian,
Bapaknya di-aman-kan ke Kodim. Dan kesedihan-demi-kesedihan pun mulai berjalan. Dari hari ke hari.

Membaca novel ini kita menjadi sedih, ngeri, marah campur aduk. Dan menurut Yudhis novel ini adalah bagian yang pertama. Bagian selanjutnya nampaknya belum terbit sampai sekarang.

[ Tulisan ini berasal dari postingan saya di sini ]

2 thoughts on “Aku Bukan Komunis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s