Daulat Rakyat: Kini Saatnya


Keponakan saya (kelas 5 SD) tanya kepada saya: “Besar mana Lurah sama Camat?”

“Besar Camat kalau dia gendut dan Lurahnya kurus…….”

“Bukan itu…..” sergah keponakan saya agak sewot.

“Di atas Lurah ada Camat. Di atasnya ada Bupati/Walikota. Di atasnya ada Gubernur. Di atasnya ada Presiden. Di atasnya ada MPR. Di atasnya ada Rakyat………..”

“Di atas Rakyat?” potong keponakan saya.

“Allah. Ini posisi yang paling puncak……” demikian saya mengakhiri pembicaraan itu, karena suara adzam Isya’ sudah mulai berkumandang.

Turun dari Masjid, saat tiba di rumah, saya lantas teringat hasil Pilkada di Jabar dan Sumut. Di sana, terbuktikan bahwa daulat rakyat sudah mulai menampakkan hasilnya.

Di atas kertas, Heryawan-Dede harus kalah karena hanya diusung 28 kursi di DPRD I Jabar, dari PKS (21) dan PAN (7). Lawannya, Danny-Iwan, didukung 45 kursi: Golkar (28), Demokrat (9), PBB (1), dan PKB (7). Adapun Agum-Nu’man diusung 34 kursi, dari PDI-P (21) dan PPP (13).

Apalagi Danny-Iwan ”dibantu” Presiden Yudhoyono (5/4) dengan pengucuran Bantuan Langsung Masyarakat untuk Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri Jawa Barat senilai total Rp 792 miliar.

Kenyataannya, PNPM pun tak mampu mendongkrak suara Danny-Iwan, uang dan dukungan Presiden bukan segalanya dalam Pilkada Jabar.

Rusia baru sudah lahir. Dmitry Medvedev (43) terpilih sebagai presiden baru. Sementara itu, Amerika Serikat (AS) sedang menanti Barack Hussein Obama Jr (46) sebagai presiden baru AS. Medvedev dan Obama adalah penanda terbaik lahirnya generasi baru kepemimpinan nasional di Rusia dan AS, berarti juga generasi baru kepemimpinan global. Publik di Rusia dan AS membutuhkan alternatif perubahan radikal dan baru terhadap kualitas kepemimpinan dan pengalaman. Obama menyahutnya, ”Our time for change has come!”…………

Rusia dan AS meninggalkan politik status quo dan melakukan regenerasi kepemimpinan nasional, bahkan Al Gore (mantan wapres Bill Clinton) menyingkir secara elegan.

Tampaknya bola salju kemenangan kaum muda akan terus bergulir dalam pilkada di seluruh Indonesia pada 2008 ini, seperti di Jateng, Jatim, Riau, Lampung, Sumsel, dan sejumlah kabupaten/kota. Puncak bola salju ini adalah perebutan kepemimpinan nasional pada 2009 mendatang (dan telak mengalahkan) politisi ”sepuh”, melalui jalur parpol menengah/kecil maupun jalur perseorangan (bila dikabulkan rencana judicial review oleh Mahkamah Konstitusi atas UU No 23/2003 tentang Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden), seperti Susilo Bambang Yudhoyono (58), Jusuf Kalla (65), BJ Habibie (71), Megawati Soekarnoputri (60), Abdurrahman Wahid (67), Amien Rais (63), Akbar Tandjung (62), Wiranto (60), Sutiyoso (63), Sultan Hamengku Buwono X (61), dan segenerasinya.

Kaum muda di Indonesia adalah pembuat sejarah. Karena itu, regenerasi kepemimpinan nasional seperti banjir sejarah yang tak bisa dibendung. Siapa pun yang mencoba menahan akan tenggelam menjadi pecundang. Kaum muda dan golput meneriakkan keyakinan Heraclitus, yang selalu digaungkan Bung Karno, ”tuan- tuan segalanya pasti berubah, Panta Rei.” [Bom Waktu Kaum Muda dan Golput, M Fadjroel Rachman, KOMPAS, Jumat, 18 April 2008 | 00:38 WIB]

5 thoughts on “Daulat Rakyat: Kini Saatnya

  1. kalo kata bung karno:
    berikan saya 10 pemuda, dan akan saya taklukan dunia.

    Sayang, akhirnya yang terjadi adalah peristiwa G-30-S. Jadinya Bung Karno belum sempat menahlukkan dunia…….

  2. Menarik juga membaca opini anda kalau :

    Kalimat :

    “Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri Jawa Barat = bantuan SBY.”

    Kalau menurut saya, rakyat jawa barat lah yang sudah pintar, karena mereka tahu kalau bantuan tersebut tidak ada hubungannya dengan dipilih atau tidaknya Gubernur yang sekarang. Sebagai bukti, toh pembangunan PNPM Mandiri terus berlangsung dan tidak mandek dan (yang secara otomatis) akan diteruskan oleh Gubernur yang baru. (lha bantuannya juga baru bulan maret kemarin, masak langsung berhenti sih ???). Lain halnya kalau bantuannya dulu … dulu ….

    Bahkan kalau dipikir bantuan ini lebih “menguntungkan” Gubernur yang baru. Karena merekalah yang bakal mempunyai kesempatan mengelola uang tersebut (tentu saja kalau berhasil). Dan kemampuan memimpin inilah yang akan di nilai pada pilkada berikutnya.

    Kalau 5 tahun lagi pasangan Hade terpilih lagi mungkin orang akan bilang kalau Hade lah yang dibantu SBY😉

    Ini hanya sekedar Opini saya

    Salam kenal,

    Terima kasih atas tambahan informasi ini. Pendapat di atas adalah (sejatinya) pendapat mas Fadjroel Rachman.
    Salam kenal kembali:mrgreen:

  3. Kemenangan Hade adalah kemenangan atas kesadaran perubahan. Setelah menunggu selama 10 tahun rakyat Indonesia, yang dimulai dari Jabar, baru tersadar akan pentingnya reformasi. Setelah kemenangan ini semoga disusul oleh kemenangan generasi pembaharu berikutnya. Kini Saatnya Yang Muda Memimpin.

    Ketimbang golput, memang bijaksana manakala kita memilih orang yang masih menyimpan harapan, walau itu hanya setitik saja.😛

  4. betul ituuhhh… yang tua-tua mbok ya pulang kampung dan mikirin akherat aja… kasih kesempatan buat yang muda… heuheuhue

    Itu semua tergantung dari segenap rahayat, mas. Suara rakyat (yang murni) mestinya jangan sampai tergadaikan. Soalnya amat mahal nilainya.😛

  5. wong sidoarjo numpang lewaat yo mas, blogku sing iki sik anyar. dadi sik kpingin blajar akeh nang arek2.

    Semakin sering baca, semakin sering blog-walking, pasti deh akan dapat banyak ilmu, yang tentu saja diharapkan dapat menularkan ilmu lagi kepada kita-kita.😛
    Selamat jalan dan sukses selalu😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s