Saat Mahasiswa Meng-HARDIK- Pak Harto


Entah kebetulan atau tidak, setelah pada tanggal 1 Mei 1998, Soeharto melalui Menteri Dalam Negeri Hartono dan Menteri Penerangan Alwi Dachlan mengatakan bahwa reformasi baru bisa dimulai tahun 2003, besoknya, 2 Mei 1998, bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional, Pernyataan itu diralat dan kemudian dinyatakan bahwa Soeharto mengatakan reformasi bisa dilakukan sejak sekarang (1998).

Lantas peristiwa demi peristiwa pun terjadi secara beruntun. Tanggal 4 Mei 1998, Harga BBM meroket 71%, disusul 3 hari kerusuhan di Medan dengan korban sedikitnya 6 meninggal. Lalu tanggal 7 Mei 1998 terjadi Peristiwa Cimanggis, Bentrokan antara mahasiswa dan aparat keamanan terjadi di kampus Fakultas Teknik Universitas Jayabaya, Cimanggis, yang mengakibatkan sedikitnya 52 mahasiswa dibawa ke RS Tugu Ibu, Cimanggis. Tanggal 8 Mei terjadi Peristiwa Gejayan, 1 mahasiswa Yogyakarta tewas terbunuh. Lalu 12 Mei Tragedi Trisakti, 4 Mahasiswa Trisakti terbunuh. Tanggal 13 Mei Kerusuhan Mei 1998 pecah di Jakarta. Kerusuhan juga terjadi di kota Solo. 14 Mei Demonstrasi terus bertambah besar hampir di seluruh kota-kota di Indonesia, demonstran mengepung dan menduduki gedung-gedung DPRD di daerah. Soeharto seperti dikutip koran, mengatakan bersedia mengundurkan diri jika rakyat menginginkan. Ia mengatakan itu di depan masyarakat Indonesia di Kairo.

Dan sehari setelah Hari Kebangkitan Nasional, Pak Harto menyatakan pengunduran dirinya. Tanggal inilah yang menjadi tonggak reformasi, saat tumbangnya rezim Orde Baru dan lahirnya Orde Reformasi bin Orde (ter)-Baru.

Telah 10 Tahun usianya, namun nasib (sebagian terbesar) rakyat masioh belum beranjak dari keterpurukannya. Malah, ada sebagian kalangan bilang nasibnya lebih jelek ketimbang di masa rezim Orde Baru.

Ternyata yang paling mencolok perubahannya adalah soal jumlah pelaku korupsi. Kalau di zaman Orde Baru korupsi ‘lebih banyak’ dilakukan oleh para ‘abdi negara’ alias kalangan eksekutif dan yudikatif, maka di zaman Orde (ter)Baru kian meluas ke kalangan Wakil Rakyat.

[ sumber: Wikipedia ]

2 thoughts on “Saat Mahasiswa Meng-HARDIK- Pak Harto

  1. disebut zaman reformasi kah ini???

    Mungkin zaman REPOT (MENANAK) NASI, karena harus antri minyak dulu. Soalnya banyak yang tak berani pakai kompor gas pemberian pemerintah. Karena kualitasnya ‘mengkhawatirkan’.

  2. jd inget masa muda dulu..
    sempet ikut meruntuhkan beliyaw..🙂

    Sayangnya apa yang dimaui para ‘pendobrak’ kemapanan tak sepenuhnya berhasil direformasi. Bahkan korupsi kian merata dan menjadi-jadi…..😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s