Munir, Adik Kelas Yang Tak Begitu Saya Kenal


Saya tak begitu paham saat ia (Munir Said Thalib) masih menjadi mahasiswa. Soalnya saat itu saya tengah menyelesaikan skripsi saya. Saya juga tidak tahu dia masuk Fakultas Hukum Universitas Brawijaya tahun berapa. Yang jelas, dari beberapa teman, saya dengar dia sering memanfaatkan ruang kafetaria sebgai ruang diskusi yang gayeng dengan teman-temannya.

Saat ia berkibar di KontraS, saya sebagai sesama alumni bangga dan salut atas komitmen dan segala sepak terjangnya.

Bahwa kemudian dia tiba-tiba meninggal saat di Singapura dalam perjalanan menuju ke Amsterdaam, 4 tahun yang lalu, saya cukup kaget juga.

Ternyata cara-cara Orde Baru masih mewarnai Orde Reformasi bin Orde (ter)Baru masih mewarnai dalam hal ‘penghilangan’ nyawa orang yang dianggap berbahaya.

Upaya hukum telah dilakukan dengan berbagai cara. Namun hingga kini, masih pelaksananya saja yang masuk penjara, yaitu Pollycarpus Budihari Priyanto. Itupun menurut keputusan Mahkamah Agung, Pollycarpus tidak terbukti melakukan pembunuhan berencana. Dalam putusan kasasi yang dibacakan di Jakarta, Mahkamah Agung (MA) hanya menghukum terdakwa Pollycarpus dua tahun penjara karena terbukti menggunakan surat palsu.

Tiba-tiba saja kemarin, di televisi maupun di KOMPAS hari ini, Kepala Polri Jenderal (Pol) Sutanto, Jumat (16/5), mengatakan bahwa tersangka baru dalam kasus pembunuhan aktivis hak asasi manusia, Munir, adalah oknum dari suatu institusi. Namun, Sutanto belum bersedia mengungkap identitas tersangka ataupun asal institusinya.

Akankah akan terkuak siapa otak pembunuhnya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s