Di Sini Golput, Di Sana Golput


Bicara tentang Golput mau tak mau harus menyebut nama Arief Budiman. Arief Budiman (lahir di Jakarta pada 3 Januari 1941) dilahirkan dengan nama Soe Hok Djin. Ayahnya seorang wartawan yang bernama Soe Lie Piet. Bersama dengan adiknya, Soe Hok Gie, Arief terkenal sebagai aktivis demonstran Angkatan ’66. Pada waktu itu ia menjadi mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Indonesia di Jakarta.

Sejak masa mahasiswanya, Arief sudah aktif dalam kancah politik Indonesia, karena ia ikut menandatangani Manifesto Kebudayaan pada tahun 1963 yang menentang aktivitas LEKRA yang dianggap memasung kreativitas kaum seniman.

Kendati ikut melahirkan Orde Baru, Arief bersikap sangat kritis terhadap politik pemerintahan di bawah Soeharto yang memberangus oposisi dan kemudian diperparah dengan praktek-praktek korupsinya. Pada pemilu 1973, Arief dan kawan-kawannya mencetuskan apa yang disebut Golput atau Golongan Putih, sebagai tandingan Golkar yang dianggap membelokkan cita-cita awal Orde Baru untuk menciptakan pemerintahan yang demokratis.

ANTARA News, dengan judul Golput Mencapai 69 Persen mewartakan bahwa : Sekitar 69 persen pemilih dari 575.665 orang yang masuk daftar pemilih tetap (DPT) di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, memilih tidak menggunakan hak pilihnya alias golput dalam Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur (Pilgub) Jawa Tengah, Minggu (22/6).

Dengan demikian, kata Ketua Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Kabupaten Kudus, Warsito, di Kudus, Senin, tingkat partisipasi masyarakat dalam pigub ini sekitar 31 persen (179.588 pemilih).

Dibanding dengan daerah lain, jumlah Golput di Jawa Tengah ini memang rekor.

Persoalannya, kenapa hal ini bisa terjadi?

Dulu, di zaman Orde Baru Golput adalah ‘barang haram’. Boleh dikatakan tak ada warga negara yang tak nyoblos saat pemilu. Ada rasa keterpaksaan di sana, walaupun sejatinya menggunakan hak adalah menjadi wewenang mutlak pemiliknya. Bisa digunakan bisa tidak. Maka kini, banyak yang bersikap lebih baik tidak nyoblos, ketimbang salah memilih, atau memang tak ada yang cocok.

Bagaimana dengan Anda?

3 thoughts on “Di Sini Golput, Di Sana Golput

  1. Golongan Putih (Golput)
    M Kamil
    Ketua LSM TERAS
    Alamat Jalan Kha.Wahid Hasyim 7 ulu rt 13 Lr Terusan II no 510 Palembang.
    Telepon : 0819-7888802
    Mulai dari mana sampai dengan sekarang tidak jelas sejarahnya, hanya saja untuk ini orang telah berkeyakinan bahwa golongan putih adalah orang-orang yang jenuh dengan keadaan yang ada sekarang ini.
    Apa yang mereka sesalkan dengan keadaan sekarang ini, itu sebabnya makin tahun orang-orang yang kelompok putih ini makin bertambah saja.
    Sehingga salah satu partai yang sangat berkenan untuk menggaet golongan ini adalah dari partai Pakar Pangan, mereka berpendapat bahwa golongan ini sangat potensial untuk digaet pada partai Pakar Pangan.
    Sementara itu kenapa mereka berpendapat demikian karena, golongan ini sudah terdapat hingga mencapai tiga puluh persen, ini bukan kelompok yang sedikit karena untuk golongan ini saja dapat mencapai hingga kursi yang di harapkan di DPRD kota dan kabupaten maupun di Propinsi, DPRD untuk golongan putih ada kursinya.
    Ini yang dinyatakan oleh ketua KPU Sumatera Selatan Syafitri Irwan, bahwa untuk golongan putih akan mencapai hingga tiga puluh lima persen, ini suatu suara yang sangat potensial yang akan mengisi kursi di DPRD.
    Sekarang itu bukan soal kenapa golongan putih itu terbentuk ini tiada lain karena memang pertama mereka sudah jenuh pada partai yang selama ini hanya pandai bicara tapi kenyataan hanya lebih senang dengan mensengsarakan rakyat belaka, bukan mereka justru lebih mensejahterakan rakyatnya.
    Rakyat bukan lagi hanya sebaagi patokan yang untuk dijadikan batu loncatan bagi mereka yang akan mendudduki jabatan itu saja, ini salah besar, rakyat jangan hanya dijadikan landasan untuk naik sesuatu jabatan.
    Bagaimana kalau rakyat akan menuntut untuk yang telah kalian lakukan itu, bukan karena kalian hanya merasa pandai memampaatkan kesejahteraan diri, sehingga anda merasa hebat dengan kekuatan yang anda lakukan itu, ini suatu pembohongan yang di lakukan.
    Jangan ulang kedua kali untuk selalu membohongi masyarakat karena jika bara api itu membara akan tak pernah dapat di atasi kembali. Itu akan membawa korban yang tak akan teratasi oleh siapapun yang ada dalam dunia ini, dimanapun itu adanyanya.
    Mari dengan kesadaran untuk benar-benar berpikir, dan melaksanakan untuk membangun bangsa ini dengan kekuatan yang benar dan kepentingan rakyat yang apa adanya, bukan pembohongan yang dilakukan untuk saat ini.

    Yang terjadi selama ini partai dibentuk bukan semata demi kepentingan rakyat banyak. Tapi lebih diutamakan demi perut mereka sendiri beserta golongannya. Kepentingan rakyat, hanyalah merupakan pelengkap penderita. Itu antara lain Golput menjadi terbentuk.
    Maka Golput menjadi semakin berbiak karena aspirasi mereka tak pernah tertampung di sana.
    Seandainya ada partai Golput, apakah suara mereka akan tertampung di sana? Walahu Alam.😛
    Wait and see 2009:mrgreen:

  2. Jika kita meneliti masalah gayus hingga kini sepertinya memeiliki ikatan yang panjang, entah siapa yang ada di balik Gayus sepertinya amat panjang.
    Jika saja masalah Gayus ini tak juga dapat di selsaikan maka hukum di Indonesia betul-betul lembut, hukum dan pelaksana hukum akan sangat di berarti bagi warga masarakat Indonesia pada saat ini.
    adalah satu tindakan yang sangat baik bagi Gayus, yaitu adalah tembak mati saja dia itu.
    karena kalau hal ini tidak segera diselsaikan, akan lahir lagi Gayus yang baru, akan terus berlanjut.
    tetapi jika hukum mati atau di tembak mati maka gayus lain yang masih brsembunyi,atau akan baru lahir lagi para koruptur lainya akan segera di tembak mati kembali, entah di mana saja ia berada lakukan tembak mati di tempat bagi para koruptor, karena KPK kalau hanya satu tahun saja sama saja itu artinya KPK tidak dapat berkerja.
    Agar para DPR ,Pejabat, serta petugas peemrintah memiiki kesempatan untuk melakukan korupsi, dengan bebas nya pelaku korupsi akan berbuat, sehingga KPK akan tidak punya nyali untuk berbuat kalau hanya punya waktu satu tahun saja, baik bubarkan saja itu KPK.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s