Potensi Zakat di Indonesia (sebetulnya) Luar Biasa


Potensi zakat, yang pelaksanaannya merupakan salah satu dari lima Rukun Islam, bisa mencapai triliunan rupiah. Namun, sejauh ini pengorganisasian zakat tersebut belum optimal sehingga manfaatnya belum dapat dirasakan untuk meningkatkan kesejahteraan umat di Indonesia.

Berdasarkan hitungan Kompas, potensi minimal zakat di Indonesia sebesar Rp 4,8 triliun. Asumsinya, penduduk Muslim 88,2 persen dari total penduduk Indonesia. Mengacu pada Survei Sosial Ekonomi Nasional 2007, dari 56,7 juta keluarga di seluruh Indonesia, 13 persen di antaranya memiliki pengeluaran lebih dari Rp 2 juta per bulan. Dengan asumsi bahwa penghasilan setiap keluarga itu lebih besar daripada pengeluaran, minimal keluarga itu mampu membayar zakat 2,5 persen dari pengeluarannya. Dengan demikian, nilai totalnya menjadi Rp 4,8 triliun.

Survei Public Interest Research and Advocacy Center (PIRAC) tahun 2007 menyebutkan, potensi zakat di Indonesia lebih besar lagi, yaitu Rp 9,09 triliun. Survei ini menggunakan 2.000 responden di 11 kota besar.

Pakar ekonomi syariah, Syafii Antonio, bahkan menyebut potensi zakat Indonesia mencapai Rp 17 triliun. Namun, hasil riset terbaru dari Ivan Syaftian, peneliti dari Universitas Indonesia, tahun 2008, dengan menggunakan qiyas zakat emas, perak, dan perdagangan, didapat data potensi zakat profesi sebesar Rp 4,825 triliun per tahun. Penghitungan ini menggunakan variabel persentase penduduk Muslim yang bekerja dengan rata-rata pendapatan di atas nisab.

Sementara itu, jumlah dana zakat yang bisa dihimpun Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) tahun 2007 sebesar Rp 14 miliar. Apabila digabung dengan penerimaan zakat seluruh lembaga amil zakat (LAZ) tahun 2007, dicapai Rp 600 miliar. Nilai ini hanya 12,5 persen dari potensi minimal yang ada jika asumsi potensi Rp 4,8 triliun.

Manajemen zakat

Direktur Eksekutif Baznas Emmy Hamidiyah berpendapat bahwa manajemen zakat perlu diatur lebih baik karena belum maksimal. ”Selama ini belum ada lembaga yang mengatur semua pengelola dan penyalur zakat. Sebaiknya ada kontrol sehingga penggunaan zakat dapat dirasakan umat,” kata Emmy.

Selama ini, pengelolaan zakat dilakukan Baznas, Badan Amil Zakat Daerah, dan LAZ yang tersertifikasi maupun yang tidak. Pengelola masing-masing mempunyai aturan main sendiri dalam operasionalnya.

Amin Abdullah, Rektor Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, menuturkan, persoalan zakat melibatkan tiga aspek penting yang saling mengait, yaitu muzaki atau pemberi zakat, pengelola zakat, dan pengawas. Namun, hingga kini ketiga aspek itu masih jalan sendiri-sendiri. Akibatnya, optimalisasi potensi zakat dan pemanfaatannya belum bisa dilakukan. ”Selama tiga faktor ini tidak berjalan, potensi sebesar apa pun hilang,” ujarnya, Senin (29/9).

Syafii Antonio juga menyayangkan sebagian besar umat Muslim yang hanya memaknai zakat sebagai ibadah ritual. ”Zakat ibarat potensi besar yang mati sehingga belum bisa jadi tumpuan pengentasan kemiskinan,” paparnya.

Tragedi pembagian zakat di Kabupaten Pasuruan, 15 September, yang menewaskan 21 orang, merupakan pelajaran berharga.

Peneliti PIRAC, Hamid Abidin, menilai, pendayagunaan zakat kurang karena hanya menggunakan pendekatan santunan. Zakat masih lebih fokus pada delapan kelompok yang berhak menerima. Padahal, zakat berfungsi stra- tegis dalam pemerataan kekayaan, pemberdayaan ekonomi umat, aspek advokasi, dan pendidikan. (Potensi Zakat Triliunan Rupiah – Kompas)

[ Gambar diambil dari sini ]

7 thoughts on “Potensi Zakat di Indonesia (sebetulnya) Luar Biasa

  1. Mungkin pemahaman saya terlampau sederhana. Zakat adalah salah satu dari rukun (kewajiban ) agama, karenanya dalam praktik pelaksanaannya sangat besifat pribadi seperti mengerjakan sholat. Ia menyangkut perasaan hubungan dan tanggung jawab lagsung kepada Allah Ar-rachman Ar-rachim.
    Sehingga jika diatur secara manajemen modern mungkin diatara muzaki merasa “tidak khusuk” lagi karena ibadah zakat dilaksanakan melalui “perantara”. Apalagi jika ibadah ini diatur oleh negara melalui keputusan presiden, sk menteri atau apapun namanya untuk keperluan pengawasan dll. yang berarti negera masuk dalam domain yang sangat pribadi.

    Kalau setingkat RW atau Kota, mungkin mudah. Namun kalau sudah menasional, jadi syusyah bila tanpa ada manajemen yang bagus.
    Soal perlu campur tangan pemerintah apa tidak, tentu para cerdik cendekia yang lebih paham.
    Dan saya yakin, dengan pengelolaan secara baik profesional, manfaat dana zakat akan sampai dan mengena ke sasaran.😛

  2. Sudah waktunya… kita untuk bersatu meraih mimpi… menjadi muslim yang benar-benar berarti dengan sebenar-benarnya sesuai aturanNYA.. sehingga.. dalam ikut andil dalam kemashlahatan secara maksimal… (diantaranya dengan pengelolaan zakat)…. Keep moving….

    Kalau nggak sekarang, kapan lagi😛

  3. mengapa zakat perlu diatur dan melibatkan peran pemerintah?
    ini adlh jawaban yg saya kutip dari blognya asrul husein http://asrulhoesein.blogspot.com/2009/09/implementasi-zakat.html: “Pertama, untuk menjamin kepastian dan disiplin pembayaran zakat, Kedua, menjaga perasaan rendah diri para mustahiq apabila berhadapan langsung untuk menerima haknya dari para muzakki. Ketiga untuk mencapai efisiensi, efektivitas dan sasaran yang tepat dalam penggunaan harta zakat menurut skala prioritas yang ada di suatu tempat. Keempat, untuk memperlihatkan syiar Islam dan semangat penyelenggaraan negara dan pemerintah yang Islami. Sebaliknya, jika pelaksanaan zakat itu begitu saja diserahkan kepada para muzakki, maka nasib dan hak-hak orang miskin dan para mustahiq lainya terhadap orang-orang kaya tidak memperoleh jaminan yang pasti.”

  4. bila lembaga agama dan kyai kiyai tidak sibuk berpolitik.. dan lebih memikirkan kesejahteraan umat.. nya…insyallah.. masalah zakat dapat di atasi bersama.. dan insyallah kluarga yang kurang mamapu dapat terbantu… ga hanya program jangka pendek lewat bantuan secara langusng .. tetapi program jangka panjang yang sifatnnya menghidupi umat… untuk kedepannya… ga sah mengharapkan pemerintah.. mereka sedang sibuk rebutan dosa….

  5. Pingback: ZAKAT REDUCES TAX : ZAKAT OPTIMALIZATION FOR POVERTY REDUCTION | Faizahusnayeni's Blog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s