Saya dan Tahun Baru 2009: Sebuah Refleksi


689ru_119Setiap menjelang akhir tahun hampir sebagian besar masyarakat di seluruh dunia begitu semangat untuk menyambut kepergiannya. Semangat yang sama juga ditujukan kepada datangnya tahun baru. Demikian pula halnya dalam menyambut tahun 2009 yang tinggal menghitung hari.

Kalau Tahun Masehi hadir pada tanggal 1 Januari 2009, maka Tahun Islam (1 Muharram 1430 Hijriyah) akan hadir 2 hari lebih awal, yaitu tanggal 29 Desember 2008. Sementara Tahun Baru Imlek 2560 akan hadir pada tanggal 26 Januari 2009. Dan menurut shio Cina Tahun Anjing Tanah (2008) akan digantikan dengan Tahun Kerbau Tanah.

Yang umum dirayakan oleh segenap penjuru dunia adalah Tahun Baru Masehi, demikian pula halnya dengan saya.

Pada tahun 80-an saya biasanya (bersama teman-teman) melewati pergantian tahun dengan berkeliling kota Malang, lantas menuju ke Batu menikmati keindahan kota Malang di ‘Payung’ sambil makan jagung dan sedikit alkohol. Dan menjelang terbit fajar kami pun segera bergeser pulang dan masuk ke peraduan. Seharian.

Pada awal tahun 90-an lain lagi. Pada saat masih aktif di kelompok teater (Teater Melarat namanya. Melarat di sini bukan berarti miskin, melainkan me-larat – seperti kuda yang lari kencang) kami segenap anggota duduk bersila di lantai secara melingkar. Menjelang detik-detik kepergian tahun, kami satu demi satu, diharuskan menyampaikan semacam pengungkapan diri tentang apa saja. Harapan, pengakuan dosa, atau apalah yang dianggap patut untuk disampaikan. Dan setelah hadir itu tahun baru, ada semacam pengisian (kalau di pengajian namanya mauidho hasanah) dari tokoh yang sengaja diundang.

Pada akhir tahun 90-an (saat Teater Melarat sudah tak lagi aktif) kami sering bersama-sama kelompok musik yang bernama IQ Rendah sering diundang dalam acara-acara yang diadakan dalam rangka old and new. Mulai dari pelosok kampung hingga hotel berbintang. Saya sendiri bertindak sebagai pembawa acaranya, karena saya memang tidak bisa ‘nyanyi’ dengan baik dan benar.

Pada saat menjelang millennium kedua (yang terkenal dengan istilah Y2K) lain lagi ceritanya. Saat itu saya sudah berumah tangga. Masa hura-hura sudah lama saya tinggalkan. Dan hanya tinggal kenangan belaka. Saya biasanya menonton televisi bersama anak-anak saya hingga laurt malam. Setelah itu saya pergi keluar rumah untuk menikmati aroma tahun baru.

Belakangan ini (sekitar dua tahun yang lalu) saya mengakhiri tahun di alam dunia maya. Berselancar selama setahun.

Kali ini mungkin saya tak akan berselancar di alam maya, mungkin saya pakai untuk merenung, instropeksi, mawas diri.

Kalau sebelumnya saya selalu menyambut tahun baru dengan sukacita, tidak untuk kali ini. Karena pada galibnya, setiap pertambahan tahun, berati pula berkurang jatah saya dalam mengarungi dunia fana. Ini yang jarang saya sadari.

Apakah saya sudah punya banyak atau cukup bekal untuk menghadap Sang Khalik? Atau sebandingkah hidayah, taufiq dan inayah-Nya dengan pengabdian saya kepada-Nya.

3 thoughts on “Saya dan Tahun Baru 2009: Sebuah Refleksi

  1. Hai bung Djunaed, apa khabar?
    Saya syahdarani (rani) dulu aktif di teater melarat.
    Ingin mengumpulkan teman-teman ex teater melarat sekedar nongkrong dan silaturahmi.

    Salam

    Hp 0811311271

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s