Nilai Keperawanan Itu Mencapai 3,7 Juta Dolar AS


virgin-mail

Pada tanggal 17 September 2008 yang lalu saya mengutip Kompas Online tentang pelelangan keperawanan yang dilakukan oleh Natalie Dylan.

Pagi tadi, di kantor saya membaca kelanjutan kisah itu di Harian SURYA. Antara lain diberitakan bahwa : saat lelang disiarkan pertama kali melalui sebuah radio di AS September silam, nilai tawaran pun mulai bermunculan. Natalie pernah mendapatkan harga 243,000 dolar AS atau sekitar Rp 2,5 miliar. Dan nilai itu terus beranjak naik. Bahkan ketika sudah 10.000 laki-laki menawar dengan nilai tertinggi 3,7 juta dolar AS (sekitar Rp 40 miliar), Natalie masih geleng kepala karena menunggu tawaran lebih baik.

“Saya tak mengira orang mau keluar duit begitu banyak demi mendapatkan keperawanan, bahkan ketika keperawanan tidak begitu dihargai. Sepertinya ada persaingan di antara para pria itu,” aku Natalie terang-terangan.

Dari 10.000 penawar tak sedikit yang punya orientasi seksual aneh-aneh, bahkan ada pula yang mencari pacar. “Buat yang mencari pacar, saya tegaskan ini cuma kencan semalam,” katanya. Natalie punya alasan untuk menjual kegadisannya. Ia telah meraih gelar sarjana di bidang studi perempuan. Sekarang ia perlu mengejar gelar master tentang terapi keluarga dan perkawinan.

Inspirasi mencari duit semacam ini datang dari sang kakak, Avia, 23. Sang kakak yang tak kalah cantik memilih menjual diri selama tiga pekan untuk membiayai kuliahnya. Untuk membuktikan masih perawan, Natalie berani menjalani bermacam tes, termasuk tes kebohongan. ”Saya tahu, keinginan saya ini akan dikutuk banyak orang karena memang tabu, tapi saya nggak ambil pusing dengan itu,” katanya.

[ sumber : Mahasiswi Lelang Keperawanan, Sudah Ditawar Rp 40 Miliar Belum Dilepas , Suryalive.com ]

4 thoughts on “Nilai Keperawanan Itu Mencapai 3,7 Juta Dolar AS

  1. Dengan hormat,

    Pak Djunaedi, kami sungguh senang Anda setia membaca situs Surya. Hanya, kalau Anda berkenan, mohon kiranya materi dari situs kami tidak dicopy-paste utuh di blog Anda.

    Akan lebih elok kalau, misalnya, Anda membuat semacam komentar pembuka sebelum mencuplik sebagian naskah, kemudian mempersilakan pembaca setia blog Anda untuk baca selengkapnya di URL Surya.

    O ya, tidakkah Anda tertarik kirim tulisan untuk dimuat di edisi cetak dalam rubrik Wartawan Warganegara (Warteg) atau rubrik Opini?

    Untuk rubrik Warteg memang belum ada honornya karena ditujukan sebagai arena latihan buat mahasiswa dan penulis pemula. Sedangkan rubrik Opini, tentu saja, ada honornya.

    Sekali lagi, kami senang Anda setia membaca situs Surya. Tambahan saja, komentar ini tidak harus Anda loloskan di blog Anda. Anggaplah ini sebagai sapaan persahabatan.

    Terima kasih,
    Editor Surya Online

    • Saya ingin bertanya ke editor Surya online,
      jika tidak keberatan, saya ingin bertanya mengenai profil dan latar belakang dibuatnya rubrik Warteg di harian surya.
      Kebetulan, saya adalah sering membaca rubrik Warteg.

      Terima kasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s