Google & Chairil Anwar


AKU

Kalau sampai waktuku
‘Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri

Dan aku akan lebih tidak perduli

Aku mau hidup seribu tahun lagi

Maret 1943

Hari ini adalah hari meninggalnya Penyair besar Chairil Anwar. Rupanya Google belum (tidak tahu?) tentang peristiwa tersebut.

Patung penyair besar ini di Indonesia hanya ada ada dua. Satu ada di di dalam Taman Monas, Jakarta. Diresmikan oleh Gubenur DKI Jakarta R. Suprapto pada tanggal 21 Maret 1986. Patung Chairil yang Jakarta 31 tahun lebih muda dibanding patung Chairil yang berada di Jalan Kayu Tangan, Malang. – diresmikan tanggal 28 April 1955.

Menurut Dwi Cahyono dalam buku Malang Telusuri dengan Hati menyebut patung Chairil yang Malang adalah hasil prakarsa Hudan Dardiri. Tapi hubungan Chairil Anwar dan Malang? Bisa jadi karena Malang sempat jadi barometer sastra Indonesia setelah Padang dan Yogyakarta. Begitu ditulis Dahlia Irawati.

Di kampung kelahirannya sendiri, Medan, apakah ada monumen, atau museum khusus untuk mengenang Chairil Anwar? Seorang-demi-seorang Medan yang saya sahabati memberi dua jenis jawaban. Bila bukan “tak tahu”, ya “tak ada”! (Secangkir Es Krim Bersama Chairil Anwar yang Malang| Suatu Hari di Malang, Syam, 3 Desember 2010)

Chairil Anwar (lahir di MedanSumatera Utara26 Juli 1922 – meninggal di Jakarta28 April 1949 pada umur 26 tahun) atau dikenal sebagai “Si Binatang Jalang” (dari karyanya yang berjudul Aku [2]) adalah penyair terkemuka Indonesia. Bersama Asrul Sani dan Rivai Apin, ia dinobatkan oleh H.B. Jassin sebagai pelopor Angkatan ’45 dan puisi modern Indonesia.

Masa kecil

Dilahirkan di Medan, Chairil Anwar merupakan anak tunggal. Ayahnya bernama Toeloes, mantan bupati Kabupaten IndragiriRiau, berasal dari Taeh BaruahLimapuluh KotaSumatra Barat. Sedangkan ibunya Saleha, berasal dari Situjuh, Limapuluh Kota. [1] Dia masih punya pertalian keluarga dengan Sutan SjahrirPerdana Menteri pertama Indonesia. [2]

Chairil masuk sekolah Hollandsch-Inlandsche School (HIS), sekolah dasar untuk orang-orang pribumi waktu masa penjajahan Belanda. Dia kemudian meneruskan pendidikannya di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO), sekolah menengah pertama Hindia Belanda, tetapi dia keluar sebelum lulus. Dia mulai untuk menulis sebagai seorang remaja tetapi tak satupun puisi awalnya yang ditemukan.

Pada usia sembilan belas tahun, setelah perceraian orang-tuanya, Chairil pindah dengan ibunya ke Jakarta di mana dia berkenalan dengan dunia sastra. Meskipun pendidikannya tak selesai, Chairil menguasai bahasa Inggrisbahasa Belandadan bahasa Jerman, dan dia mengisi jam-jamnya dengan membaca karya-karya pengarang internasional ternama, seperti:Rainer M. RilkeW.H. AudenArchibald MacLeishH. MarsmanJ. Slaurhoff dan Edgar du Perron. Penulis-penulis ini sangat memengaruhi tulisannya dan secara tidak langsung memengaruhi puisi tatanan kesusasteraan Indonesia.

Masa dewasa

Nama Chairil mulai terkenal dalam dunia sastera setelah pemuatan tulisannya di “Majalah Nisan” pada tahun 1942, pada saat itu dia baru berusia dua puluh tahun. Hampir semua puisi-puisi yang dia tulis merujuk pada kematian.[3]. Chairil ketika menjadi penyiar radio Jepang di Jakarta jatuh cinta pada Sri Ayati tetapi hingga akhir hayatnya Chairil tidak memiliki keberanian untuk mengungkapkannya.[4] Puisi-puisinya beredar di atas kertas murah selama masa pendudukan Jepang di Indonesia dan tidak diterbitkan hingga tahun 1945.[5][6]

Semua tulisannya yang asli, modifikasi, atau yang diduga diciplak dikompilasi dalam tiga buku : Deru Campur Debu (1949); Kerikil Tajam Yang Terampas dan Yang Putus (1949); danTiga Menguak Takdir (1950, kumpulan puisi dengan Asrul Sani dan Rivai Apin).

Akhir hidup

Vitalitas puitis Chairil tidak pernah diimbangi kondisi fisiknya, yang bertambah lemah akibat gaya hidupnya yang semrawut. Sebelum dia bisa menginjak usia dua puluh tujuh tahun, dia sudah kena sejumlah penyakit. Chairil Anwar meninggal dalam usia muda karena penyakit TBC[7] Dia dikuburkan di Taman Pemakaman Umum Karet Bivak, Jakarta. Makamnya diziarahi oleh ribuan pengagumnya dari zaman ke zaman. Hari meninggalnya juga selalu diperingati sebagai Hari Chairil Anwar.

Karya tulis yang diterbitkan

2 thoughts on “Google & Chairil Anwar

  1. Saya bukan penyair tapi,
    Saya menggemari karya Chairil Anwar sejak SMP dulu
    Selain karyanya,
    yang saya kagum,
    bagaimana seorang yang tak lulus sekolah bisa menguasai 3 bahasa asing Belanda, Inggris, Jerman ?

    membaca artikel ini mengingatkan kesukaan saya akan chairil ..
    salam kenal

  2. Yang di malang itu bukan patung Chairil Anwar, tapi patung monsigneur Sugiyo Pranoto, kardinal pertama dari Indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s