Pemilu Indonesia Masih Dicengkeram Dinasti Politik


Penangkapan Atut tidak menyurutkan ambisi dari keluarga-keluarga politik lain, yang dapat berakar lebih dalam dari sebelumnya dalam lanskap pasca pemilu.

ImageSemua orang akan mengenal Anda di Makassar, Sulawesi Selatan, jika nama belakang Anda adalah Limpo.

Keluarga Syahrul Yasin Limpo, gubernur yang sedang menjalani masa jabatan kedua, telah mendominasi politik lokal selama tiga generasi, dan generasi keempat sedang menunggu giliran. Delapan dari kerabat dekat Syahrul akan bertarung dalam pemilihan legislatif pada 9 April: dua saudara perempuan, satu saudara laki-laki, dua abang ipar, dua keponakan laki-laki dan satu anak perempuan.

Hal ini mengukuhkan bahwa dinasti keluarga politik semakin umum meski diliputi dugaan korupsi, pengabaian dan penyalahgunaan kekuasaan.

Pada Desember, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menahan Ratu Atut Chosiyah, 51, kepala keluarga kaya dengan cengkeraman politik dan bisnis di Banten.

Atut sekarang berada di tahanan menunggu proses persidangan dalam kasus dugaan penyuapan hakim yang memenangkan kandidatnya dalam sengketa pemilihan umum tahun lalu. Pengacaranya menyangkal tuduhan itu. KPK telah menyita armada mobil mewah milik keluarganya, sementara media melaporkan kegilaan belanja di luar negeri dan renovasi rumah bernilai miliaran rupiah.

Penangkapan Atut tidak menyurutkan ambisi dari keluarga-keluarga politik lain, yang seperti ditunjukkan oleh kandidat dari klan Limpo, dapat menguat dari sebelumnya dalam lanskap pasca pemilu.

Yang menjadi paradoks adalah karena dinasti-dinasti ini adalah hasil dari reformasi di Indonesia. Sejak desentralisasi, banyak pemimpin lokal menjadi politisi berpengaruh. Kemudian berbondong-bondonglah suami, istri, anak, kakak, adik dan ipar masuk ke dalam kantor-kantor pemerintahan di seluruh negeri. Beberapa mendaki kekuasaan dengan menyalahgunakan dana pemerintah pusat yang seharusnya digunakan untuk pembangunan daerah, ujar para analis.

“Indonesia saat ini dibanjiri uang dan ada banyak kerajaan-kerajaan kecil di seluruh negara, di mana tidak seorang pun memeriksa bagaimana pejabat lokal menghabiskan anggaran mereka,” ujar seorang pejabat dalam badan pembangunan internasional yang minta namanya tidak disebut karena bekerja secara dekat dengan pemerintah Indonesia.

Di Filipina, dinasti-dinasti politik telah berkuasa selama 70 tahun atau lebih dan “tampak jelas di wilayah-wilayah dengan kemiskinan yang parah,” ujar sebuah studi tertanggal Juli 2013 oleh Asian Institute of Management di Manila.

Kemiskinan berurat akar pada dinasti tersebut, ujar studi itu, meski belum ada bukti yang jelas bahwa dinasti-dinasti menyebabkan kemiskinan.

Di Indonesia, dinasti merupakan fenomena relatif baru dan terlalu cepat untuk menyimpulkan apakah mereka menghambat pembangunan, ujar Michael Buehler, asisten profesor di Northern Illinois University yang mempelajari elit-elit Indonesia secara mendalam.

“Namun Filipina menunjukkan bahwa dinasti adalah kabar buruk. Secara keseluruhan, pembangunan ekonomi di tempat-tempat dimana dinasti politik telah berada selama puluhan tahun lebih buruk daripada tempat-tempat dengan lebih banyak kompetisi,” ujar Buehler.

“Saya Kuning”

Sulawesi Selatan, tempat keluarga Limpo berasal, tidak mundur secara ekonomi. Dengan penduduk delapan juta jiwa, provinsi ini kaya akan bijih nikel dan merupakan salah satu produsen utama beras, cokelat dan tepung jagung. Ibukota Makassar merupakan pusat perdagangan dan transportasi antara Indonesia bagian barat dan timur.

Duduk di dalam kantornya yang dijaga macan yang diawetkan, Syahrul Limpo mengatakan pencapaiannya sebagai gubernur adalah pertumbuhan kelas menengah, menurunnya tingkat kemiskinan dan tingkat pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi daripada angka nasional.

Namun, peringkat Sulawesi Selatan rendah di antara provinsi-provinsi lain untuk anggaran kesehatan dan pendidikan, menurut studi pada 2012 oleh pemerintah Australia dan kelompok kebijakan Indonesia Kemitraan.

Syahrul memulai karirnya sebagai birokrat tingkat bawah di kabupaten Gowa, yang sejak 2005 dipimpin oleh adiknya Ichsan.

Ada delapan kandidat anggota legislatif dari keluarga Limpo untuk pemilihan di kabupaten, provinsi dan nasional untuk pemilu 9 April, sebagian besar — meski tidak selalu — lewat Partai Golkar.

Adik perempuan Syahrul, Dewi, maju sebagai kandidat dari Partai Hanura, sementara putrinya Thita dari Partai Amanat Nasional.

Syahrul tidak menganggap keluarganya dinasti politik. Rakyat memiliki pilihan, ujarnya, dan jika mereka memilih seorang Limpo, hal itu disebabkan karena kerabatnya adalah pekerja keras yang berpengalaman dan jujur.

“Para anggota keluarga saya telah mendedikasikan hidup mereka untuk rakyat, dan sejauh ini rekam jejak kami sangat baik,” ujarnya. “Sampai sekarang tidak ada dari keluarga kami yang menunjukkan tanda-tanda korupsi.”

Pada usia 28, keponakan Syahrul, Adnan, sudah jadi politisi veteran. Ia pertama kali terpilih sebagai anggota legislatif provinsi 10 tahun lalu saat ia masih duduk di sekolah menengah atas.

Sekarang ia adalah kandidat dari Golkar, dengan slogan kampanye “Saya kuning” dan maju untuk masa jabatan ketiga.

“Lihat saja John F. Kennedy,” ujarnya usai rapat strategi di salah satu kedai kopi Makassar yang dipenuhi asap rokok. “Semua kerabatnya pantas jadi pemimpin saat itu.”

Thita, 33, salah satu dari tiga Limpo yang bertarung di tingkat nasional, membandingkan keluarganya dengan dinasti Gandhi-Nehru di India.

Dinasti Lawan Dinasti

Keluarga Limpo tentu saja tidak ingin dibandingkan dengan klan Atut dari Banten. “Asal muasal kami berbeda,” ujar Syahrul.

Dinasti Atut berakar dalam bisnis — proyek-proyek konstruksi yang didapat ayahnya selama rezim Soeharto merupakan fondasi kekayaan dan kekuasaan saat ini.

Suami Atut, Hikmat Tomet, yang meninggal pada November, memimpin Golkar cabang Banten, memungkinkannya menempatkan kandidat-kandidat keluarga di puncak daftar kandidat partai, ujar Buehler. Tiga dari empat kerabat Atut yang akan bertarung dalam pemilihan April adalah kandidat Golkar.

“Saya tidak yakin penahanan (Atut) akan merongrong kekuasaan keluarganya,” ujarnya. “Semua bawahannya masih menjabat.”

Juru bicara Atut, Fitron Nur Ikhsan telah berulang kali membela keluarga tersebut, menggambarkan mereka sebagai “demokratis” dan menjabat lewat konsensus.

Secara kontras, keluarga Limpo berakar dalam birokrasi. Ayah gubernur adalah mantan tentara dan bupati lima kali masa jabatan, dan tidak memiliki jumlah kekayaan yang sama atau kontrol terhadap politik partai. Syahrul adalah ketua Golkar Sulawesi Selatan, namun pemilihan kandidat pemilu adalah tugas anggota partai lain yang berasal dari keluarga saingan.

Hal ini membuat keluarga Limpo lebih rapuh dibandingkan keluarga Atut, ujar Buehler.

Pertumbuhan klan di Indonesia bukannya tidak dapat dihindari. Tahun lalu, adik gubernur, Irman Yasin Limpo kalah dalam pemilihan walikota Makassar dari arsitek lokal.

Begitu juga Nani Rosada, yang bertarung pada Juni 2013 untuk menggantikan suaminya Dada sebagai walikota Bandung, Jawa Barat.

Namun di sebagian besar daerah, anggota sebuah klan kalah bukan dari kandidat dengan misi reformasi, namun dari anggota klan saingan, ujar Buehler.

“Pembangunan dinasti keluarga-keluarga terutama dihambat pengaruh keluarga lain,” ujarnya.

Investigasi KPK terhadap keluarga pemimpin Banten dapat lebih jauh memperkuat beberapa dinasti, karena para petahana (incumbent) ingin digantikan atau berkumpul dengan anak-anak atau kerabat lain yang mungkin dapat melindungi mereka dari penyelidikan.

Setelah wawancara di rumah dinas gubernur, putri Syahrul, Thita, memperkenalkan seorang remaja putri berusia 15 tahun, yang baru saja kembali dari kursus musim panas di Inggris dengan keinginan kuat untuk terjun dalam politik.

Namanya Andi Tenri Bilang Radisya Melati, dan ia adalah cucu sang gubernur. (Reuters)

sumber : VOA Indonesia

One thought on “Pemilu Indonesia Masih Dicengkeram Dinasti Politik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s