MILITER DI MATA GOENAWAN MOHAMAD


ImageAda dua takhayul dalam politik Indonesia. Tentang militer.

Takhayul pertama: bahwa mantan jenderal adalah calon pemimpin politik nasional yang bisa
diandalkan — sebagai orang “kuat”.

Dilupakan, pengalaman para perwira itu terbatas. Mereka cuma pernah memimpin pasukan, yang bajunya seragam dan suaranya seragam, “siap!”.

Memang ada Suharto dan Ali Sadikin, yang terbukti efektif sebagai pemimpin bangunan politik yang terdiri dari anasir beragam. Tapi itu terjadi dalam keadaan ketika politik dibekukan, dan perbedaan pendapat dikelola dengan ketat.

Yang perlu juga dilihat, baik Ali Sadikin maupun Suharto menempuh karir militernya antara tahun 1945 sampai sekitar 1960-an, ketika politik sipil berperan besar dan militer terpaksa menyesuaikan diri. Kedua orang itu, selain punya leadership, juga telah ditempa keharusan menyesuaikan diri dalam hubungan-hubungan politik non-militer. Dengan kata lain, punya ketrampilan politik yang tak cukup dimiliki generasi TNI Orde Baru.

ImageSBY membuktikan bahwa ia bisa mengelola republik di dalam kehidupan politik yang demokratis. Tapi ia bukan orang kuat. Ia bukan orang kuat karena ia tak cukup punya ketrampilan politik, tak cukup pintar menghimpun dukungan, terutama di parlemen. Bahkan ia tak cukup kuat mengendalikan partainya sendiri.

Ia juga bukan orang kuat karena ia kurang mampu mengambil keputusan dalam saat yang diperlukan.

Pada akhirnya kelihatan: para jenderal hanya kuat sebatas ia memimpin pasukan dan sebatas ia masih punya akses ke pasukan. Para pensiunan yang sekarang adalah orang-orang yang kekuatannya bahkan tak sebesar orang sipil yang di pemerintahan ataupun di dunia bisnis.

Tapi orang sering terkecoh…Juga para politisi sipil yang sebenarnya lebih berkuasa.

Takhayul kedua: bahwa militer adalah kekuatan politik yang masih menentukan dalam percaturan dewasa ini.

Ini termasuk takhayul yang terlambat. Di masa Orde Baru, militer memang pegang posisi di mana-mana. Tetapi pada akhirnya, Orde Baru bukanlah sebuah kekuasaan junta militer. Yang ada adalah kekuasaan seorang otokrat, yaitu Suharto, yang menentukan siapa yang memimpin militer. Dari segi ini tampak bahwa waktu itupun militer (bangunan kekuatan yang aktif) disubordinasikan oleh seorang sipil — Suharto, mantan tentara, yang tak punya akses lagi ke pasukan..

Dari segi jumlah dan teknologi, ABRI juga tak bisa dibilang kuat. Jumlah personilnya kurang dari setengah juta, di sebuah negeri berpenduduk 240 juta. Anggaran pertahanan Indonesia di masa itu termasuk paling rendah di Asia, jauh lebih rendah ketimbang Singapura. TNI berbeda dari militer Mesir, yang diperkuat dan memperkuat diri karena suasana perang yang panjang dengan Israel.

Kalangan militer juga, yang sekarang merasa agak terpojok, tak punya sejarah yang gemilang di masa Orde Baru. Reputasinya cacat oleh korupsi dan tindakan represif, termasuk pembunuhan dan poenculikan orang-orang sipil.

Sudah saatnya kedua takhayul ini diungkapkan sebagai takhayul, bukan sebagai kenyataan faktual.

sumber :Goenawan Mohamad

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s