Komnas-HAM: Tes Keperawanan Tidak Dibutuhkan


Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) menilai tes keperawanan untuk perempuan calon prajurit TNI sangat diskriminatif. Menurutnya kemampuan dan prestasi seseorang yang harus diutamakan dalam penilaian dibandingkan tes keperawanan.

Pasukan TNI dalam latihan Pasukan Pemukul Reaksi Cepat (PPRC) di Poso, 31 Maret lalu

Pasukan TNI dalam latihan Pasukan Pemukul Reaksi Cepat (PPRC) di Poso, 31 Maret lalu. (Foto: dok.)

Tes keperawanan untuk masuk seleksi anggota TNI bagi perempuan mendapatkan kritikan dari Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM).

Komisioner Komnas HAM Sandrayati Moniaga, Jumat mengatakan tes keperawanan untuk perempuan calon prajurit dan calon istri anggota Tentara Nasional Indonesia harus segera ditiadakan atau dihapus.

Tes keperawanan seperti ini lanjutnya merupakan hal yang sangat diskriminatif. Menurutnya kemampuan dan prestasi seseorang yang harus diutamakan dalam melakukan penilaian dibandingkan melakukan tes keperawanan.

Sejauh kami memahami tidak ada satu profesi yang membutuhkan kejelasan perawan atau tidak perawan seseorang. Perjaka atau tidak perjaka seseorang karena hal itu sangat privat atau sangat personal dan jelas-jelas tidak ada hubungan langsung dengan syarat fisik ataupun syarat lain-lain dari seseorang.

Lembaga pembela hak asasi manusia Human Rights Watch (HRW) mengeluarkan hasil wawancaranya dengan sebelas perempuan yang menjadi korban tes keperawanan di rumah sakit militer di Bandung, Jakarta, dan Surabaya.

Berdasarkan laporan HRW, semua perempuan yang mendaftar sebagai prajurit TNI dan tunangan para anggota TNI diwajibkan mengikuti tes keperawanan. Perempuan yang diwawancara HRW juga menyatakan hanya mereka yang memiliki koneksi dengan kekuasaan atau menyuap dokter militerlah yang mendapat pengecualian dari tes keperawanan.

Tes tersebut dilakukan dengan cara memasukan dua jari tangan ke dalam alat kelamin perempuan untuk memastikan selaput daranya masih utuh.

World Health Organization menyatakan tes tersebut tidak ilmiah karena sobeknya selaput dara bisa saja disebabkan oleh kecelakaan, bukan semata hubungan seksual.

Kepala Pusat Penerangan TNI Mayor Jenderal Fuad Basya menyatakan lembaganya akan tetap terus melakukan uji keperawanan bagi calon prajurit perempuan.

Menurutnya ada tiga hal yang harus dimiliki seorang prajurit TNI yakni moralitas, akademik, dan kekuatan fisik. Tes keperawanan lanjutnya adalah bagian dari penilaian moralitas.

Fuad mengatakan, “Hanya karena penyakit atau karena olahraga itu sudah diketahui dokter itu tidak terlalu dipermasalahkan, tetapi kalau itu karena habit atau kebiasaan Anda bisa banyangkan seorang tentara yang tugas pokoknya menjaga kedaulatan negara, menjaga keutuhan wilayah, menjaga keselamatan wilayah, apalagi kalau dia jadi perwira dia akan mengurusi anak buahnya, istri anak buahnya.”

Sumber : VOA Indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s