Google & Marshall McLuhan


Google & Marshall McLuhan

Hari ini laman Google tampil sejumlah deretan animasi-animasi demi menyambut hari kelahiran Marshall LcLuhan.

Herbert Marshall McLuhan, lebih dikenal sebagai Marshall McLuhan (lahir di Edmonton21 Juli 1911 – meninggal di Toronto31 Desember 1980 pada umur 69 tahun) adalah seorang ilmuwan komunikasi dan kritikus asal EdmontonKanada. Ia populer karena konsepnya tentang desa global (global village), teori medium adalah pesan (medium is the message) dan prediksinya tentang World Wide Web, 30 tahun sebelum hal tersebut ditemukan.

Pemikiran Marshall McLuhan

Desa global

McLuhan menggunakan istilah ini dalam bukunya yang berjudul The Guttenberg Galaxy: The Making of Typographic Man pada tahun 1962 dan dalam buku Understanding Media: The Extensions of Man pada tahun 1964. Istilah ini ia gunakan untuk menggambrakan bagaimana teknologi komunikasi elektronik mengecilkan bumi menjadi sebuah desa melalui informasi yang instan dan tersedia di mana saja serta kapan saja. Saat ini orang mengacu pada sebuah desa global ketika mereka menggambarkan efek dari World Wide Web.

Medium adalah pesan

McLuhan menyatakan bahwa media tidak hanya mempengaruhi masyarakat dari konten yang disampaikan melalui media, tetapi juga oleh karakteristik media itu sendiri.

Media panas dan media dingin (hot and cool media)

Media dingin membutuhkan keterlibatan konsumen yang tinggi. Surat kabarmajalahbukupermainan video, dan internet termasuk dalam media dingin karena khalayak bersifat lebih aktif. Sementara itu, dalam media panas keterlibatan konsumen rendah. Radiotelevisi dan film merupakan contoh dari media panas karena khalayak bersifat pasif.

Karya tulis

Berikut adalah sebagian karya tulis yang melibatkan McLuhan.

By McLuhan

1951 The Mechanical Bride: Folklore of Industrial Man; 1st ed.: The Vanguard Press, NY; reissued by Gingko Press, 2002. ISBN 1-58423-050-9.

1962 The Gutenberg Galaxy: The Making of Typographic Man; 1st ed.: University of Toronto Press; reissued by Routledge & Kegan Paul. ISBN 0-7100-1818-5.

1964 Understanding Media: The Extensions of Man; 1st ed. McGraw Hill, NY; reissued by MIT Press, 1994, with introduction by Lewis H. Lapham; reissued by Gingko Press, 2003. ISBN 1-58423-073-8.

1967 The Medium is the Massage: An Inventory of Effects with Quentin Fiore, produced by Jerome Agel; 1st ed.: Random House; reissued by Gingko Press, 2001. ISBN 1-58423-070-3.

1968 War and Peace in the Global Village design/layout by Quentin Fiore, produced by Jerome Agel; 1st ed.: Bantam, NY; reissued by Gingko Press, 2001. ISBN 1-58423-074-6.

1970 From Cliché to Archetype with Wilfred Watson; Viking, NY. ISBN 0-670-33093-0.

1988 McLuhan, Marshall and Eric. Laws of Media. University of Toronto Press. ISBN 0-8020-5782-9.

2016 Marshall McLuhan and Robert K. Logan. “The Future of the Library: From Electronic Media to Digital Media.” Peter Lang. ISBN 9781433132643.

Tentang McLuhan

Coupland, DouglasExtraordinary Canadians: Marshall McLuhan. Penguin Canada, 2009; US edition: Marshall McLuhan: You Know Nothing of my Work!. Atlas & Company, 2011.

Gordon, W. Terrence. Marshall McLuhan: Escape into Understanding: A Biography. Basic Books, 1997. ISBN 0-465-00549-7.

Robert K. LoganMcLuhan Misunderstood: Setting the Record Straight. Toronto: Key Publishing House, 2013.

Marchand, Philip. Marshall McLuhan: The Medium and the Messenger. Random House, 1989; Vintage, 1990; The MIT Press; Revised edition, 1998. ISBN 0-262-63186-5

Molinaro, Matie; Corinne McLuhan; and William Toye, eds. Letters of Marshall McLuhan. Toronto: Oxford University Press, 1987, ISBN 0-19-540594-3

Advertisements

Saya Diajak Melakukan Permufakatan Jahat


sms penipuan

Siang tadi, sekitar pukul 09.00 WIB. Di kantor teman saya, dalam perjalanan menuju kantor saya, tiba-tiba saya ditelpon dari nomor  +6281320929471 (mengaku bernama Rudi) ke nomor telpon (Telkomsel) yang belum pernah saya pakai nelpon. Karena saya baru beli (menjelang Hari Raya kemarin) hanya untuk paket 12 GB. Pulsa Rp 0. Jadi nggak pernah ada teman yang tahu saya punya nomor itu. Lha kok ini ada yang nelpon saya, mengaku teman saya. Ini pasti penipu….

“Hallo mas, piye kabare?”

“Apik-apik wae…. iki sopo?”

“Rudi, mas. Mosok lali?”

“Rudi Gombal?” tanya saya, (Rudi Gombal adalah nama panggilan teman saya di SMA).

“Iyo, mas…”

Padahal suara Rudi Gombal tidak seperti itu. Kerna saya masih bisa mengenali sebagian besar suara teman-teman walau sudah tidak kontak lama. Ini mungkin efek positip dari Dunia Brik-brikan di jalur 2 meteran.

“Ono opo to, kok moro-moro telpon aku?”

“Mas,… sampeyan lagi nyapo?”

“Lagi santai ndik omah…” saya jawab, mbujuki.

Nampaknya ini sebuah aksi penipuan via telpon. Saya lagi pengen ngerjai yang bersangkutan.

“Mas, iki aku onok ndik Pom Bensin…”

“Trus…”

“Aku nemu tas. Isine duwek jutaan….”

“Oh, ya…”

“Rupane wek wong ketinggalan…”

“Karepmu piye…”

“Aku njuk tulung, mas…”

“Tulung opo”

“Sampeyan ngaku dadi dulurku, trus tas sampeyan yang ketinggalan nduk Pom Bensin, mergo kesusu nang luar kota…”

“Nyapo kok ngono. Kari nggowo ae, beres. Anggep ae rejeki nomplok…”

“Nggak iso, mas. Soale wes ketemu satpam. Dekne takon, itu tas siapa. Tak jawab, itu tas saudara saya. Saya punya nomor telponnya. Kalau nggak percaya saya bisa menghubungkan ke yang bersangkutan… ngono ceritane.”

“lha, terus karepmu piye?”

“Ngene, mas. Sampeyan ojok kondo sopo-sopo, utowo krungu sopo-sopo …”

“OK….”

“Lha iku mburi sampeyan aku krungu suoro wong omong-omongan…”

“Aku iki nggawe headset, nggak onok sing krungu…”

“OK. Ngene, mas. Tolong siapno bolpen. Terus sampeyan tulis…..”

“Sik, sik, sik… tak nggolek bolpen… lha iki, wis…”

“Isi tas terdiri dari: Uang Tunai Rp 15 juta rupiah, Kalung Emas 26 gram, Kartu ATM Mandiri & BCA, Foto keluarga, lan sampeyan ngaku jenenge Ermanto… coba sampeyan woco ulang…”

Trus saya baca ulang, sementara teman-teman yang ada di sekeliling menyimak dengan senyam-senyum dalam diam, kerna saya loud speaker.

“Iyo, wis. Mari ngono pak Satpame tak kon telpon sampeyan. Sampeyan kudu ngomong isine persis koyok sing sampeyan tulis, ojok sampek kliru…”

Sejurus kemudian terjadi dialog saya dengan pak Satpan. Bla bla bla…..

“Jadi saya hanya memastikan, apa betul tas ini milik saudara. Kalau sudah pasti, ya segera saya sampaikan ke ke pak Rudi, saudara bapak Ermanto…” tegas pak Satpan kepada saya.

“Ya, betul. Ermanto itu memang saya adanya… Saya sudah terlanjur jauh di luar kota.”

“Tolong catat nomor HP saya: 081 391 182 493 atas nama Hendra. Atau nomor yang satunya kalau nomor itu nggak bisa dihubungi: 082 273 388 884. Tolong hubungi saya kalau bapak sudah menerima tas ini berikut isinya…”

Lalu telpon dioper handle lagi ke Rudi.

“Mas, koyoke wonge percoyo, mas. Trus yok opo lek wonge tak wenehi duwit 1 juta sebagai tanda terima kasih?. Onok wong 4 Satpame… tak jukuk teko njero tas sampeyan iki…”

“Oh, iyo. Apik iku. Lek perlu tambahone 1 utowo 2 yuto. Rapopo…”

Telpon oper handle lagi.

“Pak, apa betul uang 1 juta ini atas suruhan bapak?”

“Betul..”

“Maaf, pak. Saya bekerja di sini tidak boleh menerima pemberian dari orang yang tidak dikenal. Saya bisa dipecat, pak…”

“Oh, gitu. Trima kasih. Mudah-mudahan bapak menerima rejeki lain, atas kebaikan bapak ya…”

“Tapi, gini, pak…” nampaknya pak Satpam mulai melancarkan aksinya.

“Untuk menambah keyakinan saya, boleh nggak saya minta uang ke Bapak…”

“Kan ATM saya ketinggalan di dalam tas. Bagaimana bisa transfer…”

“Begini, untuk meyakinkan saya, bahwa tas itu benar-benar milik bapak, bisa nggak bapak mengisi pulsa Rp 200.000 ke salah satu nomor hp yang saya di atas…”

“O, kenapa tidak…”

“Baik, kalau gitu… Saya tunggu. Tapi telpon ini jangan diputus, pak…”

“Lho, nanti habis pulsa saya…” saya pura-pura khawatir, padahal pulsa saya Rp 0.

“Lho, yang telpon kan saya…”

“Lho, ini HP bapak apa HPnya mas Rudi…”

“Iyyyaaa.. HPnya pak Rudi…” jawab pak Satpam gelagapan, hampir salah omong.

“OK, saya tak meluncur pakai motor, cari counter atau ke supermarket…”

Dan, akhirnya saya memang meluncur. Tapi tidak ke conter atau supermarket, melainkan ke kantor. Jaraknya sekitar 17 KM.

Belum 5 menit Rudi telpon, tanya kok lama. Iya, mas. Sabar. Masih belum nyampai, jawab saya.

Begitu seterusnya, setiap 5 menit telpon saya.

“Pak, tolong cepet, pak. Tolong hargai saya…” pak Satpam ikut menimpali.

Lho, harga kalian-kalian kan Rp 200.000, kata saya dalam hati.

Begitu nyampai kantor, telpon saya non-aktifkan.

T A M A T