Ada Anak Dikubur ke Dalam Pasir


Bukan tanpa alasan jika pria di atas berupaya ”mengubur” dua anaknya. Peristiwa itu terjadi Kota Qingdao, Provinsi Shandong, timur Tiongkok, kemarin (5/7). Alih-alih membunuh, dia justru melindungi mereka. Pria tersebut sengaja menutupkan pasir ke tubuh dua bocah untuk melindungi mereka dari terik surya. Cuaca sangat panas nan menyengat kini melanda Tiongkok dan diperkirakan berlanjut beberapa hari mendatang. Suhu udara lebih dari 35 derajat celcius terjadi di 13 provinsi dan kawasan di sana. Mengubur diri dengan pasir bisa mendinginkan dan membuat tubuh nyaman. Asalkan, kepala tidak ikut dikubur.

sumber: Jawa Pos

Repotnya Mengkhitankan Anak Balita


rBagi setiap lelaki muslim wajib hukumnya untuk khitan. Saya, sebagai orang tua seorang anak lelaki punya kewajiban untuk mengkhitankan anak saya itu. Sekarang anak saya berusia genap 5 tahun pada tanggal 11 September 2009 yang akan datang.
Dan kami merencanakan untuk mengkhitankan pada saat anak saya kelas 4 Sekolah Dasar.
Namun, rencana itu nampaknya harus berubah, lantaran kami barusan ”boyongan” pindah rumah. Dan sudah menjadi tradisi kampung saya, setiap pindah rumah pasti mengundang para tetangga sekitar untuk diajak ”selamatan”.
Rencananya acara ini disatukan dengan acara aqiqah anak saya – yang memang untuk yang lelaki itu belum saya aqiqahkan.
”Kalau sekalian khitan bagaimana?” ada satu saudara yang mengusulkan.
Kami masih pikir-pikir. Anak saya masih keciul. Apa mau.
Namun, setelah dipertimbangkan segala sesuatunya, akhirnya kami setuju. Apalagi saat ditawarkan ke anak saya, dianya mau. Disunat, dipotong burungnya? Kami menegaskan. Anak saya menagguk mantap.
Akhirnya, setelah subuh, tanggal 2 April 2009 kemarin, anak saya pun dikhitankan.
Alhamdulillah, prosesnya lancar. Walau awalnya menangis, saat disuntik bius, akhirnya proses khitan berjalan lancar.
Apa hikmahnya? Ternyata ”kulit helm” burung anak saya itu sulit untuk dibuka. Kata mantri sunatnya, hanya ada lubang kecil – sebagai jalannya kencing. Makanya, setiap ”kebelet” kecing selalu ditahannya. Baru setelah lama, baru dikencingkan.
”Jadi memang – kalau melihat kondisi demikian – harus segera disunat. Bila tidak, pasti akan semakin sukit kencing, nantinya.
Alhamdulillah, setelah lewat 3 hari, itu burung sudah mulai mengering. Insya Allah besok pagi sudah bisa buka perban saat mandi “kum-kum”, begitu pikir saya.

Tapi apa lacur. Setelah lewat 3 hari anak saya nggak mau mandi, walau saya paksa. Lebih dari itu, hampir sepanjang hari anak saya minta dikipasi itu punya burung.

anakku-sunatTentu saja saya mulai berbagi piket dengan istri saya. Dan, alhandulillah, dengan penuh kesabaran, akhirnya kemarin sore, itu perban bisa dilepas juga. Tapi soal kipas masih harus berjalan hingga kini. Terlebih saat mau dan setelah kencing.

Baliho Anti-Orang Kidal


Untung saya bukan menjadi penduduk Kota Depok. Kalau saya menjadi warga pak Nurmahmudi, tentu akan rikuh bila diundang makan bersama dengan para pejabat di sana (lagipula siapa yang bakal mengundang saya?) apa pasal?

nurmahmudiDalam Majalah Tempo (rubrik Indonesiana) Edisi 42/XXXVII/ 8 Desember 2008, ada tulisan yang berjudul Baliho Anti-Orang Kidal. Isinya antara lain: MEREKA yang kidal tentu mengernyitkan dahi melihat baliho ukuran besar bergambar Nurmahmudi Ismail, Wali Kota Depok, itu. ”Kembalilah ke Jati Diri Bangsa, Makan dan Minumlah dengan Tangan Kanan”. Begitulah tulisan di baliho disertai foto Pak Wali beserta perwakilan masyarakat, seperti pasukan pengibar bendera pusaka, Pramuka, abang-none, dan veteran.

Jumlah baliho yang ditebarkan di sepanjang jalan Depok mencapai puluhan buah. Apa penyebab Pak Wali demen berkampanye soal makan dengan tangan kanan? ”Saya sering menemukan pejabat atau warga yang makan dengan tangan kiri,” kata Nur kepada Tempo. Ia mengaku sudah menegur. Entah mengapa, Nur merasa masih kurang sreg, lantas baliho pun ia sebar.

Namun kampanye ini justru mengundang komentar miring dari warga. Asni, warga Depok II, kesal bukan kepalang. ”Basi banget, sih. Kita semua sudah tahu kalau makan pakai tangan kanan,” ungkapnya ketus. Ketimbang mengurusi soal tangan mana yang digunakan untuk makan, Asni justru mengajukan usul lain. ”Kalau ada larangan kencing sembarangan di Terminal Depok, itu baru oye,” katanya sembari terkekeh. Maklum, bau pesing di terminal itu, menurut Asni, bisa bikin orang pingsan.

Sedangkan bagi Lia, warga Depok Lama, soal baliho ini tak lagi mengherankan. ”Pak Nur kan wali kota baliho,” katanya enteng. Maklum, bukan sekali ini saja Nur menyebarkan baliho. Sebelum soal tangan kanan, ia sempat melempar wacana makan belimbing. Padahal, menurut Lia, mencari belimbing enggak gampang-gampang amat. ”Harganya juga mahal,” ujarnya mengeluh. Kampanye makan belimbing itu pun sembari menebarkan wajah penuh senyum Pak Wali.

Maka tak aneh bila Okta, warga Sawangan, menuding baliho itu hanya upaya Pak Wali menjaga citra. ”Masih banyak masalah Depok yang mesti diselesaikan, dari jalan macet sampai jalan rusak. Tolong itu jadi prioritas,” ujarnya. Belum diketahui bagaimana komentar orang bertangan kidal, yang sehari-hari menggunakan tangan kiri untuk makan. Lalu bagaimana pula kalau atlet bulu tangkis yang kidal? Apa cuma makan saja harus pakai ”tangan manis”?

Lagi pula, anak saya yang bungsu juga kidal seperti saya. Semua dilakukan dengan tangan kiri – kecuali kalau salim.

Kisah Tentang “Sepatu Bush”


sepatu-bushSepasang sepatu yang dipakai wartawan Irak, Muntazer al-Zahdi, untuk melempari Presiden George W. Bush, mulai menjadi incaran orang-orang kaya Timur Tengah.

Awalnya adalah Adnan Ahmad, direktur teknik kesebelasan nasional Irak, yang berani membeli itu sepatu seharga 100.000 dollar AS (Rp 1,1 milyar). Katanya, nilai itu sepadan dengan keberanian yang ditunjukkan Zaidi yang dianggap mewakili sikap warga Irak.

Namun, selang sehari, tawaran lain – yang lebih fantastis – datang dari seorang pengusaha negeri itu (yang masih dirahasiakan identitasnya). Bayangkan, sepatu yang mungkin awalnya dibeli wartawan itu – paling tidak harganya sekitar Rp 50.000, kini harganya menjadi 20 juta dolar AS (Rp 220 Milyar).

Siapa yang bakal kaya dari sepatu itu belum jelas, karena keberadaannya juga tidak diketahui sampai kini. Ada spekulasi bahwa sepatu itu kini disita aparat keamanan Irak atau dibawa pejabat pemerintahan Bush. Salah satu harian Irak melaporkan, kalau Zaidi terbukti tidak bersalah maka sepatu itu akan dikembalikan.
Selain tawaran-tawaran yang menggiurkan itu, muncul pula dukungan dalam bentuk lain.

Sementara itu, putrid pemimpin Libya Muammar Khadafi, Aicha, mengatakan, lembaga sosialnya akan memberikan penghargaan berupa medali keberanian. “Aksi itu merupakan kemenangan bagi hak asasi manusia,” katanya.

Lalu, di Afganistan, Zang-i-Khatar, acara komedi, merekonstruksikan adegan pelemparan sepatu itu. Namun kali ini Bush benar-benar kena.

Di Inggris , peristiwa itu mengilhami munculnya game komputer Sock and Awe. Game yang mempelesetkan sifat serbuan AS ke Irak. Game ini menggunakan Bush sebagai sasaran.

Sidang atas kejadian itu sudah digelar hari ini di Green Zone, markas militer AS dan pusat pemerintahan Irak di Bagdad – tanpa kehadiran di terdakwa. Karena Zaidi saat ini masih dirawat di Rumah Sakit Ibn Zina yang dikelola AS di Green Zone. Muntazer al-Zaidi mengalami patah tangan dan tulang rusuk serta luka di wajah dan kaki akibat dipukul aparat keamanan Irak. (‘Sepatu Bush’ Ditawar Rp 220 M, Di Afdanistan Lemparan Jadi Kena Suryalive)

Stories about “Bush Shoes”

A pair of shoes that used Iraqi journalists, Muntazer al-Zahdi, to pelt President George W. Bush, who began a

searching richman of  Middle East.

Adnan Ahmad is the beginning, technical director of the Iraqi national eleven, who dare to buy the shoes worth 100,000 U.S. dollars (Rp 1,1 billion). Meanwhile, the value is commensurate with the courage shown Furthermore, which is considered to represent the attitudes of citizens of Iraq.

However, the lapse day, another bid – the more fantastic – come from a country that the businessmen (who are still concealed identity). Imagine, shoes, which may initially purchased the journalists – most do not price around Rp 500,000, now is the price to 20 million U.S. dollars (Rp 220 billion).

Who is the candidate of the rich shoe is not yet clear, because its existence was not known until now. There is speculation that the shoe is now a security officer be brought Iraq or Bush administration officials. One of Iraq’s daily report, if proven not guilty Furthermore, the shoes will be returned.  Besides bid-bid, which arouse it, also appear in other forms of support.

Daughter of Libyan leader Mu`ammar Khadafi, Aicha, say, social institutions will award a medal to give courage. “Action is a victory for human rights,” he said.

Then, in Afghanistan, Zang-i-Khatar, a comedy, reconstruction of throwing shoes that scene. However, this time Bush really be.

In Britain, events that inspire the emergence of computer games Sock and Awe. Mempelesetkan nature of the game to the U.S. invasion of Iraq. Bush is using the Games as a target.

The Council of the event is held today in the Green Zone, U.S. military headquarters and the central government of Iraq in Baghdad – without the presence of the accused. Furthermore because the current is still being treated in hospital, Ibn Zina managed by the U.S. in the Green Zone. Furthermore Muntazer al-experienced broken hand and rib injuries in the face and legs and beaten as a result of the Iraqi security officials. (translate from ‘Sepatu Bush’ Ditawar Rp 220 M, Di Afdanistan Lemparan Jadi Kena Suryalive)

Hari Koperasi


Seminggu lagi tanggal 12 juli 2008. Tanggal ini diyakini oleh Para Insan Koperasi Indonesia sebagai Hari Koperasi. Sejarah pergerakan koperasi telah mencatat bahwa tanggal 12 Juli ditetapkan sebagai Hari Koperasi melalui Kongres I di Tasikmalaya 61 tahun yang lalu. Gerakan koperasi tersebut didirikan dalam masa perjuangan melawan upaya pihak kolonial yang ingin kembali menguasai Negara Republik Indonesia.

Ketua Umum Panitia Bambang W. Soeharto menyatakan bahwa Hari Koperasi ke-61 ini merupakan momentum Revolusi Perkoperasian Mewujudkan Kemandirian Ekonomi Rakyat. Hari Koperasi adalah harinya gerakan ekonomi rakyat.

Di kota Malang, saya bersama-sama teman koperasi di bawah bendera Dewan Koperasi Kota Malang didapuk menjadi Panitia. Ada banyak kegiatan yang direncanakan untuk menyambut hari tersebut.

Sehari sebelum Hari Koperasi adalah hari lahirnya anak perempuan saya, yang lahir 8 tahun yang lalu. Apakah ia nanti juga akan bergerak dalam bidang koperasi seperti ayahnya?

[ Animasi Logo Harkop 61 diambil dari sini ]

Pria Itu Hamil dan Bakal Melahirkan


Thomas Beatle adalah namanya, kini. Dulu ( 10 tahun yang lalu) ia bernama Tracy Lagondino.

Awalnya ia seorang wanita (tulen), kini telah ‘berubah’ menjadi pria (buatan). Buktinya sebulan lagi ia bakal melahirkan bayi yang kini dikandungnya.

Kehamilan si-‘wanita-pria’ ini terungkap melalui majalah The Advocate, sebuah majalah untuk kalangan homoseksual, Maret 2008. dan berita ini say abaca di Harian Surya, Kamis, 12 Juni 2008 – bisa diklik di Surya Online.

Sebagai Tracy sebenarnya ia amatlah cantik – kecantikan khas Hawaii. Dia bahkan sempat menjadi finalis Miss Teen Hawaii USA.

Entah sebab apa, 10 tahun silam ia memutuskan untuk beralih rupa menjadi pria, meski kelaminnya tetap kelamin seorang wanita. Ia hanya menjalani operasi pengangkatan payudara. Dan untuk mewujudkan sosok maskulin, ia menjalani terapi hormone testoteron. Statusnya pun disahkan secara hukum.

Ia telah menikah dengan seorang wanita (tulen) dan tinggal di Honolulu dengan berbisnis kaus di sana.

Ketika mereka berdua ingin sekali untuk hamil, maka mereka lantas memasukkan sendiri sperma yang didapatnya dari bank sperma ke rahim Beatle, meskipun para Dokter menolak membantunya.

Ia pun hamil. Ada 3 bayi di dalamnya. Sayang kehamilan itu harus diaborsi karena ada komplikasi kehamilan. Jika dibiarkan, nyawa Beatle adalah taruhannya.

Mereka tak putus asa. Ia mencoba lagi. Dan kini, ia tengah menunggu kelahiran ‘putri’ mereka.

Oh, dunia…. dunia…… pertanda apa ini………..

Kisah 2 Anak Nakal: 1 Nyabu 1 Nyolong Dollar


kisah_2_anak_nakal.jpgAda dua berita yang menarik yang saya baca di SuryaOnline sore ini. Yang satu kisah anak pesantren nyabu dan dan satunya kisah anak “the 10.000 dollars child“.

Adalah Iwan Fathkur Rachman, 32, seorang santri (baru 6 bulan) yang maunya masuk pondok pesantren di Cerme, Kabupaten Gresik, adalah untuk bertobat dari kecanduan narkoba. Namun nampaknya, mungkin karena pihak pengedarnya yang juga temannya tetap berhubungan dengannya.

Berdasarkan pengungkapan kasus oleh Direktorat Reserse Narkoba (Ditreskoba) Polda Jatim, Selasa (1/4) kemarin, diketahui bahwa seorang santri sebuah pondok pesantren (ponpes) di Cerme, Kabupaten Gresik, tersangkut narkoba jenis shabu-shabu (SS). Yang memprihatinkan, dalam pengeledahan oleh Satuan I Ditreskoba Polda Jatim, dalam lemari di kamar santri di ponpes tersebut ditemukan seperangkat alat isap SS. Karenanya, santri bernama Iwan Fathkur Rachman, 32, itu tak berkutik saat digelandang ke kantor polisi.

Coki menjelaskan, Iwan ditangkap berdasarkan pengakuan Gatot, 29, warga Jagalan Lor, Mojokerto, yang lebih dahulu dibekuk polisi. Iwan sendiri adalah warga Gedongan, Magersari, Kota Mojokerto. Dari tangan Gatot disita 0,4 gram sisa SS yang telah diisapnya.

Sementara itu, di tempat lain, di Kota Depok, Jawa Barat, Siswa SD yang kabur berbekal 10.000 dolar AS (sekitar Rp 92 juta), sejak 27 Maret 2008. Ketika pulang kembali ke rumah (tanggal 1 April) pagi kemarin, uang itu tinggal Rp 500.000.

Seperti diberitakan Surya, Selasa (1/4), Fian minggat dari rumah orangtuanya setelah dihukum ibunya karena tak mengerjakan PR sekolah. Dia tak boleh tidur di kamarnya tapi di sofa di kamar tengah.

Sejak kabur pada 27 Maret pukul 22.00 WIB itu, bocah kelas IV SD itu menghabiskan rata-rata Rp 17,5 juta per hari. Uang sebanyak itu dihabiskan Fian (panggilan Cifiandi) untuk beli PlayStation 3, MP3, ponsel serta asyik bermain di arena permainan Timezone selain untuk makan dan bayar taksi.

Dalam penuturannya kemarin usai diperiksa polisi, Fian mengatakan dirinya sempat menginap di Hotel Tulip. Namun saat ditanya wartawan di mana alamat Hotel Tulip dan dengan siapa dia menginap, Fian menjawab enteng,”Tanya saja sama setan.”
Dari raut wajahnya, Fian memang tak tampak merasa bersalah atau trauma dengan keputusan minggatnya. Bahkan, ketika ayahnya Ahmad Mugiarto memberikan keterangan di ruang Kapolsek Limo, AKP Supoyo, Fian asyik main game yang dipegangnya.

Bahkan, kaburnya Fian bukan sekali ini saja. Namun, sebelumnya, kalau lagi ngambek dengan orangtuanya, Fian hanya pergi sendirian ke rumah tantenya yang masih di Jakarta.

Begitulah kisah ironi sore ini.

Yang satu anak (remaja) berusia 32 tahun, yang satunya lagi, anak SD Kelas IV. Namun yang jelas, ini semua bisa terjadi karena amanah Allah yang diterima oleh orang tuanya, tak bisa dilaksanakan dengan baik.

Mudah-mudahan ini berita bisa menjadi bahan renungan kita.