Puisi Terakhir WS Rendra


rendra 1Aku lemas
Tapi berdaya
Aku tidak sambat rasa sakit
atau gatal

Aku pengin makan tajin
Aku tidak pernah sesak nafas
Tapi tubuhku tidak memuaskan
untuk punya posisi yang ideal dan wajar

Aku pengin membersihkan tubuhku
dari racun kimiawi

Aku ingin kembali pada jalan alam
Aku ingin meningkatkan pengabdian
kepada Allah

Tuhan, aku cinta padamu

Ini adalah puisi terakhir Rendra yang sempat disampaikan kerabatnya saat ia terbaring di rumah sakit.

Seperti yang dilansir kompas.com, pada saat “Si Burung Merak” ini dirawat di RS Mitra Keluarga pada 31 Juli 2009 lalu,  ia menciptakan puisi terakhirnya yang bercerita tentang Ketuhanan. Pada saat itu Rendra hanya menyebutkan lirik-liriknya, sementara sang adik, Adi Kurdi, menuliskan kata-kata yang disebutkan kakaknya itu.

Innalillahi wa inna ilaihi rojiun…….

Kalau Sedang Berdoa Boleh Merokok?


MEROKOKKalau sedang berdoa boleh merokok? Jawabannya jelas tidak boleh, apalagi bagi orang fanatik.

Seorang ahli hukum yang fasih (mahir) mengolah kata di atas menjadi: Kalau sedang merokok boleh berdoa? Tentu saja, jawabanya adalah boleh. Kita boleh berdoa kapan saja dan dalam keadaan apa saja. Seorang ahli hukum biasanya senang memutarbalikkan kata agar yang tidak boleh dilakukan menjadi boleh dilakukan. Tentu saja hal ini ditunjang oleh kemampuan menyusun kalimat.

Seorang ahli hukum sering mencari celah-celah di mana ada kalimat yang mempunyai kemungkinan dari yang dilarang menjadi diizinkan.

Sumber: Bahasa Indonesia Hukum, Dr. Soelaeman B. Adiwidjaja, Dipl.Ed.,SH., Dra. Lilis Hartini, Penerbit Pustaka, Bandung, 1999.

Candidate Civil Service Bites Unesa


logo_unesaMelrose-Surya-Amburadulnya of CPNS test (Candidate Civil Service) Pasuruan regency on Wednesday (10/12) and then, make the local district legislature concerned at once angry.lambang-kabupaten-pasuruan1

Because the district legislature Melrose call the Reception Committee CPNS District Melrose to clarify, Thursday (11/12) yesterday.

In a meeting with the Commission and the commissions that other district legislature in Pietermaritzburg, the council ask for Pemkab Melrose efforts of law-related delays in the test. Especially against the State University of Surabaya (Unesa), which is called a “third parties who provide a script to test candidates CPNS.

However, Surya Unesa yesterday to rebut that the institutional party involved in the preparation of the manuscript test CPNS District Melrose. The Unesa explained that the institute is officially only the cooperation of CPNS test script with districts three and one municipality.

Artikel ini bukan lantaran saya pinter bahasa Inggris. Itu berita saya comot dari Surya yang berjudul: Unesa Dicokot CPNS yang isinya adalah sebagai berikut:

Pasuruan-Surya-Amburadulnya penyelenggaraan tes CPNS (Calon Pegawai Negeri Sipil) Kabupaten Pasuruan pada Rabu (10/12) lalu, membuat kalangan DPRD Kabupaten setempat prihatin sekaligus marah.

Karena itu DPRD Kabupaten Pasuruan memanggil Panitia Penerimaan CPNS Kab. Pasuruan untuk melakukan klarifikasi, Kamis (11/12) kemarin.
Dalam rapat dengan Komisi A dan komisi-komisi yang lain di DPRD Kabupaten Pasuruan, pihak dewan meminta Pemkab Pasuruan untuk melakukan upaya hukum terkait penundaan tes itu. Terutama terhadap pihak Universitas Negeri Surabaya (Unesa) yang disebut-sebut sebagai pihak ketiga yang menyediakan naskah ujian untuk peserta tes CPNS.

Namun, kepada Surya Unesa kemarin membantah bahwa secara kelembagaan pihaknya terlibat dalam penyediaan naskah tes CPNS Kab. Pasuruan. Pihak Unesa menjelaskan bahwa lembaganya secara resmi hanya mengadakan kerjasama pengadaan naskah tes CPNS dengan tiga kabupaten dan satu kotamadya.

Lalu atas bantuan Google (yang punya fitur baru) yang tampil di halaman depan :

Baru! Google Terjemahan sekarang tersedia untuk Indonesia.

Lalu saya mencoba untuk mengalihbahasakan berita di atas. Gimana, lumayan, kan?

Agar lebih sempurna, Google masih perlu banyak membaca Buku Pintar dan Kamus-kamus Bahasa di Indonesia maupun memelototi Google Earth yang dia bikin itu. Sehingga tahu bahwa dicokot itu = digigit. Dan Pasuruan bukanlah Melrose, apalagi Pietermaritzburg (apa Pasuruan itu dulu bernama itu ya?). Kata amburadul juga tak dipahami oleh Google. Kalau diganti kacau akan diterjemahkan menjadi snarled.

Lepas dari itu semua, lumayan juga. Bisa bikin blog berbahasa Inggris walau sama sekali nggak gablek bahasanya Pangeran Chaerles itu.

Megawati: Golput? Out from Indonesia!


Membaca Kompas.Com soal pernyataan Megawati tentang Golput, saya jadi merinding dan sekaligus meradang. Meskipun saya bukan penggagas Golput, namun jelas-jelas saya kaget. Politikus sekaliber Megawati melontarkan pernyataan yang konyol. Katanya “Orang-orang golput seharusnya tidak boleh menjadi WNI, karena mereka menghancurkan sistem dan tatanan demokrasi serta perundang-undangan di negara ini,” katanya di hadapan ribuan pendukung dan simpatisan pasangan tersebut.

Ketua Umum DPP PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri menegaskan warga yang sengaja tidak menggunakan hak pilihnya (golongan putih/golput) baik dalam pemilihan kepala daerah (pilkada) maupun pemilihan umum (pemilu) semestinya tidak boleh menjadi Warga Negara Indonesia (WNI).

Hal tersebut ditegaskan Megawati saat menjadi juru kampanye untuk pasangan calon gubernur dan wakil gubernur Maluku, Karel Albert Ralahalu – Said Assagaff (RASA) pada kampanye putaran terakhir di lapangan Merdeka, Ambon, Sabtu.

Menurut dia, sengaja menjadi golput sangat bertentangan dengan Undang-undang dan menghancurkan tatanan demokrasi di Indonesia.

“Salurkan aspirasi dan hak politik kalian semua sesuai undang-undang yang berlaku. Jangan mengikuti ajakan sesat untuk menjadi golput. Silakan ikut menentukan nasib dan masa depan Maluku, serta masa depan Bangsa Indonesia,” katanya.

Gagasan Golput adalah gagasan sesat. Apa betul itu ucapan yang keluar dari niat dan nurani yang tulus. Jangan-jangan itu adalah suara roh Orde Baru. Ingin tahu saya, literatur apa yang dijadikan rujukan oleh beliaunya ini.

Memilih atau tidak memilih adalah merupakan hak prerogatif warga negara. Hak mana yang digunakan oleh pemiliknya, adalah mutlak wewenangnya. Tak bisa dipaksa, walau diiming-imingi oleh segebok uang.

Kalau yang dipilih ternyata justru membawa kesengsaraan bagi sebagian besar penduduknya, justru ia turut andil di dalam menjerumuskannya. Maka, bagi yang punya pemikiran yang jernih, Golput merupakan salah satu pilihan terbaik di antara pilihan lain yang terjelek.

Apalagi sistem pemilihan umum yang berlaku di Indonesia ini adalah pemilihan yang semu. Semu? Ya, soalnya rakyat tidak bebas memilih. Mereka hanya dipilihkan oleh partai-partai yang ada. Bukan bebas memilih sendiri.

Jadi, sebetulnya siapa yang sesat dalam hal ini?

Alamat Download Buku Elektronik


Untuk mengakses buku elektronik bisa dibuka di: 1) Buku Sekolah Elektronik, 2) Depdiknas 3) Pusat Perbukuan Depdiknas , dan 4) dan Sistem Informasi Perbukuan Indonesia.

Sebaiknya, materi suatu BSE bisa diunduh setiap bab. Dengan demikian, siswa tak perlu mengunduh bagian lain yang dianggap tidak penting. Waktu pengunduhan pun akan lebih cepat.

Atasi masalah teknis

Secara terpisah, Depdiknas berupaya agar akses masyarakat terhadap buku sekolah elektronik meluas dan mengatasi persoalan teknis yang menyebabkan masyarakat sulit mengakses buku-buku tersebut.

”Kami sedang dalam proses upload untuk menaruh materi ke server-server di sejumlah daerah agar server di pusat atau Depdiknas tidak terlalu berat terbebani,” ujar Kepala Pusat Teknologi Komunikasi Depdiknas Lilik Gani.

Hal itu diharapkan dapat mempercepat pengunduhan buku elektronik tersebut. Pada tahap awal, materi akan di-upload ke server di lima daerah, yakni Aceh, Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, dan Makassar.

Selain itu, pada Agustus 2008, Buku Sekolah Elektronik akan diresmikan oleh Presiden RI dengan jumlah buku sekolah elektronik sebanyak 295 judul. Saat ini telah terdapat 49 judul buku.

Saya juga mencoba mengkoleksinya beberapa di sini (dan akan terus saya tambah) :

Bahasa Indonesia untuk SD Kelas 2, Kelas 3, Kelas 4, Kelas 5; IPA untuk SD Kelas 1, Kelas 2, Matematika untuk SD Kelas 2.

[ Sumber : KOMPAS, Daerah Kesulitan Mengakses Internet ]

Gambar diambil dari sini ]

Saya Lagi Beruntung Temukan Roy Suryo


Awalnya saya mampir di blog Trilsky’s Page…..share your mind…

karena ingin membaca Opini Situs Pencarian Roy Suryo. Dikatakan di sana : …….. tadi saya iseng membuka www.google.co.id lalu memasukkan key word ”temukan roy suryo” lalu klik saya lagi beruntung maka apa yang saya temukan? Sungguh membuat saya terkekeh. Gambarnya ada di bawah :

Lalu saya mencoba untuk melakukan hal yang sama. Hasilnya adalah sama dengan gambar di atas. Setelah saya teliti halaman bawahnya yang seperti ini:

Beranda GoogleProgram PeriklananSerba-serbi Google

Halaman ini sama sekali tidak berafiliasi dengan Google.
© 2008 temukanroysuryo.co.cc

Selidik punya selidik, ini semua adalah pokal gawenya maseko. Karena halaman bawah google yang asli mestinya seperti ini:


Sementara kalau Anda menulis roy suryo, yang muncul adalah halaman ini. Maseko memang usil, iseng. Semoga saja Roy Suryo tak baca hal ini. Biar tidak makan ati.

1 Di Antara 2 Jaksa Itu Penghuni Neraka


Ketika saya kuliah dulu, pak Dosen pernah bilang bahwa 1 di antara 2 Jaksa itu menjadi penghuni neraka. Begitu katanya. Pada waktu itu, memang saya masih belum paham betul soal sepak terjang para Jaksa di negeri ini. Baru setelah kami mencoba berpraktek di Pengadilan, ternyata omongan Pak Dosen tak 100% salah. Dan mendengar dialog mesra Ayin dengan pak Urip pernyataan Pak Dosen ternyata 1000% akurat.

Demikian sebagian kutipan dialog Ayin dengan Jaksa Agung Muda Perdata dan Tata Usaha Negara (Jamdatun), Untung Udji Santoso itu:

Gimana, Yin.”
”Itu, si Urip. Tapi ini aku sudah pakai nomor telepon lain ini, aman. Ketangkep KPK di rumah.”
”Di mana ketangkep?”
”Kan, mau eksekusi itu kan….”
”Eksekusi apa?”
”Ya, biasa. Tanda terima kasih itu.”
”Terima kasih apa? Perkara apa?”
”Enggak ada sebenarnya? Enggak ada perkara apa-apa. Cuma dia kan baru terima dari Urip… Urip kita. Sekarang telepon dulu Antasari, deh. Bagaimana cara ngamaninnya itu.”
”Sebentar saya telepon dulu si Fery.”
”Fery sudah aku suruh Djoko.”

Kalau Ayin dengan Kemas bisa download di sini atau di sana.

Artalyta tak menyangkal itu suaranya.

Di mata pengacara senior yang juga mantan staf ahli Jaksa Agung Abdul Rahman Saleh, Kamal Firdaus, isi rekaman yang disadap Komisi terang-benderang menunjukkan dekatnya Ayin dengan para petinggi kejaksaan. ”Yang satu dipanggil Mas, yang satu dipanggil Bang, betapa mesranya,” ujarnya. Rekaman itu, menurut Kamal, membuktikan kecurigaannya sejak awal. Yakni, Urip tidak ”bermain” sendiri. ”Presiden harus memerintahkan Jaksa Agung menindaklanjuti segala sesuatu di balik dialog itu,” ujarnya.

Kepada sumber yang menengoknya sebulan lalu, Urip menyatakan tuduhan menerima suap terhadap dirinya tidak kuat. ”Kalaupun ada rekaman telepon, itu bukan alat bukti,” kata sumber itu menirukan argumentasi Urip. Di depan kawannya, Urip tetap menyatakan uang itu ia pinjam dari Artalyta untuk bisnis permata. Dan tidak terkait dengan keputusan kejaksaan yang menghentikan penyelidikan terhadap kasus Bantuan Likuiditas Sjamsul.

Soal rekaman suara bukan sebagai alat bukti dibenarkan pakar hukum pidana dari Universitas Indonesia, Indrianto Senoadji. Menurut Indrianto, rekaman hanya bisa dipakai sebagai petunjuk. ”Karena bisa direkayasa dengan kemajuan teknologi,” ujarnya. ”Jadi, harus dibenarkan dengan alat bukti tertulis atau ahli.” *)

Ayin — sebutan akrab Artalyta, memang si Ratu loby. Siapa yang tak bertekuk lutut padanya. Tentu saja untuk menekuk lutut mereka, Ayin perlu ‘Surat Perintah dari Jenderal Sudirman’ yang bergebok-gebok.

_________________________________________

*) Sumber: MBM TEMPO Online, Edisi 17/XXXVII/16 – 22 Juni 2008

Baca juga:

  1. Penegak Hukum “Dagang Perkara”
  2. Hukum sebagai Alat Kejahatan
  3. Artalyta Gemar Memberi Bantuan Modal Bisnis