DPR “Disuapi” Sejak 1970?


Praktik Bank Indonesia memberikan uang tanpa tanda bukti dan untuk berbagai urusan kepada anggota Dewan Perwakilan Rakyat sudah berlangsung lama. Bahkan, praktik pemberian uang bantuan itu disebut-sebut berlangsung sejak tahun 1970. Dana itu diberikan karena DPR menentukan ”hidup” BI.

Kesaksian itu dipaparkan mantan Kepala Biro Gubernur BI Rusli Simanjuntak di Pengadilan Khusus Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Jakarta, Rabu (20/8). Selain memeriksa Rusli, sidang yang dipimpin Ketua Majelis Hakim Gusrizal ini juga menghadirkan saksi Jonathan serta anggota Komisi IX DPR periode 1999-2004, Hamka Yandhu, Ali As’ad, Amru Al Mutasyim, dan Anthony Zeidra Abidin.

Hakim Hendra Yospin (H) bertanya, kenapa memberikan uang Rp 31,5 miliar pada tahun 2003 kepada anggota DPR tanpa tanda terima, Rusli (R) menjawab, itu adalah sebuah kelaziman. Jika BI memberikan ”bantuan” kepada DPR selalu tanpa tanda terima. (kompas)

Setelah 38 tahun baru terungkap. Tak bisa dibayangkan berapa tirlyun bila dana itu jumlahkan. Indonesia memang kaya raya. Sayangnya, kita, sebagai rakyat tidak pernah bisa menikmatinya……

Manfaat Mengkonsumsi Narkoba


Harian Global menulis, tanggal 26 Juni adalah Hari Anti Narkotika Sedunia yang ditetapkan Perserikatan Bangsa Bangsa ( PBB ).

Sejak tahun 1960-an, narkoba merajalela di seluruh dunia seperti wabah. Jumlah pemakai narkoba semakin banyak dan menimbulkan masalah sosial yang semakin serius.

Untuk menangani bahaya narkoba terhadap manusia, PBB sejak tahun 1987 menetapkan setiap tanggal 26 Juni sebagai Hari Anti Narkotika Sedunia untuk mengundang perhatian berbagai negara di dunia atas masalah narkoba, dan bersama-sama menanggulangi bahaya narkoba.

Badan Narkotika Nasional (BNN) menulis, Tema Hari Anti Narkoba Internasional adalah : Apakah Narkoba Mengendalikan Hidupmu ? Kehidupanmu, Masyarakatmu ? Tidak ada tempat untuk narkoba. Tema ini berlaku selama 3 (tiga) tahun dengan konsentrasi :
– Tahun 2007 : Penyalahgunaan narkoba
– Tahun 2008 : Penanaman dan produksi gelap narkoba
– Tahun 2009 : Peredaran gelap narkoba

Sehubungan dengan ini, sedikit saya ingin menulis tentang pengalaman saya (dahulu kala), saat menghamba pada yang namanya Narboba, menyambung tulisan saya yang lalu.

Saat menikmati yang namanya ganja, badan serasa melayang. Bila dalam hati ada rasa susah, maka akan menangis tersedulah kita. Kalau ada rasa senang, ketawalah kita sepuasnya. Kalau ada rasa marah, maka mendidihlah nafsu ini ingin menyerang siapa saja yang dianggap menantang dia. Dengan pendek, dengan meng-ganja, faktor dan kondisi emosional menjadi tanpa kendali. Semakin banyak kita mengkonsumsi, semakin berlipat itu emosional jadi memuncak.

Kalau minum alkohol, efeknya kepala jadi beras, ngomong jadi pelo, sering keseleo. Kalau terlalu banyak gerak, maka perut pasti mual dan muntah. Kalau terlalu banyak, juga demikian.

Kalau menelan pil penenang, bila tak lebih dari 5 – 10 butir, bawaannya jadi mudah marah, tak takjut pada siapa saja. Kalau lebih dari itu, maka segala persendian bakal lemas. Ndeprok tak bisa berjalan.

Kalau yang namanya candu, heroin, belum pernah saya coba. Apalagi yang terbaru – shabu-shabu. Soalnya saya sudah keburu pensiun dari yang namanya Narkoba.

Kesimpulannya, manfaat yang dirasakan hanyalah sesaat. Tapi mudhorotnya jelas banyak sekali. Banyak organ tubuh menjadi rusak. palagi bila pakai obat bius. Dalah-salah pada saat operasi (karena suatu kejadian) bakal tak mampu lagi bius bagi para penggunanya. Yang pasti biaya untuk bisa mengkonsumsi barang-barang haram itu, sangatlah mahal. Salah-salah bisa masuk bui, kalau ketangkep aparat.

1 Di Antara 2 Jaksa Itu Penghuni Neraka


Ketika saya kuliah dulu, pak Dosen pernah bilang bahwa 1 di antara 2 Jaksa itu menjadi penghuni neraka. Begitu katanya. Pada waktu itu, memang saya masih belum paham betul soal sepak terjang para Jaksa di negeri ini. Baru setelah kami mencoba berpraktek di Pengadilan, ternyata omongan Pak Dosen tak 100% salah. Dan mendengar dialog mesra Ayin dengan pak Urip pernyataan Pak Dosen ternyata 1000% akurat.

Demikian sebagian kutipan dialog Ayin dengan Jaksa Agung Muda Perdata dan Tata Usaha Negara (Jamdatun), Untung Udji Santoso itu:

Gimana, Yin.”
”Itu, si Urip. Tapi ini aku sudah pakai nomor telepon lain ini, aman. Ketangkep KPK di rumah.”
”Di mana ketangkep?”
”Kan, mau eksekusi itu kan….”
”Eksekusi apa?”
”Ya, biasa. Tanda terima kasih itu.”
”Terima kasih apa? Perkara apa?”
”Enggak ada sebenarnya? Enggak ada perkara apa-apa. Cuma dia kan baru terima dari Urip… Urip kita. Sekarang telepon dulu Antasari, deh. Bagaimana cara ngamaninnya itu.”
”Sebentar saya telepon dulu si Fery.”
”Fery sudah aku suruh Djoko.”

Kalau Ayin dengan Kemas bisa download di sini atau di sana.

Artalyta tak menyangkal itu suaranya.

Di mata pengacara senior yang juga mantan staf ahli Jaksa Agung Abdul Rahman Saleh, Kamal Firdaus, isi rekaman yang disadap Komisi terang-benderang menunjukkan dekatnya Ayin dengan para petinggi kejaksaan. ”Yang satu dipanggil Mas, yang satu dipanggil Bang, betapa mesranya,” ujarnya. Rekaman itu, menurut Kamal, membuktikan kecurigaannya sejak awal. Yakni, Urip tidak ”bermain” sendiri. ”Presiden harus memerintahkan Jaksa Agung menindaklanjuti segala sesuatu di balik dialog itu,” ujarnya.

Kepada sumber yang menengoknya sebulan lalu, Urip menyatakan tuduhan menerima suap terhadap dirinya tidak kuat. ”Kalaupun ada rekaman telepon, itu bukan alat bukti,” kata sumber itu menirukan argumentasi Urip. Di depan kawannya, Urip tetap menyatakan uang itu ia pinjam dari Artalyta untuk bisnis permata. Dan tidak terkait dengan keputusan kejaksaan yang menghentikan penyelidikan terhadap kasus Bantuan Likuiditas Sjamsul.

Soal rekaman suara bukan sebagai alat bukti dibenarkan pakar hukum pidana dari Universitas Indonesia, Indrianto Senoadji. Menurut Indrianto, rekaman hanya bisa dipakai sebagai petunjuk. ”Karena bisa direkayasa dengan kemajuan teknologi,” ujarnya. ”Jadi, harus dibenarkan dengan alat bukti tertulis atau ahli.” *)

Ayin — sebutan akrab Artalyta, memang si Ratu loby. Siapa yang tak bertekuk lutut padanya. Tentu saja untuk menekuk lutut mereka, Ayin perlu ‘Surat Perintah dari Jenderal Sudirman’ yang bergebok-gebok.

_________________________________________

*) Sumber: MBM TEMPO Online, Edisi 17/XXXVII/16 – 22 Juni 2008

Baca juga:

  1. Penegak Hukum “Dagang Perkara”
  2. Hukum sebagai Alat Kejahatan
  3. Artalyta Gemar Memberi Bantuan Modal Bisnis

SULITNYA BUANG AIR DALAM BIS PATAS


Untuk suatu urusan Toha harus pergi ke Surabaya. Karena lagi bulan puasa, maka ia memilih bus yang ber-AC. Biar tidak kepanasan dan tak kehausan.

Namun baru berjalan sampai di Pasuruan, Toha tiba-tiba kebelet kencing. Ia pun segera menghampiri pak Kondektur, “Pak, saya kebelet kencing. Toiletnya bisa dipakai, Pak?”

“Wah, maaf mas, toiletnya sedang diservis. Belum bisa dipakai…”

“Kalau begitu, busnya bisa berhenti sebentar…”

“Enak saja, sampeyan ini gimana. Ini bus patas. Nggak bisa berhenti seenaknya. Nanti saja di Bungurasih,” kata Pak Kondektur sambil ngeloyor pergi.

Karena semakin tak tahan, ia lantas melongok di bawah kursi. Mulai dari depan hingga ke belakang. Ia tengah mencari sesuatu. Melihat hal tersebut, Pak Kondektur menghampiri Toha, “Cari apa, Pak.?”

“Cari batu kerikil…” Jawab Toha sambil terus mencari.

“Untuk apa?” Pak Kondektur semakin heran.

“Katanya disuruh nahan. Kalau saya menemukan batu kerikil, pasti bisa dipakai untuk nahan tidak kencing sampai ke terminal…”

“Ada-ada saja. Nggak ada batu kerikil di sini. Batu akik ada…”

“Ya, sudah. Nggak apa-apa. Boleh pinjam?”

Dengan berat hati dilepaskan juga cincin batu akik yang menghiasi jari manis pak Kondektur. Toha segera menerimanya dan kemudian dimasukkan ke dalam sakunya.

“Nanti dikembalikan, ya…”

“Jangan kuatir, boss…”

Akhirnya, setelah sampai di gerbang terminal, segera si Toha itu meloncat keluar, setelah terlebih dahulu mengembalikan cincin batu akik itu. Kemudian dia menepi dan segera ia melaksanakan hajatnya.

“Hai! Sampeyan ini gimana? Kalau kencing mbok agak jauh sedikit…. Ini warung, Pak!!!” Tiba-tiba seorang wanita keluar dari dalam warung sambil berkacak pinggang.

Dengan enteng Toha menjawab: “Apa masih kurang jauh, kebelet di Pasuruan, kencingnya di Surabaya…..”

[Cerita ini pernah saya tulis di sini]

Stadion Final EURO2008 Bekas Propaganda Nazi


Mungkin untuk sementara waktu soal tambah susahnya hidup lantaran kenaikan harga BBM, sedihnya  umat Islam melihat saudaranya pada bersitegang, mesti disisihkan dulu. Saatnya untuk jaga stamina. Karena mulai besok 7 – 30 Juni para bolamania bakal memelototi televisinya, atau HP yang bisa bertiviria dan semacamnya.

KOMPAS Bola menulis: STADION Ernst Happel di Wina, Austria, 29 Juni 2008 nanti akan mencatat sejarah. untuk pertama kalinya, stadion berjuluk Old Lady atau Nyonya Tua itu menggelar ppartai final Piala Eropa 2008, sekaligus mejadi sanksi siapa yang bakal menjadi penguasa sepakbola Eropa.
Event itu mengingatkan orang kembali pada 70-an tahun lalu. Stadion tersebut juga menjadi saksi paling kelam dalam sejarah manusia. Menjadi tempat propaganda fasis Nazi, juga pembantaian kaum Yahudi.
Pada 1 Mei 1934, rakyat Austria, terutama anak-anak sekolah, dimobilisasi ke stadion tersebut. Mereka mendengarkan pidato b ersejarah Kanselir Austria, Engelbert Dolfus, dalam memeringati Hari buruh Internasional. Dia memproklamasikan konstitusi baru yang membawa Austria menjadi negara totaliter.
Empat tahun kemudian, tepatnya 3 April 1938, stadion tersebut menjadi tuan rumah pertandinngan aneksasi yang disebut Anschluss Spiel, antara timnas Jerman lawan timnas Austria. Pertandingan itu untuk merayakan aneksasi Nazi Jerman di bawah pinpinan Adolf Hitler kepada Austria. Tentara Nazi menguasai Austria pada 12 Maret 1938.
Pertandingan itu juga menjadi tanda bergabungnya Austria dalam kekuasaan Nazi. Austria mengalahkan Jerman 2-0. Hasil yang cukup memalukan para pejabat tinggi Nazi yang hadir pada pertandingan itu. Mereka sangat berharap Jerman yang menang. Sebab, itu akan menegaskan aneksasi Jerman atas Austria.
Seminngu kemudian, 10 April 1938, diadakan referendum. Hasilnya, Austria secara mutlak di bawah kekuasaan Nazi dan berema tergabung dalam Reich Ketiga.
Di bawah kekuaaan nazi, Stadion Ernst Happel seamkin menjadi tempat propaganda ideologi Hitler tersebut. Pada 10 dan 11 September 1939, dijadikan markas Gestapo Jerman. Mereka telah menangkap 1.000 orang Yahudi.
Di stadion itu pula, orang-orang Yahudi itu mendapat siksaan. Direktur Departemen Antropoligi di Museum Sejarah di Wina, Josef Wastl mengatakan, pihaknya telah menguji 440 tawanan yang disiksa. Para tawanan tersebut akhirnya diangkut ke kamp konsentrasi di Buchenwald, pada 30 September 1939.
Serentetan kenangan pahit itu masih terpatri dan menjadi bagian dari sejarah Stadion Erst Happel. Stadion ini awalnya bernama Pratter. Stadion tersebut dibangun selama 23 bulan dan dibuka pada 1931.
Terbuat dari baja, kaca dan bahan bangunan lain, stadion tersebut sempat dinilai sebagai paling modern di dunia. Stadion yang dirancang arsitek Jerman, Otto Ernst Schweizer ini, awalnya berkapasitas 60.000 orang.
Pada 1950-an, stadion ini direnovasi dan kapasitasnya menjadi 90.000 orang. Pada 1986, stadion itu kembali direnovasi. Dan, pada 1993, nama stadion berubah menjadi Ernst Happel, untuk mengenang pelatih legendaris Austria.
Ditunjuk sebagai final Piala Eropa 2008, stadion ini bakal kembali dikenal orang seluruh dunia, setelah lama dilupakan. Penyelenggara di Austria memilih merenovasinya, daripada membuat stadion baru hanya untuk partai final. Sebab, stadion itu memiliki arti yang besar buat Austria. Dana sebesar 36,9 juta euro sekitar Rp536,2 milar) digelontorkan untuk mempercantik stadion.
Stadion Ernst Happel pun semakin gagah. Namun, bentuk aslinya tak banyak berubah. Karena itu, stadion itu tak hanya akan mengingatkan kebesaran sepakbola Austria, tapi juga sepak-terjang nazi di negeri itu.

Untuk lebih gayeng, saya ambil dari Wikipedia, data-data stadion yang bakal menggelar EURO2008, sebagai berikut:

Vienna Klagenfurt Salzburg Innsbruck
Stadion Ernst Happel Hypo-Arena Stadion Wals Siezenheim Tivoli Neu
Kapasitas : 53.008 Kapasitas : 32.000 Kapasitas : 30.000 Kapasitas : 30.000
Tim nasional sepak bola Austria FC Kärnten Red Bull Salzburg FC Wacker Tirol
Basel Berne Geneva Zürich
St. Jakob-Park Stade de Suisse Stade de Genève Letzigrund
Kapasitas : 42.500 Kapasitas : 32.000 Kapasitas : 32.000 Kapasitas : 30.000
FC Basel BSC Young Boys Servette FC FC Zürich

Peta Tempat Penyelengaraan Kejuaraan Sepak Bola Eropa 2008

Buruk Muka, DPR Dibelah


Mestinya yang duduk sebagai wakil rakyat adalah orang-orang yang (selain cerdas) juga bermoral mulia. Namun kenyataan yang mengemuka, justru sebaliknya. Setelah gedung DPR diperiksa KPK karena adanya dugaan korupsi, lalu (mengulang kisah Yahya yang berakting porno) maka Max Moein pun tak kalah asyik dengan rangkulannya.

Kalau sudah begini, lalu apa yang bisa diharapkan?

Memikirkan BBM naik? BLT yang banyak bikin pusing? Dsb. Dsb.

Apalagi sang pakar Roy Suryo (yang ahli kalau soal syur-syur begini) juga bilang itu foto asli sang anggota DPR, meski sang cewek sudah mengalami rekayasa wajah.

Soal kenapa muncul sekarang itu gambar, memang ini trik menjelang Pemilu 2009. Lawan politik saling adu data buruk lawan. Dengan harapan mereka dapat meraup untung.

Bagi saya, yang nyebarkan maupun yang disebarkan sama buruknya. Dan tak layak jadi wakil rakyat.

Selama kita tak bisa memilih anggota DPR secara langsung, tetap saja kasus ini bakan terulang dan terulang lagi. Karena kita, ibaratnya, memilih kucing, eh…. anggota DPR dalam karung, eh… dalam saku partai.

Ikon Perfilman Indonesia Itu Pun Mangkat Sudah


Saat Sophan Sophiaan pakai Moge beserta Kelompoknya melintasi jalan tol beberapa waktu yang lalu, saya sebetulnya ada niat untuk bikin komentar. Karena apa? Jalan tol menurut Undang-Undang diperuntukkan khusus bagi kendaraan roda empat, bukan roda dua. Demi untuk memeriahkan momentum 100 Tahun Kebangkitan Nasional, dengan mengantongi Surat Ijin dari kepolisian, mereka pun melenggang dengan aman, tanpa rasa bersalah. Namun karena suatu kesibukan, keinginan itu tak kesampaian.

Namun tadi pagi, walau tidak kaget betul, saya lihat berita di televisi, suami Widyawati itu harus menerima takdirnya.

Karena umur bukan kita yang punya. Ia adalah milih Allah. Kita hanya sekedar menerimah amanah memaknai kehidupan saja.

Kapan ia diambil kembali, saat bagaimana ia akan diambil, terserah Beliau. Maka dari itu, selalulah berbuat baik, agar saat ia diambil, kita sudah siap melepaskannya.

Semoga segala perbuatan buruk yang pernah dilakukan bintang film idola tahun 70’an itu diampuni oleh Sang Khalik. Dan segala amal perbuatan yang baik, memperoleh imbalan yang berlimpah.