Maulid Nabi Muhammad & Google


islamic-wallpaper_muhammad_saw-9Setiap event penting maupun kelahiran tokoh-tokoh terkenal yang berpengaruh, Google selalu memperingatinya dengan menghias logonya.

Nabi Muhammad SAW pada hari ini bertepatan dengan hari kelahirannya.Namun tokoh nomor wahid yang paling berpengaruh di dunia ini ini (menurut Michael H. Hart) tidak dianggap merupakan moment penting bagi Google.

Padahal, dari puluhan milyar manusia yang pernah ada di atas planet bumi ini, tak lebih dari satu juta yang bisa masuk ke dalam buku biografi dalam arti luas. Dari jumlah itu, mungkin cuma 20.000 orang yang hasil upayanya punya harga untuk disebut dalam buku kamus biografi. Dan dari jumlah itu hanya 0,5% yang dimasukkan oleh Michael H. Hart ke dalam bukunya yang fenomenal : Setarus Tokoh Yang Paling Berpengaruh dalam Sejarah, terjemahan H. Mahbub Djunaidi, diterbitkan oleh PT Dunia Pustaka Jaya.

Kalimat di atas saya kutip dari tulisan saya 2 tahun yang lalu.

Maulid Nabi Muhammad SAW kadang-kadang Maulid Nabi atau Maulud saja (bahasa Arab: مولد النبي‎, mawlid an-nabī), adalah peringatan hari lahir Nabi Muhammad SAW, yang di Indonesia perayaannya jatuh pada setiap tanggal 12Rabiul Awal dalam penanggalan Hijriyah. Kata maulid atau milad dalam bahasa Arab berarti hari lahir. Perayaan Maulid Nabi merupakan tradisi yang berkembang di masyarakat Islam jauh setelah Nabi Muhammad wafat. Secara subtansi, peringatan ini adalah ekspresi kegembiraan dan penghormatan kepada Nabi Muhammad.

Sejarah

Peringatan Maulid Nabi pertama kali dilakukan oleh raja Irbil (wilayah Iraq sekarang), bernama Muzhaffaruddin al-Kaukabri, pada awal abad ke 7 hijriyah. Ibn Katsir dalam kitab Tarikh berkata: “Sultan Muzhaffar mengadakan peringatan maulid Nabi pada bulan Rabi’ul Awwal. Beliau merayakannya secara besar-besaran. Beliau adalah seorang yang berani, pahlawan,` alim dan seorang yang adil -semoga Allah merahmatinya-”. Dijelaskan oleh Sibth (cucu) Ibn al-Jauzi bahawa dalam peringatan tersebut Sultan al-Muzhaffar mengundang seluruh rakyatnya dan seluruh para ulama’ dari berbagai disiplin ilmu, baik ulama’ dalam bidang ilmu fiqh, ulama’ hadits, ulama’ dalam bidang ilmu kalam, ulama’ usul, para ahli tasawwuf dan lainnya. Sejak tiga hari, sebelum hari pelaksanaan mawlid Nabi beliau telah melakukan berbagai persiapan. Ribuan kambing dan unta disembelih untuk hidangan para hadirin yang akan hadir dalam perayaan Maulid Nabi tersebut. Segenap para ulama’ saat itu membenarkan dan menyetujui apa yang dilakukan oleh Sultan al-Muzhaffar tersebut. Mereka semua berpandang dan menganggap baik perayaan maulid Nabi yang dibuat untuk pertama kalinya itu.

Ibn Khallikan dalam kitab Wafayat al-A`yan menceritakan bahwa al-Imam al-Hafizh Ibn Dihyah datang dari Moroco menuju Syam dan seterusnya ke Iraq, ketika melintasi daerah Irbil pada tahun 604 Hijrah, beliau mendapati Sultan al-Muzhaffar, raja Irbil tersebut sangat besar perhatiannya terhadap perayaan Maulid Nabi. Oleh kerana itu, al-Hafzih Ibn Dihyah kemudian menulis sebuah buku tentang Maulid Nabi yang diberi judul “al-Tanwir Fi Maulid al-Basyir an-Nadzir”. Karya ini kemudian beliau hadiahkan kepada Sultan al-Muzhaffar.

Para ulama’, semenjak zaman Sultan al-Muzhaffar dan zaman selepasnya hingga sampai sekarang ini menganggap bahawa perayaan maulid Nabi adalah sesuatu yang baik. Para ulama terkemuka dan Huffazh al-Hadits telah menyatakan demikian. Di antara mereka seperti al-Hafizh Ibn Dihyah (abad 7 H), al-Hafizh al-’Iraqi (W. 806 H), Al-Hafizh Ibn Hajar al-`Asqalani (W. 852 H), al-Hafizh as-Suyuthi (W. 911 H), al-Hafizh aL-Sakhawi (W. 902 H), SyeIkh Ibn Hajar al-Haitami (W. 974 H), al-Imam al-Nawawi (W. 676 H), al-Imam al-`Izz ibn `Abd al-Salam (W. 660 H), mantan mufti Mesir iaitu Syeikh Muhammad Bakhit al-Muthi’i (W. 1354 H), Mantan Mufti Beirut Lubnan iaitu Syeikh Mushthafa Naja (W. 1351 H) dan terdapat banyak lagi para ulama’ besar yang lainnya. Bahkan al-Imam al-Suyuthi menulis karya khusus tentang maulid yang berjudul “Husn al-Maqsid Fi ‘Amal al-Maulid”. Karena itu perayaan maulid Nabi, yang biasa dirayakan di bulan Rabi’ul Awwal menjadi tradisi ummat Islam di seluruh dunia, dari masa ke masa dan dalam setiap generasi ke generasi.

Para ahli sejarah, seperti Ibn Khallikan, Sibth Ibn al-Jauzi, Ibn Kathir, al-Hafizh al-Sakhawi, al-Hafizh al-Suyuthi dan lainnya telah bersepakat menyatakan bahawa orang yang pertama kali mengadakan peringatan maulid adalah Sultan al-Muzhaffar, bukan sultan Shalahuddin al-Ayyubi. Orang yang mengatakan bahawa sultan Salahuddin al-Ayyubi yang pertama kali mengadakan Maulid Nabi telah membuat “fitnah yang jahat” terhadap sejarah. Perkataan mereka bahawa sultan Salahuddin membuat maulid untuk tujuan membangkitkan semangat umat untuk berjihad dalam perang salib, maka jika diadakan bukan untuk tujuan seperti ini bererti telah menyimpang, adalah perkataan yang sesat lagi menyesatkan.

Perayaan di Indonesia

Masyarakat muslim di Indonesia umumnya menyambut Maulid Nabi dengan mengadakan perayaan-perayaan keagamaan seperti pembacaan shalawat nabi, pembacaan syairBarzanji dan pengajian. Menurut penanggalan Jawa bulan Rabiul Awal disebut bulan Mulud, dan acara Muludan juga dirayakan dengan perayaan dan permainan gamelanSekaten.

Perayaan di luar negeri

Sebagian masyarakat muslim Sunni dan Syiah di dunia merayakan Maulid Nabi. Muslim Sunni merayakannya pada tanggal 12 Rabiul Awal sedangkan muslim Syiah merayakannya pada tanggal 17 Rabiul Awal, yang juga bertepatan dengan ulang tahun Imam Syiah yang keenam, yaitu Imam Ja’far ash-Shadiq.

Maulid dirayakan pada banyak negara dengan penduduk mayoritas Muslim di dunia, serta di negara-negara lain di mana masyarakat Muslim banyak membentuk komunitas, contohnya antara lain di India, Britania, Rusia dan Kanada.Arab Saudi adalah satu-satunya negara dengan penduduk mayoritas Muslim yang tidak menjadikan Maulid sebagai hari libur resmi. Partisipasi dalam ritual perayaan hari besar Islam ini umumnya dipandang sebagai ekspresi dari rasa keimanan dan kebangkitan keberagamaan bagi para penganutnya.

Dasar hukum pelaksanaan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW bisa di-klik di sini.

Antara Kalkulator Jepang dan Kalkulator Arab


ImageSebaiknya orang (Islam) mulai beralih dari menggunakan kalkulator versi Jepang ke kalkulator versi Arab. Sehingga apapun hasil yang diperoleh pasti tak akan membuat kita kecewa.

Ungkapan ini disampaikan oleh Sinder Pabrik Gula Kebon Agung Malang dalam suatu pertemuan dengan para Ketua Kelompok Tani. Pertemuan itu dilakukan dalam rangka evaluasi pelaksanaan Musim Giling tebu pada Tahun 2013.

Seperti diketahui bahwa pada tahun 2013 ini kondisi tidak berpihak kepada para petani. Rendemen tebu tidak bagus, harga gula juga cenderung menurun, sementara ongkos tebang dan ongkos angkut cenderung menaik. Apalagi pada saat menjelang tutup giling.

Kalau menggunakan dengan kalkulator versi jepang 5 + 5 = 10. Sementara kalau menggunakan kalkulator versi Arab 5 + 5 = plus barokah. Artinya, kita tidak akan pernah mengeluh walah hasil panen tak sesuai dengan yang kita harapkan. Insya Allah, dengan ke-barokah-an tadi, menjadi bekal kelak di akhirat nanti.

Pola pikir semacam ini insya Allah akan membuat kita bisa menjalani hidup dengan tenteram, tidak suka menyalahkan pada keadaan. Kerna dalam kenyataan di tahun 2013 ini impor gula begitu banyak, sehingga melebihi kebutuhan konsumsi yang dibutuhkan oleh masyarakat atau pabrik makanan dan minuman. Atau musim hujan yang berlebihan sehingga rendemen tebu tidak bisa optimal, dan lain-lain.

Bagaimana menurut Anda?

Fatwah MUI Tentang Natal


Haram dan tidaknya mengucapkan selamat natal selalu mengemuka setiap menjelang perayaan Natal. Twitter, facebook, BBM, maupun jejaring sosial yang lain TL nya berseliweran membicarakan soal itu.

Tahun lalu, 24 Desember 2012 vivanews.com menulis:

MUI Jelaskan Kontroversi Ucapan Selamat Natal

Ada dua golongan, satu menyatakan tidak perlu, yang lain boleh.

Senin, 24 Desember 2012, 12:46 Eko Huda S

VIVAnews – Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyatakan umat Muslim di Indonesia tidak perlu mengucapkan selamat Natal untuk umat Nasrani. Imbauan itu didasarkan pada fatwa yang telah dikeluarkan oleh MUI pada tahun sebelumnya.
“Itu mengacu pada fatwa MUI tahun 1981, saat ketuanya Buya Hamka,” kata Ketua MUI, Amidan, saat berbincang dengan VIVAnews, Senin 24 Desember 2012.
Menurut Amidan, fatwa tersebut mengacu pada Ibnu Qayyim dan Ibnu Taimiyah. Pada pokoknya, kata dia, tidak perlu atau tidak boleh mengucapkan selamat Natal. “Nah alasan pada umumnya, tasabuh atau menyerupai, misalnya berpakaian seperti orang Nasrani atau pun ikut memperingati,” Amidan menambahkan.
Meski demikian, dia melanjutkan, sejumlah ulama Indonesia ada yang berpendapat berbeda dengan MUI. Mereka yang berbeda pada umumnya adalah ulama kontemporer. “Mereka berdasarkan fatwa Yusuf Qardhawi. Dia ulama internasional, juga sering datang ke Indonesia,” kata dia.
Amidan menjelaskan, menurut fatwa Qardhawi, boleh mengucapkan selamat Natal, tapi ada kondisional. Artinya, ucapan selamat Natal diperbolehkan dengan syarat tertentu, misalnya saat berada di kalangan yang kebanyakan umat Nasrani seperti di NTT, karena ada hubungan kekerabatan, atau memiliki hubungan pertemanan atau sosial.
“Jadi, kalau di Indonesia yang menonjol atau yang menyetujui seperti Quraish Shihab. Yang lain juga banyak membolehkan saja,” tutur Amidan.
Jadi, tambah dia, terserah Umat Muslim Indonesia menafsirkan. Mau ikut yang mana. “Kalau mengacu pada fatwa tahun 1981 kan tidak diubah-ubah. Artinya, saya tafsirkan tidak perlu,” kata Amidan.
Tak hanya mengucapkan selamat Natal, MUI mengatakan umat Muslim Indonesia tidak boleh menghadiri acara ritual Natal. Umat Muslim, kata Amidan, hanya boleh hadir saat perayaan seremonial saja. “Bukan ritualnya, misal menyalakan lilin, itu bagian ibadah mereka, tidak perlu masuk ke ibadah,” kata Amidan.

Kita kutip lagi awal tulisan vivanews ini : Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyatakan umat Muslim di Indonesia tidak perlu mengucapkan selamat Natal untuk umat Nasrani. Imbauan itu didasarkan pada fatwa yang telah dikeluarkan oleh MUI pada tahun sebelumnya.

“Itu mengacu pada fatwa MUI tahun 1981, saat ketuanya Buya Hamka,” kata Ketua MUI, Amidan, saat berbincang dengan VIVAnews, Senin 24 Desember 2012.

Lalu sekarang baca Fatwa MUI tertanggal 7 Maret 1981 Masehi (1 Jumadil Awal 1401 Hijriyah)

Image

Fatwa ini, kata Sam Ardi lewatnya blognya: Fatwa-fatwa tentang Selamat Natal adalah fatwa yang paling terkenal dan SANGAT SERING dikutip tetapi pengutip terkadang tidak mengetahui esensi fatwa tersebut.

Banyak artikel di internet yang mengatakan bahwa MUI berfatwa bahwa mengucapkan selamat natal itu haram hukumnya berdasarkan fatwa MUI tahun 1981 tersebut.

Pertanyaannya, apakah di dalam fatwa tersebut ada larangan mengucapkan selamat natal?

Silahkan baca sendiri isi fatwa tersebut. Alangkah sangat memalukannya ketika gembar-gembor mengutip fatwa MUI ini dengan kesimpulan “MUI mengharamkan ucapan selamat natal berdasarkan fatwa tahun 1981 yang dikeluarkan saat zaman Prof. Dr. Hamka”.

Bagaimana menurut Anda?

Google & Maulid Nabi


Setiap event penting maupun kelahiran tokoh-tokoh terkenal yang berpengaruh, Google selalu memperingatinya dengan menghias logonya. Nabi Muhammad SAW pada hari ini bertepatan dengan hari kelahirannya.

Namun tokoh nomor wahid yang paling berpengaruh di dunia ini ini (menurut Michael H. Hart) tidak dianggap merupakan moment penting bagi Googgle.

Padahal, dari puluhan milyar manusia yang pernah ada di atas planet bumi ini, tak lebih dari satu juta yang bisa masuk ke dalam buku biografi dalam arti luas. Dari jumlah itu, mungkin cuma 20.000 orang yang hasil upayanya punya harga untuk disebut dalam buku kamus biografi. Dan dari jumlah itu hanya 0,5% yang dimasukkan oleh Michael H. Hart ke dalam bukunya yang fenomenal : Setarus Tokoh Yang Paling Berpengaruh dalam Sejarah, terjemahan H. Mahbub Djunaidi, diterbitkan oleh PT Dunia Pustaka Jaya, Jakarta, 1998, Cetakan XV, Harga 9.000. Demikian antara lain kata penulis buku ini dalam pendahuluannya.

Di hari kelahiran Beliau ini, saya rindu untuk membuka kembali buku tentang Sejarah Nabi Muhammad yang ditulis oleh Muhammad Husain Haekal dan diterjemahkan dengan baik oleh Ali Audah, terbitan PT Pustaka Litera Antar Nusa, Bogor, 1993, Cetakan IX, 1993.

Kisang Orang “Mirip” Ariel, Gayus & Tifatul


Dulu, saat video porno “mirip” Ariel cs. beredar luas di dunia maya, Ariel (asli) mati-matian membantahnya. Kini, ia meringkuk di dalam tahanan karenanya.

Kemarin, ada foto “mirip” Gayus yang tengah nonton tennis di Bali, yang belingsatan adalah pihak Kepolisian. Bahkan Satgas Mafia Hukum akan menemui Agus Susanto, fotografer KOMPAS itu

Kemarin juga, ada foto serta video seorang “mirip” Menkompinfo Tifatul Sembiring tengah bersalaman dengan Michele ‘Nyonya’ Obama, tapi kemudian pak Tifatul berkata bahwa ia “dipaksa” untuk bersalaman. [Karena selama ini beliau ogah bersalaman dengan perempuan yang bukan muhrimnya.]

Di twitter, antara lain beliau berkilah:

tifsembiring Tifatul Sembiring
Sdh ditahan 2 tangan, eh bu michele nya nyodorin tangannya maju banget…kena deh. @unilubis jadi tersungging..☺

Sisi Lain Korban Wedhus Gembel Merapi: Mukena “Lethek” Seharga Rp 100 Juta


Sebuah mukena yang paling bagus niscaya harganya tidak sampai Rp 5.000.000. Tapi ini ada sebuah mukena yang sudah kusam (lethek – Jawa) ditawar Rp 100.000.000 tidak diberikan. Bahkan, kata pemiliknya, ditawar Rp 1 Milyar pun tetap tidak akan dilepas. Wah, mukena model bagaimana itu?
Berikut saya cuplikan kisahnya:
Sepasang turis asal Prancis begitu penasaran pada selembar mukena putih yang telah menyelamatkan keluarga Ponimin dari amukan awan panas yang disemburkan Gunung Merapi Selasa (26/10) malam lalu.
Tak hanya penasaran, pasangan itu pun mau saja merogoh Rp 100 juta dari kantongnya untuk membeli mukena itu.
Menurut penuturan Yati, 42, istri Ponimin, kedua turis yang tak bisa berbahasa Indonesia mendatanginya di rumah pengungsian Kamis (28/10) bersama pemandunya. Saat ini Ponimin dan keluarganya tinggal di rumah dr Anna Ratih Wardhani di Dusun Ngenthak, Kelurahan Umbulmartani, Kecamatan Ngemplak Sleman.
“Kula mboten demi dhuwit (saya tidak mengejar uang). Dibeli satu miliar (rupiah) pun tidak akan saya berikan. Saya lebih memikirkan akhirat, rumah masa depan saya,” tegas Yati, seperti dikutip tempointeraktif.com, Minggu (31/10) sore.
Yati menegaskan, sampai kapan pun mukena itu tidak akan dijual. Namun, ia mengaku rela memberikan mukena itu secara gratis kepada orang yang dinilainya punya iman teguh. “Kami bisa selamat (dari terjangan awan panas Merapi) bukan karena mukena, melainkan karena izin Allah,” tegasnya….
“Mukena itu selalu saya pakai, meski warnanya yang lethek (kusam) karena tak dicuci. Saya sampai diejek teman-teman di tanah suci karena saya selalu memakai mukena yang jelek,” kata Yati.
Keluarga Ponimin adalah salah satu keluarga di Kinahrejo, Cangkringan, Umbulharjo, Sleman yang selamat dari awan panas Merapi. Menurut Ponimin, dia dan keluarganya selamat dari awan panas Merapi karena berlindung di bawah mukena itu.

Sumber : Bule Perancis Tawar Mukena Istri Ponimin Rp 100 Juta, surya.co.id