Kisah tentang Calon dan Menteri Kesehatan yang Tidak Sehat


Nila Djuwita, Menteri Kesehatan RI, begitu judul berita Kompas.com, Minggu, 18 Oktober 2009 | 15:21 WIB. Nila Djuwita F Moeloek SpM (K) digadang-gadang menjadi Menteri Kesehatan RI menggantikan Siti Fadilah Supari. Hal ini terungkap ketika Nila menyampaikan keterangan singkatnya kepada para wartawan… seusai menjalani proses wawancara dan uji kepatutan dan kelayakan di kediaman presiden terpilih Susilo Bambang Yudhoyono di Puri Cikeas Indah, Minggu (18/10).

Namun, detik-detik menjelang hari H, bintang yang sudah bersinar itu mendadak meredup. Beliau dinyatakan tidak sehat. Otomatis gagal untuk jadi Menteri. Dan teka-teki di balik kegagalan Nila Djuwita F.  Moeloek merebut kursi Menteri Kesehatan, menurut lintas berita.com, karena Nila kurang tahan terhadap tekanan psikologis, sehingga mudah stres.

Muncul nama baru yang tak pernah disebut-sebut sebelumnya: Endang Rahayu Sedyaningsih, yang menjabat sebagai Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Biomedis dan Farmasi, Badan Penelitian dan Pengembangan Depkes. Dan kemunculan Menteri Kesehatan yang baru ini sempat menjadi bahan polemik media massa.

Ada dugaan SBY lebih memilih Endang karena dia dekat dengan AS. Hal itu karena Endang Rahayu merupakan staf Departemen Kesehatan yang paling “dekat” dengan Namru (The US Naval Medical Reseach Unit Two) atau Unit 2 Pelayanan Medis Angkatan Laut. “Dia (Endang) adalah mantan pegawai Namru. Dia memang sekarang ini tidak mempunyai jabatan khusus sebagai peneliti biasa,” kata Menteri Kesehatan Siti Fadhilah Supari. (kabarnet.wordpress.com).

Dan kini, ada kabar yang lebih mengejutkan: Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih Sakit Kanker, tulis Billy di gugling.com (17/01/2011). Padahal Saat Tes Kesehatan Calon Menteri, Gejala Kanker Menkes Belum Terlihat (detiknews, 16/01/2011).

Itulah manusia. Walau telah menjabat Menjadi Menteri Kesehatan, bukan berarti beliau akan bebas dari serangan penyakit, apalagi kanker. Kalau kebanyakan masyarakat Indonesia memang ASLI secara akut mengidap penyakit KANKER alias KANTONG KERING.

Anda Diabet? Perbanyak Jalan Kaki


Kompas.com Berjalan kaki merupakan jenis olahraga aerobik yang diketahui baik untuk kebugaran dan kesehatan jantung. Olahraga murah meriah ini sebenarnya juga bisa dilakukan untuk Anda yang ingin menjauh dari penyakit diabetes melitus.

Sebuah penelitian untuk memetakan angka kejadian diabetes di Australia tahun 2000-2005 menemukan, makin banyak langkah kaki Anda berjalan, makin rendah risiko diabetes yang dihadapi. Penelitian itu dilakukan terhadap 592 orang berusia pertengahan hingga usia lanjut.

Di awal studi seluruh responden melakukan pemeriksaan kesehatan dan mengisi rincian gaya hidup yang dilakoni, mulai dari kebiasaan olahraga hingga pola makan. Partisipan studi ini kemudian diberi pedometer, alat untuk mengukur langkah kaki yang telah dilakukan dalam satu hari.

Penelitian yang berlangsung selama lima tahun ini menemukan mereka yang langkah kakinya paling banyak memiliki indeks massa tubuh lebih rendah, rasio pinggang dan paha lebh rendah serta sensitivitas insulin yang lebih baik. Bahkan jika faktor pola makan, kebiasaan merokok dan asupan alkohol juga disertakan.

Mereka yang memiliki gaya hidup kurang aktif dan mulai mengubah kebiasaannya hingga mencapai 10.000 langkah dalam sehari mengalami perbaikan sensitivitas insulin dibanding dengan mereka yang berjalan 3000 langkah dalam sehari, lima kali dalam seminggu.

Sensitivitas insulin adalah kemampuan dari hormon insulin menurunkan kadar glukosa darah dengan menekan produksi glukosa hepatik dan menstimulasi pemanfaatan glukosa di dalam otot skelet dan jaringan adiposa. Jika sensitivitas insulin menurun akan terjadi resistensi insulin yang menyebabkan diabetes.

Hari Kesehatan Sedunia 2010: 1000 Cities 1000 Lives


Pada peringatan Hari Kesehatan Sedunia tahun 2010, WHO mengangkat tema “ Urbanisasi dan Kesehatan” sedangkan untuk tema nasional HKS yaitu : “Dengan hari Kesehatan Sedunia 2010 kita sehatkan kota dan warganya” untuk mengingatkan kepada kita tentang dampak urbanisasi terhadap kesehatan kita baik secara global maupun individual. Urbanisasi dan pertumbuhan penduduk yang masih menunjukkan lonjakan yang cukup fenomenal, terutama penduduk kota di negara-negara berkembang menimbulkan berbagai masalah, seperti kepadatan lalu-lintas, pencemaran udara, perumahan yang kurang sehat dan pelayanan masyarakat yang kurang layak termasuk kriminal, kekerasan dan penggunaan obat-obat terlarang menjadi masalah yang dihadapi oleh masyarakat perkotaan.

Salah satu isu besar dalam permasalahan pengelolaan  lingkungan perkotaan adalah air minum dan sanitasi. Di Indonesia, permasalahan ini ditandai dengan akses dan kualitas pelayanan yang buruk. Lebih dari 100 juta rakyat Indonesia masih kekurangan akses terhadap air minum yang aman, dan lebih dari 70 persen dari 220 juta tergantung pada sumber yang terkontaminasi. Sensus sosial-ekonomi Nasional (SUSENAS) 2004 mencatat bahwa hanya 47 persen penduduk yang dapat mengakses air minum dari sumber yang aman (jumlah ini termasuk 42 persen penduduk di perkotaan). Selama periode 8-tahun (dari 1994 sampai 2002), angka ini meningkat hingga 9 persen di perkotaan.

Terkait masalah kesehatan masyarakat di wilayah perkotaan, tercatat pada usia di atas 5 tahun, baik di wilayah kota dan desa, lima besar penyebab kematian masih dipegang oleh penyakit degeneratif. Yakni, stroke (19,4%), diabetes mellitus (9,7%), hipertensi (7,5%), TB (7,3%) dan penyakit jantung untuk wilayah perkotaan. Sementara di desa adalah, stroke, TB, hipertensi, penyakit saluran anfas bawah dan tumor ganas. (Sumber data : Laporan Riskesdas 2007, DEPKES RI). Penyakit tidak menular tidak hanya saja telah menjadi masalah kesehatan masyarakat di negara berkembang tetapi juga di negara sedang berkembang. Hal ini disebabkan oleh meningkatnya umur harapan hidup, telah dapat diatasinya beberapa jenis penyakit menular dan makin tingginya paparan faktor risiko seperti perilaku (kebisaan) merokok dan minum alkohol, pola aktifitas fisik (kurang olah raga), pola makan yang tinggi lemak dan rendah serat, serta adanya kondisi lingkungan yang merugikan kesehatan seperti pencemaran udara serta rendahnya kondisi sosial ekonomi masyarakat.

Langkah-langkah antisipasi untuk meningkatkan kualitas lingkungan fisik dan sosial kota sudah saatnya dilakukan. Upaya tersebut bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah saja, namun menjadi tanggung jawab semua pihak.

Hari Kesehatan Sedunia pada tahun ini di maksudkan untuk menarik perhatian dunia pada topik urbanisasi dan dampaknya pada kesehatan masyarakat dengan menjalin kerjasama komitmen pemerintah daerah, organisasi internasional, swasta, organisasi kemasyarakatan dalam upaya pengarusutamaan penangangan masalah kesehatan masyarakat dalam program unggulan daerah.

sumber : HARI KESEHATAN DUNIA 2010 – 1000 CITIES 1000 LIVES

Begadang Jangan Begadang!


Begadang jangan begadang, kalau tiada artinya
Begadang boleh saja, kalau ada perlunya

Begadang jangan begadang, kalau tiada artinya
Begadang boleh saja, kalau ada perlunya

Kalau terlalu banyak begadang
Muka pucat karena darah berkurang
Kalau sering kena angin malam
Segala penyakit akan mudah datang
Darilah itu sayangi badan
Jangan begadang setiap malam

(dari Album Begadang, 1978 – Oma Irama)

Apa yang bang Haji (tahun 1978) lewat lagu Begadang tersebut memang nggak salah.

Inilah.com memberitakan bahwa kita harus  hati-hati bila suka begadang. Penelitian menemukan orang yang tidurnya kurang dari 7 hingga 8 jam sehari akan merusak kemampuan otak untuk membentuk ingatan yang kuat.

University of California, San Diego menemukan bahwa orang yang sangat menikmati tidur panjang dipenuhi mimpi, bisa mengingat informasi dan menghubungkan antarfakta saat mereka bangun.

Studi ini menunjukkan tidur sangat penting bagi kemampuan otak untuk mengkonsolidasikan ingatan.

“Tidur penting untuk menarik semua informasi yang kita proses setiap hari dan mengubahnya menjadi kenangan yang bisa kita gunakan nanti,” kata peneliti tidur UCSD, Dr Sara Mednik.

Orang dewasa yang tidurnya kurang dari jumlah yang disarankan serta kurang tidur dapat menghambat kemampuan otak untuk memproses dan menanam kenangan mereka, katanya.

Mednik mengatakan,” Studi ini membantu kita memahami lebih lanjut manfaat tidur dan membantu orang memaksimalkan jadwal tidur mereka untuk produktivitas optimal dan pengambilan memori.”[ito]

Sumber : inilah.com, Awas, Tidur Kurang dari 7 Jam Rusak Ingatan

Badan Gemuk Bisa Menular?


Bukan penyakit saja yang bisa menular, kegemukan juga bisa. Bila teman sepergaulan Anda gemuk, hati-hatilah, kecenderungan kelebihan lemak sangat besar.

Tim ilmuwan dari University of Warwick, Dartmouth College, dan University of Leuven menemukan hasil tersebut dari penelitian terhadap 27 ribu orang partisipan. Menurut hasil riset para ahli yang dibahas dalam sebuah konferensi di Cambridge Massachusetts, Amerika Serikat, fenomena itu disebut ”obesitas imitatif” atau mencontoh kebiasaan teman mengkonsumsi kalori.

Dari riset itu ditemukan, hampir 50 persen wanita di Eropa merasa dirinya mengalami kelebihan berat badan. Sedangkan di kalangan pria, perasaan yang sama ditemukan kurang dari 30 persen. Semula tim itu mengira, obesitas adalah suatu respons terhadap daya beli yang makin kuat. ”Tetapi anehnya kami selalu menemukan kecenderungan orang kaya lebih kurus ketimbang orang miskin,” kata Professor Andrew Oswald, peneliti dari University of Warwick.

Karena itulah Oswald berpendapat, meningkatnya kegemukan sebagai fenomena sosiologis dan bukan fisiologis. ”Orang akan terpengaruh penilaian dari rekan-rekannya,” ujarnya. Namun David Haslam, Direktur Klinis National Obesity Forum, menilai menempatkan obesitas sebagai fenomena sosiologis tak tepat. ”Penjelasan yang lebih tepat adalah, bila dikelilingi orang yang kelebihan berat badan, Anda berada di lingkungan orang yang menyantap banyak makanan salah,” katanya. Dan, Anda pun akan tertular menyantap makanan tak sehat itu.

Sumber: Majalah Berita Mingguan TEMPO Edisi. 16/XXXVIII 08 Juni 2009 (Awas, Gemuk Menular)

Caleg Gila? Ke Menur Saja


rsj-menurSiapapun dia, dari partai manapun dia diberangkatkan, pasti ambisi untuk menjadi Calon Legislatif (caleg) amatlah besar. Semakin banyak dana yang dipakai untuk biaya “memikat rakyat” semakin besar dan tinggi harapan mereka. Dari partai gurem hingga partai konglomerat, mereka mati-matian berdaya upaya untuk memeras otak, bahkan banyak yang lari ke dukun (Ponari juga?), minta doa para kyai, menghubungi sobat-sobat yang sebelumnya dilupakan, demi untuk sebuah kursi – baik untuk Tingkat II, Propinsi ataupun Pusat.

Di Jatim saja, menurut Harian Surya, Selasa, 24 Maret 2009, untuk merebut jatah 87 kursi DPR RI periode 2009-2014 sebanyak 1.468 caleg yang bertarung dalam Pemilu 9 April nanti. Sedangkan untuk total 100 kursi di DPRD Jatim diperebutkan oleh 1.665 caleg dan sebanyak 1.710 kursi di DPRD Kabupaten/Kota, jumlah caleg yang berjibaku mencapai belasan ribu.

Jadi yang berhasil memperebutkan dan menduduki kursi Legislatif (Jatim) hanyalah 1.852 orang saja. Belasan ribu yang lain?

Dalam tabelnya, Harian Surya menyebutkan bahwa total jumlah caleg DPR RI (11.215), DPR Propinsi (112.000) dan DPRD Kabupaten/Kota (1.500.000) dan DPD (1.109).

Sebuah penelitian dari ahli jiwa RS Hasan Sadikin Bandung, seperti yang kami comot dari (masih) koran yang sama, sangat mungkin caleg yang tidak lolos bisa bila karena frustrasi. Setelah dilakukan tes terhadap para caleg kota/kabupaten di Indonesia, ditemukan fakta bahwa daya tahan mental para caleg umumnya tidak kokoh sehingga susah menerima kenyataan buruk apabila mereka kalah dalam pemilu.

Direktorat Kesehatan Jiwa Departemen Kesehatan telah menyiagakan 32 RSJ yang ada di tanah air, untuk menampung para Caleg GATOT (Gagal Total) yang stress berat. Sayangnya daya tampungnya cuma 8.500 orang saja.

Dari ke-32 RSJ, RSJ Menur adalah yang terbaik. Paling tidak, begitulah ucap Direktur RSJ Menur, dr. Hendro Riyanto, Sp.KJ.MM, jual kecap. Yang pasti tidak gratis. Masih perlu mengeluarkan kocek minimal Rp 25.000 per hari dan yang VIP 1 (Rp 350.000) VIP 2 (Rp 250.000), Kelas Utama 1 (Rp 150.000) dan Kelas Utama 2 (Rp 100.000). Pilih mana?whats_going_on_here_thumb3

Upaya Menciptakan Rokok Yang Menyehatkan


Dalam imaji bangsa Indonesia tentang rokok kita (sudah lama) tersihir oleh peringatan yang dianjurkan oleh pemerintah (yang dipasang di setiap bungkus rokok, yaitu: MEROKOK DAPAT MENYEBABKAN KANKER, SERANGAN JANTUNG, IMPOTENSI DAN GANGGUAN KEHAMILAN DAN JANIN.

Sementara kita tidak tahu sinyalemen ini hasil penelitian di Indonesia atau di luar negeri.

Prof. Dr. Sutiman B. Sumitro, Guru Besar Biologi Molekul Sel (Universitas Brawijaya Malang dan Dekan Fakultas Sain dan Teknologi Universitas Islam Negeri (UIN) Malang (BUKAN PEROKOK) menulis dalam kertas kerjanya yang disampaikan di Lokakarya tentang Rokok pada tanggal 24 Nopember di Grand Palace Hotel, Malang, antara lain:

Rasanya belum pernah terdengar ada studi tentang rokok Indonesia yang serius. Kebanyakan studi tentang rokok di Indonesia bersifat parsial, dan opini lebih banyak didasarkan pada hasil studi di luar negeri. Studi yang dimaksud adalah studi yang komprehensif tentang rokok Indonesia dan dampak merokok yang meliputi aspek kesehatan, psikologi, sosial, ekonomi yang melibatkan responden dalam skala besar. Bila belum ada hal semacam ini rasanya perlu dilakukan agar diperoleh simpulan yang lebih valid dan dapat dipertanggungjawabkan.

Perlu dicatat bahwa rokok khas Indonesia barangkali berbeda dengan rokok asing yang sudah banyak diteliti. Memang budaya pengambilan keputusan atau simpulan pendapat atas dasar hasil penelitian ilmiah sangat minim di Indonesia. Banyak kasus simpulan pendapat, tidak hanya kasus rokok, cenderung (kita) mengikut opini tanpa kita sendiri secara mandiri melakukan upaya penyimpulan melalui penelitian ilmiah.

Di sisi lain kesadaran pabrik rokok untuk membangun institusi masih minim. Mustinya pabrik rokok memiliki informasi valid dampak setiap produknya di masyarakat. Penelitian untuk membuat rokok lebih “human friendly” perlu dilakukan. Bila perlu diusahakan membuat rokok yang menyehatkan. Hal semacam ini tidak tertutup kemungkinannya dengan perkembangan keilmuan saat ini. Konsep-konsep baru tentang Biologi Nano (nano technology) rasanya dapat digunakan, sekaligus membuat pabrik rokok mampu mengangkat Indonesia dalam pengembangan konsep dan ide-ide ilmiah baru.

QUOTE:

Hal positip rokok berfilter nano:

  • Abu rokok efektif sebagai obat sariawan, penghilang rasa sakit gigi dan penyembuh luka-luka baru atau lama di bagian kulit.
  • Filter nano bekas pakai efektif menghaluskan kulit muka dan mengurangi kerutan.

(Sumber: Kertas Kerja yang berjudul: Upaya Menyelesaikan Problema Rokok di Indonesia: Membuat sifat asap rokok kretek menjadi sehat tanpa merubah rasa (Sebuah Pendekatan Nano Biologi), Sutiman B. Sumitro et. al., Kelompok Peneliti Biologi Nano, Laboratorium Biologi Molekul dan Sel Universitas Brawijaya)

Kertas kerja bisa didownload di sini.