Kubur Tan Malaka Berada di Desa Selopanggung, Kabupaten Kediri


Ini pengakuan negara terhadap seorang pahlawan nasional yang selama 30 tahun namanya dihilangkan dari buku pelajaran dan pengajaran sejarah.

Image

Keluarga Tan Malaka meminta pemerintah Indonesia untuk memindahkan sisa-sisa jasad yang diyakini sebagai pahlawan nasional Tan Malaka di sebuah pemakaman umum di Kabupaten Kediri, Jatim ke Taman makam pahlawan, TMP Kalibata, Jakarta.

Menurut keluarganya, pemakaman ulang jasad Tan Malaka ke TMP Kalibata merupakan bentuk pengakuan negara secara resmi terhadap pahlawan nasionalnya.

“Ini pengakuan negara terhadap seorang pahlawan nasional yang selama 30 tahun namanya dihilangkan dari buku pelajaran dan pengajaran sejarah,” kata Asvi Warman Adam, ahli sejarah dan penasehat tim identifikasi pencarian jenazah Tan Malaka, Senin (27/01) siang, kepada wartawan BBC Indonesia, Heyder Affan.

Dalam waktu dekat, keluarga Tan Malaka dan panitia akan menemui Kementerian Sosial untuk proses pemindahan secara simbolis sisa-sisa tulang, gigi serta rambut yang diyakini sebagai Tan Malaka.

Pada 2009 lalu, tim forensik yang didukung keluarga Tan Malaka Klik telah selesai menggali kuburan yang diduga berisi jenazah Tan Malaka di pemakaman umum di Desa Selopanggung, Kabupaten Kediri.

Penggalian dilakukan berdasarkan penelitian yang dilakukan sejarawan Belanda Hary Poeze selama bertahun tahun terhadap tokoh komunis asal Sumatera Barat ini.

Penelitian itu menyimpulkan, pahlawan nasional itu ditembak mati oleh pada 21 Februari 1949 oleh kesatuan Tentara Republik Indonesia, TRI di dekat lokasi kuburan yang ditemukan di Kediri.

‘Yakin 90 persen’

Setelah melakukan penggalian, tim peneliti kemudian mencocokan DNA jasad tersebut — yang sudah berupa serpihan tulang, gigi serta rambut — dengan DNA keluarga Tan Malaka, namun sejauh ini belum membuahkan hasil.

Salah-satu buku karya Harry Poeze tentang sosok Tan Malaka.

Walaupun belum menemukan bukti DNA, menurut Asvi Warman Adam, pihak panitia “meyakini 90 persen” bahwa jasad tersebut adalah Tan Malaka berdasarkan bukti yang ditemukan selama penggalian.

Asvi menjelaskan, temuan antropologi fisik terhadap jasad itu menunjukkan bahwa “orang yang dimakamkan itu laki-laki, berasal dari ras mongoloid, dan tingginya antara 163-165 cm, dan dalam keadaan tangannya terikat ke belakang.”

“Jadi secara fisik itu ciri-ciri Tan Malaka pada saat ditembak,” kata Asvi.

“Kami menyimpulkan bahwa 90 persen itu sudah benar bahwa itu tempat meninggalnya Tan Malaka,” tambahnya.

Tan Malaka adalah tokoh Kiri yang sejak awal mencita-citakan Indonesia merdeka dari kolonial Belanda.

Selain pernah diasingkan dan menjadi legenda aktivis politik bawah tanah selama bertahun-tahun, pria kelahiran 1897 ini juga menulis beberapa buku terkenal.

Gelar pahlawan tidak dicabut

Menurut Asvi Warman Adam, pemerintah Indonesia telah menetapkan Tan Malaka sebagai pahlawan nasional pada 1963, tetapi “sejak 1965 namanya tidak ada lagi, meski gelarnya tidak pernah dicabut.”

Liputan Majalah TEMPO tentang Tan Malaka.

Asvi mengaku mendapat keterangan dari tim peneliti Kemensos bahwa “gelar pahlawan Tan Malaka tidak dicabut, tetapi off the record. Itu keterangan dari penelitian dari kementerian sosial.”

Klik Pemerintahan Orde Baru pimpinan Presiden Suharto dikenal sebagai rezim anti Komunis yang melarang segala hal yang berbau Komunis atau aliran Kiri.

Peneliti LIPI ini mengatakan, selain meminta jasad Tan Malaka dimakamkan ulang, mereka meminta Kemensos untuk memugar kuburannya serta membuat monumen di pekuburan Desa Selopanggung, Kediri.

Mereka mengusulkan hal ini karena sejak awal Pemerintah Kabupaten Kediri menolak jika jasadnya dipindahkan dari lokasi pemakaman awalnya.

“Karena pemerintah Kediri ingin makam Tan Malaka tetap di situ, sedang keluarga ingin dimakamkan di Kalibata, maka keluarga akan memindahkan secara simbolis tanah (di kuburan Selopanggung) ke TMP Kalibata, dan membiarkan kerangka tersisa tetap di Selopanggung.”

Keluarga juga mempersilakan tim forensik yang pernah meneliti DNA Tan Malaka untuk melanjutkan penelitiannya.

sumber: BBC Indonesia, Keluarga minta jasad Tan Malaka dikubur di TMP Kalibata

Advertisements

Hasyim Muzadi: Soeharto (masih) Pantas Jadi Pahlawan


Mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Hasyim Muzadi menilai mantan Presiden Soeharto pantas memeroleh gelar pahlawan nasional dari Negara, demikian antara lain yang diberitakan oleh kompasdotkom.

“Soeharto pantas jadi pahlawan,” tandas Hasyim, yang kini aktif sebagai Sekretaris Jenderal Konferensi Internasional Cendekiawan Islam (International Conference of Islamic Scholars – ICIS), di Jakarta, Senin (18/10/2010).

Hasyim mengemukakan hal itu terkait masuknya nama Soeharto bersama sembilan tokoh lainnya sebagai calon penerima gelar pahlawan yang diajukan pemerintah berdasar masukan dari masyarakat yang mengundang pro-kontra.

Menurut Hasyim, mengukur jasa Soeharto terhadap negara tidak bisa hanya diukur atau dilihat dari suasana Indonesia hari ini. “Soeharto memulai kekuasaannya dalam suasana revolusioner. Tanpa Soeharto, Indonesia sudah menjadi negara komunis, tanpa Pancasila, tanpa UU 1945, dan tanpa agama,” tandasnya.
Diakuinya, Soeharto melakukan rehabilitasi kenegaraan dengan ongkos mahal. Pada 15 tahun pertama tampak gemilang, pembangunan berjalan pesat. Namun pada 15 tahun berikutnya mulai tampak kesewenang-wenangan, korupsi, dan nepotisme akibat sentralisasi kekuasaan.

Pada bagian lain Hasyim mengatakan, saat ini memang perlu dilakukan rekonsiliasi nasional agar negara tidak hidup dalam dendam.

“Apalagi kebanyakan kelompok PKI telah hidup normal bersama warga negara lainnya bahkan sangat banyak yang jadi santri bahkan jadi kiai mendirikan pondok pesantren. Sehingga rekonsiliasi nasional adalah sebuah keniscayaan,” katanya.

Kisah Tentang “Sepatu Bush”


sepatu-bushSepasang sepatu yang dipakai wartawan Irak, Muntazer al-Zahdi, untuk melempari Presiden George W. Bush, mulai menjadi incaran orang-orang kaya Timur Tengah.

Awalnya adalah Adnan Ahmad, direktur teknik kesebelasan nasional Irak, yang berani membeli itu sepatu seharga 100.000 dollar AS (Rp 1,1 milyar). Katanya, nilai itu sepadan dengan keberanian yang ditunjukkan Zaidi yang dianggap mewakili sikap warga Irak.

Namun, selang sehari, tawaran lain – yang lebih fantastis – datang dari seorang pengusaha negeri itu (yang masih dirahasiakan identitasnya). Bayangkan, sepatu yang mungkin awalnya dibeli wartawan itu – paling tidak harganya sekitar Rp 50.000, kini harganya menjadi 20 juta dolar AS (Rp 220 Milyar).

Siapa yang bakal kaya dari sepatu itu belum jelas, karena keberadaannya juga tidak diketahui sampai kini. Ada spekulasi bahwa sepatu itu kini disita aparat keamanan Irak atau dibawa pejabat pemerintahan Bush. Salah satu harian Irak melaporkan, kalau Zaidi terbukti tidak bersalah maka sepatu itu akan dikembalikan.
Selain tawaran-tawaran yang menggiurkan itu, muncul pula dukungan dalam bentuk lain.

Sementara itu, putrid pemimpin Libya Muammar Khadafi, Aicha, mengatakan, lembaga sosialnya akan memberikan penghargaan berupa medali keberanian. “Aksi itu merupakan kemenangan bagi hak asasi manusia,” katanya.

Lalu, di Afganistan, Zang-i-Khatar, acara komedi, merekonstruksikan adegan pelemparan sepatu itu. Namun kali ini Bush benar-benar kena.

Di Inggris , peristiwa itu mengilhami munculnya game komputer Sock and Awe. Game yang mempelesetkan sifat serbuan AS ke Irak. Game ini menggunakan Bush sebagai sasaran.

Sidang atas kejadian itu sudah digelar hari ini di Green Zone, markas militer AS dan pusat pemerintahan Irak di Bagdad – tanpa kehadiran di terdakwa. Karena Zaidi saat ini masih dirawat di Rumah Sakit Ibn Zina yang dikelola AS di Green Zone. Muntazer al-Zaidi mengalami patah tangan dan tulang rusuk serta luka di wajah dan kaki akibat dipukul aparat keamanan Irak. (‘Sepatu Bush’ Ditawar Rp 220 M, Di Afdanistan Lemparan Jadi Kena Suryalive)

Stories about “Bush Shoes”

A pair of shoes that used Iraqi journalists, Muntazer al-Zahdi, to pelt President George W. Bush, who began a

searching richman of  Middle East.

Adnan Ahmad is the beginning, technical director of the Iraqi national eleven, who dare to buy the shoes worth 100,000 U.S. dollars (Rp 1,1 billion). Meanwhile, the value is commensurate with the courage shown Furthermore, which is considered to represent the attitudes of citizens of Iraq.

However, the lapse day, another bid – the more fantastic – come from a country that the businessmen (who are still concealed identity). Imagine, shoes, which may initially purchased the journalists – most do not price around Rp 500,000, now is the price to 20 million U.S. dollars (Rp 220 billion).

Who is the candidate of the rich shoe is not yet clear, because its existence was not known until now. There is speculation that the shoe is now a security officer be brought Iraq or Bush administration officials. One of Iraq’s daily report, if proven not guilty Furthermore, the shoes will be returned.  Besides bid-bid, which arouse it, also appear in other forms of support.

Daughter of Libyan leader Mu`ammar Khadafi, Aicha, say, social institutions will award a medal to give courage. “Action is a victory for human rights,” he said.

Then, in Afghanistan, Zang-i-Khatar, a comedy, reconstruction of throwing shoes that scene. However, this time Bush really be.

In Britain, events that inspire the emergence of computer games Sock and Awe. Mempelesetkan nature of the game to the U.S. invasion of Iraq. Bush is using the Games as a target.

The Council of the event is held today in the Green Zone, U.S. military headquarters and the central government of Iraq in Baghdad – without the presence of the accused. Furthermore because the current is still being treated in hospital, Ibn Zina managed by the U.S. in the Green Zone. Furthermore Muntazer al-experienced broken hand and rib injuries in the face and legs and beaten as a result of the Iraqi security officials. (translate from ‘Sepatu Bush’ Ditawar Rp 220 M, Di Afdanistan Lemparan Jadi Kena Suryalive)

Setelah 63 Tahun Kita Merdeka


Jangan mencita-citakan adanya pemimpin-pahlawan bangsa Indonesia, melainkan kehendakilah adanya pahlawan-pahlawan yang tak punya nama. (Bung Hatta)

Hari Kamis Malam Jum’at Legi, pada saat bulan Ramadhan, 63 tahun yang lalu, sekelompok pemuda “menculik” Bung Karno untuk kemudian didesak agar memproklamirkan Indonesia sebagai Negara. Setelah melalui perdebatan yang sengit, akhirnya Bung Karno pun menyetujuinya. Sehingga esoknya, pukul 10 pagi, Indonesia menyatakan kemerdekaannya.

Tadi Malam, Sabtu, segenap penduduk Indonesia, tua muda, pada berkelompok, berkumpul pada setiap RT atau RW, pada bartasyakur demi mengenang jasa-jasa para pejuang kemerdekaan kita. Ada yang dalam bentuk tahlilan, ada yang membacakan riwayat para pejuang (baik lokal maupun nasional) dan sebagainya.

Para pejuang kita dulu merebut kemerdekaan dari tangan penjajah demi untuk sebuah cita-cita yang luhur. Merdeka untuk semua. Merdeka untuk segenap rakyat Indonesia.

Pada awal-awal kemerdekaan, karena Bung Karno tidak mau dibantu (untuk kemudian didikte) oleh pihak asing, maka katanya: go to hell with your aid. Sehingga, demi semangat berdikari, pernah terjadi pemotongan uang, dari seribu rupiah menjadi serupiah. Meski melarat yang penting merdeka.

Pada zaman orde baru, Bapak Pembangunan Indonesia, Soeharto, mencoba memanjakan rakyat Indonesia. Semua bahan pokok pun disubsidi, sambil juga tidak lupa untuk mensubsidi keluarga beserta kroninya.
Rakyat Jelata tersenyum karena bisa membeli bahan pokok dengan murah. Rakyat Elite pun tersenyum karena memperoleh kucuran dana yang alangkah banyaknya. Yang menangis mungkin bumi pertiwi, karena kekayaan yang terkandung di dalamnya hanya sebagian kecil saja yang bisa dinikmati rakyat jelata. Sementara yang lain dikorupsi.

Pada zaman orde (ter)baru, subsidi pada dicabut. Sementara kegiatan korupsi tidak ikut (otomatis) dicabut. Karena memang sulit untuk mencari bukti-bukti formal, seperti yang diminta oleh Undang-Undang Anti Korupsi.

Intinya, kita betul telah merdeka selama 63 tahun. Namun sejatinya, kita rakyat jelata diam-diam ternyata masih dalam masa penjajahan. Ibaratnya keluar dari mulut singa tapi masuk ke mulut buaya.

[Tulisan ini setahun yang lalu saya tulis di sini; Gambar diambil dari sini, yang merupakan Ruang tamu rumah persembunyian Bung Karno di Rengasdengklok.]

Dicari: Dalang Kerusuhan & Dalang Pembunuh Munir


Dalang dalam dunia pewayangan diartikan sebagai seseorang yang mempunyai keahlian khusus memainkan boneka wayang (ndalang). Keahlian ini biasanya diperoleh dari bakat turun – temurun dari leluhurnya. Seorang anak dalang akan bisa mendalang tanpa belajar secara formal. Ia akan mengikuti ayahnya selagi mendalang dengan membawakan peralatan, menata panggung, mengatur wayang (nyimping), menjadi pengrawit, atau duduk dibelakang ayahnya untuk membantu mempersiapkan wayang yang akan dimainkan.

Selama mengikuti ayahnya “ndalang” dalam kurun waktu yang lama -dari kecil hingga remaja- inilah proses pembelajaran itu terjadi dengan sangat alami, dan rata-rata anak dalang akan bisa mendalang setelah besar nanti. Tetapi banyak juga seorang anak dalang tidak akan menjadi Dalang di kelak kemudian hari, karena mempunyai pilihan hidup sendiri, misalnya berprofesi menjadi pegawai negeri, swasta, TNI dan sebagainnya…..

Dalang adalah seorang sutradara, penulis lakon, seorang narator, seorang pemain karakter, penyusun iringan, seorang “penyanyi”, penata pentas, penari dan lain sebagainya. Kesimpulannya dalang adalah seseorang yang mempunyai kemampuan ganda,dan juga seorang manager, paling tidak seorang pemimpin dalam pertunjukan bagi para anggotanya (pesinden dan pengrawit).

Namun berikut ini akan dikisahkan DALANG-DALANG yang lain. Yang pertama tentang Dalang Demo Menentang Kenaikan Harga BBM. Yang kedua Dalang Pembunuh Munir.

Liputan6.com, memberitakan bahwa : Unjuk rasa menentang kenaikan harga bahan bakar minyak dicurigai dikendalikan sekelompok orang yang memiliki motif politik. Kepala BIN Syamsir Siregar pernah menyebut seorang mantan menteri menjadi otak unjuk rasa. Setelah itu Syamsir menyebut orang berinisial FJ sebagai otak di balik demo yang berakhir rusuh. Orang itu diduga kuat Ferry Juliantono, Sekretaris Jenderal Komite Indonesia Bangkit. Komite itu dimotori Rizal Ramli, mantan Menteri Koordinator Perekonomian.

Tudingan Komite Indonesia Bangkit dibalik unjuk rasa menentang kenaikan BBM pun semakin santer. Namun, tuduhan itu dibantah Rizal. “Itu mengada-ada. Karena kami percaya dengan cara-cara damai dalam menyampaikan aspirasi, termasuk unjuk rasa,” kata Rizal, Kamis (26/6).

Rizal juga mengaku tidak tahu soal tudingan Kepala BIN yang mengatakan pernah dihubungi Ferry Juliantono dan mengabarkan akan ada demonstrasi yang berujung bentrokan massa. “Memang bisa saja Ferry bertemu dengan Syamsir pada acara lain,” kata Rizal.

Komite, kata Rizal, memang pernah diundang berorasi saat unjuk rasa di kawasan Monas dan Istana Negara pada Mei lalu. Sementara kejadian terakhir adalah hal yang berbeda. Menurut Rizal, semua tuduhan yang dialamatkan ke Komite Indonesia Bangkit harus dibuktikan jangan asal tuding.

Kepala Badan Intelejen Negara (BIN), Syamsir Siregar, masih menurut Liputan6.com, Badan Intelijen Negara menyebut seorang berinisial FJ sebagai dalang yang membuat unjuk rasa bertindak brutal. Kepala BIN Syamsir Siregar menyebutkan FJ saat ini tak ada di Indonesia. “Orang itu lari nggak ada di sini,” kata Syamsir di Jakarta, Rabu (25/6).

Lalu, soal Dalang Pembunuh Munir, saya kutipkan liputan khusus SCTV berikut ini yang bertajuk: Diakah Dalang yang Selama ini Dicari?

icon 16/06/2005 09:07 Liputan Khusus
Hendropriyono Telah Disarankan Memenuhi Panggilan TPF

 BIN sudah menganjurkan Hendropriyono dan Muchdi P.R. untuk memenuhi panggilan TPF Kasus Munir. Meski demikian, keputusan untuk mengikuti pemeriksaan berpulang kepada pribadi masing-masing.
icon 02/02/2006 20:03 Liputan Khusus
Muchdi P.R. Meminta Bantuan Tim Pembela Muslim

 Muchdi merasa terpojok atas opini soal dugaan keterlibatannya dalam kematian aktivis HAM, Munir. Tim Pembela Muslim bersedia menerima permohonan mantan Deputi BIN atas rekomendasi beberapa ulama.
icon 17/02/2006 08:22 Liputan Khusus
Muchdi PR Menemui Ketua DPR

 Mantan Deputi V BIN Mayjen TNI Muchdi PR menyampaikan keluhannya kepada Ketua DPR Agung Laksono. Muchdi merasa pemberitaan di media massa tentang kasus pembunuhan Munir telah memojokkan dirinya.
icon 15/01/2008 18:13 Liputan Khusus
Saksi dari BIN: Muchdi PR Mengenal Pollycarpus

 Agen BIN Budi Santoso menyatakan bahwa mantan Deputi Kepala BIN Muchdi PR mengenal Pollycarpus Budiharipriyanto. Mereka sering bertemu, bahkan Pollycarpus kerap menerima uang dari Muchdi.
icon 19/06/2008 23:53 Liputan Khusus
Tim Mabes Polri Jemput Muchdi PR

 Tim Mabes Polri menjemput mantan Deputi V BIN Muchdi PR. Polisi sebelumnya berjanji akan mengumumkan tersangka baru pelaku pembunuhan aktivis hak asasi manusia Munir. Tapi belum ada kepastian mengenai status Muchdi.
icon 20/06/2008 05:16 Liputan Khusus
Muchdi PR Tersangka Baru Kasus Munir

 Mabes Polri mengumumkan Muchdi Purwopanjono atau Muchdi PR sebagai tersangka baru dalam kasus pembunuhan Munir. Mantan Deputi V BIN itu akan dijerat pasal tentang pembunuhan berencana dengan ancaman hukuman 20 tahun penjara.
icon 20/06/2008 07:15 Liputan Khusus
Suciwati: Ini Masih Langkah Awal

 Suciwati menilai penetapan Muchdi PR sebagai tersangka kasus pembunuhan Munir sebagai langkah awal. Sebab, menurut Suciwati, Muchdi bukan perencana dan pemberi perintah tunggal untuk membunuh suaminya itu.
icon 20/06/2008 12:06 Liputan Khusus
Muchdi Bantah Tuduhan

 Menurut kuasa hukum yang mendampingi Muchdi, Mohammad Lutfi Hakim, kliennya dicecar 30 pertanyaan. Muchdi sendiri menolak segala sangkaan yang mengaitkan dirinya dengan kasus pembunuhan Munir.
Siapakah yang bakal terungkap duluan? Dalang versi Pertama atau Dalang versi Kedua?

EURO 2008 & Nasionalisme


Guus Hiddink bak Raja Midas, yang mana setiap yang disentuhnya akan berubah menjadi emas. Betapa tidak, Tim Oranye Belanda yang memperoleh point penuh (9) dan sekalgus menjadi juara Grup dikandaskan oleh Rusia dengan angka telak 3 – 1.

Dengan kejeniusannya Guus Hiddink memanfaatkan kelebihan The Red Army Rusia dari sisi, disiplin dan kecepatan. Sehingga tim besutan Basten menjadi tidak berkutik dibuatnya.

Bagi Belanda ia mungkin dikutuk si pengkhianat. Demikian tulis Surya Online. Namun bagi Rusia, yang menunggu waktu 20 tahun untuk bisa menembus semi final EURO 2008, jelas ia adalah seorang pahlawan. Bahkan ia kini disebut Tsar Hiddink, sebuah jabatan ningrat terhormat Rusia tempo doeloe. Bahkan Presiden rusia Dmitri Medvedev akan memberi kewarganegaraan Rusia kepada Hiddink. “Dia tidak perlu pulang, kami bisa menjadikannya warga Rusia.”

Layakkah ia dicap sebagai pengkhianat?

Saya pikir tidak. Karena apa yang dilakukan si Guus itu adalah suatu profesionalitas dalam bekerja. Betapa tidak. Bukti keprofesionalisasian dia nampak pada saat World Cup 2002, membawa Korea Selatan hingga ke semi final atau sebelumnya membawa Belanda ke semi final Word Cup 1998 di Perancis. Kemudian membawa Australia menapaki Putaran Kedua pada Word Cup 2006 di Portugal.

Justu ia akan tampak sebagai tidak professional manakala harus meminta Rusia untuk mengalah kepada Belanda, demi menampakkan rasa nasionalisme dia.

Akankah ia mau melatih tim Indonesia, agar bisa menikmati aroma Piala Dunia 2014, atau 2018, atau 2022?

——-

Gambar Guss Hiddink naik kuda diambil dari sini.

100 Teks Yang Membangun Imaji tentang Indonesia


Terus terang, belakangan ini saya jarang sekali membeli MBM TEMPO. Apalagi sejak ada online-nya. Saya selalu ngintip di sana, khususnya yang gratisan :mrgreen:

Tapi untuk Edisi Khusus Kebangkitan Nasional 1908 – 2008, saya memerlukan untuk beli. Banyak hal yang bisa saya ketahui dari sana. Dengan titel: Berbagai Tinta Menulis Indonesia TEMPO menyajikan Seabad Indonesia dalam seratus karya: maklumat, peta, pidato, catatan harian, puisi, prosa, serta buku–fiksi dan nonfiksi. Inilah potret sebuah negeri yang dicatat dalam sejumlah teks. Tentang susah-senang memelihara sebuah bangsa. Dengan segala kepedihan dan ketidaksempurnaannya….

Dengan mengundang Taufik Abdullah dan Asvi Warman Adam (sejarawan), Goenawan Mohamad (esais), Parakitri Tahi Simbolon (penulis), Dr Ignas Kleden (sosiolog), dan Putut Widjanarko (pengamat dan penerbit buku).

SEBULAN lebih diskusi demi diskusi dilakukan, untuk kemudian TEMPO memilih 100 teks itu, yang dikategorikan bukan berdasarkan peringkat, melainkan berdasarkan jenisnya: buku, novel, puisi, maklumat, pidato, surat, catatan harian, polemik, laporan jurnalistik, peta, atlas, ensiklopedia, dan kitab undang-undang.

Dari ke-100 teks itu, ada beberapa yang saya miliki, atau pernah saya baca, yaitu:

  1. Demokrasi Kita, Mohammad Hatta, Penerbit PT. Pustaka Antara, Jakarta, 1966.
  2. Aspirasi Pemerintahan Konstitusional di Indonesia: Studi Sosio-Legal atas Konstituante 1955 – 1959, Adnan Buyung Nasution, Penerbit Grafiti Pers, Jakarta, 1995.
  3. Madilog, Tan Malaka, 1943.
  4. NU: Tradisi, Relasi-relasi Kuasa, Pencarian Wacana Baru, LKiS & Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 1994.
  5. Manusia Indonesia (Sebuah Pertanggungjawaban), Mochtar Lubis, yayasan Idayu, Jakarta, 1981.
  6. Catatan Subversif, Mochtar Lubius, Yayasan Obor Indonesia & Penerbit Gramedia, jakarta, 1987.
  7. Laporan dari Banaran, TB Simatupang, Pustaka Sinar Harapan, jakarta,
  8. A Preliminary Analysis of the October 1, 1965, Coup in Indonesia, Ben Anderson, Modern Indonesian Project, Southeast Asia program, Cornell University, Ithaca, New York, 1971.
  9. Tetra Pulau Buru, Pramodya Ananta Toer.
  10. Siti Nurbaya, Marah Rusli, Balai Pustaka, Jakarta, 1920.
  11. Belenggu, Armijn Pane, Dian Rakyat, Jakarta, 1940.
  12. Salah Asuhan, Abdoel Moeis, Balai Pustaka, Jakarta, 1928.
  13. Layar terkembang, Sutan Takdir Alisjahbana, Balai Pustaka, Jakarta, 1936.
  14. Potret Pembangunan dalam Puisi, WS Rendra, Lembaga Studi Pembangunan, Jakarta, 1980.
  15. Deru Campur Debu, Chairil Anwar, Dian Rakyat, Jakarta, 1949.
  16. Pergolakan Pemikiran Islam, Ahmad Wahib, LP3ES, Jakarta, 1981.
  17. Soe Hok Gie: Catatan Seorang Demonstran, LP3ES, jakarta, 1983.
  18. Habis gelap Terbitlah Terang, Surat-surat Kartini, Balai Pustaka, Jakarta, 1922.
  19. Burung-Burung Manyar, YB. Mangunwijaya, Djambatan, Jakarta, 1981.
  20. Jalan Tak Ada Ujung, Mochtar Lubis, PT Dunia Pustaka Jaya, jakarta, 1952.
  21. Tenggelamnya Kapal van Der Vijck, HAMKA, Balai Pustaka, Jakarta, 1938.
  22. Kesusastraan Indonesia Modern dalam Kritik dan Esay, PT Gunung Agung, Jakarta, 1954.
  23. Naskah Proklamasi.
  24. Dekrit Presiden 5 Juli 1959.
  25. Pidato Nirwan Dewanto, saat Kongres Kebudayaan IV, dalam bukunya Senjakala Kebudayaan, 1996.
  26. Manifes Kebudayaan.
  27. Surat Kepercayaan gelanggang.
  28. Garis-Garis Besar Haluan Negara, 1973 – 1998.
  29. sampai dengan 100 saya belum pernah baca (apa saja judul teks-nya, menyusul. Soalnya saya mau nonton Chelsea vs MU….. )