Google & Grace Murray Hopper’s 107th Birthday


Grace HopperHari ini adalah hari kelahiran Grace Murray Hopper. Google memperingatinya dengan menghias halaman depannya dengan animasi seperti berikut:

Grace Murray Hopper (9 Desember 1906 – 1 Januari 1992) adalah seorang ilmuwan komputer Amerika dan Angkatan Laut Amerika Serikat Laksamana. Dia adalah salah satu programmer pertama dari komputer the Harvard Mark I, dan mengembangkan compiler pertama untuk bahasa pemrograman komputer. Dia mengkonseptualisasikan ide bahasa pemrograman mesin-independen, yang menyebabkan perkembangan COBOL, salah satu yang pertama bahasa pemrograman modern. Dia dikreditkan dengan mempopulerkan istilah “debugging” untuk memperbaiki gangguan komputer (terinspirasi oleh ngengat yang sebenarnya dihapus dari komputer). Karena luasnya prestasi dan peringkat angkatan laut, dia kadang-kadang disebut sebagai “Amazing Grace”. The U.S. Navy destroyer USS Hopper (DDG-70)adalah nama untuk dirinya, seperti Cray XE6 “Hopper” superkomputer di NERSC.

Advertisements

Wanita Lebih ‘Perkasa’ Ketimbang Pria


Mengapa wanita memiliki usia rata-rata yang lebih panjang dibandingkan pria? Hasil kajian terbaru menunjukkan, wanita dapat hidup bertahan lebih lama karena sel-sel tubuh mereka lebih baik ketimbang pria dalam hal memperbaiki diri.

Dalam laporan yang diterbitkan Scientific American, November 2010 ini, Professor Tom Kirkwood dari Newcastle University Inggris menyatakan, tubuh wanita secara genetika memiliki mekanisme lebih baik dalam hal perbaikan sel-sel rusak demi melahirkan keturunan yang sehat.

Kirkwood dalam sebuah wawancara pekan lalu menyebutkan, fakta itu membuat tubuh pria secara biologis terkesan ’sekali pakai’ (disposable), dan oleh sebab itulah kaum Adam meninggal di usia lebih muda. Kirkwood berargumen, tubuh pria bersifat ’sekali pakai’ karena gen-gen mereka telah diturunkan kepada generasi berikutnya.

“Teori ini sekarang sudah dapat diterima secara luas. Penuaan tidak dipicu oleh waktu,” ungkap Kirkwood.

sumber: Rahasia Umur Panjang Wanita, surya.co.id

Gambar-gambar berasal dari: sini, situ dan sana.

Karya Mahasiswa Unibraw: Diremehkan di Indonesia, Dihargai di Amerika Serikat


Selama enam hari (17-23 Juli 2010), tiga orang mahasiswa Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya (FTP-UB) berkesempatan mengunjungi Amerika Serikat. Ketiga mahasiswa tersebut adalah Anugerah Dany P (Jurusan Teknologi Hasil Pertanian angkatan 2008), Fathy F. Bahanan (Jurusan Teknik Pertanian angkatan 2007) dan Danial Fatchur R (Jurusan Teknik Pertanian angkatan 2007).

Di negeri Paman Sam ini, mereka mengikuti ajang kompetisi pangan internasional yang diselenggarakan oleh Institute of Food Technologists (IFT). (Fakultas Teknologi Pertanian)

Ketiga mahasiswa UB mempresentasikan hasil penelitian yang berjudul “Fighting For Malnutrition in Indonesia By Production of Artificial Rice Based on Arrow Root and Cassava With Addition of Cowpea”. Dalam penelitiannya, mereka membuat beras tiruan dari umbi-umbian dan kacang-kacangan, yakni kacang tunggak dan garut serta singkong.
Untuk beras tiruan ini, Bahan Tambahan Pangan (BTP) yang dimanfaatkan adalah karagenan yang berfungsi sebagai pengikat serta sorbitol yang berfungsi sebagai pemanis yang mampu menyerap energi. Untuk memproduksinya, dibutuhkan sejumlah tahapan proses fisik yakni penepungan, pencampuran, granulasi dan pengeringan.

Keunggulan produk tersebut dibanding beras adalah memiliki kandungan nutrisi lebih tinggi, lebih mudah dicerna karena serat lebih halus serta proses fermentasi yang lebih cepat. “Ini cocok sebagai alternatif solusi mengatasi malnutrisi di Indonesia,” ujar Dani. (tempointeraktif.com)

Beras buatan tersebut memiliki kandungan gizi dan nutrisi lebih baik dan lengkap. Kalau beras asli punya kandungan protein 7,1 persen, beras buatan ini mempunyai kandungan protein 8,63 persen. Sementara kandungan serat beras biasa 0,2 persen, beras buatan tersebut empat persen. Sedangkan kandungan karbohidratnya relatif hampir sama, yakni 89 persen untuk beras asli dan 80 persen untuk beras buatan.

DITOLAK ENAM MENTERI
Temuan inovatif dari mahasiswa untuk mengatasi kebergantungan masyarakat pada beras itu ternyata tidak menggugah para petinggi negara. Beras buatan hasil racikan mahasiswa Universitas Brawijaya itu sudah disodorkan kepada para menteri yang bersentuhan dengan hasil temuannya.

Namun, tidak ada satu pun dari enam kementerian itu yang menyambut baik proposal yang diajukan para mahasiswa tersebut. Sebelum mengikuti lomba di Amerika itu, para mahasiswa tersebut telah menyodorkan proposal pembicayaan penelitian kepada enam kementerian tersebut.
”Sebelum mengikuti lomba di Chicago, kami pernah membawa proposal untuk pendanaan penelitian lebih lanjut terkait beras buatan ini. Namun ditolak oleh enam kementerian negara. Di antaranya adalah menteri Pertanian, Menegpora, dan Menristek,” sebut Fathy.

Meski ditolak enam menteri, kata dia, mereka tetap melanjutkan proyek penelitian tersebut hingga menghasilkan beras tiruan tersebut yang kemudian dibawa untuk mengikuti lomba teknologi pangan internasional yang diselenggarakan Institute of Food Technologist (IFT) di AS pada 17-20 Juli.

Dalam lomba tersebut, beras tiruan karya tiga mahasiswa Universitas Brawijaya itu mendapatkan apresiasi luar biasa dan menyabet juara III mengalahkan 11 negara dengan 33 jenis proposal yang dilombakan.
Ia mengakui, karena prosesnya yang masih panjang dan agak rumit itulah, harga beras buatan tersebut masih mahal ketimbang beras asli, yakni Rp 8.500 per kilogram. Jika sudah bisa diproduksi secara massal dengan menggunakan mesin, dipastikan harganya akan lebih murah ketimbang beras asli. (Republika)

Badan Gemuk Bisa Menular?


Bukan penyakit saja yang bisa menular, kegemukan juga bisa. Bila teman sepergaulan Anda gemuk, hati-hatilah, kecenderungan kelebihan lemak sangat besar.

Tim ilmuwan dari University of Warwick, Dartmouth College, dan University of Leuven menemukan hasil tersebut dari penelitian terhadap 27 ribu orang partisipan. Menurut hasil riset para ahli yang dibahas dalam sebuah konferensi di Cambridge Massachusetts, Amerika Serikat, fenomena itu disebut ”obesitas imitatif” atau mencontoh kebiasaan teman mengkonsumsi kalori.

Dari riset itu ditemukan, hampir 50 persen wanita di Eropa merasa dirinya mengalami kelebihan berat badan. Sedangkan di kalangan pria, perasaan yang sama ditemukan kurang dari 30 persen. Semula tim itu mengira, obesitas adalah suatu respons terhadap daya beli yang makin kuat. ”Tetapi anehnya kami selalu menemukan kecenderungan orang kaya lebih kurus ketimbang orang miskin,” kata Professor Andrew Oswald, peneliti dari University of Warwick.

Karena itulah Oswald berpendapat, meningkatnya kegemukan sebagai fenomena sosiologis dan bukan fisiologis. ”Orang akan terpengaruh penilaian dari rekan-rekannya,” ujarnya. Namun David Haslam, Direktur Klinis National Obesity Forum, menilai menempatkan obesitas sebagai fenomena sosiologis tak tepat. ”Penjelasan yang lebih tepat adalah, bila dikelilingi orang yang kelebihan berat badan, Anda berada di lingkungan orang yang menyantap banyak makanan salah,” katanya. Dan, Anda pun akan tertular menyantap makanan tak sehat itu.

Sumber: Majalah Berita Mingguan TEMPO Edisi. 16/XXXVIII 08 Juni 2009 (Awas, Gemuk Menular)

Upaya Menciptakan Rokok Yang Menyehatkan


Dalam imaji bangsa Indonesia tentang rokok kita (sudah lama) tersihir oleh peringatan yang dianjurkan oleh pemerintah (yang dipasang di setiap bungkus rokok, yaitu: MEROKOK DAPAT MENYEBABKAN KANKER, SERANGAN JANTUNG, IMPOTENSI DAN GANGGUAN KEHAMILAN DAN JANIN.

Sementara kita tidak tahu sinyalemen ini hasil penelitian di Indonesia atau di luar negeri.

Prof. Dr. Sutiman B. Sumitro, Guru Besar Biologi Molekul Sel (Universitas Brawijaya Malang dan Dekan Fakultas Sain dan Teknologi Universitas Islam Negeri (UIN) Malang (BUKAN PEROKOK) menulis dalam kertas kerjanya yang disampaikan di Lokakarya tentang Rokok pada tanggal 24 Nopember di Grand Palace Hotel, Malang, antara lain:

Rasanya belum pernah terdengar ada studi tentang rokok Indonesia yang serius. Kebanyakan studi tentang rokok di Indonesia bersifat parsial, dan opini lebih banyak didasarkan pada hasil studi di luar negeri. Studi yang dimaksud adalah studi yang komprehensif tentang rokok Indonesia dan dampak merokok yang meliputi aspek kesehatan, psikologi, sosial, ekonomi yang melibatkan responden dalam skala besar. Bila belum ada hal semacam ini rasanya perlu dilakukan agar diperoleh simpulan yang lebih valid dan dapat dipertanggungjawabkan.

Perlu dicatat bahwa rokok khas Indonesia barangkali berbeda dengan rokok asing yang sudah banyak diteliti. Memang budaya pengambilan keputusan atau simpulan pendapat atas dasar hasil penelitian ilmiah sangat minim di Indonesia. Banyak kasus simpulan pendapat, tidak hanya kasus rokok, cenderung (kita) mengikut opini tanpa kita sendiri secara mandiri melakukan upaya penyimpulan melalui penelitian ilmiah.

Di sisi lain kesadaran pabrik rokok untuk membangun institusi masih minim. Mustinya pabrik rokok memiliki informasi valid dampak setiap produknya di masyarakat. Penelitian untuk membuat rokok lebih “human friendly” perlu dilakukan. Bila perlu diusahakan membuat rokok yang menyehatkan. Hal semacam ini tidak tertutup kemungkinannya dengan perkembangan keilmuan saat ini. Konsep-konsep baru tentang Biologi Nano (nano technology) rasanya dapat digunakan, sekaligus membuat pabrik rokok mampu mengangkat Indonesia dalam pengembangan konsep dan ide-ide ilmiah baru.

QUOTE:

Hal positip rokok berfilter nano:

  • Abu rokok efektif sebagai obat sariawan, penghilang rasa sakit gigi dan penyembuh luka-luka baru atau lama di bagian kulit.
  • Filter nano bekas pakai efektif menghaluskan kulit muka dan mengurangi kerutan.

(Sumber: Kertas Kerja yang berjudul: Upaya Menyelesaikan Problema Rokok di Indonesia: Membuat sifat asap rokok kretek menjadi sehat tanpa merubah rasa (Sebuah Pendekatan Nano Biologi), Sutiman B. Sumitro et. al., Kelompok Peneliti Biologi Nano, Laboratorium Biologi Molekul dan Sel Universitas Brawijaya)

Kertas kerja bisa didownload di sini.

Politisasi Pengharaman Rokok


cigaretteBahwasanya saat ini produk tembakau di tanah air sudah hampir “dua abad” mengalami metamorfosa telah menjelma menjadi cluster Industri Hasil Tembakau (IHT) yang solid, 90% ditunjang sumber daya bahan baku lokal, yaitu industri tembakau dan cengkeh (usaha tani, perkebunan dan keterkaitannya). Seiring seabad hari Kebangkitan Nasional IHT bersama Pemerintah telah sepakat membuat rencana kerja sampai dengan Tahun 2020. Judulnya “Roadmap IHT 2020”.

Jelas roadmap ini adalah mahakarya yang berjiwa dan bersemangat nasional. Intisarinya berupa peta perjalanan secara integrasi, saling menghargai, menuntun pemerintah dan stakeholder industri ini untuk menentukan sikap dan arah rencana usaha ke depan dengan elegant.

Seharusnya kepada aktivis manapun yang anti tembakau, kiranya juga dapat menghargai adanya kesepakatan ini. Karena bila tuntutan mereka adalah murni “faktor kesehatan”, sebenarnya keberadaan IHT berikut hasil produksinya tidak menjadi masalah. Sebab di penghunjung roadmap tersebut, industri telah berkomitmen mengutamakan kesehatan. Semua memerlukan waktu dan proses.

Namun kenyataannya para aktivis lokal yang dipengaruhi asing dengan dalih kesehatan tidak henti-hentinya menekan industri ini dengan menyebar isu negatif. Membangun publik opini dengan memutarbalikkan fakta melalui banyak media – Berapa milyar rupiah untuk pasang iklan di beberapa koral nasional, dalam rangka Hari Kesehatan Tanggal 12 Nopember 2008?– Sumber pendanaan dalam jumlah besar dari luar negeri yang diterimanya mendorong gerakan mereka berbias dan semakin menyimpang dari esensi tujuannya. Dengan arogan – tidak beretika – hanya alasan asap rokok, menuntut Presidennya sendiri secara perdata ke pengadilan. Terkesan sekali gerakan mengadu-dombanya. Bukankah “penghirup” asap knalpot di sepanjang Jalan Sudirman, lebih berbahaya? Mana iklannya?

Sebenarnya target mereka hanya satu: agar industri ini sirna dari muka bumi Indonesia. Khususnya kretek. “Mengapa? Karena ekspor kretek kian meningkat.” Semakin jelas bias dibaca, manuver mereka mencerminkan adanya kepentingan terselubung dari “liberalosme global dan kapitalisme internasional” untuk memangkas penopang (kontributor) sendi-sendi ekonomi bangsa agar dapat melumpuhkan kekuatan sosial dan perekonomian Nagara Kesatuan Republik Indonesia. Bukanlah kretek adalah Pundi-pundi Kekayaan Khasanah Induistri Bangsa? Mengapa bila masalahnya kesehatan tidak diselesaikan dengan kesehatan? Mengapa dibenturkan dengan ekonomi dan dibawa ke ranah agama?

Dan kemudian, kecuali MUI Jawa Timur, pun dengan tegas menyatakan bahwa rokok adalah haram! Padahal setahu saya hanya makruh saja.

[Bahan diambil dari Pokok-pokok Pikiran yang dikeluarkan oleh Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (GAPPRI) di Jakarta tanggal 9 Nopember 2008. Pokok-pokok Pikiran ini hasil masukan, summary dari pengkajian Tim Industri Tembakau, IHT, Asosiasi Industri, FSP RTMM SPSI, Asosiasi Petani Cengkeh Indonesia, Pemuda Tani HKTI, Lembaga Perekonomian Nahdlatil Ulama, para akademisi Universitas Negeri Jember].

Lengkapnya bisa klik di sini.

Gila Televisi: Tanda Tak Bahagia?


mataSebuah penelitian unik menyimpulkan bahwa orang yang suka berjam-jam nonton televisi, pertanda tidak bahagia hidupnya.

Penelitian tersebut mengatakan bahwa mereka yang kurang bahagia menonton televisi 30% lebih banyak dibanding yang bahagia.

Mereka yang mengaku bahagia biasanya menonton televisi sekitar 19 jam setiap minggu, sedangkan yang kurang bahagia menghabiskan waktu di depan TV lebih panjang, yakni 25 jam per minggu. Demikian hasil survey sosial masyarakat terhadap 30.000 orang dewasa di Amerika sejak tahun 1975 hingga 2006.

Mereka yang bahagia biasanya aktif bepergian, ke gereja atau pengajian, ataupun membaca Koran. Namun belum jelas juga apakah menonton televisi menjadi pelarian mereka yang kurang bahagia.

Namun hampir semua orang mengaku senang nonton televisi. Para partisipan memberi angka 8 untuk aktivitas nonton televisi dengan skala 0 hingga 10. Sayangnya kesenangan ini tidak berlangsung lama. “Data-data menunjukkan, televisi mungkin menyediakan kesenangan sesaat, namun memberi efek kurang baik yang panjang,” kata John Robinson, peneliti yang adalah sosiolog dari Universitas Maryland.

Para peneliti akan berusaha mencari hubungan antara televisi dengan kebahagaian. (Suka Nonton TV, Indikasi Tidak Bahagia?Harian Surya)