Politisasi Pengharaman Rokok


cigaretteBahwasanya saat ini produk tembakau di tanah air sudah hampir “dua abad” mengalami metamorfosa telah menjelma menjadi cluster Industri Hasil Tembakau (IHT) yang solid, 90% ditunjang sumber daya bahan baku lokal, yaitu industri tembakau dan cengkeh (usaha tani, perkebunan dan keterkaitannya). Seiring seabad hari Kebangkitan Nasional IHT bersama Pemerintah telah sepakat membuat rencana kerja sampai dengan Tahun 2020. Judulnya “Roadmap IHT 2020”.

Jelas roadmap ini adalah mahakarya yang berjiwa dan bersemangat nasional. Intisarinya berupa peta perjalanan secara integrasi, saling menghargai, menuntun pemerintah dan stakeholder industri ini untuk menentukan sikap dan arah rencana usaha ke depan dengan elegant.

Seharusnya kepada aktivis manapun yang anti tembakau, kiranya juga dapat menghargai adanya kesepakatan ini. Karena bila tuntutan mereka adalah murni “faktor kesehatan”, sebenarnya keberadaan IHT berikut hasil produksinya tidak menjadi masalah. Sebab di penghunjung roadmap tersebut, industri telah berkomitmen mengutamakan kesehatan. Semua memerlukan waktu dan proses.

Namun kenyataannya para aktivis lokal yang dipengaruhi asing dengan dalih kesehatan tidak henti-hentinya menekan industri ini dengan menyebar isu negatif. Membangun publik opini dengan memutarbalikkan fakta melalui banyak media – Berapa milyar rupiah untuk pasang iklan di beberapa koral nasional, dalam rangka Hari Kesehatan Tanggal 12 Nopember 2008?– Sumber pendanaan dalam jumlah besar dari luar negeri yang diterimanya mendorong gerakan mereka berbias dan semakin menyimpang dari esensi tujuannya. Dengan arogan – tidak beretika – hanya alasan asap rokok, menuntut Presidennya sendiri secara perdata ke pengadilan. Terkesan sekali gerakan mengadu-dombanya. Bukankah “penghirup” asap knalpot di sepanjang Jalan Sudirman, lebih berbahaya? Mana iklannya?

Sebenarnya target mereka hanya satu: agar industri ini sirna dari muka bumi Indonesia. Khususnya kretek. “Mengapa? Karena ekspor kretek kian meningkat.” Semakin jelas bias dibaca, manuver mereka mencerminkan adanya kepentingan terselubung dari “liberalosme global dan kapitalisme internasional” untuk memangkas penopang (kontributor) sendi-sendi ekonomi bangsa agar dapat melumpuhkan kekuatan sosial dan perekonomian Nagara Kesatuan Republik Indonesia. Bukanlah kretek adalah Pundi-pundi Kekayaan Khasanah Induistri Bangsa? Mengapa bila masalahnya kesehatan tidak diselesaikan dengan kesehatan? Mengapa dibenturkan dengan ekonomi dan dibawa ke ranah agama?

Dan kemudian, kecuali MUI Jawa Timur, pun dengan tegas menyatakan bahwa rokok adalah haram! Padahal setahu saya hanya makruh saja.

[Bahan diambil dari Pokok-pokok Pikiran yang dikeluarkan oleh Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (GAPPRI) di Jakarta tanggal 9 Nopember 2008. Pokok-pokok Pikiran ini hasil masukan, summary dari pengkajian Tim Industri Tembakau, IHT, Asosiasi Industri, FSP RTMM SPSI, Asosiasi Petani Cengkeh Indonesia, Pemuda Tani HKTI, Lembaga Perekonomian Nahdlatil Ulama, para akademisi Universitas Negeri Jember].

Lengkapnya bisa klik di sini.

Advertisements

Toy Story3 from Indonesia


Toy Story adalah sebuah sebuah film animasi menggunakan gambar yang dibuat oleh komputer (Computer-generated imagery/CGI). Film yang dibuat oleh Pixar ini dirilis oleh Walt Disney Pictures dan Buena Vista Distribution di Amerika Serikat pada 21 November 1995 serta di Britania Raya pada 22 Maret 1996.

Toy Story adalah film panjang dengan gambar buatan komputer pertama yang dirilis Disney, bahkan dikatakan sebagai yang paling pertama. Film ini juga merupakan film Pixar pertama yang dirilis ke bioskop, meraup US$ 356.800.000 di seluruh dunia. Ceritanya berkisar tentang petualangan mainan yang digambarkan bisa hidup jika tidak ada orang.

Sekuel film ini, Toy Story 2, dirilis pada 1999. Video Buzz Lightyear of Star Command: The Adventure Begins dan serial televisi Buzz Lightyear of Star Command yang dirilis pada 2000 menceritakan petualangan Buzz Lightyear, salah satu mainan dalam Toy Story.

Toy Story 3 bakal dirilis pada tanggal 18 June 2010. Belum tahu bagaimana kisahnya, muncul bocoran dari Indonesia (?). Seperti yang ditulis Kompas dalam Tajuk Rencana, 9 September 2008 kemarin:

Pada masa pangan dan energi menjadi komoditas mahal seperti sekarang ini, masuk akal orang terpanggil untuk mencari solusi, mencari jalan keluar.

Di bidang pangan, salah satu upaya yang dilakukan adalah menemukan benih unggul. Namun, upaya ini tak bisa dilepaskan dari praksis ilmiah, yang di dalamnya ada prosedur yang harus diikuti dengan saksama, seperti riset dan pengembangan, pengujian laboratorium dan pengujian di lapangan, yang tidak jarang membutuhkan waktu bertahun-tahun.

Jelas itu menuntut ketekunan dan kesabaran, meneguhkan kearifan yang sudah sering kita dengar, bahwa tidak ada sukses dan karya besar yang instan.

Sayang, dalam kehidupan kita, prinsip tersebut acap dilupakan. Buntutnya yang muncul adalah kehebohan, yang tidak jarang merugikan masyarakat. Inilah sebenarnya hal yang seharusnya kita hindari.

Hanya beberapa bulan setelah heboh blue energy, pekan lalu kita dihebohkan oleh berita sekitar kegagalan panen padi Super Toy. Menurut berita, petani di Kabupaten Purworejo, juga di Kabupaten Madiun, kecewa terhadap padi Super Toy HL-2 karena hasil panen mereka tidak seperti dijanjikan petugas dari PT Sarana Harapan Indopangan yang mengedarkan benih itu.

Muncul nuansa, petani jadi korban bujukan. Kepada petani disebutkan, hasil panen Super Toy lebih banyak dan bisa panen lebih sering. Petani yang sebelumnya terbiasa menanam padi dengan benih IR-64 atau Ciherang yang harga per lima kilogramnya Rp 40.000 beralih ke Super Toy yang harganya Rp 75.000 per kilogram.

Ternyata saat panen dua bulan silam, hasil Super Toy hanya tujuh kuintal, padahal hasil IR-64 atau Ciherang minimal 12 kuintal. Selain hasil, catatan lain yang diberikan untuk Super Toy adalah masa tanamnya lebih lama, yaitu empat bulan, sementara IR-64 atau Ciherang hanya tiga bulan. Kebutuhan pupuk dan insektisida untuk Super Toy juga lebih banyak…..

Bisa saja peningkatan produksi pangan menjadi salah satu program utama pemerintah. Produksi padi ditargetkan menjadi 60 juta ton gabah kering giling tahun ini dari 57 juta ton tahun lalu. Upaya tersebut kita harapkan berlangsung dalam jalur prosedural.

Berita menyebutkan, Super Toy HL-2 belum diketahui jelas riwayat pemuliaan benihnya, juga kestabilan benihnya, serta proses produksinya, dan bahkan juga belum bersertifikat, tetapi sudah diperkenalkan kepada petani. Jelas ini menyimpang dari prosedur.

Menurut Agnes Aristiarini, dalam Berita Utama Kompas, Rubrik IPTEK dengan judul Kontroversi Super Toy, diawali dengan quote dari Thomas Alva Edison (1847-1931) : Ada tiga hal utama untuk mencapai sesuatu: kerja keras, fokus, dan akal sehat.

Hari-hari ini, pertanian di Indonesia diguncang padi Super Toy HL-2 yang serba super. Dengan kapasitas produksi nasional rata-rata 4,54 ton gabah kering giling per hektar, padi Super Toy diklaim bisa mencapai 15,5 ton. Kalau padi lain hanya sekali panen, Super Toy bisa tiga kali.

Siapa yang tidak tergiur?

Apalagi tahun 2007 Program Peningkatan Beras Nasional menargetkan produksi padi 2 juta ton beras atau 3,5 juta ton gabah kering giling, naik 6,4 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Ini yang harus dicapai dengan memperluas areal dan meningkatkan produksi per satuan luas……..

Super Toy dengan varietas Rojolele dan Pandanwangi sebagai tetuanya termasuk padi tipe baru. Klaimnya yang serba super membuat banyak pihak, yang maunya serba instan, lupa bahwa banyak persyaratan dasar yang harus dipenuhi sebelum menjadi varietas unggulan.

Tuyung Supriyadi, yang memuliakan Super Toy HL-2, mengungkapkan, benih yang ditanam petani adalah hasil persilangan turunan kelima (Kompas, 21/4). Padahal, dalam pemuliaan tanaman baru stabil setelah turunan keenam. ”Baru kemudian diuji coba di lapangan,” kata Prof Dr Sriani Sujiprihati, Kepala Bagian Genetika dan Pemuliaan Tanaman IPB.

Hal lain yang kurang dipahami adalah padi yang bisa dipanen tiga kali tidak otomatis menguntungkan petani karena hasilnya terus menurun. ”Menanam cara ratun (bisa dipanen lebih dari sekali) memang harus sesuai kebutuhan usaha tani,” kata Dr Hajrial Aswidinnoor, pemulia tanaman dari IPB.

Dalam kisah Toy Sory made in Holliwod baik Toy Story 1 dan Toy Story 2, adalah menceritakan upaya sekumpulan boneka lama yang resah lantaran akan dibuang dengan adanya boneka yang baru. Sementara Toy Story tiga, mengkisahkan tentang keresahan Petani Indonesia yang konon merugi lantaran pakai galur pady Super Toy HL-2 yang katanya serba super. Dan sedihnya, kini semua saling tunjuk hidung. Tak ada yang mengakui bahwa ini semua adalah hasil kesalahan dan lantaran terburu nafsu ingin mendapat pujian dari RI-1.

Gula Rasa Neoliberalisme


gula-rasa-neoliberalisme.jpgSejak pasar gula (pasir) domestik diliberalisasi lewat proyek neoliberalisme yang didesakkan oleh IMF, nasib petani tebu tidak banyak berubah. Di zaman colonial, rezeki petani tebu dihisap oleh pemerintah colonial ketika merdeka, pengisapan, diskriminasi dan eksploitasi baru tetap lestari dan berlanjut. Yang berbeda hanyalah namanya saja: neokolonialisme. Kini, ketika petani memasuki era neoliberalisme, petani juga diisap, didiskriminasi lewat agen-agen penyebar neoliberalisme (IMF, WTO dan Bank Dunia), pemburu rente (rent seeker), importer, pedagang, dan lain-lain.

Demikian sepenggal ungkapan yang ditulis oleh Khudori (Bab 4) dalam bukunya yang berjudul: Gula Rasa Neoliberalisme: Pergumulan Empat Abad Industri Gula, diterbitkan oleh Pustaka LP3ES, Jakarta, Cetakan Pertama, Mei 2005, Harga Rp 30.000.

Gula, bubuk berwarna putih, selalu enak dibicarakan. Bukan saja karena rasanya manis, tetapi juga karena kehidupan manusia hampir tidak bisa dilepaskan dari gula. Segala usia, tua-muda, kaya-miskin, gemuk-kurus semua memerlukan gula. Karena itulah dalam table makanan pokok (staple food) penduduk Indonesia yang dikeluarkan oleh Departemen Perindustrian dan Perdagangan, gula dimasukkan sebagai salah satu dari sembilan barang kebutuhan pokok. Sisanya adalah beras, minyak goring, mentega, daging sapid an ayam, telur ayam, susu, jagung, minyak tanah dan garam.

Gula dalam bahasa Arab disebut sukar. Sedang orang Inggris menyebutnya sugar. Kata “gula” menurut dugaan sebagian besar orang Indonesia (karena sebagian besar orang Indonesia berasal dari bahasa Jawa, dari kata dandang gula; sebuah langgam lagu Jawa yang penuh dengan nuansa gembira ria.

Gula adalah salah satu symbol peradaban manusia yang berjalan lebih dari 2000 tahun. Mesopotamia dan Persia sudah menghasilkan gula yang berasal tebu sejak tahun 500 Sebelum Masehi. Bahkan, Columbus, sejak awal merencanakan membuka perkebunan tebu dan membangun pabrik gula di Hispaniola, mirip seperti di Kepulauan Canary dan Madeira. Dalam pelayaran kedua ke “Dunia Baru” pada tahun 1493, dia membawa bibit dan memaksa penduduk local, bangsa Indian, untuk membudidayakan tebu. Pekerjaan mereka teramat berat, apalagi sebagai budak. Banyak di antaranya mati sia-sia. Populasi bangsa Indian pun menurun drastis.

Bagimana di Indonesia?

Buku ini, penulis kelahiran Lamongan, alumnus S1 Jurusan Ilmu Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Negeri Jember ini, mencoba untuk menelusuri jejak-jejak berikut evolusi kolonialisme sejak industri gula berkembang di Indonesia empat abad silam.

Bab 1 Memaparkan tentang asal-usul kolonialisme negeri Barat ke berbagai belahan bumi berikut pekatnya perbudakan yang penuh dominasi, eksploitasi dan diskriminasi dalam perkembangan industri gula di dunia

Bab 2 Menyajikan tentang Kolonialisme Gula di Hindia Belanda. Sebagai ilustrasi, Sistem Tanam Paksa rentang tahun 1833 – 1840 memberi pemasukan 35,3 % dari total pendapatan nasional Negeri Belanda. Nilainya pada periode 1860 – 1865 sama dengan 56,8 % dari pendapatan nasional Kerajaan Belanda.

Bab 3 Menguraikan soal metamorfosa dari Kolonialisme ke Neokolonialisme, sejak Nasionalisasi Industri Gula (1945 – 1959), Industri Terpimpin (1959 – 1965), Liberalisasi Pemasaran (1968 – 1971), Industri Terkelola (1971 – 1997).

Bab 4 Dari Neokolonialisme ke Neoliberalisme, tentang Dinamika Aktor Pembentuk Kebijakan, lalu Menyingkap Motif Agen Liberalisiasi.

Bab 5 Dinamika Perlawanan terhadap Neoliberalisme, menyoal tentang APTR: Sang Buldozer, Tata Niaga Impor: dari on the Track ke Chaos, Tata Niaga Impor: Siapa Untung?

Bab 6 Bangkit dari Keterpurukan: Melawan Neoliberalisme, tentang Hilangnya Insentif Petani, Kondisi Industri gula Nasional, Problem Kultural dan Struktural, Identifikasi Potensi Diri dan Membangun Kemandirian: Melawan Neoliberalisme.

Membaca buku ini, kita akan menyaksikan betapa nasib petani tebu yang tak pernah bisa menikmati hasiulnya secara maksimal. Karena setiap panen tiba, harga gula selalu merosot. Manakala panen telah berlalu, harga gula menanjak naik. Dan petani sudah tidak memiliki gula lagi.

Penulis dalam bagian akhir Bab 6 (Membangun Kemandirian: Melawan Neoliberalisme, mencoba memberikan solusi, agar dapat meningkatkan harkat hidup petani tebu.

Pembenahan hendaknya diawali dengan pembenahan dan penangan aspek kebun (on-farm) berupa kebijakan: (i) rehabilitasi tanaman keprasan; (ii) penyediaan bibit bermutu sesuai lokasi dan agroklimat melalui penanaman di kebun bibit; (iii) peningkatan mutu budidaya tebu lewat penyediaan dana pembelian sarana produksi; dan (iv) kebijakan penyediaan air (irigatin policy).

Keberhasilan kebijakan di tingkat on-farm harus dibarengi pula dengan kebijakan fiscal dalam bentuk direct payment. Kebijakan dana talangan seperti yang dijamin SK Memperindag Nomor 643 Tahun 2002 yang kemudian diubah menjadi SK Nomor 527/MPP/Kep/9/2004 seperti berlaku selama ini, perlu dipertahankan.

Perbaikan di tingkat Pabrik Gula, perlu segera diintroduksi goverenansi korporat (corporate goverenance). Yang utama adalah soal transparansi pengukuran rendemen, untuk itu perlu adanya tim independent.

Cuma masalahnya, lanjut penulis, problem klasik di Indonesia adalah ganti pemerintahan ganti kebijakan. Berbeda dengan negeri maju, pemilu atau proses pergantian kekuasaan pemerintahan hamper tidak mengganggu sector lain, termasuk sector pertanian. Di Jepang, Jerman, dan Inggris, ada pemilu atau tidak ekonomi akan tetap berjalan sebagaimana biasa.

Kapankah itu bisa terjadi di negeri kita tercinta ini? Tanya saya mengakhiri tulisan ini….