Selebriti Pengganda Simpati di Mata Najwa


Selamat malam selamat datang di Mata Najwa. Saya Najwa Shihab, tuan rumah Mata Najwa. #MN

1. Para pesohor turun gunung, mendukung politisi di atas panggung. #MN

2. Tergerak karena kesamaan visi, bukan semata bayaran murni. #MN

3. Massa sumringah melihat selebriti, itulah alasan massa ramai unjuk diri. #MN

4. Lengkingan suara tak asing lagi, mengajak mereka bernyanyi & memilih. #MN

5. Jika pesohor yang mewanti-wanti, sering lebih didengar daripada politisi. #MN

Inilah Mata Najwa, Selebriti Pengganda Simpati. #MN

Selamat malam selamat datang di Mata Najwa. Saya Najwa Shihab, tuan rumah Mata Najwa. #MN
Telah hadir di studio Mata Najwa, musisi kondang yang juga pendukung PKB, @AHMADDHANIPRAST #MN
“Saya secara pribadi dekat dan saya menyebut diri saya sendiri adalah penyambung lidah Gus Dur” @AHMADDHANIPRAST #MN
“Tentunya saya bukan konsultan politik yang hanya melulu benefit tapi melihat ideology partai tersebut yang sesuai dengan saya” @AHMADDHANIPRAST #MN
“Karena saya bukan keluarga jadi saya nggak ikut-ikut perseturuannya” @AHMADDHANIPRAST #MN
“Saya sih udah dicuekin sama Mba Yenny, tapi tidak apa-apa, tidak mengurangi saya untuk memperjuangkan aspirasi dan pemikiran Gus Dur” @AHMADDHANIPRAST #MN
“Karena nahdiyin itu PKB saya jadi ikut PKB” @AHMADDHANIPRAST #MN
“Saya percaya sama orang-orang PKB karena mereka kebanyakan nahdiyin dan saya percaya nahdiyin itu memiliki pemikiran islam yang sesuai dengan saya” @AHMADDHANIPRAST #MN
“Islamnya seperti yang saya ingin. Jadi saya tidak merasa men-endorse orang-orang Islam yang bertentangan dengan saya” @AHMADDHANIPRAST #MN
“Kita mau nggak mau selama 20 tahun ini kesel juga karena selama itu kayanya nggak ada perubahan signifikan buat Indonesia” @AHMADDHANIPRAST #MN
“Saya punya harapan kedepan Indonesia harus lebih baik dengan orang-orang muda” @AHMADDHANIPRAST #MN
“Saya jurkam PKB resmi baru ini, tapi dari tahun 1999 saya sering bantu PKB” @AHMADDHANIPRAST #MN
“Minimal pake foto saya untuk dipilih oleh rakyat” @AHMADDHANIPRAST #MN
“Saya sebatas meyakinkan kepada rakyat PKB ini orangnya bagus-bagus, seperti orasi jualan obat” @AHMADDHANIPRAST #MN
“Menurut saya faktornya bukan hanya Ahmad Dhani, ada faktor Rhoma Irama dan yang signifikan a/ faktor Rusdi Kirana” @AHMADDHANIPRAST #MN
“Janji kalo PKB menang masuk pemerintahan saya dijadiin Menteri” @AHMADDHANIPRAST #MN
“Kalo kementrian itu menarik dan bisa membuat Indonesia lebih maju, kenapa nggak” @AHMADDHANIPRAST #MN
“Kayanya yang paling cocok cuma Menteri Pariwisata aja, kementerian teknologi ya nggak cocok kan” @AHMADDHANIPRAST #MN
“Klao saya sih dibuat guyon bisa, dibuat serius bisa dan kayanya pariwisata, saya cukup concern dengan pariwisata” @AHMADDHANIPRAST #MN
“Sementara sy punya basic bgm cara advertise dan tidak ada bedanya antar advertise partai, musik, negara, bangsa” @AHMADDHANIPRAST #MN
“Dijanjikan jadi menteri, klo iya gpp, klo nggak ya gpp” @AHMADDHANIPRAST #MN
“Klo sy masuk PKB kan dapet nama juga, jd yg untung PKB bukan saya” @AHMADDHANIPRAST #MN
“Kementerian pariwisata ya, yg lain nggak bisa lah saya. Menkeu atau Menhankam nggak bisa” @AHMADDHANIPRAST #MN
“Saya sebenarnya kalo PDIP dan Gerindra bersatu lebih ideal” @AHMADDHANIPRAST #MN
“2014 ini kaum nasionalis harus mengambil alih pemerintahan tahun ini” @AHMADDHANIPRAST #MN
“Mungkin bisa disebut koalisi ultra nasionalis karena sdh saatnya Indonesia hrs menegakkan Pancasila lbh berdiri lg” @AHMADDHANIPRAST #MN
“Koalisi ultra nasionalis ini bisa ideal, tp PDIP dan Gerindra sudah pisah” @AHMADDHANIPRAST #MN
“Ibaratnya wanita, skrg PKB cukup seksi, Gerindra dan PDIP jg sudah mau” @AHMADDHANIPRAST #MN
“Tinggal bgm skrang PKB melihat siapa yg akan di jadikan Wapresnya Pak Prabowo atau Pak Jokowi” @AHMADDHANIPRAST #MN
“Tergantung presidennya siapa skrg saya sudah lebih concern ke sosok, klo Jokowi idealisnya wapresnya militer” @AHMADDHANIPRAST #MN
“Klo presidennya skrg ini Jokowi menurut sy nggak cocok apa lg Bang Rhoma udh mention nggak mau jd wapres Jokowi” @AHMADDHANIPRAST #MN
“Klo Bang Rhoma wapres tp capresnya militer cocok, pokoknya hrs ada gabungan militer dan sipil” @AHMADDHANIPRAST #MN
“2014 ini bisa dikatakan perang bintang klo di balik Pak Jokowi dan Bu Mega nggak ada genre lain ga bisa” @AHMADDHANIPRAST #MN
“Harus ada sosok Jendral yg tdk hanya di belakang tp di depan utk jd wakilnya Pak Jokowi ” @AHMADDHANIPRAST #MN
“Rhoma Irama punya kapasitas klo wapres atau presidennya militer” @AHMADDHANIPRAST #MN
“Klo kata sy Bang Rhoma bisa jd presiden, klo rakyat memilih kan bisa saja” @AHMADDHANIPRAST #MN
“Bang Rhoma sy lihat dulu ideologinya ttg keislamannya sama nggak dgn saya” @AHMADDHANIPRAST #MN
“Karna sy trs terang Gusdurian, tafsir yg sy baca tafsir Misbah. Kira2 sesuai ga Rhoma dgn tafsir Misbah Quraish Shihab” @AHMADDHANIPRAST #MN
“Klo ga sama, sy nggak dukung dia karena secara ideologis hrs dibicarakan dulu” @AHMADDHANIPRAST #MN
Telah hadir di studio Mata Najwa penyanyi yang juga pendukung Gita Wirjawan, @dr_tompi #MN
“Pd dasarnya sy kenal beliau dr tahun 2001, sy ngeliat bgt bgm dia terhadap anak2nya, terhadap istrinya, terhadap pembantu” @dr_tompi #MN
“Tp bukan karena faktor kenal doang, tp juga lihat kapasitasnya, beda attitude orang sekolahan dan tidak” @dr_tompi #MN
“Kita sering ngobrol Indonesia mau diapain” @dr_tompi #MN
“Saya bilang sama Pak Gita, Pak, I think u should go home and fix your country. Itu empat belas tahun yang lalu” @dr_tompi #MN
“Bukan sy suruh pulang, dr pd org dgn kapasitas dia terlalu lama di luar dan ngebangun Negara org lain” @dr_tompi #MN
“Saya tdk pernah diminta dan sy tidak pernah menawarkan diri” @dr_tompi #MN
“Dr kebanyakan sekarang org yang maju, yg punya kapasitas spti Pak Gita ga banyak & Indonesia butuh org spti Pak Gita” @dr_tompi #MN
“Dia mengerti bgt how to organize everything, orgnya apa adanya dgn kemampuan dan pengetahuan yg dia punya dan dia punya link” @dr_tompi #MN
“Sy pikir Indonesia cuma perlu tahu punya seseorg bernama Gita Wirjawan dengan segala kapasitas yg dia punya” @dr_tompi #MN
“Sy bukan dukung Pak Gita, tujuan sy adalah ngasih tahu Indonesia punya org bagus yg bisa melakukan byk hal u/ Indonesia” @dr_tompi #MN
“Ga mau nge-drive pmikiran org, kt hya mau ngenalin nih ada sosok & cari tahu sendri. Org Indonesia hrs di pancing u/ lbh pinter” @dr_tompi #MN
“Tdk hya Gita Wirjawan, sy jg sgt salut dgn Jokowi . Malah kayanya klo Pak Jokowi dgn Pak Gita udah deh suami istri, long life” @dr_tompi #MN
“Enggak sepeserpun, malah saya keluar duit seperti acara Kopi Sore Bareng Gita itu acara ada biayanya, kita yang bayar” @dr_tompi #MN
“Yg jelas, mau jd presiden atau mau jadi Menteri” @dr_tompi #MN
“Jgn sbg Menteri trus promo juga sbg Presiden, itu nggak akan maksimal kedua-duanya” @dr_tompi #MN
Telah hadir di studio Mata Najwa, Composer tenar, @addiems #MN
“Mgkn awalnya saya sudah kagum pd pribadi Jokowi jauh sblum menjadi cagub.” @addiems #MN
“Saya rindu pd org Indonesia yg muda yg mau berkiprah tanpa pamrih demi rakyat. Itu langka.” @addiems #MN
“Aku sampai detik ini nggak pernah ketemu Jokowi. Satu2nya interaksi, waktu ia respon supportku di sosmed.” @addiems #MN
“Kt sdh melewati 2 periode dg karakter Pak SBY yg santun. Jd menurutku, skg org mencari sesuatu yg baru & itu ada di Jokowi.” @addiems #MN
“Aku bkn tim sukses Jokowi. Aku hanya coba kenalkan karakteristik Jokowi yg langka, pd rakyat Indonesia.” @addiems #MN
“Saya menjaga agar setiap kata-kata di sosial media tdk terkesan provokatif.” @addiems #MN
“Kalau skg saya tdk terlalu frontal utk mendukung Jokowi, krn ini masalah internal. Saya jg cukup kenal dg kandidat yg lain.” @addiems #MN
“Wktu saya dulu frontal mendukung, byk yg kaget. Byk yg anti Jokowi dan memberi komentar negatif.” @addiems #MN
“Wktu Jokowi sbg Gubernur, saya kagumi dan fokus pd dia tp tdk menjelek2an yg lain.” @addiems #MN
“Saat bicara soal pilpres, hal itu sgt sensitif utk smua kandidat yg saya kenal. Maka itu saya menjaga kata2 di sosial media.” @addiems #MN
“Value friendship itu penting. Tp saya tdk mau, integrity saya dipengaruhi faktor pertemanan.” @addiems #MN
“Dr 1999, penggemar sdh tau saya dukung NU & PKB. Jadi mereka sdh maklum. Kalau ada yg tdk suka, mgkn sdh hilang sendiri.” @AHMADDHANIPRAST #MN
“Sudah saatnya rakyat kita pny sikap politik yg jelas. Jd bisa diukur apa yg akan terjadi.” @dr_tompi #MN
“Harus spti milih istri. Saya mau kawinin dia, ya udah. Jd ga diam2 kawin, kriteria harus jelas dan ditunjukkan.” @dr_tompi #MN
“Saya tdk ada masalah dg kehilangan penggemar / peluang komersil. Tp mgkn skg saya tdk frontal krn smua kandidat teman2 saya.” @addiems #MN
“Walaupun kita berteman, tdk selamanya harus 100% se-iya sekata.” @addiems #MN
“Yg menarik, wktu pencoblosan saya pilih PKB. Mama dan adik saya pilih PDIP. Ya saya ga marah krn itu hak mereka.” @AHMADDHANIPRAST #MN
“Presiden tdk hrs akademisi. Indonesia itu butuh pemimpin yg kreatif, yg memliki pengetahuan yg lengkap ttg Indonesia.” @AHMADDHANIPRAST #MN
“Pendidikan menjadi kriteria utama. Kemudian memiliki loyalitas pd apa yg diusung dan kemampuan mengorganisir.” @dr_tompi #MN
“Kriteria saya cuma satu. Org pintar di Indonesia banyak, kurang org yg pny integrity dan moral.” @addiems #MN
“Bicara soal Jokowi, dia punya integrity dan loyalitas. Dia pnya kecerdasan emosi dlm menghadapi ketua partainya.” @addiems #MN
“Jokowi adlh salah satu makhluk terbaik yg ada di Indonesia. Tp memang saya blm lihat kapasitasnya melihat scra makro.” @dr_tompi #MN
“Untuk masalah hubungan dg kerakyatan, Jokowi tau bgt bgmana membuat rakyat merasa senasib sepenanggungan.” @dr_tompi #MN
“Saya melihat karakter Gita Wirijawan dan Jokowi itu sbg pasangan lego. Saling melengkapi.” @dr_tompi #MN
“Saya belum lihat pembuktian Jokowi memimpin Jakarta. Kekurangan Jokowi itu krn bkn dr militer.” @AHMADDHANIPRAST #MN
“Saya suka pemimpin yg dr militer, tp kmrn saya tdk milih SBY. Saya pilih militer yg satu lagi.” @AHMADDHANIPRAST #MN
“Menurut saya idealnya, Jokowi dipasangkan dg wapres dr militer.” @AHMADDHANIPRAST #MN
“Saat ini Indonesia butuh sosok spti Jokowi bila dibanding dg Prabowo. Saya tdk lihat Prabowo pnya nilai kerakyatan.” @dr_tompi #MN
“Rekam jejak Prabowo jg jd pertimbangan.” @dr_tompi #MN
“Mgkn krn didikan militernya, Beliau memilih diam ketika org2 menghujatnya. Walau mgkn sbnrnya ada yg ingin ia buktikan.” @dr_tompi #MN
“Pak Prabowo ini mungkin punya peluang krn beliau antitesis SBY.” @addiems #MN
“Mgkn seharusnya Beliau membuat suatu penjelasan yg gamblang soal beban masa lalunya.” @addiems #MN
“Saya msh berpikir presiden atau wapres harus dr militer. Kalau presidennya militer, wapresnya pak ARB, masih oke.” @AHMADDHANIPRAST #MN
“Sy tdk lihat penyelesain yg baik dr kasus Lapindo o/ pak ARB. Masalah spt itu aja tdk bs diselesaikan, bgmn urusan negara.” @dr_tompi #MN
“Pak ARB punya peluang, tinggal bagaimana dia dilengkapi figur wapres yang bisa melengkapi.” @addiems #MN
“Kalau dilihat foto-foto cawapres tadi, dari segi militer cuma satu. Mungkin perlu ditambah Pak Moeldoko dan Hendropriyono.” @AHMADDHANIPRAST #MN
“Siapa yang mendampingi Presiden jelas penting. Rakyat harus nyari pemimpin yang nggak cuma mikirin kantongnya sendiri.” @dr_tompi #MN
“Kita butuh Presiden yang bisa menghapus tradisi persenan, bagi-bagi kursi, koalisi dan jabatan menteri.” @AHMADDHANIPRAST #MN
“Pemimpin itu harus bertanggung jawab pada keberhasilan maupun ketidakberhasilannya.” @addiems #MN
“Pemimpin juga perlu menghilangkan kompromi politik yang sudah terlalu dalam.” @addiems #MN
“Bagi yang nanti tidak berhasil jadi Presiden atau Wapres juga jangan berusaha menjatuhkan tapi sama-sama membangun Indonesia yang lebih baik.” @addiems #MN

CATATAN NAJWA #MN

1. Tengoklah demokrasi kita, ketika selebriti tampil mendongkrak suara. #MN

2. Terseret musim kampanye politik, karena alasan ideal atau sekadar taktik. #MN

3. Mereka berani mengambil posisi, bahkan berlaku bak politisi. #MN

4. Bersikap gamblang dan berbicara lantang, karena percaya pada sang penantang. #MN

5. Tak ragu mendemonstrasikan pilihan, walau berisiko ditinggal penggemar. #MN

6. Ketenaran memang bisa menggugah, meyakinkan pemilih lewat lagu dan sabda. #MN

7. Pesohor menjadi digdaya, asal tidak mengandalkan tembang hits semata. #MN

8. Mereka datang memberi tanda, memacu efek latah dukungan suara. #MN

9. Mengganda simpati untuk politisi, sebagai cara mengubah situasi negeri. #MN

10. Mengajak peduli urusan negara dan apa yang pen ting bagi warga. #MN

Advertisements

KPI Larang Lembaga Penyiaran Tayangkan Iklan Politik


Komisioner KPI Rahmat Arifin kepada VOA Selasa (4/2) menegaskan tidak boleh satupun lembaga penyiaran menayangkan iklan politik hingga dimulainya masa kampanye pemilu di media massa 16 Maret.

ImageKomisioner KPI Rahmat Arifin kepada VOA Selasa (4/2) menegaskan, tidak boleh satupun lembaga penyiaran khususnya televisi menayangkan iklan politik hingga dimulainya masa kampanye pemilu di media massa pada 16 Maret mendatang.

Rahmat mengatakan, “Pada 24 Januari lalu, KPI mengeluarkan surat edaran kepada semua lembaga penyiaran baik televisi maupun radio yang intinya meminta mereka tidak menayangkan iklan ataupun penyiaran yang berbau politik, tidak hanya yang berbau kampanye.”

Ia menambahkan, “Dua definisi ini memang berbeda karena sesuai dengan peraturan Komisi Pemilihan Umum no 15 tahun 2003 kampanye mengandung 4 unsur yaitu visi, misi, ajakan dan program. Sementara kita melihat di televisi banyak sekali iklan yang mengandung salah satu atau salah tiga dari keempat unsur itu, sehingga mereka bisa mengakali aturan dari peraturan KPU tersebut.”

Rahmat Arifin menambahkan langkah KPI ini didasarkan pada pedoman perilaku penyiaran yang dibuat oleh KPI di antaranya perlindungan kepada kepentingan publik dari pelanggaran pemilu yang dilakukan oleh partai politik peserta pemilu melalui lembaga penyiaran publik.

Menanggapi hal itu Sekretaris Perusahaan grup Media Nusantara Citra Arya Sinulingga meminta KPI mengikuti regulasi atau aturan yang dibuat oleh KPU. Arya juga memastikan, grup MNC yang dimiliki oleh Harry Tanoesudibyo calon wakil presiden dari Partai Hanura, tidak pernah melanggar aturan main dari KPU dan KPI.

Sementara itu Wakil Pemimpin Redaksi stasiun televisi tvOne Toto Sugiarto kepada VOA mengaku belum menerima surat edaran dari KPI itu. Namun demikian Toto memastikan tvOne siap mengikuti segala aturan main yang dibuat oleh KPI terkait kampanye pemilu di media.

Komisioner KPI Rahmat Arifin memastikan KPI tidak segan-segan akan menerapkan sanksi bagi lembaga penyiaran khususnya terhadap stasiun televisi yang tidak mematuhi aturan ini. Sanksi administratif dimulai dari teguran sampai tidak diperpanjannya perizinan atau dicabutnya izin dari lembaga penyiaran yang bersangkutan.

KPU menetapkan masa kampanye Pemilu 2014 mulai 11 Januari  hingga 5 April 2014. Hal itu diatur dalam Peraturan Komisi Pemilihan Umum nomor 21 tahun 2013 tentang tahapan pemilihan umum 2014.

Pelaksanaan kampanye melalui pertemuan terbatas, pertemuan tatap muka, penyebaran bahan kampanye kepada umum dan pemasangan alat peraga. Sedangkan kampanye rapat umum dan iklan di media massa dimulai pada 16 Maret sampai dengan 5 April 2014.

sumber : VOA Indonesia, KPI Larang Lembaga Penyiaran Tayangkan Iklan Politik

Putusan Pemilu Serentak Dinilai “Dijual”, Majelis Etik MK Diminta Usut


Hakim Konstitusi membacakan putusan dalam sidang pemohon peninjauan ulang undang-undang pemilihan umum presiden dan wakil presiden di Gedung Mahkamah Konstitusi di JakartaJAKARTA, KOMPAS.com — Mahkamah Konstitusi (MK) sudah memutuskan pemilu legislatif serta pemilu presiden dan wakil presiden dilaksanakan serentak pada tahun 2019. Namun, putusan tersebut menuai pro dan kontra karena sejumlah pihak menilai MK terlambat membacakan putusan.

Pengacara dan pengamat hukum tata negara, Refly Harun, mengimbau kepada pihak-pihak yang merasa dirugikan dengan putusan MK untuk membawanya ke Majelis Etik MK. Dengan demikian, mereka bisa memperoleh klarifikasi alasan keterlambatan sidang putusan uji materi Undang-Undang Nomor 42 Tahun 2008 tentang pemilihan presiden dan wakil presiden.

“Agar Dewan Etik (MK) bisa mengklarifikasi siapa yang bertanggung jawab di balik keterlambatan putusan tersebut,” kata Refly seperti dikutip Tribunnews.com, Minggu (26/1/2014).

Menurut Refly, sangat mungkin pemilu serentak dilakukan pada 2014 jika putusan MK dibacakan pada 27 Maret 2013, bukan 23 Januari 2014. Sebelumnya, mantan Ketua MK, Mahfud MD, mengaku bahwa rapat permusyawaratan hakim sudah mengambil putusan pada Maret 2013 atau sebelum Mahfud pensiun sebagai hakim konstitusi.

Refly menduga putusan baru dibacakan agar pemilu serentak tidak bisa dilakukan pada tahun 2014, tetapi pada 2019. Hal tersebut tentu menuai kecurigaan mengenai terjadinya jual beli untuk kepentingan pihak tertentu sebelum diputuskan MK.

“Dugaan saya, keputusan ini dalam tanda petik perlu dijual yah karena, dengan pemilu serentak itu, presidential threshold (PT) itu ditiadakan. Menurut saya, tidak ada halangan apa pun untuk hapus PT pada Pemilu 2014. Menurut saya, tak penting lagi mempertahankan PT di dalam sistem presidensial Indonesia karena logikanya sama sekali tidak ada,” imbuhnya.

Seperti diberitakan, MK mengabulkan sebagian uji materi UU Pilpres yang diajukan akademisi Effendi Gazali bersama Koalisi Masyarakat Untuk Pemilu Serentak dengan putusan pemilu serentak pada 2019. Jika dilaksanakan pada 2014, menurut MK, maka pelaksanaan pemilu dapat mengalami kekacauan dan menimbulkan ketidakpastian hukum yang justru tidak dikehendaki karena bertentangan dengan UUD 1945.

MK dalam putusannya menegaskan bahwa penyelenggaraan Pileg dan Pilpres 2009 yang berlangsung tidak serentak dan sistemnya akan diulangi Pemilu 2014 tetap dinyatakan sah dan konstitusional. Hanya, dengan keputusan pemilu serentak, diperlukan aturan baru sebagai dasar hukum untuk melaksanakan pilpres dan pileg secara serentak.

Dengan keputusan MK itu, syarat pengusungan capres-cawapres pada Pilpres 2014 tetap berpegang pada UU Pilpres, yakni 20 persen perolehan kursi DPR atau 25 persen perolehan suara sah nasional. Jika tak cukup, maka parpol mesti berkoalisi untuk mengusung capres-cawapres.

sumber : kompas.com, Putusan Pemilu Serentak Dinilai “Dijual”, Majelis Etik MK Diminta Usut

Kubur Tan Malaka Berada di Desa Selopanggung, Kabupaten Kediri


Ini pengakuan negara terhadap seorang pahlawan nasional yang selama 30 tahun namanya dihilangkan dari buku pelajaran dan pengajaran sejarah.

Image

Keluarga Tan Malaka meminta pemerintah Indonesia untuk memindahkan sisa-sisa jasad yang diyakini sebagai pahlawan nasional Tan Malaka di sebuah pemakaman umum di Kabupaten Kediri, Jatim ke Taman makam pahlawan, TMP Kalibata, Jakarta.

Menurut keluarganya, pemakaman ulang jasad Tan Malaka ke TMP Kalibata merupakan bentuk pengakuan negara secara resmi terhadap pahlawan nasionalnya.

“Ini pengakuan negara terhadap seorang pahlawan nasional yang selama 30 tahun namanya dihilangkan dari buku pelajaran dan pengajaran sejarah,” kata Asvi Warman Adam, ahli sejarah dan penasehat tim identifikasi pencarian jenazah Tan Malaka, Senin (27/01) siang, kepada wartawan BBC Indonesia, Heyder Affan.

Dalam waktu dekat, keluarga Tan Malaka dan panitia akan menemui Kementerian Sosial untuk proses pemindahan secara simbolis sisa-sisa tulang, gigi serta rambut yang diyakini sebagai Tan Malaka.

Pada 2009 lalu, tim forensik yang didukung keluarga Tan Malaka Klik telah selesai menggali kuburan yang diduga berisi jenazah Tan Malaka di pemakaman umum di Desa Selopanggung, Kabupaten Kediri.

Penggalian dilakukan berdasarkan penelitian yang dilakukan sejarawan Belanda Hary Poeze selama bertahun tahun terhadap tokoh komunis asal Sumatera Barat ini.

Penelitian itu menyimpulkan, pahlawan nasional itu ditembak mati oleh pada 21 Februari 1949 oleh kesatuan Tentara Republik Indonesia, TRI di dekat lokasi kuburan yang ditemukan di Kediri.

‘Yakin 90 persen’

Setelah melakukan penggalian, tim peneliti kemudian mencocokan DNA jasad tersebut — yang sudah berupa serpihan tulang, gigi serta rambut — dengan DNA keluarga Tan Malaka, namun sejauh ini belum membuahkan hasil.

Salah-satu buku karya Harry Poeze tentang sosok Tan Malaka.

Walaupun belum menemukan bukti DNA, menurut Asvi Warman Adam, pihak panitia “meyakini 90 persen” bahwa jasad tersebut adalah Tan Malaka berdasarkan bukti yang ditemukan selama penggalian.

Asvi menjelaskan, temuan antropologi fisik terhadap jasad itu menunjukkan bahwa “orang yang dimakamkan itu laki-laki, berasal dari ras mongoloid, dan tingginya antara 163-165 cm, dan dalam keadaan tangannya terikat ke belakang.”

“Jadi secara fisik itu ciri-ciri Tan Malaka pada saat ditembak,” kata Asvi.

“Kami menyimpulkan bahwa 90 persen itu sudah benar bahwa itu tempat meninggalnya Tan Malaka,” tambahnya.

Tan Malaka adalah tokoh Kiri yang sejak awal mencita-citakan Indonesia merdeka dari kolonial Belanda.

Selain pernah diasingkan dan menjadi legenda aktivis politik bawah tanah selama bertahun-tahun, pria kelahiran 1897 ini juga menulis beberapa buku terkenal.

Gelar pahlawan tidak dicabut

Menurut Asvi Warman Adam, pemerintah Indonesia telah menetapkan Tan Malaka sebagai pahlawan nasional pada 1963, tetapi “sejak 1965 namanya tidak ada lagi, meski gelarnya tidak pernah dicabut.”

Liputan Majalah TEMPO tentang Tan Malaka.

Asvi mengaku mendapat keterangan dari tim peneliti Kemensos bahwa “gelar pahlawan Tan Malaka tidak dicabut, tetapi off the record. Itu keterangan dari penelitian dari kementerian sosial.”

Klik Pemerintahan Orde Baru pimpinan Presiden Suharto dikenal sebagai rezim anti Komunis yang melarang segala hal yang berbau Komunis atau aliran Kiri.

Peneliti LIPI ini mengatakan, selain meminta jasad Tan Malaka dimakamkan ulang, mereka meminta Kemensos untuk memugar kuburannya serta membuat monumen di pekuburan Desa Selopanggung, Kediri.

Mereka mengusulkan hal ini karena sejak awal Pemerintah Kabupaten Kediri menolak jika jasadnya dipindahkan dari lokasi pemakaman awalnya.

“Karena pemerintah Kediri ingin makam Tan Malaka tetap di situ, sedang keluarga ingin dimakamkan di Kalibata, maka keluarga akan memindahkan secara simbolis tanah (di kuburan Selopanggung) ke TMP Kalibata, dan membiarkan kerangka tersisa tetap di Selopanggung.”

Keluarga juga mempersilakan tim forensik yang pernah meneliti DNA Tan Malaka untuk melanjutkan penelitiannya.

sumber: BBC Indonesia, Keluarga minta jasad Tan Malaka dikubur di TMP Kalibata

MK: Mulai 2019, Pilpres dan Pileg Serentak


“Pelaksanaan Pilpres setelah Pemilu Anggota Lembaga Perwakilan tidak memberi penguatan atas sistem pemerintahan yang dikehendaki oleh konstitusi. Oleh karena itu, norma pelaksanaan Pilpres yang dilakukan setelah Pemilu Anggota Lembaga Perwakilan telah nyata tidak sesuai dengan semangat yang dikandung oleh UUD 1945 dan tidak sesuai dengan makna pemilihan umum yang dimaksud oleh UUD 1945, khususnya dalam Pasal 22E ayat (1) UUD 1945,”
Image

Mahkamah Konstitusi memutuskan bahwa pemilihan umum tidak serentak bertentangan dengan Undang-Undang Dasar 1945. Namun, pelaksanaan putusan MK ini baru akan berlaku pada Pemilu 2019 dan selanjutnya. Dengan kata lain, kelak Pemilu Presiden dan Wakil Presiden serta Pemilu Anggota Lembaga Perwakilan (Pemilu Legislatif) digelar secara bersamaan. Demikian hal ini tertuang dalam Putusan MK Nomor 14/PUU-XI/2013 yang diajukan oleh Effendi Gazali.

“Pasal 3 ayat (5), Pasal 12 ayat (1) dan ayat (2), Pasal 14 ayat (2), dan Pasal 112 Undang-Undang Nomor 42 Tahun 2008 tentang Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945,” tegas Ketua MK Hamdan Zoelva, Kamis (23/1) sore, di Ruang Sidang Pleno MK. “Amar putusan dalam angka 1 tersebut di atas berlaku untuk penyelenggaraan pemilihan umum tahun 2019 dan pemilihan umum seterusnya.”

Dalam menentukan konstitusionalitas penyelenggaraan Pilpres apakah setelah atau bersamaan dengan penyelenggaraan Pemilu Legislatif, MK mempertimbangkan tiga hal pokok, yakni kaitan antara sistem pemilihan dan pilihan sistem pemerintahan presidensial, original intent dari pembentuk UUD 1945, efektivitas dan efisiensi penyelenggaraan pemilihan umum, serta hak warga negara untuk memilih secara cerdas.

Menurut MK, penyelenggaraan Pilpres haruslah dikaitkan dengan rancang bangun sistem pemerintahan menurut UUD 1945, yaitu sistem pemerintahan presidensial. MK berpendapat, praktik ketatanegaraan hingga saat ini, dengan pelaksanaan Pilpres setelah Pemilu Legislatif ternyata tidak mampu menjadi alat transformasi perubahan sosial ke arah yang dikehendaki. Hasil dari pelaksanaan Pilpres setelah Pemilu Legislatif tidak juga memperkuat sistem presidensial yang hendak dibangun berdasarkan konstitusi. Mekanisme saling mengawasi dan mengimbangi (checks and balances), terutama antara DPR dan Presiden tidak berjalan dengan baik.

“Pelaksanaan Pilpres setelah Pemilu Anggota Lembaga Perwakilan tidak memberi penguatan atas sistem pemerintahan yang dikehendaki oleh konstitusi. Oleh karena itu, norma pelaksanaan Pilpres yang dilakukan setelah Pemilu Anggota Lembaga Perwakilan telah nyata tidak sesuai dengan semangat yang dikandung oleh UUD 1945 dan tidak sesuai dengan makna pemilihan umum yang dimaksud oleh UUD 1945, khususnya dalam Pasal 22E ayat (1) UUD 1945,” papar Hakim Konstitusi Fadlil Sumadi.

Begitupula jika ditilik berdasarkan original intent dan penafsiran sistematik. Fadlil mengungkapkan, apabila diteliti lebih lanjut makna asli yang dikehendaki oleh para perumus perubahan UUD 1945, dapat disimpulkan bahwa penyelenggaraan Pilpres adalah dilakukan serentak dengan Pemilu Legislatif. “Hal itu secara tegas dikemukakan oleh Slamet Effendy Yusuf sebagai salah satu anggota Panitia Ad Hoc I Badan Pekerja MPR RI yang mempersiapkan draft perubahan UUD 1945 yang mengemukakan bahwa para anggota MPR yang bertugas membahas perubahan UUD 1945 ketika membicarakan mengenai permasalahan ini telah mencapai satu kesepakatan,” tuturnya.

Dengan demikian, kata Fadlil, dari sudut pandang original intent penyusun perubahan UUD 1945, telah memiliki gambaran visioner mengenai mekanisme penyelenggaraan Pilpres, bahwa Pilpres diselenggarakan secara bersamaan dengan Pemilu Legislatif. MK menilai, hal ini telah pula sejalan dengan Pasal 22E ayat (2) UUD 1945.

“Dengan demikian menurut Mahkamah, baik dari sisi metode penafsiran original intent maupun penafsiran sistematis dan penafsiran gramatikal secara komprehensif, Pilpres dilaksanakan bersamaan dengan pemilihan umum untuk memilih anggota lembaga perwakilan. Menurut Mahkamah, dalam memaknai ketentuan UUD mengenai struktur ketatanegaraan dan sistem pemerintahan harus mempergunakan metode penafsiran yang komprehensif untuk memahami norma UUD 1945 untuk menghindari penafsiran yang terlalu luas, karena menyangkut desain sistem pemerintahan dan ketatanegaraan yang dikehendaki dalam keseluruhan norma UUD 1945 sebagai konstitusi yang tertulis,” tulis MK dalam putusan setebal 92 halaman.

Sejalan dengan pertimbangan tersebut, menurut Fadlil, penyelenggaraan Pilpres dan Pemilu Legislatif secara serentak memang akan lebih efisien, sehingga pembiayaan penyelenggaraan lebih menghemat uang negara yang berasal dari pembayar pajak dan hasil eksploitasi sumber daya alam serta sumber daya ekonomi lainnya.

“Hal itu akan meningkatkan kemampuan negara untuk mencapai tujuan negara sebagaimana diamanatkan dalam Pembukaan UUD 1945 yang antara lain untuk memajukan kesejahteraan umum dan sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Selain itu, Pilpres yang diselenggarakan secara serentak dengan Pemilu Anggota Lembaga Perwakilan juga akan mengurangi pemborosan waktu dan mengurangi konflik atau gesekan horizontal di masyarakat,” imbuhnya.

Pemilu 2014 Tetap Sah

Di samping itu, MK juga mempertimbangkan dampak putusan ini terhadap pelaksanaan Pemilu 2014. Karena menurut MK, jika putusan ini dilaksanakan pada tahun ini, maka dapat menyebabkan kekacauan dan menimbulkan ketidakpastian hukum yang nantinya justru bertentangan dengan UUD 1945.

“Jika aturan baru tersebut dipaksakan untuk dibuat dan diselesaikan demi menyelenggarakan Pilpres dan Pemilu Anggota Lembaga Perwakilan secara serentak pada tahun 2014, maka menurut penalaran yang wajar, jangka waktu yang tersisa tidak memungkinkan atau sekurang-kurangnya tidak cukup memadai untuk membentuk peraturan perundang-undangan yang baik dan komprehensif,” papar Fadlil.

MK berpendapat memang diperlukan waktu untuk menyiapkan budaya hukum dan kesadaran politik yang baik bagi warga masyarakat, maupun bagi partai politik untuk mempersiapkan diri dan melaksanakan agenda penting ketatanegaraan. “Menurut Mahkamah penyelenggaraan Pilpres dan Pemilu Anggota Lembaga Perwakilan tahun 2009 dan 2014 yang diselenggarakan secara tidak serentak dengan segala akibat hukumnya harus tetap dinyatakan sah dan konstitusional.”

Seharusnya Ditolak

Dalam putusan ini Hakim Konstitusi Maria Farida Indrati mengajukan pendapat berbeda (dissenting opinion). Pada intinya, menurut Maria, seharusnya permohonan pemohon dalam perkara ini ditolak oleh MK. Sebab, pokok perkara yang diajukan oleh Pemohon merupakan kebijakan hukum terbuka (openend legal policy) pembentuk undang-undang.

“Terlepas dari kemungkinan timbulnya berbagai kesulitan yang akan dihadapi dalam penyelenggaraan Pemilu Anggota Lembaga Perwakilan dan Pilpres secara terpisah seperti yang dilaksanakan saat ini atau yang dilaksanakan secara bersamaan (serentak) seperti yang dimohonkan Pemohon, hal itu bukanlah masalah konstitusionalitas norma, tetapi merupakan pilihan kebijakan hukum pembentuk Undang-Undang. Berdasarkan hal-hal tersebut di atas, saya berpendapat, permohonan Pemohon haruslah ditolak untuk seluruhnya,” tutupnya. (Dodi/mh)

sumber: Mahkamah Konstitusi, MK: Mulai 2019, Pilpres dan Pileg Serentak

Mahfud dan Akil Ikut Buat Putusan Uji Materi UU Pilpres


”MK saya kira tidak akan berani memutuskan pemilu serentak yang diterapkan pada pemilu ini. Dia akan mengalami tekanan psikologis dan politis karena kalau pemilu tidak sukses, MK bisa menjadi kambing hitam dan bulan-bulanan,” kata Zainal.

Image

JAKARTA, KOMPAS.com — Mahkamah Konstitusi, Kamis (23/1/2014) sore ini, akan membacakan putusan uji materi tentang Undang-Undang Pemilu Presiden terkait pemilu serentak dan ambang batas pencalonan presiden (presidential threshold).

Menurut hakim konstitusi Harjono, putusan yang akan dibacakan tersebut diambil oleh sembilan hakim konstitusi saat masih dipimpin Mahfud MD dan Achmad Sodiki sebagai Wakil Ketua MK.

Hal itu berarti Akil Mochtar yang kini ditahan Komisi Pemberantasan Korupsi karena tertangkap tangan dalam dugaan kasus suap sengketa pemilu kepala daerah juga ikut memutus perkara 14/PUU-XI/2013 tentang pengujian UU Pilpres yang diajukan Effendi Gazali tersebut.

Meski demikian, Harjono menjamin putusan yang akan dikeluarkan hari ini murni didasarkan pada pertimbangan yuridis dan tak terjebak pada kepentingan-kepentingan politis.

Lima hakim konstitusi lainnya yang akan memutus adalah Hamdan Zoelva, Maria Farida Indrati, Muhammad Alim, Ahmad Fadlil Sumadi, dan Anwar Usman.

Sementara itu, hakim konstitusi Arief Hidayat (sekarang Wakil Ketua MK) dan Patrialis Akbar, yang masuk belakangan, tidak turut serta dalam pengambilan putusan.

Hingga berita ini diturunkan, bagaimana sesungguhnya sikap para hakim konstitusi belum diketahui secara pasti. Harjono hanya mengatakan, ”Kami sudah mempertimbangkan secara matang, maksimal, dan juga secara detail.”

UUD tak larang terpisah

Bagaimana sesungguhnya perdebatan yang terjadi dalam perumusan Undang-Undang Dasar 1945 terkait Bab VIIB Pasal 22E tentang Pemilu? Hasil penelusuran Kompas, ternyata hal itu tergambar dengan jelas dalam notula Rapat Paripurna Ke-5 Sidang Tahunan (ST) Majelis Permusyawaratan Rakyat 2001.

Dalam rapat tersebut, Patrialis Akbar yang kini menjadi salah seorang hakim MK bahkan pernah menyatakan bahwa Undang-Undang Dasar tidak melarang pemilu presiden dilaksanakan bersama-sama atau terpisah dengan pemilihan umum legislatif.

”Berkenaan dengan pemilihan umum, sebetulnya dalam konsep pemilihan umum ini kita juga belum membatasi apakah pemilihan umum kita ini nanti pada saatnya bersama-sama pemilihan umum wakil-wakil rakyat dengan pemilihan umum presiden itu tergantung situasi, tetapi yang paling penting cantolannya sudah ada di dalam Undang-Undang Dasar ini bahwa semuanya dipilih melalui pemilihan umum. Jadi, ini juga kita belum saklek dan di sini tidak ada larangan kalau dikerjakan bersama-sama atau terpisah pemilihan umum itu yang berkenaan dengan general election atau presidential election tadi. Saya kira demikian,” ucap Patrialis yang saat itu menjadi anggota Panitia Ad Hoc Badan Pekerja MPR 2000-2001 dari Fraksi Reformasi.

Pernyataan Patrialis itu tercatat dalam buku Naskah Komprehensif Perubahan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang diterbitkan Sekjen dan Kepaniteraan Mahkamah Konstitusi.

Pernyataan tersebut disampaikan Patrialis saat pembahasan mengenai pemilu bergulir kembali di ST MPR. Perdebatan muncul diawali dari pertanyaan anggota FKKI, Tjetje Hidayat, yang mempersoalkan masuknya pemilu presiden sebagai bagian dari pemilu.

Menanggapi pertanyaan Tjetje itu, Wakil Ketua PAH I Slamet Effendy Yusuf sempat menyampaikan, ”Memang pada konsep ini, secara keseluruhan itu presiden nanti dalam pemilihan disebut langsung itu diadakan di dalam pemilihan umum yang diselenggarakan bersama-sama ketika memilih DPR, DPD, DPRD, kemudian paket presiden dan wakil presiden sehingga digambarkan nanti ada lima kotak.”

Meski demikian, saat itu,Tjetje tetap berpendapat tidak ada kaitan antara general election dan presidential election. Dia berpendapat, seharusnya pemilu presiden dirumuskan dalam bab terpisah.

Setelah terjadi polemik itulah Patrialis menyampaikan pandangannya tersebut.

Slamet, saat dihubungi kemarin, juga membenarkan pernyataannya itu. ”Catatan komprehensif Perubahan UUD 1945 menggambarkan dengan jelas perdebatan saat itu,” ujarnya. Slamet berharap MK dapat membuat keputusan yang tepat.

Tidak akan berani

Pengajar Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Zainal Arifin Mochtar, memprediksi bahwa MK tidak akan berani mengeluarkan putusan yang akan membuat perubahan drastis atas pengajuan uji materi sejumlah ketentuan pemilu presiden.

”MK saya kira tidak akan berani memutuskan pemilu serentak yang diterapkan pada pemilu ini. Dia akan mengalami tekanan psikologis dan politis karena kalau pemilu tidak sukses, MK bisa menjadi kambing hitam dan bulan-bulanan,” kata Zainal.

Menurut Zainal, dalam perspektif hukum, desain konstitusi memang tidak mempersoalkan apakah pemilihan dilakukan bertahap pemilu legislatif dahulu dilanjutkan dengan pilpres atau keduanya dilakukan serentak.

Analis politik Soegeng Sarjadi Syndicate (SSS), Sukardi Rinakit, juga mengingatkan MK agar tidak membuat putusan yang dipaksakan. Masyarakat pun sudah telanjur tersosialisasi bahwa pemilu legislatif dilaksanakan 9 April dan pemilu presiden 9 Juli. Belum lagi soal tahapan pemilu yang telanjur disiapkan dengan skenario dua pemilu terpisah.

”Jika pemilu serentak dipaksakan pada 2014, bisa memicu guncangan politik,” ujarnya.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal Partai Bulan Bintang BM Wibowo meyakini MK mengabulkan gugatan yang juga diajukan oleh Ketua Dewan Syuro PBB Yusril Ihza Mahendra meski menyadari posisi MK yang dilematis dalam memutuskan gugatan UU Pilpres ini.

”Jika MK tidak menerima gugatan ini, sangat aneh. Pasti terjadi gugatan berikutnya karena ada kekacauan,” kata Wibowo. (ana/why/iam/A04/sut)

sumber : kompas.com, Mahfud dan Akil Ikut Buat Putusan Uji Materi UU Pilpres

Mega : “Inginnya Saya, Indonesia… Raya…”


Setelah menonton Mata Najwa malam ini, saya tergerak untuk mengutip kata-kata Megawati ataupun orang-orang di sekitar Megawati.

“Saya ngga bisa nyanyi. Jadi kalau lagi sendirian daripada diam, saya itu suka bersiul lagu My Way.” Megawati #MN

“Mungkin kebiasaan saya diam. Itu sebenarnya saya sedang memperhatikan. Orang banyak yang bicara, untuk apa saya ikut-ikutan bicara.” Megawati #MN

“Ibarat boxing, saya dan suami adalah sparing partner. Yang lebih sering nonjok? Ya saya.” Megawati #MN

“Megawati memang keras kepala. Tapi katanya, kalau ga keras ga bisa pimpin partai ini.” Sabam Sirait #MN

“Mega, kau harus masuk partai politik. Kamu akan masuk PDI dan pada waktunya kamu akan jadi Presiden RI.” Sabam Sirait #MN

“Bukan berarti saya masuk partai karena ingin jadi Presiden.” Megawati #MN

“Kami tidak dilarang ikut partai. Kalau Bapak saya masih hidup, pasti dia juga nyuruh saya berpolitik” Megawati #MN

“Saya dididik kekerasan itu tidak menyelesaikan masalah, malah memperbanyak. Ini yang terjadi pada peristiwa 27 Juli 1996.” Megawati #MN

“Baru jalan 1,5 tahun, sudah dikatakan Jokowi tidak berhasil. Tapi saya suka membesarkan hati Beliau.” Megawati #MN

“Kita lihat di ibukota kemiskinan itu masih ada & Gubernur kurus itu terus berupaya.” Megawati #MN

“Di Indonesia pernah dikenal istilah naga hijau & naga merah. Saya pikir keren saya dianggap naga merah.” Megawati #MN

“DKI adalah kumpulan dari orang-orang penting. Perlu keteguhan dan kecerdasan dalam memimpin ibukota ini.” Megawati #MN

“Bangsa kita itu senang bertutur, apa yang disampaikan dari hulu bisa beda sampai di hilirnya.” Megawati #MN

“Persoalan bangsa tidak selesai karena kita tidak konsisten dan konsekuen.” Megawati #MN

“Jangan menyerah, pasti berhasil kalau kita melakukannya dengan konsekuen dan berkesinambungan.” Megawati #MN

“Ngga mungkin dalam 5 tahun, hasilnya langsung prima. Namanya membangun pasti butuh waktu.” Megawati #MN

“Pak Susilo bilang bahwa banyak isu dihembuskan media. Saya berkesimpulan Susilo tidak menjawab dengan pasti.” Megawati #MN

“Menurut Pak Hamzah Haz, Pak Susilo (SBY) juga ditanya dan bilang hal yg sama.” Megawati #MN

“Pak Hamzah Haz dan Yusril bilang belum ada perintah partai.” Megawati #MN

“Tentang Pak Susilo, awalnya KPU minta Ketua Umum yang akan kampanye pilpres agar lapor.” Megawati #MN

Betulkah Jokowi jadi capres PDIP? Temukan jawabannya setelah Headline News. #MN

“Pengikut Bung Karno itu masih eksis sampai sekarang.” Megawati #MN

“Pengganti Ketum Partai tidak bisa dibicarakan di elit partai. Siapa sih yang ngga mau jadi Ketum? Kan keren.” Megawati #MN

“Sebenarnya itu karena rakyatnya tidak diberi pendidikan politik. Sehingga mereka tidak sadar politik.” Megawati #MN

“Beliau bekerja dan memahami masalah dengan sangat detail. Dan yang paling penting, Beliau teguh memegang prinsip.” Jokowi #MN

“Saya dengan Ibu Mega tergantung peristiwanya saja. Pas makan ya bahas makanan, biasa saja.” Jokowi #MN

“Survei itu jangan dijadikan patokan. Kita harus liat realitasnya, jangan salah pilih.” Megawati #MN

“Pemilu 2014 ini doa saya hanya satu, jangan curang. Itu saja.” Megawati #MN

“Jangan sampai mabuk kenikmatan. Kalau kita tidak punya rem yang kuat, akhirnya apa saja bisa dilakukan.” Megawati #MN

“Saya paling senior jadi Ketua Umum, boleh bangga sedikit lah. Dan tidak pakai uang loh menjadikannya.” Megawati #MN

“Saya masih mau jadi presiden? Itu masih rahasia.” Megawati #MN

“Saya ini kalau menyangkut kepentingan bangsa pasti serius. Tidak bisa asal bicara.” Megawati #MN

“Saya hanya akan melihat apa yg diperlukan bangsa ini. Jadi Presiden itu mudah. Tapi jadi pemimpin itu yang susah.” Megawati #MN

“Saya tahu survey-survey bilang Jokowi. Tapi tunggu dulu, jangan mongkok. Bisa gak jadi pemimpin?” Megawati #MN

“Inginnya saya, Indonesia..Raya..”Megawati #MN

Dan inilah Catatan Mata Najwa:

1. Megawati adalah lembar yang tak terbuka, dikelilingi diam & hemat kata.#MN

2. Semakin keputusannya dinanti, semakin akhir kata terang biasanya didapati.#MN

3.Orang-orang belajar dari sikapnya, lebih banyak dari perkataan & retorikanya.#MN

4. Cukup lama dia geming membatu, menyindir kekuasaan yang penuh ragu.#MN

5. Visinya tak selalu mudah dimengerti, gagasannya lebur di dalam aksi partai.#MN

6. Megawati hidup di era politik kesaksian, bukan pengumbar jurus pencitraan.#MN

7. Di kala partai ramai-ramai berkoalisi, Megawati sedikit dari yang tak terbeli.#MN

8. Kini keputusan Megawati dinanti, apakah maju kembali atau mengucap permisi.#MN

Terima kasih kepada Ibu Megawati Soekarnoputri dan PDI Perjuangan yg telah hadir memenuhi undangan kami.