Hijrah dan Peradaban Modern


hijrah-_wafat_nabi_muhammad.jpgRuntuhnya landasan interaksi-interaksi lama dan terbentuknya peradaban baru yang dicapai orang Barat sesudah Perang Salib, serta semakin luasnya dunia dan beraneka ragamnya apa yang dilihat orang-orang Barat, telah mengantarkan mereka menemukan faktor-faktor pembangkit semangat mengembara di kalangan orang-orang Barat, dan mendorong mereka untuk berkeliling ke timur dan ke barat dengan berbagai jalur perjalanan baru dengan tujuan menemukan daerah-daerah baru dan mengenal kawasan-kawasan yang jauh yang tergambar dalam pikiran mereka.

Para ahli sejarah dan sosiologi sepakat bahwa Perang Salib merupakan jalan “migrasi (hijrah) orang Barat ke Timur” dan penemuan daerah baru. Migrasi ke Amerika, Asia dan Afrika, merupakan sebab pertama bagi munculnya Renaissance dan peradaban Eropa dan sekaligus merupakan faktor dasar bagi munculnya peradaban Barat Modern.

Hijrah, yakni pemutusan keterikatan masyarakat terhadap tanahnya, bisa mengubah pandangan manusia terhadap alam dan mengubahnya menjadi pandangan yang luas dan menyeluruh, yang pada akhirnya hilanglah kejumudan, menerosotan sosial, pemikiran dan perasaan, sehingga masyarakat yang rigid dan jumud itu bisa berubah menjadi masyarakat yang dinamis.

Dengan demikian, hijrah itu sendiri pada dasarnya adalah gerakan dan loncatan besar manusia. Ia menghidupkan semangat perubahan dalam pandangan masyarakat, dan pada gilirannya menggerakkan dan memindahkan mereka dari lingkungan yang beku menuju tangga kemajuan dan kesempurnaan.

Demikian antara lain nukilan-nukilan dari pemikiran DR. Ali Shariati yang berada dalam bukunya yang berjudul Muhammad SAW. Khatim an-Nabiyyin min-al Hijrah hatta al-Wafat (1989) , diterjemahkan oleh Afif Muhammad dengan Judul: Nabi Muhammad SAW: Sejak Hijrah Hingga Wafat, Penerbit Pustaka Hidayah, Bandung, 1996, Cetakan III, Harga Rp 15.000.

Ia menulis buku ini dengan berpijak pada sumber-sumber Islam yang paling tua, juga pada para penulis Islam dari berbagai aliran. Sementara itu metode yang ditempuh tidak seperti seorang Muslim dalam memandang Muhammad sebagai nabinya, tetapi ia bersikap sebagai seorang pemikir yang memandang Muhammad semata-mata dengan kacamata keilmuannya.

Buku ini terdiri dari 3 bab, yaitu:

BAB I HIJRAH, yang mengulas saat Kembali ke Permulaan, Di Quba’, Masuk ke Madinah hingga membangun Masjid

BAB II SEPULUH TAHUN KEHIDUPAN MADINAH

Tahun Pertama Hijrah hingga Tahun Kesembilan Hijrah, di mana pada Tahun Kedua Hijrah terdapat Usaha pembunuhan terhadap Nabi dan menyikapi Problema Orang Yahudi dan Perang Bani Al-Qainuqa’. Lalu pada Tahun Ketujuh Hijrah, Nabi Muhammad mulai mengirim Surat-surat kepada Para pemimpin Dunia

BAB III WAFAT MUHAMMAD, yang mengulas soal Masa Depan Umat.

 

Bila kita telah membaca buku Sejarah Nabi Muhammad (Muhammad Husain Haekal), maka membaca buku ini niscaya akan lebih kaya perspektif kita dalam memandang Muhammad sebagai Seorang Nabi maupun Muhammad sebagai seorang Pemimpin Umat.

Sore ini dibanyak surau, langgar dan Masjid akan dilaksanakan acara peringatan Maulid Nabi Muhammad, 12 Rabiul Awal 1429 Hijriyah.

Syair Menyambut Datangnya Jamaah Haji


mecca.jpgKemarin sore saya, istri dan anak-anak saya pergi ke Batu. Kami berniat menyambut kedatangan kakak istri saya yang akan pulang dari perjalanan ibadah haji. Pukul 01.00 pagi mereka baru sampai di rumah. Kami semua menyambutnya dengan sukacita.

Pagi ini, saya membuka sebuah buku tulisan DR. Ali Shariati yang berjudul Haji, Terbitan Penerbit PUSTAKA, Bandung, Cetakan I, Tahun 1983.

Sudah seringkali saya membaca buku ini. Dan dibagian akhir dari buku ini, EPILOG, dikutipkan sebuah Syair panjang tentang ibadah haji.

Selengkapnya demikian :

Sebuah Syair dari Naser Khosrow 1)

Dengan membawa kemuliaan jamaah haji telah kembali.
Mereka bersyukur kepada Allah Yang Pengasih.
Di dalam perjalanan dari Arafat menuju Mekkah,

Dengan takzim mereka mengulangi ucapan “Labaika” 2)

Ketika menghadapi kekerasan Padang Pasir Hijaz, 3)
Mereka bersukaria karena selamat dari siksa dan api. 4)

Mereka telah menunaikan haji dan telah menyelesaikan umrah.

Kini, dalam keadaan selamat mereka kembali ke tanah air.

Aku menyempatkan diri untuk menyambut kepulangan mereka,

Walau biasanya orang-orang yang seperti aku ini 5) tidak berbuat demikian.
Tetapi salah seorang di antara para jamaah itu,
Adalah sahabatku yang sejati.

Kepadanya aku bertanya bagaimanakah ia telah menempuh

Perjalanan yang sangat sulit dan menakutkan itu. 6)

Kepadanya kukabarkan, sejak kepergiannya meninggalkan aku sendiri,

Yang kurasakan adalah sesal dan duka-cita semata-mata.

Tetapi kini aku gembira karena engkau telah menunaikan ibadah haji,

Dan karena engkaulah satu-satunya haji di negeri kita ini.

Ceritakanlah kepadaku: Bagaimanakah engkau telah menunaikan haji?

Bagaimanakah engkau telah memuliakan Tanah Suci? 7)

Setelah melepas pakaian dan hendak mengenakan ihram,

Di saat-saat hati menggelora itu apakah “niat” mu?

Telah engkau tinggalkankah setiap sesuatu yang harus engkau tinggalkan?

Telah engkau tinggalkankah setiap sesuatu yang lebih hina daripada Allah Yang Maha Besar?

Tetapi jawabnya: Tidak!

Kepadanya aku bertanya:

Apakah ia telah menyerukan “Labaika”
Dengan pengetahuan yang sempurna dan dengan penuh takzim?
Apakah ia telah mendengar seruan Allah?
Atau, apakah ia telah patuh dengan kepatuhan Ibrahim?

Tetapi jawabnya: Tidak!

Kepadanya aku bertanya:

Ketika berada di Arafat,
Ketika sedemikian hampir kepada Allah Yang Maha Besar,
Sempatkah ia berkenalan dengan Dia?
Tidakkah ia berhas.
Sempatkah ia berkenalan dengan Dia?
Tidakkah ia berhasrat untuk mempelajari sedikit pengetahuan?

Tetapi jawabnya: Tidak!

Kepadanya aku bertanya:

Ketika masuk ke dalam Ka’bah
Seperti yang telah dilakukan oleh keluarga “Kahf dan Raquim” . 8)
Tidakkah dibuangnya sikap mementingkan diri sendiri?
Tidakkah ia takut hukuman akhirat nanti?

Tetapi jawabnya: Tidak!

Kepadanya aku bertanya:

Ketika menembak berhala-berhala,
Tidakkah ia memandang berhala-berhala itu sebagai syeitan?
Dan setelah itu tidakkah ia menghindari kejahatan?

Tetapi jawabnya: Tidak!

Kepadanya aku bertanya:

Ketika berkorban,
Untuk makanan orang-orang yang lapar dan anak-anak yatim,
Bukan Allah-kah yang pertama kali dipikirkannya?
Dan, setelah itu tidakkah ia membunuh ketamakan di dalam dirinya?

Tetapi jawabnya: Tidak!

Kepadanya aku bertanya:

Ketika berdiri di Maqam Ibrahim,
Apakah ia bersandar kepada Allah semata-mata
Dengan hati yang tulus dan keyakinan yang teguh?

Tetapi jawabnya: Tidak!

Kepadanya aku bertanya:

Ketika melakukan thawaf
Mengelilingi Ka’bah,
Tidak ingatlah ia bahwa semua malaikat
Senantiasa thawaf mengelilingi bumi?

Tetapi jawabnya: Tidak!

Kepadanya aku bertanya:

Ketika melakukan Sa’y,
Ketika berlari-lari di antara Shafa dan Marwa,
Tidakkah ia menjadi suci dan bersih?

Tetapi jawabnya: Tidak!

Kepadanya aku bertanya:

Kini, setelah kembali dari Mekkah,
Dan rindu kepada Ka’bah,
Tidakkah akunya terkubur di sana?
Tidakkah ia berhasrat untuk pergi lagi?

Tetapi jawabnya: Tidak!

“Semua yang engkau pertanyakan ini

Tidak satupun yang kumengerti!”
Makanya kepadanya aku berkata:

Wahai Sahabat! Sesungguhnya engkau belum menunaikan ibadah haji!

Sesungguhnya engkau belum taat kepada Allah!
Memang engkau telah pergi ke Mekkah untuk mengunjungi Ka’bah!

Memang engkau telah menghamburkan uang untuk membeli kekerasan padang pasir!

Jika engkau berniat hendak melakukan ibadah haji sekali lagi,
Berbuatlah seperti yang telah kuajarkan ini!