Aura Pesta Arema Indonesia


Hari ini, Aremania dengan ratusan bus dan 12 gerbong KA Matarmaja ke Jakarta untuk menyaksikan laga Persija melawan Arema di Stadion Gelora Bung Karno, Minggu (30/5).

ANTARA News memberitakan bahwa keberangkatan ribuan Aremania ke Jakarta dari Stasiun Kotabaru untuk memberikan dukungan langsung pada tim kesayangannya menghadapi tuan rumah Persija ditertibkan oleh aparat kepolisian.

Humas Arema Batavia yang berangkat melalui jalur Kereta APi (KA) Achmad Ghozali, Sabtu, mengakui, kondisi itu berbeda dengan rombongan Aremania yang berangkat lebih dulu.

“Sweeping yang dilakukan aparat kepolisian ini sebatas pada barang bawaan suporter, seperti miras, senjata tajam, bahan peledak, pilox serta beberapa jenis barang terlarang yang bisa merugikan diri sendiri maupun rombongan,” katanya.

Aremania yang berangkat pada Sabtu dengan KA Matarmaja melalui Stasiun Kotabaru harus tiba lebih awal dari jam pemberangkatan sekitar pukul 15.00 WIB.

Selain akan dilakukan “sweeping” dari kepolisian, juga dilakukan registrasi ulang dan pembagian ID card pada peserta (rombongan).

“Disamping `sweeping` di stasiun pemberangkatan (Kotabaru), setelah tiba di Stasiun Senen (Jakarta) juga akan dilakukan `sweeping` ulang oleh aparat setempat,” katanya.

Berdasarkan data dari panitia “Tour Batavia”, ribuan Aremania yang berangkat dengan KA Matarmaja Sabtu (29/5) sebanyak 12 gerbong dan 114 bus yang diberangkatkan dari tiga titik, yakni Jalan Soekarno Hatta, Lapangan Rampal, dan Lawang.

Sementara “Media Officer” Arema Indonesia Sudarmaji meminta agar ribuan Aremania yang berangkat ke Jakarta selalu menjaga sikap, baik selama dalam perjalanan berangkat, ketika berada di Jakarta hingga pulang kembali ke Malang.

Dari Rock ke Aremania


Di era tahun 70-an kota Malang identik dengan Musik Rock. KOMPAS mengatakan bahwa rock menjadi ikon kota Malang. Grup Band Rock kalau belum pernah main di Malang, belum diakui sebagai grup band yang disegani.

The Rollies, Giant Step, God Bless, untuk menyebut beberapa nama, memerlukan tampil di Malang, agar namanya bisa disegani di blantika musik Indonesia.

Namun kini, sejak tahun 90-an, ikon itu telah berubah menjadi Aremania. Dikatakan oleh KOMPAS bahwa: Komunitas pendukung klub sepak bola Arema Malang ini seolah lahir begitu saja pada tahun 1990-an seiring perkembangan klub swasta Arema Malang. ”Tidak ada yang membentuk Aremania karena komunitas ini terbentuk dengan sendirinya. Siapa pun yang mencintai Aremania boleh ikut meski bukan orang Malang,” kata Yuli Sumpil, dirigen Aremania.

Sampai sekarang, komunitas ini dibiarkan cair, tanpa struktur, ketua, apalagi pembina. Maksudnya agar Aremania tidak tersusupi kepentingan tertentu. Aremania tidak ingin seperti komunitas suporter sepak bola di kota lain yang menjelang pemilu bisa diubah menjadi mesin politik. Hanya dengan mempertahankan karakternya yang cair itu, lanjut Yuli, Aremania bisa berkembang dan melekat di hati Arek Malang.

Mengapa Aremania mudah diterima di hati Arek Malang? Cerpenis Ratna Indraswari Ibrahim mengatakan, karakter Aremania sesungguhnya mewakili sifat Arek Malang yang egaliter, guyub, kuat rasa persaudaraannya, dan terus terang. Karena itu, Arek Malang dengan senang hati mengidentifikasi dirinya sebagai Aremania.

Komunitas ini juga masih mempertahankan tradisi untuk berbicara dengan bahasa walikan yang kata-katanya dieja dari belakang. Mas menjadi sam, singo edan menjadi ongis nade, saya menjadi ayas, arek malang menjadi kera ngalam. Cuma kata kodok yang tak mungkin dibolak-balik karena hasilnya tetap kodok juga.

Demi PSSI: Kelompok Suporter Beraksi


copot_nh.jpgSelasa kemarin aksi Misi Suci Aremania di Jakarta! menjadi headline di Halaman Olahraga Koran KOMPAS. terbitan hari ini, Rabu, 26 Maret 2008.

Kelompok suporter sepak bola di Indonesia mendesak agar Nurdin Halid segera dicopot dari jabatannya sebagai Ketua Umum PSSI. Tak hanya Nurdin, suporter juga mendesak kepengurusan PSSI saat ini secepatnya dirombak total.

Desakan itu disampaikan kelompok suporter yang terdiri dari Aremania (suporter Arema), Jakmania (Persija), Benteng Viola (Persita), Pasoepati (Persis Solo), dan Slemania (PSS Sleman), dalam unjuk rasa di sejumlah tempat di Jakarta, Selasa (25/3). Mereka di antaranya melakukan aksi di kawasan Monumen Nasional (Monas), Kantor Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga, serta terakhir di kantor pusat PSSI, Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan.

Sekitar 100 pengunjuk rasa meneriakkan yel-yel yang isinya mengecam Nurdin Halid dan para kroninya, serta pengurus PSSI lainnya. Para suporter yang tergabung dalam Kelompok Pencinta Bola Indonesia itu menyampaikan sejumlah tuntutan yang intinya adalah revolusi PSSI untuk menyelamatkan persepakbolaan Indonesia.

Mudah-mudahan misi suci ini akan membawa hasil yang maksimal, agar dunia persepakbolaan nasional segera bisa dibenahi dan bisa ‘berbicara’ di kancah regional dan kalau bisa di level internasional. Tidak hanya ramai dan sibuk di kalangan pengurusnya saja. Sementara yang seharusnya diurusi menjadi kapiran…….

Wong Malang Nonton Bola Pakai Batik……


aremania-1.jpgAkibat membikin kerusuhan saat laga Arema vs Persiwa beberapa waktu yang lalu, atribut Arema dilarang dibawa masuk ke dalam stadion dalam kurun waktu 3 tahun. Meskipun atribut dilarang dipakai dalam stadion, nampaknya Ahmad Ghozali Aremania Korwil Klayatan, mempunyai ide yang unik, simpatik dan menerbitkan senyum di kulum. Dalam Harian Jawa Pos hari ini, Ahmad Ghozali menyiapkan beberapa atribut sebagai pengganti atribut Aremania, yaitu pakaian batik atau baju taqwa.

Suatu ide yang patut untuk dipertimbangkan. Bisa-bisa fenomenan ini dapat dicatat daslam rekor MURI dan bahkan Guinest Books of Records. Bagaimana tidak, apa pernah ada penonton pertandingan sepakbola pakai baju batik atau baju taqwa?

Selain itu, muncul alternatif nama suporternya: Wong Malang. Menurut Slamet Syamsul Karim, koordinator tur ke Sidoarjo, nama itu diambil untuk menyebut warga Malang yang mencintai Arema dan siap datang ke Sidoarjo.

Sebagai wong Malang saya berharap Arema bisa tampoil bagus. Tanpa beban, seperti saat laga lanjutan, yang nampak bermain dalam kondisi tertekan. Walau banyak peluang, namun tak bisa mencetak gol lebih dari satu.

Sore ini, saat laga melawan Sriwijaya mudah-mudahan Arema dapat memetik kemenangan.

Salam 1 Jiwa

Ini salam khas Aremania.

Apa ini juga termasuk atribut Aremania

yang diharamkan masuk stadion

di seluruh Indonesia?

Bubarkan Badan Wasit Sepakbola Indonesia!


Ada pepatah kuno bilang: sekali lancung ke ujian, seumur hidup orang tak kan percaya.
Kemarin, saat Arema laga lawan Persiwa, Wasit tak hanya lancung sekali. Tapi berkali-kali. Aremania awalnya masih percaya.
gawang-terbakar-amarah-aremania.jpgBetapa tidak. Gol Patricio Morales (menit 10) dianulir wasit Jajat Sudrajat (Bandung), karena dianggap hands-ball. Bolehlah, gumam Aremania, mungkin saja. Lalu pada menit ke-36 kembali gol Patricio dianulir wasit dengan alasan off-side. Ada satu Aremania mulai naiki pitam. Hakim Garis pun terkapar pingsan dipukulnya. Puncaknya, saat goal Emile Mbamba, menit 51, juga dianggap off-side. (Sementara komentator ANTEVE bilang (sebetulnya) tidak off-side.

Maka kesabaran sudah habis nampaknya. Mereka tidak saja terbakar amarah. Tapi ada seorang Aremania membakar kain di atas jaring gawang. Prosesnya dilakukan dengan tenang, tanpa ada halangan yang berarti dari aparat keamanan.

Jadinya  pas menit ke-71 berhenti sudah itu pertandingan.

Ketua BWSI (Badan Wasit Sepakbola Indonesia) IGK Manila menganggap wasit sudah baik. “Saya pikir kepemimpinan wasit sudah cukup baik. Tapi, emosi penonton yang tak terkontrol akhirnya membuat situasi kacau.”

Menurut akibat kepemimpinan wasitlah yang membuat pertandingan yang sebetulnya menarik itu menjadi kacau.

Efeknya, pertandingan akhirnya ditunda. Bagi Suporter Aremania, terhitung sejak Rabu kemarin, menurut Hinca Panjaitan, Ketua Komisi Disiplin PSSI, mengharamkan Aremania masuk ke seluruh stadion yang ada di Indonesia. (Tak jelas, apa kriteria dan batasannya. Apakah hanya atributnya yang dilarang, atau akan ada razia KTP?

Saya, waktu itu nonton (bersama-sama pem-bezoek yang lain, di lingkungan Rumah Sakit Syaiful Anwar Malang, karena sedang menunggu Ibu saya yang opname di sana). Yang menonton tak semuanya warga Arema. Apalagi Aremania. Mereka berasal dari Tulungagung, Blitar, Pasuruan, dan masih banyak lagi.

Melihat pertandingan kemarin, hampir semua menghujat Jajat Sudrajat, sang wasit. Khususnya saat gol yang di-heading oleh Emile Mbamba.

Bubarkan saja Badan Wasit Sepakbola Indonesia ❗ Begitu mereka secara serempak berteriak.
Aremania juga manusia. Manusia ada batas kesabarannya. Cacing saja akan menggeliat bila diinjak. Lha, ini Singo Edan dizalimi di depan mata. Adalah pengkhianat namanya manakala kemarin malam warga Arema (apalagi Aremania) mengutuk perbuatan segelintir orang itu.

Last, but not least, mari kita kibarkan bendera setengah tiang untuk Aremania selamam 3 tahun.

Catatan Tambahan : Bahkan, saat saya lihat laga Persija vs Persik, para pemain pada berantem. Muaranya : W A S I T ❗ Karena dianggap waktu masih ada, wasit nyemprit bubar.