Ayin & SBY: Black Campaign?


Beredarnya foto Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bersama terdakwa Artalyta Suryani alias Ayin saat pernikahan putra Ayin dianggap Partai Demokrat sebagai upaya black campaign. Tujuan black campaign sudah jelas itu menjatuhkan citra Partai Demokrat dan menjelekkan nama baik Presiden Yudhoyono menjelang Pemilu 2009.

“Foto-foto itu hanyalah black campaign dari orang-orang yang mencari sesuatu dengan cara seperti itu. Cara berpolitik yang tidak etis,” kata Ketua Fraksi Partai Demokrat (F-PD) Syarief Hasan di gedung DPR, Jakarta, Kamis ( 21/8 ) sore.

Sejak tanggal 18 Agustus 2008 lalu, foto Kepala Negara dengan Artalyta beredar di sejumlah milis dan forum. Dua foto yang beredar itu menggambarkan Presiden Yudhoyono sedang berada dalam resepsi pernikahan keluarga Artalyta. Foto pertama memperlihatkan Presiden sedang menyalami Artalyta, sedangkan foto kedua saat berpose dengan pengantin.

Saya yakin, diedarkan apa tidak, Ayin memang sudah berada di mana-mana. Jadi saya pikir ini bukan merupakan black campaign. Hanya merupakan penegasan bahwa Ayin itu memang Wonder Woman.

1 Di Antara 2 Jaksa Itu Penghuni Neraka


Ketika saya kuliah dulu, pak Dosen pernah bilang bahwa 1 di antara 2 Jaksa itu menjadi penghuni neraka. Begitu katanya. Pada waktu itu, memang saya masih belum paham betul soal sepak terjang para Jaksa di negeri ini. Baru setelah kami mencoba berpraktek di Pengadilan, ternyata omongan Pak Dosen tak 100% salah. Dan mendengar dialog mesra Ayin dengan pak Urip pernyataan Pak Dosen ternyata 1000% akurat.

Demikian sebagian kutipan dialog Ayin dengan Jaksa Agung Muda Perdata dan Tata Usaha Negara (Jamdatun), Untung Udji Santoso itu:

Gimana, Yin.”
”Itu, si Urip. Tapi ini aku sudah pakai nomor telepon lain ini, aman. Ketangkep KPK di rumah.”
”Di mana ketangkep?”
”Kan, mau eksekusi itu kan….”
”Eksekusi apa?”
”Ya, biasa. Tanda terima kasih itu.”
”Terima kasih apa? Perkara apa?”
”Enggak ada sebenarnya? Enggak ada perkara apa-apa. Cuma dia kan baru terima dari Urip… Urip kita. Sekarang telepon dulu Antasari, deh. Bagaimana cara ngamaninnya itu.”
”Sebentar saya telepon dulu si Fery.”
”Fery sudah aku suruh Djoko.”

Kalau Ayin dengan Kemas bisa download di sini atau di sana.

Artalyta tak menyangkal itu suaranya.

Di mata pengacara senior yang juga mantan staf ahli Jaksa Agung Abdul Rahman Saleh, Kamal Firdaus, isi rekaman yang disadap Komisi terang-benderang menunjukkan dekatnya Ayin dengan para petinggi kejaksaan. ”Yang satu dipanggil Mas, yang satu dipanggil Bang, betapa mesranya,” ujarnya. Rekaman itu, menurut Kamal, membuktikan kecurigaannya sejak awal. Yakni, Urip tidak ”bermain” sendiri. ”Presiden harus memerintahkan Jaksa Agung menindaklanjuti segala sesuatu di balik dialog itu,” ujarnya.

Kepada sumber yang menengoknya sebulan lalu, Urip menyatakan tuduhan menerima suap terhadap dirinya tidak kuat. ”Kalaupun ada rekaman telepon, itu bukan alat bukti,” kata sumber itu menirukan argumentasi Urip. Di depan kawannya, Urip tetap menyatakan uang itu ia pinjam dari Artalyta untuk bisnis permata. Dan tidak terkait dengan keputusan kejaksaan yang menghentikan penyelidikan terhadap kasus Bantuan Likuiditas Sjamsul.

Soal rekaman suara bukan sebagai alat bukti dibenarkan pakar hukum pidana dari Universitas Indonesia, Indrianto Senoadji. Menurut Indrianto, rekaman hanya bisa dipakai sebagai petunjuk. ”Karena bisa direkayasa dengan kemajuan teknologi,” ujarnya. ”Jadi, harus dibenarkan dengan alat bukti tertulis atau ahli.” *)

Ayin — sebutan akrab Artalyta, memang si Ratu loby. Siapa yang tak bertekuk lutut padanya. Tentu saja untuk menekuk lutut mereka, Ayin perlu ‘Surat Perintah dari Jenderal Sudirman’ yang bergebok-gebok.

_________________________________________

*) Sumber: MBM TEMPO Online, Edisi 17/XXXVII/16 – 22 Juni 2008

Baca juga:

  1. Penegak Hukum “Dagang Perkara”
  2. Hukum sebagai Alat Kejahatan
  3. Artalyta Gemar Memberi Bantuan Modal Bisnis

Selamat Pagi, Korupsi……


kemasyahya_japos.jpgTepat 17 hari sejak menghentikan penyelidikan kasus BLBI Sjamsul Nursalim, Kemas Yahya harus merelakan jabatannya. Padahal, jauh-jauh hari sebelumnya, Kemas dikenal punya semangat luar biasa untuk menyelesaikan tunggakan kasus-kasus korupsi di Gedung Bundar, demikian antara lain berita Jawa Pos Online, 18 Maret 2008 yang memberitakan tentang Imbas Kasus Suap Jaksa Urip. Jaksa Agung Hendarman Supandji melakukan bersih-bersih di Gedung Bundar. Seluruh pejabat di gedung yang menjadi pusat pengusutan korupsi itu dicopot. Mulai Jaksa Agung Muda Pidana Khusus (JAM Pidsus) Kemas Yahya Rahman yang sejak kemarin harus meninggalkan jabatannya, Direktur Penyidikan M. Salim, hingga seluruh pejabat di bawahnya.

Masih segar dalam ingatan para wartawan peliput di kejaksaan saat Kemas Yahya mengucapkan “selamat pagi” untuk melecut semangat kinerja anak buahnya. Ucapan “milik” motivator Andry Wongso itu pernah menjadi ciri khas jaksa senior tersebut.

Jargon “selamat pagi” juga dipinjam Kemas Yahya saat menyampaikan hasil penyelidikan kasus BLBI bersamaan dengan evaluasi kejaksaan 2007 pada 2 Januari lalu. Kemas yang ketika itu duduk berdampingan dengan Wakil Jaksa Agung Muchtar Arifin dan para jaksa agung muda (JAM) Kejagung, terlihat mengepalkan tangan sambil berteriak, “Selamat pagi!”. Tanpa dikomando, puluhan anak buahnya pun menjawab lantang, “Selamat pagi juga!” Anak buahnya itu tak lain anggota tim jaksa 35 yang sebagian dikoordinasikan Urip.

Kemas pun melanjutkan, “korupsi!” yang kemudian disahuti anak buahnya dengan, “No…no…no.” “Pemberantasan korupsi!” Kemas kembali berteriak. ” Yes…yes…!” balas anak buahnya.

Kala itu, Kemas mengakui, ucapan selamat pagi merupakan cambuk agar anak buahnya tidak loyo. Tak peduli siang, petang, bahkan malam, Kemas selalu mengawali pertemuan dengan anak buahnya dengan ucapan, “Selamat pagi!” Ini dipraktikkan sejak Kemas Yahya menduduki jabatan JAM Pidsus mulai 24 Juli 2007.

Sekarang, pak Kemas tak lagi bisa bersalam “Selamat Pagi” kepada anak buahnya. Karena ia bakal menginap di hotel pordeo, bersama dengan para napi yang mungkin saja dulu pernah dijebloskan ke penjara oleh pak Kemas.

Pasti mereka kini siap-siap menyambut dan menyapa Pak Kemas :

Selamat Pagi, Korupsi!