Menunggu Jakarta Tenggelam


istana_merdeka.jpgSehari setelah saya menulis Pindahkan Ibu Kota RI ke Malang Saja, Harian SURYA, hari Minggu, 3 Februari 2008 menurunkan tulisan berjudul : Jakarta Tak Layak (jadi) Ibukota. Entah karena terinspirasi oleh tulisan saya (HA: GR AMAT) entah tidak, bukan soal. Lebih jauh ditulis harian ini sebagai berikut:

Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo, jelas langsung menolak ide itu. Foke (panggilan Fauzi Bowo) mengatakan keruwetan yang menimpa Jakarta sebetulnya bisa diatasi dengan keterlibatan aktif masyarakat dan juga kesadaran tata kelola pemerintahan yang baik dari aparat Pemprov DKI…………

Di tempat terpisah, sebelumnya mantan Gubernur DKI, Jakarta Sutiyoso juga menolak ide pemindahan ibukota. “Pemindahan ibukota memakan biaya yang mahal, seharusnya penyelesaian masalah Jakarta melibatkan semua pihak sehingga komprehensif,” kata Sutiyoso.

Sebetulnya, memasuki dasawarsa 1990an, ramai didengungkan dan direncanakan pemindahan ibukota negara dari Jakarta ke Jonggol di Jawa Barat. Namun hingga akhir masa pemerintahan Presiden Soeharto hingga saat ini, rencana pemindahan ibukota ke Jonggol itu hanyalah rencana.

Jauh sebelum masa Orde Baru, saat Presiden Soekarno, sekitar dekade 1960an, juga diwacanakan pemindahan ibukota negara ke Palangkaraya Kalimantan Tengah. Namun juga tidak pernah terwujud hingga saat ini.

Penetapan ibukota pemerintahan di luar Jakarta juga pernah direncanakan oleh pemerintah Hindia Belanda sebelum masa pendudukan Jepang. Saat itu Bandung disiapkan untuk menjadi pusat pemerintahan, yang ditandai dengan pemindahan pusat kemiliteran ke Cimahi.Satu-satunya peristiwa pemindahan pusat pemerintahan yang pernah terjadi adalah saat pemerintahan Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels pada 1808-1811. Ia menghancurkan kastil Batavia, dinding tembok Batavia dan beberapa bangunan lainnya di kawasan tersebut. Pemerintahan kemudian dipindahkan ke kawasan yang saat ini kita kenal di seputar Lapangan Banteng dan Lapangan Monas……..

Jakarta Tenggelam - BBC

Mungkin, bila Jakarta sudah betul-betul tenggelam, maka rencana pemindahan itu niscaya akan terwujud. Ke mana? Jonggol, Palangkaraya atau ke Malang? Silakan pilih, atau buat pilihan lain…

Pindahkan Ibu Kota RI ke Malang Saja


Sepanjang perjalanan sejarah pemerintahan di dunia, baru kali ini ada kejadian sebuah Istana Negara kebanjiran. Itulah Jakarta, Ibukota Negara Republik Indonesia. Banjir kali ini, seperti pada tahun 2002 dan tahun 2007, sama-sama di awal bulan Februari, betul-betul menjadikan Jakarta sebagai danau tanpa tepi.

Perlu ada pemikiran agar Ibukota dipindahkan saja dari Jakarta. Ke Bogor misalnya. Atau kalau boleh usul, bagaimana kalau ke Malang saja?

Masak Ibukota kebanjiran. Rasanya kok tidak pantas “wajah” sebuah Negara menjadi danau tak bertepi.

sby-kebanjiran.jpgDi halaman depan Jawa Pos misalnya, dalam sebuah foto tampak pak SBY harus berpindah mobil lantaran mobilnya terjebak banjir, saat menuju ke Istana Merdeka. Sementara Instana Merdeka sendiri juga dikepung banjir dalam ketinggian 50 cm.

Lebih jauh ditulis koran ini : Di etalase Jakarta itu, terjadi kemacetan total. Bahkan, rombongan Presiden SBY yang akan menuju Istana Merdeka terjebak di jalan utama tersebut. Presiden terpaksa berganti mobil saat tiba.
Genangan air juga mengepung istana. Di Jalan Merdeka Utara, lokasi Istana Merdeka itu, ketinggian air mencapai 50 cm. Sebagian air tersebut berasal dari air yang dipompa dari dalam istana. Akibat angin kencang, pohon tanjung di halaman Istana Negara tumbang.

Akses menuju Istana Wapres juga banjir. Ketinggian air di Jalan Merdeka Selatan mencapai 50 cm. Di jalan tersebut, selain Istana Wapres, ada balai kota dan Kedubes AS. 

Lemah, Koordinasi Atasi Banjir


Jawa Pos Online, Selasa, 01 Jan 2008

1199128031b.jpgRakyat Minta Bantuan, Bupati Suruh Ambil Sendiri

BOJONEGORO – Warga Kota Bojonegoro benar-benar melewati malam pergantian tahun dalam suasana prihatin. Kontras dari kota lain yang ingar-bingar menyambut Tahun Baru, ibu kota daerah kaya minyak itu tadi malam gelap gulita karena listrik masih padam.

Radar Bojonegoro (Grup Jawa Pos) melaporkan, meski surut sekitar 15-20 cm, banjir masih menggenang setinggi dada orang dewasa. Yang lebih parah, bantuan belum terbagi optimal karena lemahnya koordinasi pemerintah daerah dengan tim Badan SAR Nasional (Basarnas).

Kepala Basarnas (Kabasarnas) Laksda TNI Bambang Karnoyudho mengungkapkan, tim Basarnas sulit mendistribusikan bantuan secara tepat karena tidak paham betul daerah mana yang memang masyarakatnya membutuhkan bantuan. “Akhirnya, siapa yang minta bantuan, ya kami kasih, walaupun kami tidak tahu mereka layak atau tidak,” jelasnya kemarin (31/12).

Dia mengungkapkan, upaya pemulihan pascabencana sebenarnya menjadi tugas pemkab dan muspida setempat. Namun, sampai hari ketiga bencana banjir kemarin, pemkab dan muspida masih sulit diajak berkoordinasi. Bahkan, saat diundang rapat koordinasi penanganan bencana pada Minggu (30/12) malam, tidak ada seorang pun dari pemkab yang hadir. “Masak yang hadir cuma Satpol PP. Lha bupati dan pejabat lainnya tidak hadir,” ujarnya.

Karnoyudho juga mengeluhkan kurangnya koordinasi antara aparat keamanan dengan Basarnas. Akibatnya, dia sempat ragu memarkir helikopternya di Alun-Alun Kota Bojonegoro. “Masak tidak ada petugas keamanan sama sekali,” katanya.

Bukan hanya Kabasarnas yang mengeluhkan lemahnya koordinasi bantuan, warga korban banjir juga merasa pemberian bantuan sangat lambat.

Keluhan itu bahkan muncul dari korban banjir yang hanya berjarak 1-2 km dari posko satkorlak kabupaten di alun-alun kota. “Baru pukul 10 tadi (kemarin) kami dikirimi bungkusan nasi,” ungkap Sumirah, warga Ledok Wetan, yang mengungsi di depan kantor PMI Bojonegoro kemarin.

Kondisi Sumirah itu juga dialami warga banjir di sekitar satkorlak serta pendapa kabupaten seperti di Jalan Hasyim Asyari, Panglima Sudirman, Hasanuddin, Mastrip, dan M.H. Thamrin. Rata-rata mereka mengeluhkan tidak kunjung datangnya bantuan makanan matang serta obat-obatan. Padahal, mereka sangat dekat dengan posko bantuan bencana.

Begitu antara lain isi berita ini. Dan memang di mana-mana yang namanya koordinasi selalu saja banyak terkendala, dengan berbagai alasan pembenar.

Mungkin ada baiknya dipikirkan, bagaimana kalau dibentuk Menteri Manajemen Bencana. Karena tanah nusantara ini memang gudangnya bencana. Ya gunungnya, ya sungainya, ya lautnya.

Air: Antara Berkah dan Musibah


Great Wave of Kanagawa

Air adalah suatu zat kimia yang penting bagi semua bentuk kehidupan yang diketahui sampai saat ini di bumi [1] [2] [3], tetapi tidak di planet lain [4]. Air menutupi hampir 71% permukaan bumi. Terdapat 1,4 triliun kilometer kubik (330 juta mil³) [5] tersedia di bumi. Air sebagian besar terdapat di laut (air asin) dan pada lapisan-lapisan es (di kutub dan puncak-puncak gunung), akan tetapi juga dapat hadir sebagai awan, hujan, sungai, muka air tawar, danau, uap air, dan lautan es. Air dalam obyek-obyek tersebut bergerak mengikuti suatu siklus air, yaitu: melalui penguapan, hujan, dan aliran air di atas permukaan tanah (runoff, meliputi mata air, sungai, muara) menuju laut. Air bersih penting bagi kehidupan manusia. Di banyak tempat di dunia terjadi kekurangan persediaan air. Selain di bumi, sejumlah besar air juga diperkirakan terdapat pada kutub utara dan selatan planet Mars, serta pada bulan-bulan Europa dan Enceladus. Air dapat berwujud padatan (es), cairan (air) dan gas (uap air). Air merupakan satu-satunya zat yang secara alami terdapat di permukaan bumi dalam ketiga wujudnya tersebut [6]. Pengaturan air yang kurang baik dapat menyebakan kekurangan air, monopolisasi serta privatisasi dan bahkan menyulut konflik [7]. *)

Belakangan ini air ternyata bukan lagi merupakan berkah. Ia menjadi musibah yang terjadi di banyak tempat di Indonesia. Ini fenomena apa? Ujian atau adzab? Cobaan atau laknat?

Mudah-mudahan di ujung tahun 2007 ini, kesemuanya ini menjadi pelajaran yang berharga.

_____________________

*) Sumber: Wikipedia di http://id.wikipedia.org/wiki/Air