4 Emas Bakal Didapat dari Badminton?


Kido/Hendra, ganda putra nomor satu dunia itu, menekuk musuh besar mereka dari Malaysia yang tak pernah mereka kalahkan dalam empat pertemuan level superseries, Koo Kien Keat/Tan Boon Heong, 21-16, 21-18, pada laga di Beijing University of Technology Gymnasium.

Pada semifinal, Jumat, Kido/ Hendro melawan ganda Denmark, Lars Paaske/Jonas Rasmussen, yang pada Rabu menaklukkan ganda Polandia, Michal Logosz/Robert Mateusiak, 17-21, 21-11, 21-15. Meski lolos ke semifinal dan belum memastikan tambahan perolehan medali, Kido/Hendra menjaga peluang mempertahankan tradisi meraih emas yang selalu disumbangkan ganda putra sejak Olimpiade Barcelona 1992.

Pada tunggal putri, Maria Kristin Yulianti melaju ke semifinal dengan memukul pemain muda India, Saina Nehwal, 26-28, 21-14, 21-15. Pada semifinal Maria — satu-satunya pemain non-unggulan dan pemain non-China di empat besar — melawan juara bertahan asal China, Zhang Ning, yang memukul tunggal Perancis, Pi Hongyan, 21-8, 19-21, 21-19. (Kompas)

Sementara ganda campuran Indonesia, Flandy Limpele/Vita Marissa, menyusul ganda campuran lainnya, Nova Widianto/Liliyana Natsir ke babak semifinal olimpiade Beijing 2008, Kamis (14/8). Di babak perempat final, Kamis malam, Flandy/Vita menang atas ganda campuran Denmark, Kamilla Rytter Juhl/Thomas Laybourn dalam pertarungan rubber-game 21-17 15-21 21-17.

Di babak semifinal, Sabtu pagi, Flandy/Vita akan menghadapi ganda campuran Korea Selatan Lee Hyo-Jung/Lee Yong-dae. Sementara di semifinal lainnya, Nova/Butet akan menghadapi unggulan ke 4 dari China, He Hanbin/Yu Yang.

Kesuksesan Flandy/Vita dan Nova/Lilyana menembus semifinal memastikan Indonesia minimal meraih satu perunggu dari cabang bulutangkis di Olimpiade Beijing 2008. Skenario itu terjadi bila mereka sama-sama gagal di semifinal sehingga akan bertemu di partai perebutan perunggu.

Bukan hanya perunggu, semoga 4 emas yang bisa diraih oleh mereka. Kita doakan dari jauh.

Medali Pertama Indonesia dari Angkat Besi


Indonesia akhirnya mendapatkan medali pertamanya pada Olimpiade Beijing 2008, meski masih medali perunggu. Lifter Eko Yuli Irawan, yang turun di kelas 56 kg cabang angkat besi, Minggu (10/8),  berhasil  meraih medali perunggu di Beijing University of Aeronautics & Astronautics Gymnasium.

Seperti dikutip dari situs resmi olimpiade Beijing, lifter asal Lampung itu, menempati peringkat ketiga kelas 56 kg dengan total angkatan 288 kg dari Snatch (130 kg) dan Clean and Jerk (158).  Angkatan total Eko hanya terpaut 4 kg dengan peraih medali emas, Qingquan Long lifter asal China yang total angkatannya mencapai 292 kg. Sementara medali perak direbut lifter Vietnam Hoang Anh Tuan dengan total angkatan 290 kg. (Kompas.com)

Dan secara kebetulan logo Google berubah lagi (seperti menghormati Eko) menjadi begini :


Selamat untuk Eko Yuli Irawan.

Menjelang Api Olimpiade Tiba…….


Apa yang sebaiknya dilakukan di Indonesia saat api Olimpiade Beijing mampir di Jakarta pada 22 April nanti? Tanya Dahlan Iskan, ketika ia masih di Beijing yang setiap hari mengikuti siaran televisi.

Menurut Dahlan Iskan, Kedatangan api olimpiade di setiap negara ternyata disiarkan secara nasional di Tiongkok berjam-jam lamanya. Bahkan, dua hari sebelum kedatangan api itu di suatu tempat, televisi Olimpiade Tiongkok (dulu CCTV 5) sudah menyiarkan persiapan-persiapan yang dilakukan negara yang akan disinggahi.

Ini tentu kesempatan besar bagi sebuah negara untuk promosi gratis besar-besaran di Tiongkok. Siaran TV Olimpiade Beijing di waktu pagi adalah acara yang paling disimak di sana. Maklum, berita politik di sebuah negara dengan sistem politik sosialis tidak akan menarik perhatian luas. Acara-acara menarik lainnya, umumnya seperti American Idol dengan segala variasinya, baru disiarkan malam hari.

Maka siaran Olimpiade Beijing dalam bahasa Mandarin itu merupakan kesempatan luar biasa untuk negara seperti Indonesia bila ingin mendapatkan liputan yang luas di Tiongkok. Tentu negara seperti Amerika dan Eropa tidak seberapa memerlukan Tiongkok. Namun, negara yang baru saja terkena krisis seperti Indonesia sangat memerlukan kemajuan Tiongkok untuk kepentingan Indonesia. Setidaknya di bidang pariwisata.

Karena pemerintah lagi menggalakkan Visit Indonesia 2008, kedatangan api olimpiade ini, kalau bisa dimanfaatkan secara baik, akan menjadi acara yang paling menarik sepanjang tahun.

Juga akan menjadi program paling berhasil dibanding program-program visit Indonesia Year 2008 lainnya.

Sayangnya, penanggung jawab kedatangan api olimpiade bukan kementerian pariwisata, melainkan kementerian olahraga. Maka, saya ragu kalau momentum ini bisa dimanfaatkan secara maksimal untuk kepentingan Indonesia sendiri. Tapi, karena atasan kedua menteri itu sama, apa salahnya kalau diadakan koordinasi yang intens agar momentum itu bisa sepenuhnya dimanfaatkan untuk kepentingan nasional.

Memang akan muncul kepentingan kelompok yang bisa saja mengalahkan kepentingan nasional. Misalnya, kelompok Menpora yang bisa saja memanfaatkan untuk pemuasan ego sektoralnya. Ada pula kelompok anti-Tiongkok yang akan memanfaatkannya dengan cara menunggangi masalah Tibet.

Tapi, kepentingan nasional mestinya masih yang paling penting. Karena di sekitar tanggal itu saya masih akan di Tiongkok, saya akan melihat dan mengevaluasi apakah kedatangan api olimpiade di Jakarta nanti menimbulkan citra yang baik bagi Indonesia di mata rakyat Tiongkok atau tidak. Kalau saja kedatangan api itu bisa menimbulkan citra aman, meriah, menarik, dan berbeda dengan di negara-negara lain, siapa tahu target kedatangan wisatawan asing ke Indonesia dengan mudah bisa didapat.

Saya melihat liputan kedatangan api olimpiade kini sangat emosional, dan jam tayangnya lama sekali, dan diulang-ulang, dan banyak variasinya. Kapan lagi Indonesia bisa masuk TV di luar negeri begitu panjang dengan citra yang baik. Bukan lagi masuk TV kalau ada tsunami, gempa bumi, meledaknya bom teroris, atau pembunuhan antarkelompok agama. Kinilah saatnya Indonesia mendapatkan panggung internasional yang besar sekali: Inilah Indonesia. Negara yang ketika api itu datang ke Jakarta masyarakatnya tampak sangat aman, ramah, penuh keceriaan, dan kreatif dalam membuat acara serta alamnya yang indah.

Saya khawatir jangan-jangan yang muncul di TV kelak hanya wajah menteri yang biasanya sangat formal itu, atau demo-demo kelompok kepentingan atau citra Jakarta yang banjir dan tidak tertib. Di Beijing, saya sungguh harap-harap cemas citra apa yang akan muncul di siaran televisi kelak.

Di antara acara kedatangan api olimpiade di sebuah negara, yang paling menarik adalah ketika api itu datang di Afrika Selatan yang disiarkan Senin pagi kemarin, hampir satu jam. Atraksinya sangat menarik. Namun, karena Afrika Selatan amat jauh dari Tiongkok, rasanya tidak secara otomatis orang Tiongkok ingin berwisata ke sana. Ini berbeda dengan posisi Indonesia yang amat dekat dan alam serta budayanya yang sangat menarik. Kekurangan kita selama ini, seperti banyak dikeluhkan orang, adalah promosi! Sekarang ada kesempatan promosi yang luar biasa besarnya.

Saya sungguh ingin tahu, sudah mulai cerdas atau belum pemerintah kita memanfaatkan momentum seperti ini. Kita semua akan jadi saksinya.

Dahlan nampaknya berharap-harap cemas soal persiapan Indonesia dalam memanfaatkan moment yang jarang terjadi ini.