Blogger: Hanyalah Produsen Sampah!


0-malu.jpgMembaca beberapa opini yang beredar hari ini soal sinyalemen Roy Suryo (Pakar Telematika) dan Ahmad Dhani (pentolan Grup Dewa 19) membuat saya mengelus dada.

Roy, yang karena namanya dicatut blogger, entah dicatut masalah apa, menyatakan bahwa blogger (Indonesia) cuma produsen sampah belaka dan penipu. Jadi jangan peduli.

Kalau memang benar demikian adanya, ini artinya apa yang keluar dari otak Juwono Sudarsono, Putu Wijaya, Wimar Witoelar, Goenawan Mohammad, Yusril Ihza Mahendra, Hermawan Kartajaya, Dian Sastro, Agung Firdaus, A. Fatih Syahud, Budi Raharjo, Alix Wijaya, Djunaedi RD, dan masih banyak lagi, adalah sampah belaka.

Lain lagi pernyataan Ahmad Dhani, yang bilang blooger adalah orang-orang yang kurang kerjaan dan bodoh. Entah apa arti nggak punya kerjaan di benak Ahmad Dhani.

Marah? Jengkel? Tidak! Apa untungnya bila saya marah? Justru saya menyarankan kepada para penghuni blogosphere agar berkenan memaafkan mereka. Mereka juga manusia. Pasti lontaran dari ucapan itu penuh dengan muatan emosi. Siapa tahu, mereka lagi sumpek dengan masalah mereka. Lebih-lebih dengan Ahmad Dhani yang lagi perang dengan Maia Estianti.

Dengan melontarkan pernyataan semacam itu, siapa tahu bisa meredakan gejolak yang ada dalam dada mereka.

Bagi saya, segoblog-goblognya seorang blogger, mereka pasti bisa baca tulis, ngerti operasi komputer dan internet. Bisa membikin blog (untuk ukuran Indonesia) sudah boleh dibilang bagus. Dari sekian juta Warga Negara Indonesia yang menenggelamkan dirinya dalam ber-BLOGGER-ria pasti ada MUTIARA di antara tumpukan SAMPAH, kalau kita mau berbaik sangka. Kalau mereka mau sedikit meluangkan waktu, niscaya akan ditemukan itu MUTIARA.

Memang tak semuanya patut diperhatikan. Namun jangan “digebyah uyah podho asine“. Saya sebetulnya sangat respek dengan sepak terjangnya selama ini. Tapi mendengar penyataan tadi, respek saya agak surut. Demikian pula halnya dengan Ahmad Dhani.

Maklum, selebriti juga manusia. Mereka berhak marah. Karena mereka punya naluri.

Advertisements