Buku-buku yang Dimakan Rayap Rayap


Adalah perbuatan yang bodoh bagi orang-orang yang meminjamkan buku. Dan yang lebih bodoh lagi adalah orang yang mengembalikan buku pinjaman. (Chairil Anwar)

ImageSejak saya masuk di SMA (SMA PPSP IKIP Malang) saya beli buku 1 paling tidak sebuah dalam setiap bulannya. Hal ini terus saya lakukan sampai saya lulus kuliah dan kemudian bekerja.

Hampir 200 judul  yang telah terkoleksi. Dari ke-200 buku itu masih ada yang belum saya baca dengan tuntas. Lebih-lebih pada saat ini, saat saya sudah harus “bermata empat” untuk bisa membaca dengan baik dan jelas.

Nasib buku itu akhirnya selalu berpindah-pindah dari satu rumah ke rumah yang lain. Dari satu lemari ke loemari yang lain. Mulai dari rumah bude saya almarhum (semoga beliau diampuni segala dosanya dan diberi imbalan yang berlimpah dari Allah SWT.) lalu berpindah ke tempat kost-kost-an. Kemudian ke rumah mertua (saat setelah saya menikah) dan terakhir berpindah ke rumah saya sendiri.

Sejak dari tempat yang pertama hingga tempat di rumah mertua – aman dari serangan kutu buku. 2

Serangan lebih berasal dari teman-teman yang pinjam buku – yang kemudian tidak dikembalikan. Baik karena saya yang lupa maupun teman-teman yang melupakan diri. Mungkin mereka menganut prinsip yang diyakini oleh Chairil Anwar: Adalah perbuatan yang bodoh bagi orang-orang yang meminjamkan buku. Dan yang lebih bodoh lagi adalah orang yang mengembalikan buku pinjaman.

Dan kemudian – saat saya bersih-bersih ruangan – aku terkejut saat melihat bahwa ada banyak tanah di tumpukan koleksi buku saya. Ternyata buku-buku saya banyak dimakan rayap. Dan untuk membersihkan, memilah dan memilih buku-buku tersebut memakan waktu tak kurang dari 12 jam.

Meskipun masih banyak buku yang selamat 100% atau 60% – 80% masih bisa diselamatkan, cukup banyak juga yang tinggal sampulnya saja. Yang saya ingat buku yang rusak 100% antara lain adalah Tahta Untuk Rakyat (Ramadhan KH., ed.), Saman (Ayu Utami), Aduh (Putu Wijaya), Musashi (Eiji Yoshikawa).

Yang selamat 100% adalah karena belum terjangkau oleh ekspansi dari para pasukan rayap. Seandainya dua atau tiga bulan ke depan bukan tak mungkin akan lebih banyak lagi yang rusak. Selain belum terjangkau, buku yang terbungkus plastik, ternyata 100% selamat. Namun kalau yang terbungkus hanya halaman buku, yang selamat ya halaman bukunya saja.

______________________________

1.      Buku adalah kumpulan kertas atau bahan lainnya yang dijilid menjadi satu pada salah satu ujungnya dan berisi tulisan atau gambar. Setiap sisi dari sebuah lembaran kertas pada buku disebut sebuah halaman.

Seiring dengan perkembangan dalam bidang dunia informatika, kini dikenal pula istilah e-book atau buku-e (buku elektronik), yang mengandalkan perangkat seperti komputer, laptop, tablet pc, ponsel dan lainnya, serta menggunakan software tertentu untuk membacanya.

Dalam bahasa Indonesia terdapat kata kitab yang diserap dari bahasa Arab (كتاب), yang memiliki arti buku. Kemudian pada penggunaan kata tersebut, kata kitab ditujukan hanya kepada sebuah teks atau tulisan yang dijilid menjadi satu. Biasanya kitab merujuk kepada jenis tulisan kuno yang mempunyai implikasi hukum, atau dengan kata lain merupakan undang-undang yang mengatur. Istilah kitab biasanya digunakan untuk menyebut karya sastra para pujangga pada masa lampau yang dapat dijadikan sebagai bukti sejarah untuk mengungkapkan suatu peristiwa masa lampau. (Lihat pula kitab suci)

2.      Kutu buku adalah istilah populer untuk setiap hewan kecil (semuanya serangga) yang membuat lubang (mengebor atau menggerek) buku.

Kutu buku sejati adalah serangga kecil (di bawah 1 mm), bertubuh lunak tak bersayap anggota ordo Psocoptera (biasanya Trogium pulsatorium), yang memakan kapang dan bahan organik lainnya pada barang-barang tak terawat, termasuk pada jilidan buku atau bagian lainnya. Hewan ini bukanlah kutu dalam pengertian entomologi.

Serangga lainnya yang disebut kutu buku adalah gegat Lepisma saccharina (ordo Thysanura) dan beberapa kecoa (ordo Blattodea) kecil, yang juga memakan kapang serta kertas yang usang/lapuk dan sisa-sisa perekat organik di buku. Perekat modern ternyata kurang disukai oleh serangga ini. Karena kerusakan buku memerlukan suhu dan kelembaban tinggi, serangan serangga ini lebih banyak terjadi di tempat-tempat tersebut.

3.      Chairil Anwar (lahir di Medan, Sumatera Utara, 26 Juli 1922 – meninggal di Jakarta, 28 April 1949 pada umur 26 tahun), dijuluki sebagai “Si Binatang Jalang” (dari karyanya yang berjudul Aku), adalah penyair terkemuka Indonesia. Ia diperkirakan telah menulis 96 karya, termasuk 70 puisi. Bersama Asrul Sani dan Rivai Apin, ia dinobatkan oleh H.B. Jassin sebagai pelopor Angkatan ’45 sekaligus puisi modern Indonesia.

Chairil lahir dan dibesarkan di Medan, sebelum pindah ke Batavia (sekarang Jakarta) dengan ibunya pada tahun 1940, dimana ia mulai menggeluti dunia sastra. Setelah mempublikasikan puisi pertamanya pada tahun 1942, Chairil terus menulis. Pusinya menyangkut berbagai tema, mulai dari pemberontakan, kematian, individualisme, dan eksistensialisme, hingga tak jarang multi-interpretasi.

4.      Rayap adalah serangga sosial anggota bangsa Isoptera yang dikenal luas sebagai hama penting kehidupan manusia. Rayap bersarang di dan memakan kayu perabotan atau kerangka rumah sehingga menimbulkan banyak kerugian secara ekonomi. Rayap masih berkerabat dengan semut, yang juga serangga sosial. Dalam bahasa Inggris, rayap disebut juga “semut putih” (white ant) karena kemiripan perilakunya.

Sebutan rayap sebetulnya mengacu pada hewannya secara umum, padahal terdapat beberapa bentuk berbeda yang dikenal, sebagaimana pada koloni semut atau lebah sosial. Dalam koloni, rayap tidak memiliki sayap. Namun demikian, beberapa rayap dapat mencapai bentuk bersayap yang akan keluar dari sarangnya secara berbondong-bondong pada awal musim penghujan (sehingga seringkali menjadi pertanda perubahan ke musim penghujan) di petang hari dan beterbangan mendekati cahaya. Bentuk ini dikenal sebagai laron atau anai-anai.

Aku Ingin Hidup 1000 Tahun Lagi


Kartini Di Masa KecilPada bulan April ini ada dua hari penting yang layak kita peringati. Yang pertama tanggal 21 dan yang kedua tanggal 28.

Tanggal 21 pasti sebagian besar tak silap untuk bilang bahwa itu adalah hari lahir R. A. Kartini. Tapi tanggal 28-nya. Mungkin tak banyak yang tahu. Tanggal 28 April adalah tanggal meninggalnya Chairil Anwar, pelopor sastra Angkatan Tahun 1945.

Walau usia Chairi Anwar belum genap 27 tahun, namun melalui karya-karyanya, ia membuktikan kebenaran kata-katanya, Aku Ingin Hidup 1000 Tahun Lagi. Contoh,

Sebuah sajak yang berjudul :

chairil-anwar.jpgAku

Kalau sampai waktuku
Kumau tak seorang ‘kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
………………

Siapa yang tak kenal sajak ini. Sejak di SMP, lewat pelajaran Bahasa Indonesia, kita dikenalkan sajak tersebut.

Dan bahwa ia adalah sastrawan terkenal, terbukti banyak sajak-sajaknya yang dipakai dalam lomba-lomba deklamasi dan lomba baca puisi.

Menurut Agus R. Sarjono, penyair, esais dan redaktur Majalah sastra Horison, kehebatan Chairil itu karena ia menulis sajak-sajak bermutu tinggi dengan mengetengahkan dua ciri, yaitu pertama jenis Sastra Mimbar (sastra yang menyandang suatu ideologi atau pemikiran besar tertentu, seperti revolusi, perang). Sastra Mimbar secara tematis sangat erat hubungannya dengan keadaan dan persoalan zaman. Hal ini dapat berupa tanggapan atau jawaban dari persoalan-persoalan besar zaman itu. Contohnya:

KRAWANG BEKASI

Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi
tidak bisa teriak “Merdeka” dan angkat senjata lagi.

Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,
terbayang kami maju dan berdegap hati?
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.
Kenang, kenanglah kami.

Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum apa-apa

Kami sudah beri kami punya jiwa
Kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa
………
..

Ciri yang kedua, Chairil juga menghasilkan Sastra Kamar, sastra uaang menggarap tema-tema keseharian serta berlatarkan situasi keseharian. Contohnya:

HAMPA

kepada Sri yang selalu sangsi

Sepi di luar, sepi menekan mendesak
Lurus-kaku pepohonan. Tak bergerak
Sampai ke puncak
Sepi memagut
Tak suatu kuasa-berani melepas diri
Segala menanti. Menanti-menanti.
Sepi.
……………….

Meskipun Sutan Takdir Alisjahbana mengkritik Chairil, ia tetap tak bisa menolak bahwa Chairil berjasa besar dalam memberi sumbangan bagi perkembangan bahasa dan sastra Indonesia. Asrul Sani menuturkan bahwa Chairil mempunyai rasa bahasa luar biasa untuk memberi makna pada kosa kata baru bahsa Indonesia.

Apa arti Chairil Anwar buat kita sekarang? Prof. Dr. Mursal Esten, Pimpinan Redaksi Majalah Sastra, Guru Besar FPBS Universitas Negeri Padang (tahun 2000), mengatakan: Ia adalah personifikasi dari pikiran-pikiran yang menjawab tantangan-tantangan zamannya, dan pikiran-pikiran yang menjawab tantangan masa depan. Ia adalah personifikasi dari keberanian untuk menjadi subyek di dalam sebuah proses perubahan yang panjang dan global. Ia adalah personifikasi atau lambang dari kekuatan kreativitas, sesuatu yang amat diperlukan dalam kelangsungan hidup masyarakat dan umat manusia. Chairil Anwar adalah symbol yang memperlihatkan bahwa hidup manusia terbatas, akan tetapi pikiran-pikiran dsn karyanya dapat melintasi zaman.

Saat menjelang ajal, dalam kesendirian nan penuh kesepian dan keterasingan, ia menulis:

Hidup hanya menunda kekalahan
tambah terasing dari cinta sekolah rendah
dan tahu, ada yang tetap tidak diucapkan
sebelum pada akhirnya kita menyerah

Riwayat Hidup Chairil Anwar

Chairil Anwar lahir di Medan 26 Juli 1922. Ayahnya bernama Toeloes berasal dari Payakumbuh (Taeh, Kabupaten Limo Puluah Koto, Sumatra Barat) dan ibunya bernama Saleha yang berasal dari Koto Gadang, Bukittinggi, Sumatra Barat yang masih mempunyai hubungan keluarga dengan ayah Sutan Sjahrir, Perdana Menteri pertama Indonesia.

Chairil bersekolah Belanda HIS (Hollands Inlandsche Scholl) di Medan, kemudian melanjutkan sekolahnya ke MULO (Meer Uietgebred Lager Onderwijs, setingkat SMP). Ia tidak menamatkan sekolah itu karena pindah ke Jakarta mengikuti ibunya yang bercerai dari ayahnya. Chairil menguasai tiga bahasa asing, yaitu Belanda, Inggris dan Jerman secara aktif. Pengasaanya atas ketiga bahasa asing itulah yang mengantarkan Chairil pada karya-karya sastra dunia. Oleh sebab itu, pengarang-pengarang seperti Andre Gide, John Steinbeck, Rainer Marie Rilke, Ernest Hemingway, W.H. Auden, Conrad Aiken, John Conford, Hsu Chih Mo, Archibald Mac Leish, Willem Elsschot, H. Matsman, Edgar du Peron, J. Slauerhoff sangat akrab dengan Chairil. Bahkan, karena itu Chairil ikut tersudutkan sebagai plagiator.

Kumpulan puisi Chairil yang terkenal yaitu “Deru Campur Debu” (1949), “Kerikil Tajam dan Yang Terempas dan Yang Putus” (1949), dan antologi “Tiga Menguak Takdir” (1950) kumpulan bertiga dengan Asrul Sani dan Rivai Apin. Karya-karya Chairil telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan Jerman.

Chairil menikah dengan Hapsah Wiradireja, wanita Cicurug, Sukabumi, yang lahir tanggal 11 Mei 1922. Ia memiliki seorang putrid bernama Evawani Alissa, alumnus Fakultas Hukum Universitas Indonesia, lahir 17 Juni 1947. saat ini Elissa bekerja sebagai notaries di Jakarta. Chairil Anwar meninggal pada usia 26 tahun 9 bulan, pada tanggal 28 April 1949. wariusan karyanya 70 puisi asli, 4 puisi saduran, 10 puisi terjemahan, 6 prosa asli, dan 4 prosa terjemahan. Ia dikebumikan di pemakanan Karet Jakarta. Untuk mengenangnya, Dewan Kesenian Jakarta memberikan hadiah anugrah kepada para sastrawan dan penyair dengan nama Anugerah Sastra Chairil ANwar. Hadiah itu telkah diberikan kepada Mochtar Lubis (1992) dan Sutardji Calzoum Bachri (1998).

[ dikutip dari : Majalah Sastra, Volume 01, Nomor 01, Mei 2000 ]

Sisi Lain Kehidupan Chairil Anwar, bisa juga didownload di sini. Bila ingin tahu Bibliografi Mengenai Chairil Anwar dan karyanya, bisa download di situ.

Sajak yang menjadi favorit saya :

KEPADA KAWAN

Sebelum Ajal mendekat dan mengkhianat,
mencengkam dari belakang ‘tika kita tidak melihat,
selama masih menggelombang dalam dada darah serta rasa,

belum bertugas kecewa dan gentar belum ada,
tidak lupa tiba-tiba bisa malam membenam,
layar merah terkibar hilang dalam kelam,
kawan, mari kita putuskan kini di sini:
Ajal yang menarik kita, juga mencekik diri sendiri!
Jadi
Isi gelas sepenuhnya lantas kosongkan,
Tembus jelajah dunia ini dan balikkan
Peluk kecup perempuan, tinggalkan kalau merayu,
Pilih kuda yang paling liar, pacu laju,
Jangan tambatkan pada siang dan malam
Dan
Hancurkan lagi apa yang kau perbuat,
Hilang sonder pusaka, sonder kerabat.
Tidak minta ampun atas segala dosa,
Tidak memberi pamit pada siapa saja!
Jadi
mari kita putuskan sekali lagi:
Ajal yang menarik kita, ‘kan merasa angkasa sepi,
Sekali lagi kawan, sebaris lagi:
Tikamkan pedangmu hingga ke hulu
Pada siapa yang mengairi kemurnian madu!!!

30 November 1946