Missing Link Supersemar


Super menurut kamus bisa berarti luar biasa atau istimewa. Sedang Semar adalah tokoh punakawan yang dalam wayang Jawa/Sunda memiliki peran yang lebih utama ketimbang wayang babon (wayang dengan tokoh asli India). Merupakan Jelmaan dari Bambang Ismaya anak tertua dari Sang Hyang Tunggal. Dan kalau Supersemar itu (diambil dari sini) adalah sebagai berikut :

150px-supersemar_i.jpgSurat Perintah Sebelas Maret atau Surat Perintah 11 Maret yang disingkat menjadi Supersemar adalah surat perintah yang ditandatangani oleh Presiden Republik Indonesia Soekarno pada tanggal 11 Maret 1966.

Surat ini berisi perintah yang menginstruksikan Soeharto, selaku Panglima Komando Operasi Keamanan dan Ketertiban (Pangkopkamtib) untuk mengambil segala tindakan yang dianggap perlu untuk mengatasi situasi keamanan yang buruk pada saat itu.


PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
SURAT PERINTAH

I. Mengingat:

1.1. Tingkatan Revolusi sekarang ini, serta keadaan politik baik nasional maupun Internasional
1.2. Perintah Harian Panglima Tertinggi Angkatan Bersendjata/Presiden/Panglima Besar Revolusi pada tanggal 8 Maret 1966
II. Menimbang:

2.1. Perlu adanja ketenangan dan kestabilan Pemerintahan dan djalannja Revolusi.
2.2. Perlu adanja djaminan keutuhan Pemimpin Besar Revolusi, ABRI dan Rakjat untuk memelihara kepemimpinan dan kewibawaan Presiden/Panglima Tertinggi/Pemimpin Besar Revolusi serta segala adjaran-adjarannja
III. Memutuskan/Memerintahkan:

Kepada: LETNAN DJENDERAL SOEHARTO, MENTERI PANGLIMA ANGKATAN DARAT
Untuk: Atas nama Presiden/Panglima Tertinggi/Pemimpin Besar Revolusi:
1. Mengambil segala tindakan jang dianggap perlu, untuk terdjaminnja keamanan dan ketenangan serta kestabilan djalannja Pemerintahan dan djalannja Revolusi, serta mendjamin keselamatan pribadi dan kewibawaan Pimpinan Presiden/Panglima Tertinggi/Pemimin Besar revolusi/mandataris M.P.R.S. demi untuk keutuhan Bangsa dan Negara Republik Indonesia, dan melaksanakan dengan pasti segala adjaran Pemimpin Besar Revolusi.
2. Mengadakan koordinasi pelaksanaan perintah dengan Panglima-Panglima Angkatan-Angkatan lain dengan sebaik-baiknja.
3. Supaya melaporkan segala sesuatu jang bersangkuta-paut dalam tugas dan tanggung-djawabnja seperti tersebut diatas.
IV. Selesai.
Djakarta, 11 Maret 1966
PRESIDEN/PANGLIMA TERTINGGI/PEMIMPIN BESAR REVOLUSI/MANDATARIS M.P.R.S.
SOEKARNO

Surat Perintah Sebelas Maret ini adalah versi yang dikeluarkan dari Markas Besar Angkatan Darat (AD) yang juga tercatat dalam buku-buku sejarah. Sebagian kalangan sejarawan Indonesia mengatakan bahwa terdapat berbagai versi Supersemar sehingga masih ditelusuri naskah supersemar yang dikeluarkan oleh Presiden Soekarno di Istana Bogor.

Yang mana yang asli, tidak jelas hingga kini. Yang tahu pasti, adalah para pelaku sejarah, yang sayangnya sekarang sudah bersemayam di alam sana. Mereka adalah Brigadir jendral (Brigjen) M. Panggabean, Brigjen M. Jusuf, Brigjen Basuki Rahmat dan Mayor Jendral Soeharto. Sementara keterlibatan Brigadir Jenderal M. Panggabean ini masih diperdebatkan.

Berbagai usaha pernah dilakukan Arsip Nasional untuk mendapatkan kejelasan mengenai surat ini. Bahkan, lembaga ini berkali-kali meminta kepada Jendral (purn) M. Jusuf saksi terakhir hingga akhir hayatnya ( 8 September 2004), agar bersedia menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, namun selalu gagal. Lembaga ini juga sempat meminta bantuan Muladi yang ketika itu menjabat Mensesneg, Jusuf Kalla, M. Saelan, bahkan meminta DPR untuk memanggil M. Jusuf. Sampai sekarang, usaha Arsip Nasional itu tidak pernah terwujud. Saksi kunci lainnya, adalah mantan presiden Soeharto. Namun dengan wafatnya mantan Presiden Soeharto pada tanggal 27 Januari 2008 membuat sejarah Supersemar semakin sulit untuk diungkap.

Dengan kesimpangsiuran Supersemar itu, kalangan sejarawan dan hukum Indonesia mengatakan bahwa peristiwa G-30-S/PKI dan Supersemar adalah salah satu dari sekian sejarah Indonesia yang masih gelap.

Hari ini, Supersemar mulai menjadi berita lagi. Soalnya adalah, akankah Rahasia ini bakal terkuak?

Aku Bukan Komunis


Ada sebuah novel bagus, yang dituturkan dengan gaya otobiografi, yang patut untuk disimak dan direnungkan.

Pada awalnya novel ini diberi judul Aku Bukan Komunis. Memenangkan hadiah Sayembara Mengarang Roman yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta tahun 1977. Namun kemudian, 19 tahun kemudian, buku ini terbit dengan judul Mencoba Tidak Menyerah, Penulis Yudhistira ANM Massardi, Penerbit Bentang Budaya, Yogyakarta. Bisa dimaklumi, pada rezim Orde Baru semua yang berbau komunis tidak boleh beredar ke masyarakat. Makanya judul novelnya pun dipilih yang aman-aman saja.

aku-bukan-komunis.jpgSaya pertama kali membaca ini melalui Koran KOMPAS, sekitar tahun 80-an. Novel ini dimuat secara bersambung, mulai hari Senin sampai dengan Sabtu. Karena dimuat secara harian, saya tidak bisa membaca dan mengikuti ceritanya secara runtut. Sering halaman yang memuat novel ini hilang sebelum saya sempat membacanya. Di samping itu, emosi dan alur cerita menjadi terpotong-potong.

Syukur alhamdulillah, akhirnya novel ini terbit 10 tahun kemudian. Dan baru bisa saya opinikan pada hari ini, setelah buku ini pulang setelah beredar cukup lama dari rumah ke rumah saudara-saudara saya. Karena mereka semua tertarik untuk membaca buku ini.

Dengan mengambil sudut pandang “aku” seorang anak yang masih berusia 11 tahun, beserta saudara-saudaranya berusaha dengan sekuat tenaga untuk mencoba tidak menyerah atas stigma yang melekat pada mereka: Anak keturunan komunis! Kenyataan pahit yang tak bisa dielakkan ini diceritakan dengan runtut, enak dan mengalir.

Setting kisahnya berlatar belakang pada sekitar Gerakan 30 September 1965. Keluarga yang mulanya berjalan aman, tentram dan bahagia, berubah 180 derajat menjadi derita yang berkepanjangan. Awalnya dia menerima dari seorang pemuda yang berpapasan dengannya: Hai anak PKI! Nanti saya potong lehermu! Itu kejadian di waktu pagi. Lantas, malamnya, rumahnya digeledah. Umpat yang menggeledah: PKI kok punya Al-Qur’an! Sambil kemudian melempar kitab suci itu ke dalam almari. Tidak berhenti di situ, rumah mereka lantas dibakar, hingga rata dengan tanah. Sementara Bapaknya yang dituduh PKI itu masih berjaga di kelurahan dan belum pulang. Yang ironis, adalah ucapan kakaknya, yang sibuk sebagai mahasiswa yang turut aktif menumpas sisa-sisa Gestapu/PKI. Katanya (dengan nada pilu pasti) : Jadi lucu. Di sana saya menumpas PKI di sini rumah kita dihancurkan!

Penderitaan tidak berhenti di situ saja. Beberapa waktu kemudian,
Bapaknya di-aman-kan ke Kodim. Dan kesedihan-demi-kesedihan pun mulai berjalan. Dari hari ke hari.

Membaca novel ini kita menjadi sedih, ngeri, marah campur aduk. Dan menurut Yudhis novel ini adalah bagian yang pertama. Bagian selanjutnya nampaknya belum terbit sampai sekarang.

[ Tulisan ini berasal dari postingan saya di sini ]