Lowongan Guru Bergaji Rp 5.250.000


Guru Kontrak SD dan SMP Negeri berasrama (Bording School) di Kabupaten Teluk Bintuni Irianjaya Barat.

Dibutuhkan 21 Guru yang meliputi:

  1. 5 Orang Guru Matematika
  2. 5 Orang Guru IPA
  3. 4 Orang Guru Bahasa Inggris
  4. 3 Orang Guru Bahasa Indonesia
  5. 2 Orang Guru IPS
  6. 1 Orang Guru PKN
  7. 1 Orang TIK dan Manajemen Pendidikan

Fasilitas Guru Kontrak:

  1. Gaji sebesar Rp. 5.250.000,
  2. Tinggal di Asrama dan makan
  3. Transportasi antar jeput asrama sekolah
  4. Biaya buku dan alat pembelajaran
  5. Seragam Mengajar.

Persyaratan:

  1. Minmal lulusan Sarjana (S1)
  2. IP Minimal 3.00
  3. Bisa Komunikasi Bahasa Inggris
  4. Berpengalaman mengajar di Sekolah atau di Bimbingan Belajar

Lamaran dikirim Ke: LP3SDM Jl. Terusan Sigura-gura D-172 Malang 65146

Lamaran Dilampiri:

  1. Fotokopi Ijasah SD sampai PT yang dilegalisir
  2. FC Sertifikat/Surat Keterangan pengalaman/prestasi yang dimiliki
  3. Fotokopi Bukti kemampuan Bahasa Inggris
  4. Fotokopi KTP dan KK
  5. Surat keterangan sehat dari Puskesmas
  6. Surat Kelakuan Baik

Tahap Seleksi :

  1. Tes tulis dan Wawacara
  2. Tes Praktek Mengajar Bilingual

Informasi tempat tes melalui Telpon atau HP.

Informasi selengkapnya di

www.lp3sdm.com atau No Telpon (0341)572041, 08990305097, 08123393359, 08123312649

Pendaftaran Paling Lambat : 17 September 2008

Seleksi/tes : 19-20 September 2008

Pengumuman diterima : 25 September 2008

[sumber dari sini]

Advertisements

Anak Asuhan Mahluk Elektronik


Sebetulnya masa depan anak itu tanggung jawab siapa? Orang tua? Guru? Masyarakat? Pemerintah? Atau anak itu sendiri?

murid_sd_wikipedia.jpgBanyak orang bilang bahwa INSTITUSI SEKOLAH dipandang sebagai tempat yang paling tepat dan bertanggung jawab atas masa depan mereka. Kan mereka sudah dibayar?

Ada yang bilang tanggung jawab itu terletak di pundak orang tuanya? Kalau tidak mampu? Ya menjadi tanggung jawab Pemerintah! Kan sudah dijamin UUD 1945!

Kedua pendapat tadi, masing-masing mempunyai argumen sendiri-sendiri. Kalau bersikukuh dengan argumennya, pasti tak akan ketemu walau sampai kiamat menjelang.

Sekarang, pertanyaannya: sebetulnya anak itu (dalam keseharian) lebih dekat dan berguru kepada siapa? Orang tua? Guru? Atau siapa atau apa?

Ternyata anak-anak sekarang lebih sering berguru kepada Play Station, Komputer, Internet dan Televisi. Buktinya, siapa Doraemon, Naruto,  pemain Manchester United F.C. , FC Bayern München , Juventus F.C. (untuk menyebut beberapa nama), mereka hapal di luar kepala. Bandingkan bila ditanya materi dari mata pelajaran yang mereka terima. Pasti hanya sedikit yang bisa menjawab dengan tangkas.

Jadi, sebetulnya, anak-anak (kita) sekarang ini sudah tidak lagi menjadi bimbingan dari orang tua maupun guru, tapi mereka kini telah menjadi asuhan para mahluk elektronik.

Di Balik Sertifikasi Guru dan Dosen Menulis, Antara Coin dan Point


Surya Online, Friday, 04 January 2008

Semangat guru untuk lulus sertifikasi tampaknya mulai menular ke kalangan dosen karena sertifikasi dosen akan dilaksanakan 2008.
Menulis bagi sebagian orang menjadi sesuatu (hal yang mudah – Djun). Sebaliknya, berbicara tidaklah terlalu sulit, sehingga ada yang menyebut semua orang bisa berbicara tetapi tidak semua orang bisa menulis. Menulis yang dimaksud adalah menulis karya ilmiah. Demikian pula dengan guru dan dosen. Tetapi aktivitas menulis bagi guru dan dosen untuk saat-saat ini menjadi tuntutan yang memaksa mereka untuk dapat menulis agar lolos sertifikasi sehingga kehidupan mereka dapat lebih baik.

code-paolo-b.jpgMenulis seharusnya tidaklah menjadi momok bagi guru dan dosen karena itulah aktivitas yang harus mereka lakukan setiap hari. Bahkan konon di luar negeri tahapan untuk menjadi dosen tidaklah melamar langsung menjadi dosen tetapi harus melakukan penelitian terlebih dahulu, menulis hasil penelitian dan buku ajar, baru kemudian mengajar menjadi dosen. Tetapi di Indonesia, begitu lulus S1 pun dapat langsung menjadi dosen, baru melakukan penelitian dan menulis – itu pun karena tuntutan bukan karena kesadaran.

Untuk memenuhi syarat kelulusan sertifikasi guru dan dosen maka mutlak untuk dapat menulis karya ilmiah. Bahkan banyak guru yang mandek pangkatnya hanya sampai IVa karena tidak dapat menulis karya ilmiah. Setali tiga uang, dosen pun demikian. Banyak dosen yang mandek jabatan akademiknya karena tidak dapat menulis karya ilmiah.

Memang bagi dosen bila diukur dari penghasilan yang diperoleh dari menulis tidaklah semenarik aktivitas yang lain. Menulis buku ajar misalnya, perbandingan effort yang dilakukan dengan reward yang diterima tidaklah sebanding dengan mengajar di kelas, atau melakukan penelitian, mengisi seminar atau cari proyek di luar. Maka joke yang beredar di kalangan dosen, menulis itu hanya cari point bukan cari coin.

Point yang dimaksud adalah angka kredit sebagai syarat untuk kenaikan jabatan fungsional dosen. Point inilah yang nantinya akan menjadikan pembeda antara dosen yang berpangkat asisten ahli, lektor, lektor kepala, atau guru besar. Point itu jugalah yang saat ini dikejar-kejar oleh guru demi memenuhi syarat kelulusan sertifikasi dan dapat diperoleh dari karya ilmiah yang diterbitkan media massa, jurnal ilmiah, ataupun dalam bentuk penelitian tindakan kelas (PTK).

Semangat guru untuk lulus sertifikasi tampaknya mulai menular ke kalangan dosen karena sertifikasi dosen akan dilaksanakan 2008. Sehingga semangat untuk menulis tampaknya mulai muncul. Maka wajar banyak dosen yang mengantre menulis di jurnal ilmiah terakreditasi walaupun harus membayar untuk ganti ongkos cetak.

Kesadaran yang tumbuh kembali untuk menulis di kalangan guru dan dosen patutlah diberi penghargaan demi meningkatkan kompetensi keilmuan dan kehidupan mereka. Pastinya penghargaan tidak cukup hanya berupa point untuk kepentingan jangka panjang tetapi harus juga dalam bentuk coin untuk kehidupan saat ini. Sehingga patut diacungi jempol, program Dikjen Dikti Depdiknas yang baru-baru ini memberikan hibah penulisan buku ajar kepada dosen sebesar Rp 15 juta dan Rp 25 juta untuk satu buku ajar sehingga menulis tidak lagi menjadi aktivitas yang hanya mengejar point tetapi juga memberi coin bagi guru dan dosen.

Oleh
Sigit Hermawan SE MSi
Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo