Fatwah MUI Tentang Natal


Haram dan tidaknya mengucapkan selamat natal selalu mengemuka setiap menjelang perayaan Natal. Twitter, facebook, BBM, maupun jejaring sosial yang lain TL nya berseliweran membicarakan soal itu.

Tahun lalu, 24 Desember 2012 vivanews.com menulis:

MUI Jelaskan Kontroversi Ucapan Selamat Natal

Ada dua golongan, satu menyatakan tidak perlu, yang lain boleh.

Senin, 24 Desember 2012, 12:46 Eko Huda S

VIVAnews – Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyatakan umat Muslim di Indonesia tidak perlu mengucapkan selamat Natal untuk umat Nasrani. Imbauan itu didasarkan pada fatwa yang telah dikeluarkan oleh MUI pada tahun sebelumnya.
“Itu mengacu pada fatwa MUI tahun 1981, saat ketuanya Buya Hamka,” kata Ketua MUI, Amidan, saat berbincang dengan VIVAnews, Senin 24 Desember 2012.
Menurut Amidan, fatwa tersebut mengacu pada Ibnu Qayyim dan Ibnu Taimiyah. Pada pokoknya, kata dia, tidak perlu atau tidak boleh mengucapkan selamat Natal. “Nah alasan pada umumnya, tasabuh atau menyerupai, misalnya berpakaian seperti orang Nasrani atau pun ikut memperingati,” Amidan menambahkan.
Meski demikian, dia melanjutkan, sejumlah ulama Indonesia ada yang berpendapat berbeda dengan MUI. Mereka yang berbeda pada umumnya adalah ulama kontemporer. “Mereka berdasarkan fatwa Yusuf Qardhawi. Dia ulama internasional, juga sering datang ke Indonesia,” kata dia.
Amidan menjelaskan, menurut fatwa Qardhawi, boleh mengucapkan selamat Natal, tapi ada kondisional. Artinya, ucapan selamat Natal diperbolehkan dengan syarat tertentu, misalnya saat berada di kalangan yang kebanyakan umat Nasrani seperti di NTT, karena ada hubungan kekerabatan, atau memiliki hubungan pertemanan atau sosial.
“Jadi, kalau di Indonesia yang menonjol atau yang menyetujui seperti Quraish Shihab. Yang lain juga banyak membolehkan saja,” tutur Amidan.
Jadi, tambah dia, terserah Umat Muslim Indonesia menafsirkan. Mau ikut yang mana. “Kalau mengacu pada fatwa tahun 1981 kan tidak diubah-ubah. Artinya, saya tafsirkan tidak perlu,” kata Amidan.
Tak hanya mengucapkan selamat Natal, MUI mengatakan umat Muslim Indonesia tidak boleh menghadiri acara ritual Natal. Umat Muslim, kata Amidan, hanya boleh hadir saat perayaan seremonial saja. “Bukan ritualnya, misal menyalakan lilin, itu bagian ibadah mereka, tidak perlu masuk ke ibadah,” kata Amidan.

Kita kutip lagi awal tulisan vivanews ini : Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyatakan umat Muslim di Indonesia tidak perlu mengucapkan selamat Natal untuk umat Nasrani. Imbauan itu didasarkan pada fatwa yang telah dikeluarkan oleh MUI pada tahun sebelumnya.

“Itu mengacu pada fatwa MUI tahun 1981, saat ketuanya Buya Hamka,” kata Ketua MUI, Amidan, saat berbincang dengan VIVAnews, Senin 24 Desember 2012.

Lalu sekarang baca Fatwa MUI tertanggal 7 Maret 1981 Masehi (1 Jumadil Awal 1401 Hijriyah)

Image

Fatwa ini, kata Sam Ardi lewatnya blognya: Fatwa-fatwa tentang Selamat Natal adalah fatwa yang paling terkenal dan SANGAT SERING dikutip tetapi pengutip terkadang tidak mengetahui esensi fatwa tersebut.

Banyak artikel di internet yang mengatakan bahwa MUI berfatwa bahwa mengucapkan selamat natal itu haram hukumnya berdasarkan fatwa MUI tahun 1981 tersebut.

Pertanyaannya, apakah di dalam fatwa tersebut ada larangan mengucapkan selamat natal?

Silahkan baca sendiri isi fatwa tersebut. Alangkah sangat memalukannya ketika gembar-gembor mengutip fatwa MUI ini dengan kesimpulan “MUI mengharamkan ucapan selamat natal berdasarkan fatwa tahun 1981 yang dikeluarkan saat zaman Prof. Dr. Hamka”.

Bagaimana menurut Anda?

Google & Maulid Nabi


Setiap event penting maupun kelahiran tokoh-tokoh terkenal yang berpengaruh, Google selalu memperingatinya dengan menghias logonya. Nabi Muhammad SAW pada hari ini bertepatan dengan hari kelahirannya.

Namun tokoh nomor wahid yang paling berpengaruh di dunia ini ini (menurut Michael H. Hart) tidak dianggap merupakan moment penting bagi Googgle.

Padahal, dari puluhan milyar manusia yang pernah ada di atas planet bumi ini, tak lebih dari satu juta yang bisa masuk ke dalam buku biografi dalam arti luas. Dari jumlah itu, mungkin cuma 20.000 orang yang hasil upayanya punya harga untuk disebut dalam buku kamus biografi. Dan dari jumlah itu hanya 0,5% yang dimasukkan oleh Michael H. Hart ke dalam bukunya yang fenomenal : Setarus Tokoh Yang Paling Berpengaruh dalam Sejarah, terjemahan H. Mahbub Djunaidi, diterbitkan oleh PT Dunia Pustaka Jaya, Jakarta, 1998, Cetakan XV, Harga 9.000. Demikian antara lain kata penulis buku ini dalam pendahuluannya.

Di hari kelahiran Beliau ini, saya rindu untuk membuka kembali buku tentang Sejarah Nabi Muhammad yang ditulis oleh Muhammad Husain Haekal dan diterjemahkan dengan baik oleh Ali Audah, terbitan PT Pustaka Litera Antar Nusa, Bogor, 1993, Cetakan IX, 1993.

Sejarah Nabi Muhammad


sejarah-muhammad.jpgTidak mungkin orang dapat mengenal Islam dengan baik, jika tidak mengenal sejarah orang yang membawa Islam itu sendiri.

Masih dalam rangka menyambut datangnya Maulid Nabi, maka saya tampilkan kembali review buku yang pernah saya tulis di situ.

Buku ini, Sejarah Hidup Muhammad, karya Muhammad Husain Haekal, terjemahan Ali Audah, terbitan PT Pustaka Litera Antar Nusa, Bogor, 1993, Cetakan IX, 1993, Harga 23.000, merupakan studi mendalam dan cermat tentang sejarah hidup Muhammad Rasulullah dan diteliti dari sumber-sumber Islam maupun dari sumber-sumber non-Islam yang penting.

Muhammad sebagai manusia dan sebagai rasul dibicarakan dengan seksama. Dalam peristiwa yang sangat kritis, di sana sini penulis terpaksa berhadapan dengan pikiran awam dan sekaligus dengan tanggapan penulis-penulis luar Islam. Semuanya itu dikemukakan dengan hati-hati dan logis.

Dimulai dengan dua buah kata pengantar yang menilai tanggapan penulis-penulis Islam maupun yang non-Islam tentang beberapa masalah sekitra pribadi Rasulullah, kemudian penulis memulai telaahnya dalam dua bagian khusus tentang masyarakat arab pra_Islam. Kata pengantar ini mempunyai nilai sendiri yang perlu sekali kita baca.

Kelahiran Muhammad, Masa Anak-anak, Waktu remaja, Turunnya wahyu pertama, Perjuangan selanjutnya sampai saat terakhir, dilukis secara jelas dan rinci, tetapi tidak bertele-tele.

Segi kemasyarakatan dan budayanya serta pengaruh peradaban dan kepercayaan yang ada, ditutup dengan dua bagian penting. Pertama, Kebudayaan Islam seperti dilukiskan Qur’an, kedua, Orientalis dan Kebudayaan Islam.

Edisi bahasa Arab diantar dengan perkenalan oleh Syaikh Muhammad Mustafa al-Maraghi, Rektor Universitas Al-Azhar, Kairo, dan terjemahan bahasa Indonesia disambut oleh Prof. Dr. HAMKA.

Buku ini telah mengalami cetak ulang berkali-kali. Cetakan I – II PT. Tintamas, Jakarta (1972 & 1974), Cetakan III – VII PT Dunia Pustaka Jaya, Jakarta, (1979 – 1982), Cetakan VIII – IX PT Lustaka Litera Antar Nusa, Bogor (1983 ? 1984). Mulai cetakan X – XVI (1989-1993) mengalami perubahan dengan ukuran besar, huruf dan tata letak seluruhnya diset baru, diterbitkan oleh PT. Pustaka Litera Antar Nusa, Bogor Baru.