UNAS dan Ki Hajar Dewantara


Hari lahir Ki Hajar Dewantara ditetapkan oleh Pemerintah sebagai Hari Pendidikan Nasional.

Tulisan Ki Hajar Dewantara yang terkenal adalah “Seandainya Aku Seorang Belanda” (judul asli: Als ik eens Nederlander was), dimuat dalam surat kabar de Expres milik Dr. Douwes Dekker, tahun 1913. Artikel ini ditulis dalam konteks rencana pemerintah Belanda untuk mengumpulkan sumbangan dari Hindia Belanda (Indonesia), yang saat itu masih belum merdeka, untuk perayaan kemerdekaan Belanda dari Perancis. Kutipan tulisan tersebut antara lain:

“Sekiranya aku seorang Belanda, aku tidak akan menyelenggarakan pesta-pesta kemerdekaan dinegeri yang kita sendiri telah merampas kemerdekaannya. Sejajar dengan jalan pikiran itu, bukan saja tidak adil, tetapi juga tidak pantas untuk menyuruh si inlander memberikan sumbangan untuk dana perayaan itu. Pikiran untuk menyelenggaraan perayaan itu saja sudah menghina mereka, dan sekarang kita garuk pula kantongnya. Ayo teruskan penghinaan lahir dan batin itu! Kalau aku seorang Belanda. Apa yang menyinggung perasaanku dan kawan-kawan sebangsaku terutama ialah kenyataan bahwa bangsa inlander diharuskan ikut mengkongsi suatu pekerjaan yang ia sendiri tidak ada kepentingan sedikitpun”.

Semboyan dalam pendidikan yang beliau pakai adalah: tut wuri handayani. Semboyan ini berasal dari ungkapan aslinya ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani. Hanya ungkapan tut wuri handayani saja yang banyak dikenal dalam masyarakat umum. Arti dari semboyan ini secara lengkap adalah: tut wuri handayani (dari belakang seorang guru harus bisa memberikan dorongan dan arahan), ing madya mangun karsa (di tengah atau di antara murid, guru harus menciptakan prakarsa dan ide), dan ing ngarsa sung tulada (di depan, seorang pendidik harus memberi teladan atau contoh tindakan baik). Semboyan ini masih tetap dipakai dalam dunia pendidikan kita, terutama di sekolah-sekolah Taman Siswa.

Dilahirkan di Yogyakarta pada tanggal 2 Mei 1889 dan wafat pada tanggal 26 April 1959, didaulat sebagai  seorang pelopor pendidikan bagi kaum pribumi Indonesia pada zaman penjajahan Belanda.

Lahir dengan nama Raden Mas Soewardi Soerjaningrat, beliau mendirikan perguruan Taman Siswa yang memberikan kesempatan bagi para pribumi untuk bisa memperoleh pendidikan seperti halnya para priyayi maupun orang-orang Belanda.

Seandainya beliau melihat perkembangan Pendidikan di zaman kini, mungkin beliau akan membuat tulisan yang lebih pedas dari tulisan di atas: BUAT APA UNAS, KALAU YANG TERJADI ADALAH PEMBURUAN NILAI YANG TINGGI, TANPA DIIRINGI OLEH PERANGKAT PENDUKUNG YANG MEMADAI?

[ sumber: Wikipedia, Tokoh Indonesia, Website Perguruan Taman Siswa ]

Advertisements

Saat Mahasiswa Meng-HARDIK- Pak Harto


Entah kebetulan atau tidak, setelah pada tanggal 1 Mei 1998, Soeharto melalui Menteri Dalam Negeri Hartono dan Menteri Penerangan Alwi Dachlan mengatakan bahwa reformasi baru bisa dimulai tahun 2003, besoknya, 2 Mei 1998, bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional, Pernyataan itu diralat dan kemudian dinyatakan bahwa Soeharto mengatakan reformasi bisa dilakukan sejak sekarang (1998).

Lantas peristiwa demi peristiwa pun terjadi secara beruntun. Tanggal 4 Mei 1998, Harga BBM meroket 71%, disusul 3 hari kerusuhan di Medan dengan korban sedikitnya 6 meninggal. Lalu tanggal 7 Mei 1998 terjadi Peristiwa Cimanggis, Bentrokan antara mahasiswa dan aparat keamanan terjadi di kampus Fakultas Teknik Universitas Jayabaya, Cimanggis, yang mengakibatkan sedikitnya 52 mahasiswa dibawa ke RS Tugu Ibu, Cimanggis. Tanggal 8 Mei terjadi Peristiwa Gejayan, 1 mahasiswa Yogyakarta tewas terbunuh. Lalu 12 Mei Tragedi Trisakti, 4 Mahasiswa Trisakti terbunuh. Tanggal 13 Mei Kerusuhan Mei 1998 pecah di Jakarta. Kerusuhan juga terjadi di kota Solo. 14 Mei Demonstrasi terus bertambah besar hampir di seluruh kota-kota di Indonesia, demonstran mengepung dan menduduki gedung-gedung DPRD di daerah. Soeharto seperti dikutip koran, mengatakan bersedia mengundurkan diri jika rakyat menginginkan. Ia mengatakan itu di depan masyarakat Indonesia di Kairo.

Dan sehari setelah Hari Kebangkitan Nasional, Pak Harto menyatakan pengunduran dirinya. Tanggal inilah yang menjadi tonggak reformasi, saat tumbangnya rezim Orde Baru dan lahirnya Orde Reformasi bin Orde (ter)-Baru.

Telah 10 Tahun usianya, namun nasib (sebagian terbesar) rakyat masioh belum beranjak dari keterpurukannya. Malah, ada sebagian kalangan bilang nasibnya lebih jelek ketimbang di masa rezim Orde Baru.

Ternyata yang paling mencolok perubahannya adalah soal jumlah pelaku korupsi. Kalau di zaman Orde Baru korupsi ‘lebih banyak’ dilakukan oleh para ‘abdi negara’ alias kalangan eksekutif dan yudikatif, maka di zaman Orde (ter)Baru kian meluas ke kalangan Wakil Rakyat.

[ sumber: Wikipedia ]