Maulid Nabi Muhammad & Google


islamic-wallpaper_muhammad_saw-9Setiap event penting maupun kelahiran tokoh-tokoh terkenal yang berpengaruh, Google selalu memperingatinya dengan menghias logonya.

Nabi Muhammad SAW pada hari ini bertepatan dengan hari kelahirannya.Namun tokoh nomor wahid yang paling berpengaruh di dunia ini ini (menurut Michael H. Hart) tidak dianggap merupakan moment penting bagi Google.

Padahal, dari puluhan milyar manusia yang pernah ada di atas planet bumi ini, tak lebih dari satu juta yang bisa masuk ke dalam buku biografi dalam arti luas. Dari jumlah itu, mungkin cuma 20.000 orang yang hasil upayanya punya harga untuk disebut dalam buku kamus biografi. Dan dari jumlah itu hanya 0,5% yang dimasukkan oleh Michael H. Hart ke dalam bukunya yang fenomenal : Setarus Tokoh Yang Paling Berpengaruh dalam Sejarah, terjemahan H. Mahbub Djunaidi, diterbitkan oleh PT Dunia Pustaka Jaya.

Kalimat di atas saya kutip dari tulisan saya 2 tahun yang lalu.

Maulid Nabi Muhammad SAW kadang-kadang Maulid Nabi atau Maulud saja (bahasa Arab: مولد النبي‎, mawlid an-nabī), adalah peringatan hari lahir Nabi Muhammad SAW, yang di Indonesia perayaannya jatuh pada setiap tanggal 12Rabiul Awal dalam penanggalan Hijriyah. Kata maulid atau milad dalam bahasa Arab berarti hari lahir. Perayaan Maulid Nabi merupakan tradisi yang berkembang di masyarakat Islam jauh setelah Nabi Muhammad wafat. Secara subtansi, peringatan ini adalah ekspresi kegembiraan dan penghormatan kepada Nabi Muhammad.

Sejarah

Peringatan Maulid Nabi pertama kali dilakukan oleh raja Irbil (wilayah Iraq sekarang), bernama Muzhaffaruddin al-Kaukabri, pada awal abad ke 7 hijriyah. Ibn Katsir dalam kitab Tarikh berkata: “Sultan Muzhaffar mengadakan peringatan maulid Nabi pada bulan Rabi’ul Awwal. Beliau merayakannya secara besar-besaran. Beliau adalah seorang yang berani, pahlawan,` alim dan seorang yang adil -semoga Allah merahmatinya-”. Dijelaskan oleh Sibth (cucu) Ibn al-Jauzi bahawa dalam peringatan tersebut Sultan al-Muzhaffar mengundang seluruh rakyatnya dan seluruh para ulama’ dari berbagai disiplin ilmu, baik ulama’ dalam bidang ilmu fiqh, ulama’ hadits, ulama’ dalam bidang ilmu kalam, ulama’ usul, para ahli tasawwuf dan lainnya. Sejak tiga hari, sebelum hari pelaksanaan mawlid Nabi beliau telah melakukan berbagai persiapan. Ribuan kambing dan unta disembelih untuk hidangan para hadirin yang akan hadir dalam perayaan Maulid Nabi tersebut. Segenap para ulama’ saat itu membenarkan dan menyetujui apa yang dilakukan oleh Sultan al-Muzhaffar tersebut. Mereka semua berpandang dan menganggap baik perayaan maulid Nabi yang dibuat untuk pertama kalinya itu.

Ibn Khallikan dalam kitab Wafayat al-A`yan menceritakan bahwa al-Imam al-Hafizh Ibn Dihyah datang dari Moroco menuju Syam dan seterusnya ke Iraq, ketika melintasi daerah Irbil pada tahun 604 Hijrah, beliau mendapati Sultan al-Muzhaffar, raja Irbil tersebut sangat besar perhatiannya terhadap perayaan Maulid Nabi. Oleh kerana itu, al-Hafzih Ibn Dihyah kemudian menulis sebuah buku tentang Maulid Nabi yang diberi judul “al-Tanwir Fi Maulid al-Basyir an-Nadzir”. Karya ini kemudian beliau hadiahkan kepada Sultan al-Muzhaffar.

Para ulama’, semenjak zaman Sultan al-Muzhaffar dan zaman selepasnya hingga sampai sekarang ini menganggap bahawa perayaan maulid Nabi adalah sesuatu yang baik. Para ulama terkemuka dan Huffazh al-Hadits telah menyatakan demikian. Di antara mereka seperti al-Hafizh Ibn Dihyah (abad 7 H), al-Hafizh al-’Iraqi (W. 806 H), Al-Hafizh Ibn Hajar al-`Asqalani (W. 852 H), al-Hafizh as-Suyuthi (W. 911 H), al-Hafizh aL-Sakhawi (W. 902 H), SyeIkh Ibn Hajar al-Haitami (W. 974 H), al-Imam al-Nawawi (W. 676 H), al-Imam al-`Izz ibn `Abd al-Salam (W. 660 H), mantan mufti Mesir iaitu Syeikh Muhammad Bakhit al-Muthi’i (W. 1354 H), Mantan Mufti Beirut Lubnan iaitu Syeikh Mushthafa Naja (W. 1351 H) dan terdapat banyak lagi para ulama’ besar yang lainnya. Bahkan al-Imam al-Suyuthi menulis karya khusus tentang maulid yang berjudul “Husn al-Maqsid Fi ‘Amal al-Maulid”. Karena itu perayaan maulid Nabi, yang biasa dirayakan di bulan Rabi’ul Awwal menjadi tradisi ummat Islam di seluruh dunia, dari masa ke masa dan dalam setiap generasi ke generasi.

Para ahli sejarah, seperti Ibn Khallikan, Sibth Ibn al-Jauzi, Ibn Kathir, al-Hafizh al-Sakhawi, al-Hafizh al-Suyuthi dan lainnya telah bersepakat menyatakan bahawa orang yang pertama kali mengadakan peringatan maulid adalah Sultan al-Muzhaffar, bukan sultan Shalahuddin al-Ayyubi. Orang yang mengatakan bahawa sultan Salahuddin al-Ayyubi yang pertama kali mengadakan Maulid Nabi telah membuat “fitnah yang jahat” terhadap sejarah. Perkataan mereka bahawa sultan Salahuddin membuat maulid untuk tujuan membangkitkan semangat umat untuk berjihad dalam perang salib, maka jika diadakan bukan untuk tujuan seperti ini bererti telah menyimpang, adalah perkataan yang sesat lagi menyesatkan.

Perayaan di Indonesia

Masyarakat muslim di Indonesia umumnya menyambut Maulid Nabi dengan mengadakan perayaan-perayaan keagamaan seperti pembacaan shalawat nabi, pembacaan syairBarzanji dan pengajian. Menurut penanggalan Jawa bulan Rabiul Awal disebut bulan Mulud, dan acara Muludan juga dirayakan dengan perayaan dan permainan gamelanSekaten.

Perayaan di luar negeri

Sebagian masyarakat muslim Sunni dan Syiah di dunia merayakan Maulid Nabi. Muslim Sunni merayakannya pada tanggal 12 Rabiul Awal sedangkan muslim Syiah merayakannya pada tanggal 17 Rabiul Awal, yang juga bertepatan dengan ulang tahun Imam Syiah yang keenam, yaitu Imam Ja’far ash-Shadiq.

Maulid dirayakan pada banyak negara dengan penduduk mayoritas Muslim di dunia, serta di negara-negara lain di mana masyarakat Muslim banyak membentuk komunitas, contohnya antara lain di India, Britania, Rusia dan Kanada.Arab Saudi adalah satu-satunya negara dengan penduduk mayoritas Muslim yang tidak menjadikan Maulid sebagai hari libur resmi. Partisipasi dalam ritual perayaan hari besar Islam ini umumnya dipandang sebagai ekspresi dari rasa keimanan dan kebangkitan keberagamaan bagi para penganutnya.

Dasar hukum pelaksanaan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW bisa di-klik di sini.

Advertisements

Islam Bukan Preman, Bung…..


Ketika Islam hadir di bumi Arab, justru dizalimi oleh para preman jahiliyah. Dan ketika Islam hadir di bumi Nusantara juga tanpa memakai gaya preman.

Kini banyak orang yang merasa, bahwa Islam yang dilakoninya adalah Islam yang sebenarnya Islam. Tempo Edisi menampilkan Topik: Beriman Tanpa Jadi Preman. Dalam opininya ditulis antara lain:

KEPADA polisi ucapan selamat rasanya pantas diberikan. Mereka berani menahan dan menetapkan Ketua Front Pembela Islam Rizieq Shihab sebagai tersangka di balik tragedi Monas. Puluhan anak buahnya disidik seusai ”serangan fajar” yang rapi, tanpa bentrokan, tanpa perlawanan. Para dedengkot laskar berjubah putih dari Petamburan ini sudah pula diciduk, meski ada yang keburu jadi buron.

Langkah bagus bagi proses penegakan hukum, meskipun ada kritik ihwal keteledoran dalam pengamanan sebelum dan ketika tragedi di Lapangan Monas itu terjadi. Tak adanya benteng pengaman yang memadai membuat para laskar berjubah itu begitu leluasa menggebuki para aktivis dari Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan sampai babak belur pada 1 Juni lalu…..

Opini ini diakhiri dengan tulisan:

Setelah yang bersalah dihukum, jangan penyelesaian seperti masa lalu terjadi lagi. Bukankah polisi pernah mengeluarkan Rizieq dari tahanan polisi dan menjadikannya tahanan rumah, namun tak lama kemudian dia mencabut gugatan kepada polisi yang diikuti dengan pembekuan laskar. Privilese dan tawar-menawar dengan aparat model begini sudah harus diakhiri.

Negara harus menang. Ini hanya bisa terjadi manakala pemerintah berani bersikap tegas, termasuk kepada laskar yang bertindak atas nama Islam. Negara Pancasila ini harus diatur berdasarkan konstitusi dan hukum positif. Negara harus menjamin kebebasan beragama warga negaranya, juga memastikan agar pemeluk agama beriman tanpa menjadi preman.

Semoga ini semua bisa jadi pelajaran bagi kita semua. Bahwa berbuat baik tak baik bila dilakukan dengan cara-cara yang tidak baik.

Islam (Indonesia) Dalam Bahaya?


Setelah runtuhnya Uni Sovyet, diyakini bahaya latent komunis telah runtuh, orang Barat (baca: kapitalis, liberarisme) mulai melirik musuh yang lain, yaitu Islam.

Segala daya upaya dilakukan agar yang namanya Islam berusaha dihancurkan dengan berbagai cara. Penghancuran WTC (yang aneh, setelah kejadian ini  umat Islam di Amerika meningkat 10%), pelecehan Islam lewat fitna, dan terkhir konflik horizontal antara warga NU (nahdiyin)dengan FPI.

Sehubungan dengan kasus yang terakhir, Pak Hasyim Muzadi menyerukan kepada segenaap warga NU agar tak berlebihan dalam melakukan reaksi terhadap FPI. Kata beliau: “PBNU menyerukan agar warga NU se-Indonesia tetap pada pos dan kediamannya (baca: tetap tenang dan tidak terprovokasi) masing-masing,” tegas Hasyim kepada wartawan di Kantor PBNU, Jalan Kramat Raya, Jakarta, Selasa (3/6).

Hasyim juga meminta kepada semua kalangan Nahdliyin (sebutan lain untuk warga NU) agar berhati-hati dan tidak terprovokasi atas kasus tersebut. Pasalnya, ia melihat ada pihak-pihak tertentu yang dengan sengaja berupaya melibatkan serta ‘membenturkan’ NU dengan kelompok lain.

Ia mengaku sangat menyesalkan tindakan kekerasan yang dilakukan FPI pada aktivis AKKBB. Karena kekerasan atas nama apa pun tak dapat dibenarkan. Apalagi, Indonesia adalah negara hukum yang semua persoalan semestinya dapat diselesaikan melalui jalur hukum.

Namun, yang lebih penting dari pada itu, ia mengimbau kepada semua pihak, utamanya unsur di dalam NU agar tak melibatkan NU dalam masalah tersebut. Sebab, kasus penyerangan FPI terhadap aktivis AKKBB tidak ada hubungannya dengan NU. “Karena relevansinya tidak ada antara NU dan Monas, NU dan FPI,” tandasnya.

Lebih dari itu, sebaiknya seluruh elemen masyarakat diharapkan untuk kembali ke fokus. Masalah nasib sebagian besar bangsa Indonesia yang kian terpuruk lantaran kenaikan harga BBM. Ini yang paling mendesak.

Dan juga harus waspada, bahwa Islam (di Indonesia) berada dalam bahaya, bila ini konflik menjadi berkepanjangan. Akan semakin menunjukkan hasil bagi para penghancur Islam. Dan menjadi bukti bahwa Islam memang identik dengan kekerangan, teror, dan lain sebagainya.

Syair Menyambut Datangnya Jamaah Haji


mecca.jpgKemarin sore saya, istri dan anak-anak saya pergi ke Batu. Kami berniat menyambut kedatangan kakak istri saya yang akan pulang dari perjalanan ibadah haji. Pukul 01.00 pagi mereka baru sampai di rumah. Kami semua menyambutnya dengan sukacita.

Pagi ini, saya membuka sebuah buku tulisan DR. Ali Shariati yang berjudul Haji, Terbitan Penerbit PUSTAKA, Bandung, Cetakan I, Tahun 1983.

Sudah seringkali saya membaca buku ini. Dan dibagian akhir dari buku ini, EPILOG, dikutipkan sebuah Syair panjang tentang ibadah haji.

Selengkapnya demikian :

Sebuah Syair dari Naser Khosrow 1)

Dengan membawa kemuliaan jamaah haji telah kembali.
Mereka bersyukur kepada Allah Yang Pengasih.
Di dalam perjalanan dari Arafat menuju Mekkah,

Dengan takzim mereka mengulangi ucapan “Labaika” 2)

Ketika menghadapi kekerasan Padang Pasir Hijaz, 3)
Mereka bersukaria karena selamat dari siksa dan api. 4)

Mereka telah menunaikan haji dan telah menyelesaikan umrah.

Kini, dalam keadaan selamat mereka kembali ke tanah air.

Aku menyempatkan diri untuk menyambut kepulangan mereka,

Walau biasanya orang-orang yang seperti aku ini 5) tidak berbuat demikian.
Tetapi salah seorang di antara para jamaah itu,
Adalah sahabatku yang sejati.

Kepadanya aku bertanya bagaimanakah ia telah menempuh

Perjalanan yang sangat sulit dan menakutkan itu. 6)

Kepadanya kukabarkan, sejak kepergiannya meninggalkan aku sendiri,

Yang kurasakan adalah sesal dan duka-cita semata-mata.

Tetapi kini aku gembira karena engkau telah menunaikan ibadah haji,

Dan karena engkaulah satu-satunya haji di negeri kita ini.

Ceritakanlah kepadaku: Bagaimanakah engkau telah menunaikan haji?

Bagaimanakah engkau telah memuliakan Tanah Suci? 7)

Setelah melepas pakaian dan hendak mengenakan ihram,

Di saat-saat hati menggelora itu apakah “niat” mu?

Telah engkau tinggalkankah setiap sesuatu yang harus engkau tinggalkan?

Telah engkau tinggalkankah setiap sesuatu yang lebih hina daripada Allah Yang Maha Besar?

Tetapi jawabnya: Tidak!

Kepadanya aku bertanya:

Apakah ia telah menyerukan “Labaika”
Dengan pengetahuan yang sempurna dan dengan penuh takzim?
Apakah ia telah mendengar seruan Allah?
Atau, apakah ia telah patuh dengan kepatuhan Ibrahim?

Tetapi jawabnya: Tidak!

Kepadanya aku bertanya:

Ketika berada di Arafat,
Ketika sedemikian hampir kepada Allah Yang Maha Besar,
Sempatkah ia berkenalan dengan Dia?
Tidakkah ia berhas.
Sempatkah ia berkenalan dengan Dia?
Tidakkah ia berhasrat untuk mempelajari sedikit pengetahuan?

Tetapi jawabnya: Tidak!

Kepadanya aku bertanya:

Ketika masuk ke dalam Ka’bah
Seperti yang telah dilakukan oleh keluarga “Kahf dan Raquim” . 8)
Tidakkah dibuangnya sikap mementingkan diri sendiri?
Tidakkah ia takut hukuman akhirat nanti?

Tetapi jawabnya: Tidak!

Kepadanya aku bertanya:

Ketika menembak berhala-berhala,
Tidakkah ia memandang berhala-berhala itu sebagai syeitan?
Dan setelah itu tidakkah ia menghindari kejahatan?

Tetapi jawabnya: Tidak!

Kepadanya aku bertanya:

Ketika berkorban,
Untuk makanan orang-orang yang lapar dan anak-anak yatim,
Bukan Allah-kah yang pertama kali dipikirkannya?
Dan, setelah itu tidakkah ia membunuh ketamakan di dalam dirinya?

Tetapi jawabnya: Tidak!

Kepadanya aku bertanya:

Ketika berdiri di Maqam Ibrahim,
Apakah ia bersandar kepada Allah semata-mata
Dengan hati yang tulus dan keyakinan yang teguh?

Tetapi jawabnya: Tidak!

Kepadanya aku bertanya:

Ketika melakukan thawaf
Mengelilingi Ka’bah,
Tidak ingatlah ia bahwa semua malaikat
Senantiasa thawaf mengelilingi bumi?

Tetapi jawabnya: Tidak!

Kepadanya aku bertanya:

Ketika melakukan Sa’y,
Ketika berlari-lari di antara Shafa dan Marwa,
Tidakkah ia menjadi suci dan bersih?

Tetapi jawabnya: Tidak!

Kepadanya aku bertanya:

Kini, setelah kembali dari Mekkah,
Dan rindu kepada Ka’bah,
Tidakkah akunya terkubur di sana?
Tidakkah ia berhasrat untuk pergi lagi?

Tetapi jawabnya: Tidak!

“Semua yang engkau pertanyakan ini

Tidak satupun yang kumengerti!”
Makanya kepadanya aku berkata:

Wahai Sahabat! Sesungguhnya engkau belum menunaikan ibadah haji!

Sesungguhnya engkau belum taat kepada Allah!
Memang engkau telah pergi ke Mekkah untuk mengunjungi Ka’bah!

Memang engkau telah menghamburkan uang untuk membeli kekerasan padang pasir!

Jika engkau berniat hendak melakukan ibadah haji sekali lagi,
Berbuatlah seperti yang telah kuajarkan ini!

Menghitung Kecepatan Cahaya


Presentasi ini adalah tentang bagaimana

KECEPATAN CAHAYA

KECEPATAN GELOMBANG ELEKTROMAGNETIK

KECEPATAN YANG TERCEPAT DI JAGAT RAYA INI :

yaitu 299279.5 Km/det

bisa ditentukan/dihitung dengan tepat berdasar

informasi dari dokumen yang sangat tua.

Mungkin anda pernah tahu bahwa konstanta C, atau kecepatan cahaya yaitu kecepatan tercepat di jagat raya ini diukur, dihitung atau ditentukan oleh berbagai institusi berikut:

· US National Bureau of Standards :C = 299792.4574 + 0.0011 km/det

· The British National Physical Laboratory : C = 299792.4590 + 0.0008 km/det

· Konferensi ke-17 tentang Penetapan Ukuran dan Berat Standar : Satu meter adalah jarak tempuh cahaya dalam ruang kosong selama jangka waktu 1/299792458 detik.

Tapi anda seharusnya tahu bahwa konstanta C bisa dihitung/ditentukan secara tepat menggunakan informasi dari kitab suci yang diturunkan 14 abad silam, yaitu Al Quran, kitab suci umat Islam. Penemu hitungan ini adalah seorang ahli Fisika dari Mesir bernama DR. Mansour Hassab El-Naby.

Dalam Alquran dinyatakan:

”Dialah (Allah) yang menciptakan matahari bersinar dan bulan bercahaya

dan ditetapkanya tempat-tempat bagi perjalanan bulan itu agar kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu)” (10:5)

”Dialah (Allah) yang menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing beredar dalam garis edarnya” (21:33).

“Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepada-Nya dalam satu hari yang kadarnya seribu tahun menurut perhitunganmu.”(32:5)

Berdasar ayat-ayat tersebut diatas, terutama ayat yang terakhir (ayat 32:5) dapat disimpulkan bahwa :

Jarak yang dicapai Sang urusan selama satu hari sama dengan jarak yang ditempuh bulan selama 1000 tahun atau 12000 bulan.

C . t = 12000 . L

Di mana : C = kecepatan Sang urusan

t = waktu selama satu hari

L = panjang rute edar bulan selama satu bulan

Berbagai sistem kalender telah diuji, namun “Sistem kalender bulan sidereal” menghasilkan nilai C yang persis sama dengan nilai C yang sudah diketahui melalui pengukuran.

Ada dua macam sistem kalender bulan:

1. Sisyem sinodik, didasarkan atas penampakan semu gerak bulan dan matahari dari bumi. 1 hari = 24 jam, 1 bulan = 29.53059 hari

2. Sistem sidereal, didasarkan atas pergerakan relatif bulan dan matahari terhadap bintang dan alam semesta, 1 hari = 23 jam 56 menit 4.0906 detik = 86164.0906 detik, 1 bulan = 27.321661 hari

Simulasi berikut ini memberikan gambaran

kepada anda tentang perbedaan antara

bulan sidereal dan sinodik tersebut

Perhatikan posisi bulan setelah

29.52 hari

Sebuah catatan tentang kecepatan bulan (v)

Ada dua tipe kecepatan bulan :

1. Kecepatan relatif terhadap bumi yang bisa dihitung dengan rumus berikut:

ve = 2 . p . R / T

dimana R = jari-jari revolusi bulan = 384264 km

T = periode revolusi bulan = 655.71986 jam

Jadi ve = 2 * 3.14162 * 384264 km / 655.71986 jam

= 3682.07 km/jam

2. Kecepatan relatif terhadap bintang atau alam semesta. Yang ini yang akan diperlukan.

Einstein mengusulkan bahwa kecepatan jenis kedua ini dihitung dengan mengalikan yang pertama dengan cosinus a, sehingga:

v = Ve * Cos a

Di mana a adalah sudut yang dibentuk oleh revolusi bumi selama satu bulan sidereal

a = 26.92848o

Jadi:

C . t = 12000 . L

C . t = 12000 . v . T

C . t = 12000 . ( ve . Cos a ) . T

C = 12000 . ve . Cos a . T / t

C = 12000 * 3682.07 km/jam * 0.89157 * 655.71986 jam / 86164.0906 det

C = 299792.5 km/det

Ingat !

L = v . T

Ingat !

v = ve . Cos a

Ingat !

ve = 3682.07 km/jam

a = 26.92848o

T = 655.71986 jam

t = 86164.0906 det

Bandingkan C (kecepatan sang urusan) hasil perhitungan dengan nilai C (kecepatan cahaya) yang sudah diketahui !

Nilai C hasil perhitungan

C = 299792.5 Km/det

Nilai C hasil pengukuran:

· US National Bureau of Standards: C = 299792.4574 + 0.0011 km/det.

· The British National Physical Laboratory : C = 299792.4590 + 0.0008 km/det

· Konferensi ke 17 tentang Ukuran dan Berat Standar : Satu meter adalah jarak tempuh cahaya dalam ruang hampa selama 1/299792458 detik

Al_Quran 32: 1-5

Dengan nama Allah yang Maha pengasih Maha penyayang

Alif Lam Mim. Turunnya kitab ini tanpa keraguan padanya, dari Rabb semesta.

Tetapi mengapa mereka mengatakan:”Ia (Muhammad saw) mengada-adakannya”. Sebenarnya ini adalah kebenaran dari Rabbmu, agar kamu memberi peringatan kepada kaum yang belum datang kepada mereka orang yang memberi peringatan sebelummu; agar mereka mendapat petunjuk.

yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam periode, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Tidak ada bagi kamu selain daripada-Nya seorang penolongpun dan tidak (pula) seorang pemberi syafa’at. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?

Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepada-Nya dalam satu hari yang kadarnya seribu tahun menurut perhitunganmu.

Kesimpulan:

Perhitungan ini membuktikan keakuratan dan konsistensi nilai konstanta C hasil pengukuran selama ini dan juga mnunjukkan kebenaran Al-Quranul Karim sebagai wahyu yang patut dipelajari dengan analisis yang tajam karena penulisnya adalah Sang Pencipta Alam Semesta.

Referensi:

Elnaby, M.H., 1990, A New Astronomical Quranic Method for The Determination of The Greatest Speed C, http://www.islamicity.org/Science/960703A.HTM

Fix, John D., 1995, Astronomy, Journey of the Cosmic Frontier, 1st edition, Mosby-Year Book, Inc., St Louis, Missouri

The Holy Quran Online, http://islam.org/mosque/quran.htm

(Sebuah presentasi yang saya temukan di belantara folder, di suatu warnet)

Bulan Allah Muharram Yang Mulia


Bulan Dzul Hijjah telah berlalu, kini tibalah bulan Muharram menyapa kita. Itu pertanda pula masuknya tahun baru Islam 1429 Hijriyah. Begitulah setiap awal tahun baru Islam dimulai dngan Muharram, bulan yang sangat mulai nan agung.

angkasa.jpegAl Imam As Sayyid Muhammad bin Alawi Al Maliki Al Hasani dalam kitabnya ‘Dzikrayat wa Munasabat’ menyebutkan dua faktor yang menyebabkan Muharram menjadi sangat mulia, yaitu:

Pertama, karena disandarkannya bulan Muharram kepada Allah SWT. Rasulullah SAW telah memberinya nama ‘Bulan Allah’. Segala sesuatu yang disandarkan kepada Allah, tentulah menunjukkan atas kemuliaan dan keutamaan sesuatu itu, sebagaimana Ka’bah atau Masjidil Haram dan Masjid yang lain menjadi mulia dengan disebutkan sebagai Baitullah, ‘Rumah Allah’.

Kedua, karena Muharram termasuk empat bulan yang dinamakan ‘Al Asyhurul Hurum’ (bulan-bulan terhormat), yaitu bulan Dzul Qa’dah, Dzul Hijjah, Muharram dan Rajab. Imam Ali bin Abi Thalhah dan Ibn Rajab berpendapat bahwa empat bulan ini dinamakan ‘Al Asyhurul Hurum’ karena amal sholeh dan ketaatan yang dilakukan di dalamnya lebih besar dan pahalanya lebih banyak dibanding dengan bulan-bulan yang lain, begitu pula sebaliknya dengan kemaksiatan atau perbuatan dosa. Maka masa-masa di bulan ini adalah masa yang paling Allah cintai.

Ulama berbeda pendapat, manakah yang paling utama dari keempat bulan tersebut. Imam Hasan Al Bashri dan sebagian Ulama Mutaakhirin berpendapat bahwa Muharram lebih utama dari yang lain. Beliau (Imam Al Hasan) juga berkata: “Allah SWT membuka awal tahun dengan bulan yang haram (terhormat) dan menutupnya dengan tahun yang terhormat pula. Tidak ada bulan dalam setahun yang lebih agung di sisi Allah setelah Ramadhan daripada bulan Muharram.”

Diriwayakan pula dari Imam Al Hasan, Rasulullah SAW bersabda “Sholat yang paling utama setelah sholat fardhu adalah sholat di tengah malam (tahajjud) dan paling utamanya bulan setelah Ramadhan adalah Muharram Bulan Allah”.

Sahabat Abu Dzar Al Ghifari bertanya kepada Rasulullah SAW, “Bagian malam yang mana yang paling utama dan bulan apa yang paling utama?”

Rasulullah bersabda (yang artinya):

“sebaik-baiknya malam adalah pertengahannya dan paling utamanya bulan-bulan adalah Bulan Allah yang kalian sebut Muharram” (yakni setelah bulan Ramadhan).

Sebagian Ulama yang lain berpendapat bahwa Rajab paling utama dari Al Asyhurul Hurum.

Letak kemuliaan dan keutamaan bulan Muharram adalah 10 hari yang pertama, atau bolehlah kita katakan bahwa asrar (rahasia kemuliaan) bulan Muharram terletak pada sepuluh hari yang pertama. Sedangkan bulan Ramadhan asrarnya terletak pada 10 hari terakhir dan Dzul Hijjah asrarnya terletak pada 10 bulan pertama. ………………..

Imam Tirmidzi juga meriwayatkan dari sahabat Rasulullah SAW sembari bertanya, “Wahai Rasulullah, beritahukan kepadaku satu bulan yang aku pakai berpuasa setelah Ramadhan?”. Rasulullah SAW menjawab, “Jika kamu hendak berpuasa setelah Ramadhan maka berpuasalah pada bulan Muharram. Dan pada bulan itu terdapat satu hari (yakni hari ‘Asyura/10 Muharram) di mana Allah telah menerima taubat suatu kaum dan Dia akan menerima taubat kaum yang lain.”

Adapun puasa yang khusus pada bulan ini adalah puasa di hari ke 10 yang disebut hari ‘Asyura. Memang hari Asyura adalah hari yang agung nan bersejarah. Puasa di hari itu telah dikenal sejak zaman terdahulu sehingga Nabi Nuh dan Musa pun berpuasa pada hari ‘Asyura.

Hari ‘Asyura adalah hari di mana kapal beliau (Nabi Nuh) berlabuh di bukit Judiy. Maka untuk merealisasikan syukurnya kepada Allah, beliau berpuasa pada hari itu. Demikian pula Nabi Musa. Beliau diselamatkan oleh Allah dari kejaran Fir’aun – yang kemudian bersama bala tentaranya ditenggelamkan oleh Allah pada hari ‘Asyura. Maka Nabi Musa pun turut berpuasa di hari itu. Demikian diriwayatkan oleh Shohih Bukhari dan Shohih Muslim). ………..

Berkenaan tentang keutamaan puasa ‘Asyura, Nabi Muhammad SAW bersabda (yang artinya): “Aku berharap kepada Allah agar dapat menggugurkan dosa setahun sebelumnya”. …………..

Kita memohon kepada Allah agar selalu berada di jalan Rasulullah, mengikuti sunahnya dan mudah-mudahan Allah selalu menjaga kita dari hal-hal yang bid’ah yang menyimpang dari ajaran Nabi Muhammad SAW. Amiin.

Disarikan dari kitab Dzikrayat wa Munasabat, karya Al Imam As Sayyid Muhammad bin Alawi Al Maliki Al Hasani, RA oleh Majlis Taklim WADDA’WAH, Edisi 120, 11 Januari 2008, Alamat Redaksi: Jalan bareng Kartini Gang 1/274B – Malang 65116, E-mail: majlistaklim@gmail.com.

1 Muharram 1429 Hijriyah: Sebuah Refleksi


suncircles.jpgSore tadi, kami makan sate dan gule di sebuah warung di pasar bunul. Sepulangnya dari situ, waktu sudah masuk sholat Ashar. Maka kami segera melaksanakan sholat berjamaah. Setelah itu kami melakukan Doa Akhir Tahun.

Di rumah, setelah sholat Magrib, di sebuah Masjid di dekat rumah, para jamaah melakukan pembacaan doa Awal Tahun, 1 Muharram 1429 Hijriyah.

Karena saya kurang begitu hafal, maka saya harus dengan membaca doa yang telah dibagikan oleh pihak takmir Masjid.

Kalau pada akhir tahun Masehi 2007 dan awal tahun 2008, saya melewatinya di alam maya dan menghasilkan opini yang bisa di klik di sini, maka pada peralihan tahun Hijriyah 1428 dan awal tahun 1429, saya lewatkan dalam masjid.

Saya berharap, memohon, berdoa, agar apa-apa yang buruk, yang saya lakukan di tahun 1428 tak terulang lagi di masa kini dan seterusnya.

Saya berharap, memohon, berdoa, agar apa-apa yang baik, yang saya lakukan di tahun 1428 selalu berulang dan berrulang lagi di masa kini dan seterusnya.

Semoga hidayah selalu hadir dalam diri saya dan keluarga saya pada khususnya. Juga bagi segenap umat Muslim yang ada di dunia.

Untuk Indonesia, semoga musibah yang selalu datang beruntun ini bisa segera diakhiri, dan ini semua semoga hanya merupakan ujian saja.Dan bukan merupakan azab dari Allah SWT.

Amiin ya Robbal Alamiin…