Minum Jamu


Belakangan ini punggung ini rasanya ‘pegel-pegel. Kaku. Dan kalau lagi berbaring atau mau bangun, pasti perlu ekstra pelan. Kalau tidak, rasa ‘cenut-cenut’ pun menyerang tubuh.

Karena sudah nggak kuat lagi ‘menderita’ ini sakit, saya terpaksa beli jamu. Padahal saya sebetulnya tak begitu suka minum jamu. Apalagi sejak dulu hingga kini, alhamdulillah, saya belum pernah diganjar sakit parah oleh Sang Pengecat Lombok. (Mungkin beliau memang selalu berbaik hati kepada saya, ya?). Paling banter saya terkena pilek, batuk, pusing dan sebangsanya. Betul-betul alhamdulillah.

Saya kunjungi penjual jamu langganan istri saya.

“Jamu apa?” tanya Ibu penjual Jamu, yang menurut taksiran saya usianya sudah di atas 80 tahun, tapi masih nampak sehat dan bersemangat.

“Pegel Linu, Boyok kaku,” kata saya sambil duduk.

Sejurus kemudian sudah terhidang di depan saya. Segelas Jamu, segelas kecil sinom plus 1 kapsul, 2 pil dan sebuah permen. Setelah saya minum semua, saya segera pulang setelah membayar ongkosnya.

Sejam kemudian, badan terasa hangat. Dan sudah bisa dibuat ngeblog. Lumayan. Semoga besok pagi sudah bisa kembali seperti sedia kala.

Advertisements