Tidak Makan Tempe, Tidak Makan Roti, Akhirnya


20050310162436.jpgLauk yang sering menemani nasi dalam piring saya adalah tempe. Namun sejak harga kedelai ganti harga, yang berakibat harga tempe jadi mahal, saya mulai jarang menemui tempe di piring saya.

“Tempe mahal, ” kata istri saya sebelum saya protes.

“Ayam saja. Murah…”

“Flu burung kan….”

“Ah, sekarang sudah sembuh burungnya…… ”

Ya, bolehlah.

260px-wheatflour_rw.jpgTadi pagi saya baca koran Surya. Di halaman Malang Raya saya baca harga terigu ikut-ikut seperti kedelai. Kalau enam bulan lalu harga sudah naik menjadi Rp 95.000, kini berubah lagi menjadi Rp 164.000. Waduh, suatu loncatan yang amat luar biasa.

Setelah mulai jarang bertemu dengan tempe, roti nampaknya bakalan nyusul…

Wikipedia bilang: Tepung terigu adalah tepung/bubuk halus yang berasal dari biji gandum, dan digunakan sebagai bahan dasar pembuat kue, mi dan roti. Kata terigu dalam bahasa Indonesia diserap dari bahasa Portugis trigo yang berarti gandum.Apakah ini karena ada yang menimbun, seperti halnya kedelai ❓

Padahal anak saya, kalau sarapan pagi sukanya makan roti. Tidak mau nasi.

Ya, Allah…. Sampai kapan kami bisa makan dengan nikmat?

Advertisements

Tempe Tahu Bakal Lenyap dari Indonesia?


BANGSA INDONESIA JANGAN MENJADI BANGSA TEMPE…

– Bung Karno

tempe.jpgTempe berpotensi untuk digunakan melawan radikal bebas, sehingga dapat menghambat proses penuaan dan mencegah terjadinya penyakit degeneratif (aterosklerosis, jantung koroner, diabetes melitus, kanker, dan lain-lain). Selain itu tempe juga mengandung zat antibakteri penyebab diare, penurun kolesterol darah, pencegah penyakit jantung, hipertensi, dan lain-lain, demikian kalau kita baca di Wikipedia tentang per-TEMPE-an.

tahu.jpgBelakangan ini harga tempe dan tahu di pasaran melonjak tajam. Banyak pembeli pada protes. Lebih dari itu, mereka kemudian bermigrasi untuk tidak mengkonsumsi tempe tahu lagi, karena harganya terus naik. Paling tidak untuk sementara ini.
Lalu, dua hari yang lalu, ganti para perajin tempe tahu yang ganti protes dan unjuk rasa ke Pemerintah. Mereka menuntut agar Pemerintah bisa mengontrol harga kedelai.
Menteri Perdagangan, yang ditanya para wartawan, mengatakan: MASALAH INI MASIH AKAN DIRAPATKAN.

Masih akan dirapatkan?
Sementara di lapangan, sudah banyak korban berjatuhan, karena banyak perajin yang tidak bisa melanjutkan produksinya….

Apa karena propaganda Bung Karno itu, maka Pemerintah menjadi tak serius dalam menangani masalah per-TEMPE-an dan per-TAHU-an ini?

Sementara di Jepang, konon sudah mem-patent-kan jenis makanan olahaan yang bernama TEMPE dan TAHU ini menjadi hak patent Jepang.

Apa iya, kita bakal mengimpor TEMPE dan TAHU, bila ingin menikmatinya kelak?

(Tulisan ini juga bisa dibaca di sini)