Warga Indonesia Jadi Korban Perdagangan Manusia di AS


Shandra Woworuntu, seorang warga negara Indonesia yang merupakan mantan analis keuangan, terjebak menjadi korban perdagangan manusia saat mengadu nasib ke AS.

Shandra Woworuntu (kanan), WNI penyintas perdagangan manusia yang sekarang menjadi aktivis kemanusiaan, dalam sebuah acara anti perbudakan modern.

Shandra Woworuntu (kanan), WNI penyintas perdagangan manusia yang sekarang menjadi aktivis kemanusiaan, dalam sebuah acara anti perbudakan modern.

Shandra Woworuntu, WNI penyintas perdagangan manusia, saat berbicara di Senat Amerika.

Shandra Woworuntu, WNI penyintas perdagangan manusia, saat berbicara di Senat Amerika.

sumber : VOA Indonesia, Warga Indonesia Jadi Korban Perdagangan Manusia di AS

Hasyim Muzadi: Soeharto (masih) Pantas Jadi Pahlawan


Mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Hasyim Muzadi menilai mantan Presiden Soeharto pantas memeroleh gelar pahlawan nasional dari Negara, demikian antara lain yang diberitakan oleh kompasdotkom.

“Soeharto pantas jadi pahlawan,” tandas Hasyim, yang kini aktif sebagai Sekretaris Jenderal Konferensi Internasional Cendekiawan Islam (International Conference of Islamic Scholars – ICIS), di Jakarta, Senin (18/10/2010).

Hasyim mengemukakan hal itu terkait masuknya nama Soeharto bersama sembilan tokoh lainnya sebagai calon penerima gelar pahlawan yang diajukan pemerintah berdasar masukan dari masyarakat yang mengundang pro-kontra.

Menurut Hasyim, mengukur jasa Soeharto terhadap negara tidak bisa hanya diukur atau dilihat dari suasana Indonesia hari ini. “Soeharto memulai kekuasaannya dalam suasana revolusioner. Tanpa Soeharto, Indonesia sudah menjadi negara komunis, tanpa Pancasila, tanpa UU 1945, dan tanpa agama,” tandasnya.
Diakuinya, Soeharto melakukan rehabilitasi kenegaraan dengan ongkos mahal. Pada 15 tahun pertama tampak gemilang, pembangunan berjalan pesat. Namun pada 15 tahun berikutnya mulai tampak kesewenang-wenangan, korupsi, dan nepotisme akibat sentralisasi kekuasaan.

Pada bagian lain Hasyim mengatakan, saat ini memang perlu dilakukan rekonsiliasi nasional agar negara tidak hidup dalam dendam.

“Apalagi kebanyakan kelompok PKI telah hidup normal bersama warga negara lainnya bahkan sangat banyak yang jadi santri bahkan jadi kiai mendirikan pondok pesantren. Sehingga rekonsiliasi nasional adalah sebuah keniscayaan,” katanya.

New Wave Marketing bagi Kompas.com


KOMPAS adalah bacaan saya sejak dulu.

Meskipun teman sekantor jarang yang suka koran ini, tapi tetap saja saya suka. Walau terus terang belakangan ini saya membeli KOMPAS hanya pada hari-hari tertentu saja. Maklum zaman repot nasi. Terlebih setelah sering menengok internet, saya malah jarang beli.

Dengan membaca di internet, selain lebih banyak, lebih variatif, juga bisa dicopy untuk dikliping dengan mudah. Tidak harus gunting-tempel. Menyusahkan saja. Apalagi bila di baliknya ada tulisan bagus. Mesti beli dua atau difotokopi dulu sebelum digunting.

Selain Kompas.com, juga ada Kompas cetak, Kompas Mobile, Kompas Image, Kompas TV, Seleb TV, Community, Entertainment, Bola dan Tekno.

Selasa kemarin, ada berita yang membanggakan. Di sana dikatakan Kompas.com Raih New Wave Marketing. Lengkapnya itu berita adalah sebagai berikut:

Kompas Gramedia, yang memelopori pendekatan pemasaran baru melalui
megaportal Kompas.com, meraih New Wave Marketing Award. Perusahaan
konsultan pemasaran MarkPlus Inc, yang memberikan penghargaan, menilai
Kompas.com membangun relasi partisipatif dan kolaboratif dengan
penggunanya.

Chief Executive MarkPlus Institute of Marketing
Yuswohady di Jakarta, Selasa (27/5), mengatakan, penghargaan yang baru
pertama kali diberikan ini dinominasikan pula untuk Toyota Astra Motor
dan Sony Ericsson, sebelum akhirnya dimenangi kelompok Kompas Gramedia
(KG).

”Melalui Kompas.com, KG telah bertransformasi dari media
konvensional menjadi lebih sosial,” ujar Yuswohady sebelum penyerahan
penghargaan.

Chief Executive Officer MarkPlus Inc Hermawan
Kartajaya menjelaskan, pendekatan pemasaran baru tak terhindarkan
karena tuntutan kreativitas yang didorong perkembangan teknologi
digital. Keterbukaan pasar serta menguatnya peran individual dalam
perubahan sosial-ekonomi juga menjadi pendorong.

Perubahan dinamika itu membuat langkah promosi dari atas ke bawah tidak lagi efektif. Konsumen ingin lebih partisipatif.

”Sekarang
tidak jelas lagi siapa kompetitor dan pelanggan Anda. Kadang diperlukan
kolaborasi dengan customer, bahkan dengan kompetitor,” ujar Hermawan.

Menyikapi
perubahan dinamika itu, megaportal Kompas.com didesain lebih
partisipatif dengan beberapa fitur, seperti KompasTV, SelebTV, Videoku,
sekaligus membangun komunitas dengan Forum Pembaca Kompas dan blog.

Akhir pekan lalu, Kompas.com juga meraih penghargaan Cakram, mengalahkan Detik.com dan Okezone.com. (DAY)

Profisiat untuk KOMPAS.