TEMPO: Boleh Tunduk Tapi Tak Boleh Takluk


cover-tempo.jpgBicara tentang Majalah Berita Mingguan (MBM) TEMPO, tak bisa tidak harus juga menyebut nama Goenawan Mohamad. Karena ia adalah salah satu pendirinya. Pada tahun 1971, bersama sejumlah sastrawan yang sebaya dengannya dan seorang poengusaha besar, ia mendirikan TEMPO, MBM yang dipimpinnya itu hingga tak lama sebelum dibredel (1994) bahkan secara formal masih dipimpinnya selama 1 tahun terbit kembali (1998-1999). 1)

goenawan_mohamad.jpgJudul opini ini adalah kalimat yang sering dikatakan GM (demikian ia sering dipanggil) disampaikan kepada para wartawannya dalam menghadapi situasi atas tekanan yang sering dilakukan oleh Pemerintah terhadap kemerdekaan pers, baik secara lesan (berupa telepon) maupun tulisan (berupa surat teguran. Sehingga tatkala MBM TEMPO dibredel (dengan dalih pembatan SIUPP) pada tanggal 21 Juni 1994 (bersama-sama dengan MBM Editor, Tabloit Detik), para awak MBM TEMPO terbelah menjadi dua.

Yang satu (walau tunduk dengan ketentuan Menpen Harmoko) tapi ia tidak takluk. Mereka memilih melawan!. GM beserta “para Alumni Wartawan TEMPO” lantas mengajukan gugatan ke Pengadilan Tata Usaha Negara. Di tingkat I dan tingkat II mereka dimenangkan oleh pengadilan. Namun di pintu kasasi, mereka dikalahkan oleh keputusan Mahkamah Agung.

Sementara sebagian yang lain memilih takluk. Dan bersama-sama dengan Bob Hasan, yang punya hubungan dekat dengan Presiden Soeharto, dan taipan Ciputra (pemilik 43,5% saham PT Grafiti Pers) mereka akhirnya menerbitkan majalah GATRA.

Beberapa waktu setelah TEMPO dibredel, dengan cerdik para wartawan TEMPO ini lantas membidik dunia maya. Akhirnya mereka terbit di alam sana. Hingga sekarang kita bisa mengunjungi situsnya di tempointeraktif.com (versi) bahasa Indonesia), tempointeractive.com (versi Bahasa Inggris). Selain itu, untuk versi Majalah bisa dibuka TEMPO MBM Edisi Online.

Saya mengenal MBM TEMPO saat saya menginjak bangku SMP. Pada waktu itu saya hanya sekedar membolak-balik halaman demi halaman saja. Begitu duduk di bangku SMA, saya mulai membaca beberapa isinya yang saya anggap menarik. Misalnya Berita Nasional, Ulasan tentang Film atau Pementasan Drama. Kadang-kadang juga beberapa tulisan kolom yang saya anggap menarik. Dan pada akhirnya, saat saya mulai kuliah, boleh dikatakan, MBM TEMPO ini saya baca hampir secara keseluruhan.

Yang menarik dari majalah ini adalah gaya bahasanya. Suatu kasus yang sama (yang ditulis oleh media lain) bila dibandingkan dengan yang ditulis majalah ini, saya rasakan lebih enak dalam menyajikannya. Bahasanya lugas, bernas dan tidak terlalu sulit untuk dicerna.

MBM TEMPO, sesuai dengan mottonya memang :ENAK DIBACA DAN PERLU. Seperti tempe bacem.

Bahkan sekarang TEMPO juga hadir dalam bentuk koran dengan nama KORAN TEMPO (juga hadir KORAN TEMPO On The Web). Yang jelas, kalau seperti kata iklan, TEMPO ini tak ada matinya.. Mati satu, malah tumbuh lebih dari itu…

—————————-
1) Ke-Lain-an GM, Hamid Basyaib dalam pengantar buku Setelah Revolusi Tak Ada Lagi

Opini ini pernah saya tulis di sini.

 

 

Advertisements