2010 Hotspot Masuk Sekolah Menengah di Kota Malang


Hotspot (Wi-Fi) adalah salah satu bentuk pemanfaatan teknologi Wireless LAN pada lokasi-lokasi publik seperti taman, perpustakaan, restoran ataupun bandara. Pertama kali digagas tahun 1993 oleh Brett Steward. Dengan pemanfaatan teknologi ini, individu dapat mengakses jaringan seperti internet melalui komputer atau laptop yang mereka miliki di lokasi-lokasi dimana hotspot disediakan.

Pada umumnya, hotspot menggunakan standarisasi WLAN IEEE 802.11b atau IEEE 802.11g. Teknologi WLAN ini mampu memberikan kecepatan akses yang tinggi hingga 11 Mbps (IEEE 802.11 b) dan 54 Mbps (IEEE 802.11 g) dalam jarak hingga 100 meter.

Di Malang saat ini hotspot sudah mulai bermunculan di beberapa tempat. Meskipun masih jauh dari kebutuhan, namun cukup memadai untuk dapat memenuhi kehausan masyarakat akan pemanfatan fasilitas internet secara gratis.

Yang menggembirakan adalah berita yang ada di Surya Online Minggu, 4 Ahustus 2008. Dikatakan bahwa Depdiknas menargetkan 2010 sekolah menengah di Kota Malang sudah memiliki fasilitas hotspot. Tahap awal minimal akhir tahun ini sudah ada satu sekolah di setiap kecamatan yang ada di Kota Malang sudah dilengkapi dengan fasilitas hotspot. Tujuannya untuk meningkat efesiensi pembelajaran di sekolah, sehingga siswa tak perlu lagi mengeluarkan biaya yang besar untuk membeli buku setiap semester. “Dengan fasilitas intranet maupun internet yang bisa diakses melalui hotspot sekolah, siswa cukup memiliki sebuah flasdisk untuk belajar.

Dengan begitu siswa dapat mengakses semua kebutuhan pembelajaran mulai dari buku hingga alat peraga melalui teknologi informasi (TI),” beber Dr Ir Gatot Hari Priowirjanto, Ketua Southeast Asian Ministers of Education Organization Regional Open Learning Centre (SEAMOLEC) Depdiknas saat menghadiri seminar Klub Guru di Aula Plasa Telkom Blimbing Malang, Minggu (3/7).

Dikatakan Gatot, program pencanangan hotspot ini akan menjadi motor bagi Depdiknas untuk mengembangkan berbagai kebijakan dan pemerataan fasilitas pembelajaran di seluruh tanah air. Di antaranya pengadaan buku elektronik. Untuk menghemat biaya buku maka siswa maupun guru bisa mengambil materi pembelajaran melalui buku elektronik yang tersedia di situs Jejaring Pendidikan Nasional (Jardiknas) Depdiknas.

“Sekolah pun dapat memperbanyak buku itu dengan memindahkannya dalam bentuk buku biasa. Maka dana yang dikeluarkan siswa dapat ditekan, dibanding harus membli buku pelajaran yang harganya puluhan ribu setiap judulnya,” jelas Gatot.

Untuk menunjang program pengembangan TI di sekolah, PT Telkom Malang bertekad akan memberikan diskon khusus para guru di Kota Malang. Setiap guru yang memasang fasilitas Speedy untuk mengakses internet hanya akan dikenai biaya Rp 50.000 setiap bulan. “Ini akan mempercepat penguasaan TI di kalangan guru,” jelas Didik Sukasdi, GM PT Telkom Kandatel Malang. (Surya Online)

Mudah-mudahan masyarakat di sekitar sekolah juga bisa memanfaatkan fasilitas hotspot tersebut. Sehingga dengan demikian akan semakin menyebar dan meluas penggunaan internet bagi masyarakat kota Malang.