Ada Bangsat dan Maling di Gedung DPR?


Beberapa waktu yang lalu ada teriakan : BANGSAT yang berasal dari mulut Ruhut Sitompul (anggotra DPR yang terhormat) yang ditujukan kepada Gayus Lumbuun (juga anggota DPR).

Tadi siang seorang aktivis dari Kapak meneriakkan Boediono, “Maling.”

Menurut Vivanews, kerusuhan terjadi saat mantan Gubernur Bank Indonesia Boediono memberi kesaksian di hadapan Panitia Khusus (Pansus) Angket Century di Gedung DPR.

Pantauan VIVAnews di Gedung DPR, Jakarta, Selasa 12 Januari 2010, Boediono sedang memberikan keterangan tentang status uang Lembaga Penjamin Simpanan atau LPS.

“Saya tidak tahu uang LPS itu uang negara atau bukan,” kata Boediono. Tiba-tiba dari atas balkon, pria botak dan berperawakan agak gemuk itu tiba-tiba berteriak, “Boediono maling, Boediono maling.”

Oh, alamak. Pertanda apa ini?

Maling Sajadah


the_scream_edward_munch_galeri_nasional_oslo_wikipedia.jpgKejadian ini saya alami 25 tahun yang lalu. Pada waktu itu rumah memang sedang kosong. Sementara di dalam kamar saya ada banyak macam-macam ‘harta benda’ yang berarti bagi saya.

Sepulang dari rumah teman, pas waktu Magrib, saya menginjakkan halaman rumah. Awalnya saya tidak merasa curiga, karena keadaan kamar saya ‘aman-aman saja’. Namun saat saya mau sholat Mangrib, saya baru menyadari bahwa sajadah saya tidak ada pada tempatnya. Saya cari kemana-mana, tetap saja itu sajadah raib. Padahal itu sajadah satu-satunya milik saya.

Setelah sholat, saya mulai mencoba meneliti lagi. Ternyata selain sajadah ada beberapa barang saya yang lain ikut diambil pencuri. Yaitu Sebuah Trophi (saat saya menjadi Juara I Lomba Baca Puisi Tingkat Malang Tahun 1982), sebuah Tape recorder kecil merek Sony dan sebuah T-Shirt dengan logo “DOR” oleh-oleh dari Jakarta sepulang nonton Teater Mandiri dengan lakon seperti yang tertulis dalam T-Shirt itu. Sementara yang lain, uang, sepeda pancal, dll. masih cinta dengan saya.

Yang heran, kenapa mesti sajadah. Apakah malingnya maling budiman yang ingin bertobat, tapi nggak ada sarana? Mudah-mudahan saja demikian adanya.

Di Masjid Itu Ada Monyet Dan Maling


3d_252.jpgKarena satu dan lain hal, maka saya jarang sekali mengikuti kegiatan rutin, berupa pembacaan kalimah toyyibah, berupa Surat Yaasiin, Al-Mulk dan Tahlil yang diikuti oleh para jama’ah di wilayah Kauman dan sekitarnya. Tapi kemarin, tanpa ada rencana, ternyata saya dapat menghadiri acara yang dilaksanakan setiap malam Jum’at tersebut.
Dalam acara tersebut, setelah selesai dilakukan pembacaan kalimah toyyibah, biasanya dilakukan siraman rohani dari ustadz yang berasal dari dalam atau dari luar wilayah. Dan kemarin malam itu, kebetulan yang memberikan siraman rohani adalah ustadz dari Singosari. Kalau nggak salah namanya ustadz Mahmud.
Dalam penyampaiannya, ada hal yang patut saya sampaikan di sini, karena hal tersebut merupakan hal penting yang wajib diketahui oleh segenap umat Muslim. Dikatakan oleh ustadz tersebut bahwa dtengarai bahwa di dalam masjid itu ternyata ada banyak ‘monyet’ dan juga para ‘maling’! Buktinya apa? Setiap habis dilakukan sholat wajib secara jama?ah, biasanya dilanjutkan dengan pembacaan doa. Ada banyak yang mengikuti acara tersebut. Tapi tidak sedikit yang, setelah dilakukan ‘uluk salam’, langsung ‘loncat’ keluar masjid. Mereka inilah yang dikatakan oleh pak ustadz sebagai monyet itu. Apa pasal? Monyet setiap akan bergerak atau berpindah tempat pasti menengok dulu ke kanan dan ke kiri. Jadi bagi jamaa’ah yang setelah melakukan salam, tengok-kanan-tengok-kiri, lantas meninggalkan masjid. Persis kayak monyet. Maaf, ini bukan ucapan saya, tapi ucapan ustadz, yang diambil dari kitab yang saya lupa judulnya.
Lantas akan halnya para maling? Apa maling sandal atau sepatu yang dimaksudkan oleh ustadz tersebut? Bukan! Sama sekali bukan! Seperti kita ketahui bahwa ada empat syarat sahnya solat, yaitu 1) takbirotul ihrom, 2) surat al-fatihah, 3) tahiyat dan 4) salam. Semuanya harus dibaca, minimal telinga kita bisa mendengarkannya. Biasanya, ketika imam mengucapkan salam (assalamu’alaikum warohmatullohi wabarokaatuh) lantas tengok-kanan-tengok-kiri. Kalau kita sebagai jama?ah cuma mengikuti gerakan tengok-kanan-tengok-kiri tanpa mengucapkan ‘uluk salam’, kita inilah sang pencuri yang dimaksud ustadz. Yaitu pencuri salam! Naudzubillah! Mudah-mudahan tulisan ini ada manfaatnya bagi kita semua. Khususnya bagi saya sendiri. Mudah-mudahan saya bisa terus aktif mengikuti kegiatan rutin tersebut. Amiin ya Robbal Alamin.

[ Opini ini saya salin dari opini saya yang ada di sono ]