Di Balik Sertifikasi Guru dan Dosen Menulis, Antara Coin dan Point


Surya Online, Friday, 04 January 2008

Semangat guru untuk lulus sertifikasi tampaknya mulai menular ke kalangan dosen karena sertifikasi dosen akan dilaksanakan 2008.
Menulis bagi sebagian orang menjadi sesuatu (hal yang mudah – Djun). Sebaliknya, berbicara tidaklah terlalu sulit, sehingga ada yang menyebut semua orang bisa berbicara tetapi tidak semua orang bisa menulis. Menulis yang dimaksud adalah menulis karya ilmiah. Demikian pula dengan guru dan dosen. Tetapi aktivitas menulis bagi guru dan dosen untuk saat-saat ini menjadi tuntutan yang memaksa mereka untuk dapat menulis agar lolos sertifikasi sehingga kehidupan mereka dapat lebih baik.

code-paolo-b.jpgMenulis seharusnya tidaklah menjadi momok bagi guru dan dosen karena itulah aktivitas yang harus mereka lakukan setiap hari. Bahkan konon di luar negeri tahapan untuk menjadi dosen tidaklah melamar langsung menjadi dosen tetapi harus melakukan penelitian terlebih dahulu, menulis hasil penelitian dan buku ajar, baru kemudian mengajar menjadi dosen. Tetapi di Indonesia, begitu lulus S1 pun dapat langsung menjadi dosen, baru melakukan penelitian dan menulis – itu pun karena tuntutan bukan karena kesadaran.

Untuk memenuhi syarat kelulusan sertifikasi guru dan dosen maka mutlak untuk dapat menulis karya ilmiah. Bahkan banyak guru yang mandek pangkatnya hanya sampai IVa karena tidak dapat menulis karya ilmiah. Setali tiga uang, dosen pun demikian. Banyak dosen yang mandek jabatan akademiknya karena tidak dapat menulis karya ilmiah.

Memang bagi dosen bila diukur dari penghasilan yang diperoleh dari menulis tidaklah semenarik aktivitas yang lain. Menulis buku ajar misalnya, perbandingan effort yang dilakukan dengan reward yang diterima tidaklah sebanding dengan mengajar di kelas, atau melakukan penelitian, mengisi seminar atau cari proyek di luar. Maka joke yang beredar di kalangan dosen, menulis itu hanya cari point bukan cari coin.

Point yang dimaksud adalah angka kredit sebagai syarat untuk kenaikan jabatan fungsional dosen. Point inilah yang nantinya akan menjadikan pembeda antara dosen yang berpangkat asisten ahli, lektor, lektor kepala, atau guru besar. Point itu jugalah yang saat ini dikejar-kejar oleh guru demi memenuhi syarat kelulusan sertifikasi dan dapat diperoleh dari karya ilmiah yang diterbitkan media massa, jurnal ilmiah, ataupun dalam bentuk penelitian tindakan kelas (PTK).

Semangat guru untuk lulus sertifikasi tampaknya mulai menular ke kalangan dosen karena sertifikasi dosen akan dilaksanakan 2008. Sehingga semangat untuk menulis tampaknya mulai muncul. Maka wajar banyak dosen yang mengantre menulis di jurnal ilmiah terakreditasi walaupun harus membayar untuk ganti ongkos cetak.

Kesadaran yang tumbuh kembali untuk menulis di kalangan guru dan dosen patutlah diberi penghargaan demi meningkatkan kompetensi keilmuan dan kehidupan mereka. Pastinya penghargaan tidak cukup hanya berupa point untuk kepentingan jangka panjang tetapi harus juga dalam bentuk coin untuk kehidupan saat ini. Sehingga patut diacungi jempol, program Dikjen Dikti Depdiknas yang baru-baru ini memberikan hibah penulisan buku ajar kepada dosen sebesar Rp 15 juta dan Rp 25 juta untuk satu buku ajar sehingga menulis tidak lagi menjadi aktivitas yang hanya mengejar point tetapi juga memberi coin bagi guru dan dosen.

Oleh
Sigit Hermawan SE MSi
Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo

Advertisements