MT Kampanye Negatif Bagi SBY – MJK


Diam-diam MT tengah melakukan kampanye negatif bagi SBY. Si berbagai tempat MT beraksi tanpa ada yang bisa meredamnya.

Siapakah MT itu?

shellmartinez-refi_wikipedia.jpgTak lain dia adalah si Minyak Tanah. Ya, salah satu dari Sembilan Bahan Pokok atau sering disingkat Sembako adalah sembilan jenis kebutuhan pokok masyarakat menurut keputusan Menteri Industri dan Perdagangan no. 115/mpp/kep/2/1998 tanggal 27 Februari 1998. Hampir setiap hari orang pada antri untuk bisa memperoleh barang 2 sampai 5 liter minyak tanah.

Dan, selama mereka melakukan antri itu, kampanye negatif pun berkembang. Orang pada bersungut-sungut:

“Maunya apa SBY itu?”

“Untung saya dulu nggak milih…..”

“Katanya reformasi, tapi nyatanya repot (menanak) nasi…..”

“Pemilu mendatang saya tak akan milih lagi…..”

“Kalau zaman Jepang dulu jelas karena kita dijajah. Dan pada saat Orla ekonomi memang masih ‘morat-marit‘……..”

“Lha sekarang, ekonominya di-orat-arit…………..”

Apakah fenomena ini luput dari tim sukses SBY atau tim sukses MJK? Atau malah ini merupakan strategi mereka, entah secara sendiri-sendiri atau bersama-sama.

Advertisements

Mengulang Kisah Tahun 60-an: Antri Minyak Tanah


Bila di kota Malang tabung gas elpiji beserta kompornya sudah dibagikan ke segenap warganya, tapi tidak atau belum bagi warga kabupaten Malang. Memang sebulan lalu sebagian warga sudah didaftar. Katanya 20 KK per RT. Mungkin ini untuk tahap pertama.

Namun hingga kini, itu tabung dan itu kompor belum juga hadir. Sementara keberadaan minyak tanah di daerah kami (Lawang) sudah mulai langka.

antri-minyak-tanah1.jpgHampir setiap pagi di depan rumah kami, mulai dari anak kecil, orang tua, laki, perempuan, gemuk, kurus, semua pada antri beli minyak tanah. Sejak turun dari Masjid , setelah sholat Subuh, sudah banyak yang meletakkan jerigennya secara berbaris. Para generasi tahun 60-an bilang, “kayak zaman dulu. Zaman Orde Lama.” Bedanya, kalau zaman dulu, keadaan ekonomi memang masih “carut marut”. Kalau zaman sekarang, penataan ekonominya yang “carut marut”.

antri-minyak-tanah2.jpgUntungnya pelaksanaan antriannya cukup tertib. Bagi yang masih ada keperluan lain, mereka meninggalkan jerigennya antri sendiri. Dan itu jerigen, secara berangsur akan bergerak sendiri, meski tanpa kehadiran pemiliknya. Soalnya yang lain, yang tidak ada keperluan lain, dengan sukarela mendorong jerigen itu bergeser.

Kadang memang ada satu dua yang ingin minta didahulukan, namun tentu saja yang lain menolaknya. Antri, mas, antri…..

Akibat negantri minyak tanah yang dibatasi hanya 10 liter per orang, mereka (ada) yang rela menomorduakan keluarganya. Yang anaknya yang mau berangkat sekolah, atau sekedar membuat kopi untuk suaminya (termasuk saya di dalamnya) atau terpaksa menunda belanjanya.

Entah sampai kapan hal semacam ini akan berakhir……