Charles Darwin Ada Di Internet


Charles Darwin, yang bilang bahwa nenek moyang manusia adalah monyet, draf pertama bukunya mulai bisa diakses lewat internet. Demikian BBC Indonesia memberitakan. Isi buku tersebut dinilai mengubah sikap dunia terhadap evolusi. Kumpulan tulis, yang menghasilkan teori evolusi Charles Darwin selama ini hanya tersedia bagi kalangan cendekiawan di perpustakaan Cambridge University, Inggris. Draf catatan itu termasuk arsip 20.000 berkas yang ditulis oleh ilmuwan abad ke-19.

Charles Darwin

Dr John van Wyhe, seorang spesialis Darwin pada Cambridge University, mengatakan: “Dia mengubah pemahaman kita tentang alam.”

Gagasan berpengaruh

Arsip online mengenai Charles Darwin itu begitu banyak, sehingga orang perlu waktu dua bulan untuk melihatnya jika mereka men-download satu image per menit.

“Makalahnya menunjukkan betapa terperinci penelitian-penelitiannya. Pihak keluarga selalu menghendaki makalah dan naskah Darwin tersedia untuk siapa saja yang ingin membacanya,” kata Dr van Wyhe.

“Kenyataan bahwa setiap di seluruh dunia kini bisa melihat arsip itu di internet benar-benar luar biasa,” tambahnya.

“Charles Darwin merupakan salah seorang ilmuwan paling berpengaruh dalam sejarah. Kumpulan makalah-makalahnya kini sangat penting dan karena sangat membangkitkan semangat,” kata Dr van Wyhe.

“Publikasi ini membuat makalah-makalah pribadinya, tumpukan catatan, eksperimen dan riset di balik karya publikasinya yang mengubah dunia tersedia secara gratis bagi dunia,” tandasnya.

Jurubicara Cambridge University mengatakan, publikasi online ini menampilkan sekitar 20.000 item dan hampir 90.000 gambar.

Proyek online ini dikembangkan selama beberapa tahun sebagai persiapan untuk memperingati ulangtahun ke-2000 ilmuwan yang di antaranya menulis buku the Origin of Species.

Lepas dari setuju atau tidak, kiranya fasilitas ini layak untuk dijadikan referensi. Sayangnya, di mana alamatnya, tidak dijelaskan dalam berita tersebut.

Advertisements

Di Masjid Itu Ada Monyet Dan Maling


3d_252.jpgKarena satu dan lain hal, maka saya jarang sekali mengikuti kegiatan rutin, berupa pembacaan kalimah toyyibah, berupa Surat Yaasiin, Al-Mulk dan Tahlil yang diikuti oleh para jama’ah di wilayah Kauman dan sekitarnya. Tapi kemarin, tanpa ada rencana, ternyata saya dapat menghadiri acara yang dilaksanakan setiap malam Jum’at tersebut.
Dalam acara tersebut, setelah selesai dilakukan pembacaan kalimah toyyibah, biasanya dilakukan siraman rohani dari ustadz yang berasal dari dalam atau dari luar wilayah. Dan kemarin malam itu, kebetulan yang memberikan siraman rohani adalah ustadz dari Singosari. Kalau nggak salah namanya ustadz Mahmud.
Dalam penyampaiannya, ada hal yang patut saya sampaikan di sini, karena hal tersebut merupakan hal penting yang wajib diketahui oleh segenap umat Muslim. Dikatakan oleh ustadz tersebut bahwa dtengarai bahwa di dalam masjid itu ternyata ada banyak ‘monyet’ dan juga para ‘maling’! Buktinya apa? Setiap habis dilakukan sholat wajib secara jama?ah, biasanya dilanjutkan dengan pembacaan doa. Ada banyak yang mengikuti acara tersebut. Tapi tidak sedikit yang, setelah dilakukan ‘uluk salam’, langsung ‘loncat’ keluar masjid. Mereka inilah yang dikatakan oleh pak ustadz sebagai monyet itu. Apa pasal? Monyet setiap akan bergerak atau berpindah tempat pasti menengok dulu ke kanan dan ke kiri. Jadi bagi jamaa’ah yang setelah melakukan salam, tengok-kanan-tengok-kiri, lantas meninggalkan masjid. Persis kayak monyet. Maaf, ini bukan ucapan saya, tapi ucapan ustadz, yang diambil dari kitab yang saya lupa judulnya.
Lantas akan halnya para maling? Apa maling sandal atau sepatu yang dimaksudkan oleh ustadz tersebut? Bukan! Sama sekali bukan! Seperti kita ketahui bahwa ada empat syarat sahnya solat, yaitu 1) takbirotul ihrom, 2) surat al-fatihah, 3) tahiyat dan 4) salam. Semuanya harus dibaca, minimal telinga kita bisa mendengarkannya. Biasanya, ketika imam mengucapkan salam (assalamu’alaikum warohmatullohi wabarokaatuh) lantas tengok-kanan-tengok-kiri. Kalau kita sebagai jama?ah cuma mengikuti gerakan tengok-kanan-tengok-kiri tanpa mengucapkan ‘uluk salam’, kita inilah sang pencuri yang dimaksud ustadz. Yaitu pencuri salam! Naudzubillah! Mudah-mudahan tulisan ini ada manfaatnya bagi kita semua. Khususnya bagi saya sendiri. Mudah-mudahan saya bisa terus aktif mengikuti kegiatan rutin tersebut. Amiin ya Robbal Alamin.

[ Opini ini saya salin dari opini saya yang ada di sono ]