Maafkan Pak Harto


Headline News media masa di tanah air (dan mungkin di luar negeri) fokus pada perkembangan kesehatan dan nasib Pak Harto. Bahkan kabar terakhir, sudah santer beredar isu kalau Pak Harto sudah meninggal dunia. Benarkah?jawa-pos.jpg
Jawa Pos Online, Sabtu, 12 Desember 2008 antara lain mewartakan : Kondisi kesehatan mantan Presiden Soeharto tadi malam (12/1) memasuki titik paling kritis. Ini adalah saat-saat paling mengkhawatirkan selama delapan hari dirawat intensif di RS Pusat Pertamina. Begitu gawatnya, tim dokter yang merawatnya sempat memberikan keterangan lewat selembar kertas yang menjelaskan terjadinya kegawatan pada pukul 17.00.Dalam situasi kritis itu, seluruh putra-putri penguasa Orde Baru tersebut berkumpul di lantai V, tempat Soeharto dirawat. Biasanya, para anak Soeharto datang bergantian, tapi tadi malam mereka semua berkumpul. Probosutedjo yang masih dalam status terpidana di Lapas Sukamiskin, Bandung, pun ikut hadir.Sudwikatmono, salah satu kerabat dekat Soeharto, menceritakan semua anak Soeharto sudah hadir. “Keluarga sudah kumpul semua. Semua pada nangis,” ujar pengusaha yang berjaya di era Orba itu.Menurut sumber, yang selalu mendampingi Pak Harto di kamar 536 hanya Mbak Tutut. Semua keluarga yang lain hanya keluar masuk untuk melihat kondisi ayahnya.Suasana tegang saat Wakil Presiden Jusuf Kalla dan istri muncul pukul 19.53. Ini adalah kedatangan kali kedua petinggi negara itu untuk menjenguk Soeharto. Kalla tidak bicara satu kata pun dengan wartawan. Dari raut mukanya terlihat begitu serius. Turun dari mobil langsung menuju lantai V.Kedatangan Kalla secara mendadak dan lengkapnya kehadiran putra-putri Cendana itu sempat memunculkan berbagai spekulasi di kalangan wartawan yang memadati lobi dan RSPP. Beberapa kabar yang tak jelas sumbernya menyebut Soeharto meninggal dunia. Berbagai SMS pun beredar mulai dari yang menyebutkan dalam kondisi kritis hingga meninggal dunia berseliweran….Di halaman lain muncul berita dengan judul: Korban HAM Tak Ingin Maafkan. Isinya antara lain : Sejumlah keluarga korban pelanggaran HAM (hak asasi manusia) pada era kekuasaan Soeharto kemarin menyempatkan diri ke RSPP (Rumah Sakit Pusat Pertamina). Mereka berdoa supaya mantan presiden itu kembali sehat serta meminta agar kesalahannya sebagai pelaku kekerasan HAM tetap diusut.“Pemerintah dan politisi harus memandang keberadaan kami sebagai korban pelanggaran HAM yang dilakukan Soeharto,” tegas Bejo Untung, salah seorang korban pelanggaran HAM peristiwa 1965, di lobi RSPP kemarin. Bejo bersama sekitar 30 anggota keluarga korban pelanggaran HAM dari peristiwa Tanjung Priok, Talangsari, penculikan 1997/1998, dan Trisakti 1998. Tampak pula bersama mereka Suciwati, istri aktivis HAM almarhum Munir, dan Koordinator Kontras Usman Hamid.“Atas nama kemanusiaan, kami ke sini adalah ingin mendoakan Soeharto supaya segera sembuh,” sambung Suciwati yang mengajak anaknya, Alif, ikut serta kemarin.Menurut Suciwati, segala dalih untuk memaafkan Soeharto karena sakit yang dideritanya saat ini bukanlah bentuk kemanusiaan. Jika dihadapkan pada nasib yang diderita para korban Soeharto di masa lalu, upaya tersebut sama saja dengan menghapus segala upaya yang dilakukan anggota keluarga korban pelanggaran HAM. “Kemanusiaan yang hakiki adalah kebenaran dan keadilan. Karena itu, kebenaran dan keadilanlah yang tetap harus ditegakkan di dunia ini, bukan menutupinya,” tegasnya. Menurut saya, memaafkan adalah perbuatan yang mulia ketimbang perbuatan minta maaf. Meskipun nantinya (mudah-mudahan saja) Pak Harto (kalau sempat) dan segenap keluarganya minta maaf kepada seluruh rakyat yang pernah “disakiti” tetap lebih mulia yang memberi maaf. Apalagi tanpa di minta.Hanya saja, memang (secara manusiawi) sulit orang untuk memberi maaf, tatkala mereka betul-betul pernah dizalimi oleh beliau.Kalau saya secara tidak pernah merasa dizalimi. Bahkan pada saat Orde Baru, beras sembako serba murah, BBM murah karena disubsidi, dll. dll. Dengan pendek saya merasa dienakkan oleh beliau.Bahwa kemudian ternyata mereka menjadi lebih enak ketimbang sebagian besar rakyat Indonesia, dan negara menjadi bangkrut, itu lain soal.

Right Or Wrong Is My Country


BambooKarena saya dilahirkan di bumi Nusantara yang disepakati bernama Indonesia ini, maka – mau tidak mau – saya harus cinta tumpah darah saya. Seperti halnya saya dilahirkan dalam lingkungan keluarga Muslim, makanya – mau tidak mau – saya sekarang menjadi seorang pemeluk agama Islam.

Sejak zaman Kerajaan, zaman Penjajahan (Belanda dan Jepang), yang kemudian di zaman pasca kemerdekaan (rezim Orde Lama, Orde Baru dan Orde [ter]Baru) yang namanya rakyat selalu menjadi masyarakat yang terpinggirkan. Mereka teteap berada di posisi akar rumput, yang setiap saat saat menjadi landasan bagi yang berada di atasnya.

Saya lahir 13 tahun setelah Indonesia Merdeka, dari seorang Ibu yang pekerjaan sehari-harinya membikin jajan pasar seperti: klanting, onde-onde, klepon dan sebangsanya. Sementara Bapak saya adalah seorang Tukang Sepatu. (Pada zaman perjuangan, di bawah Komandan Abdul Rahman Saleh, bersama-sama Pakde saya berjuang demi kemerdekaan negaranya.

Dan karena Ibu dari Bapak saya melarang, maka Bapak dan Pakde saya tidak kembali ke kesatuannya. Dan syukur alhamdulillah, beberapa tahun sebelum wafat, masih sempat menikmati uang pensiunnya.

Karena untuk menjadi Pegawai Negeri alangkah amat sangat sulit untuk meraihnya, setelah saya lulus kuliah, bekerja bersama orang-orang yang bergerak di sector perekonomian – yang konon didengung-dengungkan sebagai sokoguru ekonomi – yaitu KOPERASI.

Selama rezim Orde Baru saya tak bisa berbuat banyak. Tak bisa mengkritik banyak. Apalagi yang menyentuh yang namanya Pemerintahan. Ada pengalaman pahit, walau itu yang mengalami teman saya sendiri. Dalam suatu kegiatan Riset Mahasiswa di suatu Desa di Kecamatan Batu (sekarang telah berubah menjadi Kota Batu) dalam suatu pertemuan dengan warga setempat, teman saya berkomentar soal ASAS TUNGGAL. Apa persisnya materinya, saya tidak tahu. Tapi yang jelas, besoknya teman saya harus menghadap ke Koramil setempat. Dan, ia harus wajib lapor ke sana seminggu sekali.

Di rezim Orde (ter)Baru, ada harapan baru. Di mana zaman ini orang bisa berteriak seenak udelnya tanpa harus berurusan dengan pihak aparat keamanan. Ibarat burung yang lama dikurung dalam sangkar, akhirnya bisa terbang bebas ke mana dia suka.

Tapi, apakah hanya itu yang kita peroleh di Orde (ter)Baru ini. Sementara kehidupan sehari-hari tak menjadi lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Ada sebagian orang yang nampaknya rindu akan masa-masa Orde Baru.

Bagi saya, apa yang telah saya alami, telah menjadi suratan takdir saya. Saya tetap menikmati, mensyukurinya. Walau kadang ada rasa marah, jengkel, melihat ulah para wakil kita yang hanya memikirkan perutnya saja. Tapi saya mau bilang apa? Seberapa besar pengaruh suara saya?

SMS Termahal di Dunia


3d-brazil.jpgBeberapa waktu yang lalu saya melihat berita di Liputan 6 SCTV
memberitakan bahwa Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) menengarai bahwa biaya SMS yang berlaku di Indonesia ini tergolong mahal. Teramat mahal malah. Dengan ongkos produksi tak lebih dari RP 70 per SMS, dijual dengan harga Rp 250 – Rp 350, tentu mendapatkan laba yang amat sangat luar biasa sekali. Di India saja, kata mereka (yang punya situs resmi di http://www.kppu.go.id), cuma Rp 80 per SMS.

Lantas, mahluk apa sih KPPU itu ❓

Wikipedia menulis : Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) adalah sebuah lembaga independen di Indonesia yang dibentuk untuk memenuhi amanat Undang- Undang no. 5 tahun 1999 tentang larangan praktek monopoli dan persaingan usaha tidak sehat.

UU No. 5 tahun 1999 pada intinya melarang hal-hal sebagai berikut:

  1. Perjanjian yang dilarang, Pelaku usaha dilarang melakukan perjanjian dengan pihak lain untuk secara bersama-sama mengontrol produksi dan/atau pemasaran barang dan/atau jasa yang dapat menyebabkan praktek monopoli dan/atau persaingan usaha tidak sehat. Contoh perjanjian yang dilarang adalah penetapan harga, diskriminasi harga, boikot, perjanjian tertutup, oligopoli, predatory pricing, pembagian wilayah, kartel, trus dan perjanjian dengan pihak luar negeri yang dapat menyebabkan persaingan usaha tidak sehat.
  2. Kegiatan yang dilarang, Pelaku usaha dilarang melakukan kontrol produksi dan/atau pemasaran melalui pengaturan pasokan, pengaturan pasar yang dapat menyebabkan praktek monopoli dan/atau persaingan usaha tidak sehat.
  3. Posisi Dominan, Pelaku usaha dilakukan menyalahgunakan posisi dominan yang dimilikinya untuk membatasi pasar, menghalangi hak-hak konsumen, atau menghambat bisnis pelaku usaha lain.

Kabarnya mereka akan menuntut agar para operator segera menurunkan harga SMS itu. Kalau berhasil, bakal semakin riuh itu jalur frekuens. Lha wong dengan harga yang berlaku seperti sekarang ini, sudah banyak traffick yang terjadi. Apalagi nanti.

Jadi, wait and see… 🙂

Anak Ayam Mati di Lumbung Padi


Judul ini merupakan kata-kata bijak, yang meskipun sudah usang, namun relevan untuk ditampilkan kembali, bila dikaitkan dengan kondisi kebanyakan rakyat Indonesia.

Betapa tidak, tanah, bumi, air dan udara yang terbentang di seantero Nusantara ini, sebetulnya tersimpan kekayaan yang tak terhingga. Manakala itu semua dikelola dengan sungguh-sungguh dengan kerangka dan bingkai amanah, niscaya tak akan ada rakyat Indonesia yang berada di bawah garis kemiskinan.

Namun, karena amanah yang telah diamanatkan ke pundak para wakil kita (eksekutif, legistatif dan yudikatif) yang lagi mereka punyai. Mereka semua hanya memikirkan sebagian kecil saja dari penduduk Indonesia. Dan sebagian kecil itu hanya sebatas kerabat, teman dan handai tolannya. Sementara sebagian besar penduduk Indonesia sama dan sebangun dengan nasib anak ayam yang mati di lumbung padi. Karena ia tidak punyak hak (lagi) atas lumbung padi (yang seharusnya) miliknya sendiri itu.

Seperti yang telah saya tulis dalam opini saya yang pertama, kita masih memiliki tiga Pemilihan Umum Lagi (2009, 2014 dan 2019). Apakah nasib anak ayam itu masih harus mati (bukan karena kekenyangan, melainkan karena kelaparan) di lumbung padi?

Saya pikir sudah cukup. Sejak zaman penjajahan Belanda (bahkan bukan tidak mungkin justru jauh sebelum itu) hingga negara ini sudah merdeka 62 tahun, dalam perjalanan Sejarah Indonesia, cukup sudah rakyat jadi tumbal negara. Kita harus bisa bersikap tegas, cerdas dan hati-hati dalam memilih para wakil-wakil kita nanti. Kalau sama seperti yang dulu, mudah terkecoh dengan iming-iming sesaat, APA KATA DUNIA?

Belajar Mengaji


Tulisan ini diimport dari Djunaedi RD’s Blog.

Akhirnya anak saya mau belajar mengaji. Memang sejak masih sekolah di Taman Kanak-Kanak ia telah diajar oleh gurunya. Namun tak pernah bisa lancar. Sementara bila diajar oleh istri saya, ada saja alasannya. Hingga sampai di kelas 2 Sekolah Dasar, ia tak mau belajar dengan sungguh- sungguh.

Maunya istri saya anak saya itu di-ngaji-kan ke seorang guru ngaji di kampung saya. Tapi tidak pernah mau. Dengan iming-iming apapun, selalu saja menemui kegagalan.Namun, setelah di akhir bulan syawal ini, tiba-tiba ia mau belajar ngaji. Alhamdulillah. Mungkin setelah ia melihat saudaranya, yang masih sekolah Taman Kanak-Kanak, ternyata bisa membaca Al-Qur’an, ia mungkin merasa malu.

Dengan kesadaran sendiri, selepas Dhuhur, ia diantar oleh istri saya menuju ke rumah bu Nyai untuk mulai belajar mengaji.

Mudah-mudahan ini langkah yang bagus dan bukan angin-anginan. Semoga….

Ahmad Moshaddeq Mendapat Hidayah?


Tulisan ini diimport dari Djunaedi RD’s Blog.

Hari Jum’at kemarin, saya membaca di SURYA online, bahwa “rasul” baru ini (Ahmad Moshaddeq alias Abdul Salam) menyatakan tobat. Ia menyerahkan posisi yang telah diambil dari Nabi Muhammad SAW.

Entah karena apa ia menyatakan tobat. Karena karena ia telah mendapat hidayah dari Allah SWT. atau karena takut dihajar masa atau takut dipenjara.

Mestinya, kalau memang yang diyakini itu benar adanya, ia haruslah rela mati, seperti yang telah dialami oleh Al-Hallaj dan Syeh Siti Jenar.

Memang rupanya mantan “rasul dari Betawi” ini belum yakin betul dengan keyakinannya itu.

Kita berdoa, mudah-mudahan tobatnya itu atas dorongan dari hati nuraninya. Sehingga ia bisa menjadi muslim yang sebenar-benarnya muslim. Amiin!